Meira

Meira
BAB. 51



Dua orang yang dari tadi ditunggu Alando akhirnya datang, dua orang yang sangat berarti untuk Meira yaitu kedua orang tuanya. Pagi-pagi sekali sebelum Alando berangkat ke rumah sakit untuk menemani papanya kemoterapi, terlebih dahulu dia mampir ke tempat kerja ayah Meira untuk menemuinya dan menjelaskan tentang keadaan papanya yang sedang dirawat di rumah sakit sekaligus meminta kedua orang tua Meira untuk datang dan memberi restu untuk pertunangannya yang akan dilakukan siang nanti karena permintaan papanya yang sakit, meski Alando tidak menceritakan situasinya secara keseluruhan karena Alando yakin dia dan Meira bisa mendapatkan restu papanya dan melaksanakan pertunangannya sesuai rencana tetapi kalau gagal pun mungkin Alando memang akan membuktikan ancamannya dengan membawa Meira kawin lari dan untunglah Papanya ternyata memberikan restunya dengan sangat mudah.


"Ayah... Ibu kok bisa di sini juga?" tanya Meira heran, dia tidak tau kalau bisa bertemu mereka juga di rumah sakit ini. Tadi kak Zad Zad menjemput Meira di kelasnya saat mata kuliah sudah selesai, dan kak Zad Zad cuma bilang Kak Al Al nya sedang menunggunya di rumah sakit karena itu Meira mau ikut.


"Ayah sama ibukan mau melihat pertunangan kalian." Jawab ibunya Meira, mencium putrinya dengan sayang sekaligus terharu karena sebentar lagi dia bisa melihat anak perempuannya bisa mendapatkan lelaki baik yang kelak akan menjaganya.


"Oh ya Lan, bagaimana keadaan papa kamu?" sebagai calon besan tentunya Ayah Meira merasa khawatir dan ingin tahu keadaan calon mertua Meira, dan mudah-mudahan tidak ada halangan untuk mereka menuju ke pernikahan.


"Keadaannya memang belum ada perubahan Om masih sama seperti kemarin dan masih perlu perawatan intensif di rumah sakit." Jelas Alando, "Ayo Om, tante kita masuk." Ajak Alando, sekarang mereka ada di luar kamar rawat, Alando dan Meira memang sedang menunggu kedatangan mereka berdua di luar kamar.


Setelah obrolan singkat keluarga dari kedua belah pihak, akhirnya acara pertunangan mereka dilanjutkan. Pertunangan ini hanya bentuk formalitas, pernikahan Alando dan Meira secepatnya akan dilaksanakan mengingat keadaan Papanya yang semakin memburuk. Tidak apa-apa walau pernikahan mereka diadakan secara sederhana yang penting ada keluarga inti dari kedua keluarga masing-masing yang ikut menyaksikan.


"Alan, sekarang kamu bisa memasangkan cincinnya untuk Meira." Suruh Om Rendrawan, Alando mengambil cincin yang sudah dia persiapkan untuk mereka berdua yang dia simpan di dalam kantong celananya. Dengan lembut Alando meraih tangan Meira dan memasangkan cincin ke jari manis gadis yang ada di depannya. Pas, cincinnya memang ukuran jari manis Meira, tidak salah Alando mengajak adiknya Meira untuk bekerja sama meski dia harus kehilangan dua lembar uang ratusan ribu. Ternyata selain songong anak itu juga ahli meras orang, sayangnya saat ini dia tidak bisa hadir menyaksikan pertunangan kakak perempuannya karena masih di sekolah.


"Meira senang dapat cincin dari Kak Al Al." Senyum Meira seakan tidak ada habisnya, dia selalu suka apa pun yang diberikan kak Al Al nya, tidak peduli benda itu mahal atau tidak bahkan kalau pun Kak Al Al nya cuma memberinya cincin hadiah dari Kinden Jos yang merupakan makanan favorit anak-anak kecil sampai-sampai mereka menangis-nangis di depan mini market minta dibelikan, Meira tetap bahagia.


"Kalau begitu jangan pernah melepasnya." Perintah Alando, dengan tatapan cintanya. Dan dia sendiri pun berjanji tidak akan pernah melepasnya selama dia masih bernapas dan semoga dia bisa terus menepati janjinya itu dan semoga juga Tuhan pun merestui jalannya.


"Iya, Meira tidak akan pernah melepasnya." Janji Meira.


"Meira, giliran kamu. Pasangin cincinnya." Ibu memberi arahan pada putrinya untuk memasangkan balik cincinnya pada jari Alando.


"Iya, Meira pasangin." Namun saat baru mau menyentuh jari Alando tiba-tiba cincinnya jatuh, mungkin karena Meira sedikit gugup apalagi dilihat banyak orang begitu pun Alando yang dari tadi matanya tidak berpaling sedikit pun dari wajah tunangannya. "Yahh... Jatuh, kak Al Al?" Meira kaget, dia sudah ketakutan kalau-kalau cincinnya tiba-tiba menghilang.


"Tidak apa-apa!" Alando berusaha menenangkan gadisnya itu agar senyumnya kembali ceria.


"Dapat...!" teriak Dinda saat dia bisa menangkap cincin yang menggelinding di kakinya dan mengembalikan cincin itu kepada Meira.


"Syukurlah..." Seru semua orang di sana, mereka sudah gugup takut cincin hilang seperti di film-film.


"Ya ampun Meira." Hampir saja putrinya itu mengacaukan pertunangannya sendiri, Meira memang sering ceroboh dan ibunya sudah maklum, tapi kenapa harus di acara seperti ini, pikir ibunya. Tapi untunglah cincinnya ketemu, lega ibunya.


"Terima kasih, mbak cantik nanti Meira traktir makan ya?" Meira sok-sokan mau traktir Dinda yang anak orang kaya, paling-paling juga bisa mentraktir makanan di kantin rumah sakit.


"Hahaa..." Papa Alando tertawa melihat keluguan gadis yang dicintai putranya itu meski pelan, karena kalau terlalu berlebihan itu tidak akan baik buat pernapasannya sendiri. Ternyata gadis lugu seperti Meira lah yang bisa membuat anak lelakinya yang pemarah itu menjadi lembut dan penyabar.


"Panggil aja aku Dinda." Ucapnya, karena usia mereka terlihat tidak jauh beda. Meira menganggukkan kepala senang.


"Ayo Meira, pasangin cincinya nanti hilang lagi." Suruh Ibu cepat, khawatir anaknya ceroboh lagi.


Meira kembali memegang cincin itu dan kembali memasangkan cincin dengan hati-hati dan untungnya kali ini tidak terjadi masalah seperti tadi lagi. Semua lega terutama Ibu Meira yang sangat khawatiran pada anaknya itu.


"Sekarang kalian sudah resmi bertunangan, tinggal menunggu tanggal pernikahan kalian yang secepatnya harus dilaksanakan." Ucap Om Hendrawan, menjelaskan prihal yang sudah mereka bicarakan sekeluarga.


Acara pertunangan sudah usai, begitu pun kedua orang tua Meira yang harus segera pulang dan disusul oleh keluarga Alan yang lainnya, serta Zaden yang merupakan sahabat terbaik Alando, mereka tidak bisa berlama-lama berada di rumah sakit karena ada pekerjaan yang harus mereka selesaikan. Cuma ada Dinda yang setia menjaga Papa setiap harinya.


"Pa aku terima telpon di luar dulu ya?" pamit Dinda, dan cuma diangguki kepala oleh papanya. Dan tertinggal cuma Alando serta Meira yang terlihat tertidur di bahunya ikut menemani menjaga papanya.


"Papa tau kamu tidak menyukai Dinda, tapi bisakah kamu menganggapnya saudara." pinta papanya pada Alando.


"Kenapa aku harus melakukannya?" sinis Alando, memandang papanya.


"Karena dia sudah tidak punya siapa-siapa lagi selain Papa, waktu Papa menikahi Mamanya saat itu dia cuma berbeda 3 tahun dari kamu. Dia tidak pernah mendapat kasih sayang bahkan dari mamanya sendiri, karena dia lahir tanpa adanya seorang Ayah di sampingnya." Jelas Papanya, "Begitu pun keluarga Papa yang lain, tidak ada yang mau menerimanya sebagai bagian dari keluarga." Lanjutnya, berharap Alando bersimpati dan mau menerimanya sebagai saudara.


"Oh, rupanya dia anak haram." Ketusnya, Alando benci mendengar wanita perusak rumah tangga mamanya itu disebut. Lagi pula kenapa dia harus mengasihani anak orang lain sedangkan dirinya juga hidup tanpa kasih sayang setelah kepergian mamanya dan bukannya Alando juga tidak diterima dalam keluarga papanya itu setelah perceraian orang tuanya. Lalu apa perbedaan mereka.


"Haahh..." Papa Alando cuma bisa menghela napas berat, rupanya anak lelakinya itu masih sangat membenci dia dan wanita yang sudah merebut posisi mamanya tersebut. Dia bisa mengerti itu, kesalahannya memang sulit untuk dimaafkan.


"Baiklah." Mungkin memang sebaiknya dia tidak membahasnya. "Pulanglah kasihan tunanganmu itu sepertinya dia sangat lelah, ajak juga dia makan mungkin dia sudah kelaparan." Tatap Papanya pada gadis manis yang tertidur di samping anaknya itu.


Alando melihat kesampingnya, gadis itu tertidur sangat nyenyak padahal posisinya sangat tidak nyaman mungkin dia tidak bisa tidur dalam dua hari ini karena tidak melihatnya, pikir Alando. Bukan karena dia terlalu percaya diri menilai dirinya namun itulah yang sering diucapkan Meira setiap mereka tidak bertemu.


"Meira...? ayo bangun."


"Eghhh..." gumamnya dan perlahan membuka matanya menatap kesekelilingnya kemudian menatap ke arah kak Al Al nya bingung.


Meira terlihat seratus kali lebih manis di mata Alando, sampai-sampai dia pengen cium tuh bibir mungilnya, sayangnya ada papanya di ruangan itu. Mau tidak mau keinginannya di tahan dulu. Apalagi dua hari ini Alando memang tidak dapat asupan cinta dari gadisnya tersebut. Alando cuma berpesan jangan meniru kelakuannya saat ini, karena dia bukanlah lelaki baik versi suami idaman cewek-cewek solehah.


"Kamu sudah makan?" tanya Alando, dia benar-benar lupa memperhatikan kekasihnya ini karena dari tadi memang situasinya mengharu biru.


"Tadi Meira makan di kampus." Jawabnya pelan, masih mengantuk dan jiwanya belum sepenuhnya kembali ke dunia.


"Ya sudah, kita makan dulu." Ajak Alando, tidak tega kalau sampai Meira kena maag karenanya.


"Om mau Meira beliin apa?" tanyanya sopan pada calon mertuanya yang sedang sakit. Dari tadi Meira pengen mengajak bicara papa kak Al Al nya tapi karena lagi sakit dan butuh istrahat yang cukup Meira cuma bisa ikut menjaganya.


"Tidak usah, kamu makan saja yang banyak. Dan jangan panggil saya Om lagi ya Meira, kamu panggil saja saya Papa mulai hari ini." Mintanya pada calon menantunya itu.


"Boleh kan Kak Al Al, Meira panggil Papa?" tanyanya minta izin dan mendapat anggukkan kepala dari Alando yang membuat Meira sangat senang.


"Ya udah Papa, Meira mau makan dulu ya?" pamitnya begitu pun Alando yang membawa Meira ke kantin rumah sakit.


 


****


 


Dinda menerima telpon dari teman dekatnya Gaby, mau tidak mau dia harus keluar kamar untuk menerimanya. Pasti Gaby minta bantuannya untuk membuat pertunangan saudara tirinya itu batal. Dia tau seperti apa sifat Gaby, manja. Tapi sebenarnya temannya itu cuma butuh pengertian, dia bukan gadis jahat yang akan terus-menerus mengejar cowok yang dia suka dengan segala cara.


"Halo...?"


"Ada apa?" tanya Dinda to the point.


"Temui aku di luar rumah sakit." Perintahnya, klik.


Selalu begitu. Temannya itu suka seenaknya, Dinda akhirnya menuju tempat yang sudah di tentukan.


"Apa lagi sih Gab? Kamu tidak akan bersikap aneh-aneh kan."


"Aku belum terima Din, kan aku yang harusnya bertunangan dengan Alan bukannya gadis itu." Kesalnya, padahal dia sudah sangat berharap, karena sudah lama kedua orang tuanya dan Om nya itu merencanakan masa depan mereka seandainya Alan mau balik ke rumah Omnya. Dan bukankah sekarang Omnya sudah berbaikan dengan anaknya itu.


"Mau bagaimana lagi, kak Alan kan sudah punya pacar." Sahut Dinda.


"Kok belain dia sih, lagi pula aku lebih cantik dari dia." Sombongnya.


"Terus kamu maunya gimana? Aku nggak punya hak melarang kak Alan bersama kekasihnya." Jawabnya santai. "kami bukan saudara kandung kalau kau lupa." Tambahnya.


"Please Din bantu aku untuk menggagalkan pernikahan mereka?"


Vote, like dan koment yaa... *_*