Meira

Meira
BAB. 60



Entah apa yang dikerjakan pemimpin ZACKS itu? Apa dia sedang berpatroli dan menjadi pengawas maling sendok dan garpu di pesta ini atau malah pengawas tamu pencari makan gratis seperti dirinya. Tapi untungnya Kara bukan orang yang meletakkan harga dirinya di atas langit, hanya ejekan seperti itu tidak akan membuatnya tersinggung. Dia sudah kenyang selama dua tahun ini mendapat banyak ejekan dari Olivia dan Rena, istilahnya mentalnya sudah terlatih.


"Oh ini...? Bukan, aku makan nggak sebanyak ini. Ini tadi mereka yang kasih. Berhubung aku orangnya nggak enakkan nolak kebaikan orang jadinya gini, piringnya jadinya penuh hehee..., iya kan dek?" tanyanya manis dengan senyum penuh harap kerja sama dari mereka bertiga.


"Kami...?" tanya Rado, tidak mengerti.


"Iya tadi kan kalian sudah ngasih makanan-makanan ini, terima kasih ya dek." Tutur Kara dengan jurus kepura-puraannya yang selalu dia gunakan untuk bertahan hidup selama ini, sesuai situasi kondisinya. Dan saat ini dia masih ingin mempertahankan imej gadis kalemnya.


"Oh iya, itu... kami nggak sadar sudah mengambil kebanyakan, jadi ya sudah kita kasihkan makanan kita kepada mbaknya. Kami baik kan?" jawab Dito yang mengerti dengan mbak cantik di samping meja mereka yang membutuhkan kerjasamanya.


"Oh...? Ya sudah teruskan makannya." Ucap Zaden dan ikut duduk di depan Kara sambil mengawasinya dan duduk santai dengan tangan yang berada di kantong celananya. Bergaya sok cool seperti yang ada di drama-drama pavorit kaum hawa yang sudah mengenal arti kata bucin.


"Ke.. Kenapa duduk di sini? Ehh... maksudku kau tidak perlu mengawasiku, sungguh aku tidak akan mengambil benda apa pun di sini." Kara merasa tidak nyaman ada laki-laki tampan mengalahkan ketampanan babang tampannya duduk mengawasi dia makan, apalagi orang itu adalah pemimpin ZACKS geng kampus yang ditakuti mahasiswa lainnya. Selain takut tentu saja Kara bisa saja mati kena serangan jantung mendadak gara-gara ditatap salah satu orang terganteng saat ini.


"Loe pasti punya maksud tertentu berteman dengan Meira! Apa tujuan loe sebenarnya, jawab?" Tanya Zaden, menatap tajam dan tidak suka ke arah Kara. Tipe cewek yang mencari keuntungan di setiap situasi, pikir Zaden dan dia tidak suka dengan perempuan seperti itu.


"Apa?" kaget Rado yang mendengar nama kakak perempuan kesayangannya disebut.


"Hahh...?" bingung Kara, perasaan bukan dia yang mendekati Meira justru gadis itu sendiri yang terus menemuinya saat tidak sengaja berpapasan di kampus. Lagi pula keuntungan apa coba yang dia dapat dari Meira sebagai temannya.


"Jangan pura-pura? Bukannya loe sahabat Olivia?" masih dengan tatapan tajam itu ditambah bumbu-bumbu pedas keluar dari mulutnya.


"Meira kenapa?" tanya Rado tidak paham dengan pembicaraan mereka, tapi juga buat penasaran.


"Aku..." haah, dia kesal mendapat tuduhan seperti ini, dasar orang kaya sombong, maki Kara. Sayang cuma bisa dia katakan dalam hati. Oke, kenapa tidak sekalian aja Kara bikin kesal nih cowok sok ganteng di depannya yang memang ganteng di matanya, "Baiklah, sepertinya aku sudah ketahuan. Huuhh... Oke aku akan jawab." Sahut Kara berusaha berani untuk menatap mata Zaden si ketua geng.


"Hehh... Sudah gue duga." Sinis Zaden. Sedangkan Rado, Dito dan Zaki cuma berpandangan bingung, pertanyaan pertanyaan timbul di otak mereka.


"Aku memang mendekati Meira karena punya niat tertentu." Ucap Kara tertunduk lesu.


"Dasar picik." Tuduh Zaden.


"Aku suka sama kamu." Pandang Kara dengan mata memujanya, "Aku pikir kalau aku bisa dekat dengan Meira otomatis aku juga bisa mendekatimu, sungguh aku minta maaf. Tapi aku tidak bisa menghapus rasa ini." Ucapnya berlagak sedih.


"Hahh...!" kaget, mereka bertiga cuma bisa menonton drama romantis di depan mereka tanpa mau ikut berkomentar.


"Apa...? Kamu pikir..."


"Aku bohong!" cengir Kara, "Iya... Iya... Aku tau gadis rendahan sepertiku nggak pantas menyukai laki-laki yang punya segalanya sepertimu. Jadi nggak usah ceramahi aku." Potong Kara sebelum Zaden menyelesaikan omongannya, toh dia sudah membantu menyelesaikan apa yang ingin disampaikan lelaki sombong itu, batinnya.


"Aku berteman dengan Meira karena cuma Meira yang mau berteman dengan gadis rendahan sepertiku puas?" kesalnya, dan berdiri dari duduknya memandang makanan yang masih penuh di piringnya, "Oh... padahal aku masih sedikit memakannya." Keluh Kara, tidak peduli dengan empat orang yang memandangnya.


"Gue bawa kantong plastik kok mbak, mbak cantiknya mau?" tanya Zaki dan mengambil bungkusan plastik di tas bahunya.


"Oh baiklah." Kara mengambilnya dan memasukkan makanan di piringnya ke dalam kantong tanpa malu dengan mereka. Sudah terlanjur basah ya sudah sekalian aja basah, bodo amat dengan imej anggunnya, "Terima kasih makanannya, aku pamit." Seru Kara ramah komplit dengan senyum manisnya dan menunduk dalam pada Zaden layaknya orang orang Korea dalam drama, "Kalian juga terima kasih ya." dan beranjak pergi menuju ke tempat Meira.


"Haahh...?" Zaden cuma bisa terpaku dengan perlakuan gadis drama tersebut. Ternyata penampilan lembut dan kalemnya selama ini cuma topeng, sinisnya.


"Iyaa, jangan sungkan-sungkan dengan kami." Jawab Dito begitu pun Zaki.


"Kak Zaden, dia cantik loh." Goda Rado dengan cengirannya.


***


"Meira, aku pamit dulu ya?" serunya saat berada di depan Meira dan Alando serta teman-temannya yang lain. Sungguh dia iri dengan Meira, dia beruntung memiliki orang-orang yang menyayanginya.


"Yah, kok cuma sebentar sih kak Santan, kita kan belum ngobrol." Rengek Meira manja, mungkin karena usia dan sikap Kara yang lebih dewasa darinya hingga dia bisa bersikap seperti itu.


"Dia sudah membawa banyak makanan untuk dia bawa pulang Meira, makanya dia mau cepat-cepat pergi dari sini." Ejek Zaden, sedikit kesal karena mendapat perlawanan dari gadis itu, hingga membuat Zaden ingin mempermalukannya.


Alando, Steven sekaligus teman-teman Meira menatap kaget ke arah Kara, masih bingung dengan penjelasan Zaden, antara kasian dan bertanya-tanya.


"Oh itu benar." Kara mengangkat bungkusan di tangannya yang berisi makanan yang di masukkannya tadi. "Aku membawa banyak makanan biar nanti bisa ku makan di rumah." Bangganya dengan senyum cerah tanpa sedikit pun merasa malu dengan ejekan si lelaki angkuh itu.


"Kalau gitu nanti Meira boleh bawa juga kan kak Zad Zad? Meira mau makan sama Ibu dan Ayah di rumah?" pinta Meira penuh harap menatap Zaden. Malam pesta ini dinikmati banyak orang dan sahabat-sahabatnya tapi sayang tidak ada Ayah dan Ibu yang ikut menikmati dan menemaninya di sini, batin Meira.


"Hemm... Tentu Meira. Ini pesta kalian berdua, jadi semua makanan di sini juga buat kalian." Senyumnya pada Meira dan kembali menatap kesal pada gadis cantik yang sekarang seolah menantangnya.


"Ya sudah, kalau begitu aku pulang dulu ya Meira." Ucap Kara ingin secepatnya pergi dari sana. Menghilang secepatnya dari kerumunan orang-orang yang memandangnya itu.


"Hei rupanya kalian di sini...?" sapa Kenny dengan Adelia di sampingnya menghampiri kerumunan sahabat-sahabatnya, namun naas bak sebuah film di sinetron, entah siapa yang menjatuhkan cream kue di tengah jalan, dengan langkah cepatnya Kenny menginjak dan terpeleset hingga mendorong punggung Zaden yang ada di depannya dan, "Bruuk..." Zaden terdorong.


Kara melotot, kaget karena tiba-tiba orang di depannya, si laki-laki angkuh bermata sinis memegang bahunya dan menekan tubuhnya kebelakang, dan Kara tidak siap, dia kehilangan keseimbangannya. Kara tau apa yang akan terjadi, dia pasti akan jatuh dan membentur lantai jalan, tentu dia tau rasanya akan seperti apa.


"Bruuk... uuhh... Sakit..." ringisnya, Kara merasakan kepala dan punggungnya kesakitan berkat benturan itu apalagi ditambah berat badan seseorang di atasnya. Kara belum bisa membuka matanya, dia masih membiasakan punggungnya menerima kesakitan itu dan perlahan berangsur hilang.


"Kak Santan kau tidak apa-apa?" sapa Meira khawatir dan memandang dari atas pada dua orang yang seperti berpelukan di lantai jalan.


"Oh, iya... Iya..." Pelan-pelan Kara membuka matanya dan wajah tampan itu yang ada di depannya, mereka sangat dekat dan untuk sementara dia terpesona dengan lelaki itu bahkan telapak tangan itu kini berada di atas dadanya. Kara melotot, hinga dia menyadarinya.


"Aahh... dasar lelaki mesum!" teriak Kara dan mendorong tubuh berat itu darinya. "Apa yang kau lakukan padaku, dasar lelaki pencari kesempatan." Tuduh Kara setelah kembali berdiri tegap menjauhi Zaden dan menutup kedua dadanya dengan tangan bersilang bahkan dia melupakan punggungnya yang masih agak nyeri.


"Apa...? Hei loe nggak lihat hah, gue didorong bukan cari kesempatan apalagi dengan gadis seperti loe itu." Kesal Zaden dituduh yang tidak-tidak, "Kenny sini loe! Jelasin." Perintahnya tegas.


"Sorry, mungkin ada cupid yang naruh cream di sana dan bla... bla... semua terjadi dengan cepat dan Zaden sepertinya menemukan tempat yang nyaman untuk tangannya." Jelas Kenny dengan cengir tanpa merasa bersalah sedikit pun. Begitu pun Christ dan Steven yang sudah ingin memuntahkan tawanya ketika melihat muka pucat pasi pimpinan mereka.


"Hei, kurang ajar loe Ken." Tendangnya tulang kering kaki Kenny tanpa perasaan. Dia memperhatikan sekitarnya, tampak mata-mata itu melihat ke arahnya. Ini pertama kali Zaden mempermalukan dirinya sendiri di depan orang banyak terlebih ini adalah pesta kebahagiaan untuk sahabat dan adik angkatnya.


"Aw... aw... duh, sakit dodol. Kejam loe emang." Maki kenny kesakitan dan dibantu Adelia.


"Kak Zad Zad mesum ya kak Al Al?" tanya Meira, dia mendengar kekesalan dari mulut Kara yang terlihat sangat marah, "Mesum itu nakal kan kak Al Al?"


"Iya, sepertinya memang seperti itu." Sahut Alando mengiyakan, dan cuma memandang drama yang jarang terjadi pada sahabat baiknya itu. Setidaknya pestanya saat ini tidak membosankan, dia justru mendapat banyak kejutan dari sahabat-sahabatnya kali ini.


"Oh... kak Zad Zad sekarang nakal ya?"


"Bukan seperti itu Meira...!" jawab Zaden frustasi dan mengacak-acak rambutnya.


Vote, like dan koment ya.