Meira

Meira
BAB. 17



"Loe benar vin! sumpah tuh cewek aneh banget. Untung cantik, kalau nggak gue batalin nih taruhan." ucap Gio, laki-laki yang sudah mengusulkan Meira sebagai target taruhan untuk kesekian kalinya.


"Yah. Gak bisa gitu dong. Taruhan tetap taruhan, mau dia jelek kek, aneh kek, nggak ada urusan." sahut temannya yang bernama Kevin.


"Sebenarnya gue masih pengen pendekatan kemarin! eh... teman cowoknya datang. Sinis banget lagi, mana tuh cewek cuma ngasih gue kucing." kesal Gio kalau mengingat kejadian-kejadian kemarin.


"Gimana kalau tuh cowok adalah pacarnya? Bisa kena masalah kita." timpal Andre salah satu temannya yang paling penakut.


"Kalau loe takut, nggak usah ikut!" balas Kevin.


"Heh... dengar ya, bahkan kalau dia sudah punya cowok pun, gue jabanin. Lagi pula mereka bukan kayak orang lagi pacaran deh." jawab Gio.


"Kalau gitu, hari ini gue mau ngajak tuh cewek kenalan." kali ini Aji yang bicara, dia sudah memiliki rencananya sendiri.


"Gio... Kevin... ?" panggil seseorang dengan teriakkannya, salah satu teman sekelas mereka, dengan napas ngos-ngosannya karena berlari tergesa menghampiri mereka.


Sedangkan mereka yang dipanggil seperti itu agak kaget dan menoleh ke teman mereka yang terlihat berlari.


"Apa...? Kenapa loe lari kayak dikejar anjing gitu?" tanya Gio penasaran.


"Mobil loe... hahh..." ucap temannya itu sambil mengambil napas rakus.


"Iya... Mobil gue kenapa?" tanya Gio lagi, yang semakin penasaran.


"Mobil loe ada yang nyoret."


"Apa...?" kaget Gio sekaligus marah. Siapa orang yang sudah berani main-main dengannya saat ini. Apa dia tidak kenal Gio Aditama.


"Bukan cuma loe, mobil Kevin juga. Kalian lihat sendiri deh, kondisi mobil kalian parah." Kevin shock, masalahnya dia baru membelinya satu minggu yang lalu.


"Gue pastiin, tuh orang bakalan di penjara." kesal Kevin yang di iyakan Gio.


"Ayo..." mereka semua akhirnya menuju ke tempat di mana parkiran mobil mereka berada. Dan semakin terkejut setelah melihat kondisi mobil mereka yang penuh coretan, goresan, dan kaca spion yang pecah serta ban mobil yang semua kempes kecuali satu, yang ternyata tergantung di atas pohon. Entah bagaimana mereka melakukannya.


"Kurang ajar. Siapa yang sudah berani melakukan hal ini!" teriak Gio dan Kevin. Sedangkan Andre dan Adi sangat beruntung, mereka cuma menumpang untuk hari ini.


"Kami...!" Jawab Zaden dengan senyum sinisnya, sebagai ketua dari ZACKS maka Zaden lah yang harus lebih dulu menghadapi mereka. Diikuti oleh Alando, Christ, Kenny dan Steven.


"Apa maksud kalian melakukan hal ini hah...?" tanya Gio yang semakin emosi, sayangnya dia tidak tahu siapa orang-orang yang ada di depannya ini.


"Kita nggak ada urusan." tambahnya.


"Itu bukannya ZACKS ya?" bisik-bisik orang di sekitarnya dan sempat didengar oleh Kevin, Andre dan Adi. Mereka memang tidak mengenal orang-orang ini, karena mereka berbeda jurusan, hanya saja nama ZACKS memang terkenal diantara para mahasiswa karena suka bikin onar dan masalah. Bisa dikatakan mereka adalah penguasa sekaligus preman kampus ini.


"Matilah mereka." ujar orang-orang di sekelilingnya dan menjauhi tempat itu dari pada mereka harus ikut terseret masalah, bisa gawat. Mereka masih ingin kuliah dengan tenang.


"Gio... sudah, mereka ZACKS. Lebih baik kita pergi saja dari tempat ini." perintah Kevin.


"Glek..." Gio cuma bisa meneguk air liurnya ketakutan, selama ini dia sudah sering mendengar orang-orang yang terkena masalah dengan ZACKS akan berakhir di rumah sakit meski tidak ada yang mati. Mungkin itu hanya untuk orang-orang yang berani menantang mereka, dan ada juga yang memilih keluar kampus dengan sendirinya karena lelah dikerjain setiap hari. Apalagi setahu dia ketua dari ZACKS adalah seorang Pramudya. Sedangkan perusahaan ayahnya sekarang sudah berada di bawah naungan Pramudya Group. Dia tidak mau membuat masalah untuk ayahnya, dia tidak mau jatuh bangkrut dan miskin.


"Gue minta maaf. Sungguh gue nggak tahu apa kesalahan gue. Tapi gue tetap minta minta maaf." mohon Gio.


"Gue juga, kami berdua minta maaf kalau sudah melakukan kesalahan."


"Cuih... Loe bahkan nggak tahu kesalahan yang sudah loe lakuin!" kesal Alando.


"Gue..." Gio tersadar saat melihat salah satu dari mereka. Laki-laki itu yang kemarin memanggil Meira.


"Loe dan kalian semua." Alando merenggut kerah baju depan Gio hingga rasanya dia seakan tercekik sedangkan pandangan Alando menatap Gio dan ketiga temannya dengan tatapan membunuhnya. "Jangan pernah mencoba mendekati Meira apalagi menyakitinya, kalau itu sampai terjadi loe semua habis di tangan gue." ancam Alando kemudian mendorong tubuh Gio ke belakang, untung saja ditangkap oleh teman-temannya.


"Maaf, kami tidak tahu. Kami janji tidak akan mendekatinya lagi." janji mereka.


"Sekarang kalian tahukan? Jadi jangan pernah coba-coba lagi!" peringatan dari Zaden.


"Iya, kami janji."


"Sekarang saja kalian seperti kucing manis." ejek Christ.


"Memang kemarin-kemarin mereka seperti apa?" tanya Kenny menanggapi.


"Bandar judi." jawab Christ mengejek mereka semua.


"Awas, kalau kalian berani melapor ke pihak kampus, loe tahukan kalau gue bisa saja hancurin tuh perusahaan bokap loe." ancam Zaden.


"Iya. Kami tidak akan berani." ucap Gio dan diangguki ketiga temannya.


"Bagus. Ayo urusan kita di sini sudah selesai." perintah Zaden.


"Oh iya. Mobil gue kayaknya kotor. Kalian bersihin deh, awas jangan lecet. Parkiran vip, no plat..." Suruh Kenny yang cuma bisa di iyakan sama mereka berempat pasrah tanpa perlawanan.


* * *


"Eh loe... Cewek aneh." panggil seorang gadis cantik dan sexy yang diikuti seorang gadis yang sama cantiknya. Terlihat jelas mereka dari kalangan elite. Terus melangkah menghampiri Meira dan ketiga temannya.


"Meira...?" tanya Meira menunjuk dirinya sendiri.


"Iya. Emang di sini ada yang lebih aneh dari loe?" sinis gadis itu.


"Apa loe bilang cewek aneh?" sahut Sany yang kesal karena sahabat mereka sedang diejek.


"Nggak usah ikut campur! urusan gue sama teman aneh loe ini." balas gadis itu.


"Meira nggak aneh kok, emang Meira salah apa?" polos Meira.


"Oh. Ternyata bukan cuma aneh, cacat mental juga?" ejek gadis itu dengan tawanya yang juga diikuti teman yang ada di belakangnya.


"Ehh loe yaa..." marah Ami yang langsung merenggut rambut gadis itu dan menyerangnya, disusul Sany yang ikut menyerang temannya yang satunya lagi karena berusaha menolong temannya itu. Hingga terjadilah perkelahian ala cewek cewek bar-bar.


"Sudah berhenti!" minta Meira melihat teman temannya berkelahi karena dia. Untunglah ada beberapa mahasiswa laki-laki yang mau melerai perkelahian mereka. Hingga mereka saling menjauh.


"Gue belum selesai sama loe! jauhi Alando! loe nggak pantas buat dia, Alando terlalu sempurna buat loe. Dasar cewek cacat mental!" ejek gadis itu dengan rambut awut awutannya serta cakaran kecil yang ada di lengan dan wajahnya, hingga menjauh dari kerumunan.


"Loe cewek sakit jiwa." Balas Sany makin emosi.


"Mimi dan Sansan nggak apa-apa? Ini karena Meira." untuk pertama kali selama kuliah Meira akhirnya menangis. Meira sedih melihat teman-temannya terluka namun dia lebih sedih saat ada yang bilang Meira adalah cewek cacat mental dan dia gak pantas untuk kak Al Al nya yang sempurna. Meira tidak mengerti apa yang salah dengan dirinya.


'Meira kan memang sudah seperti ini'. Sedihnya.


***


Minta vote, like dan komentnya ya..


Terima kasih.