Meira

Meira
Zaden dan Kara. 8



Alando sedikit mengantuk dan membiarkan Meira terus bercerita tapi saat dia mulai terlelap di kursinya tiba-tiba suara Meira mulai menghilang, membuat Alando memaksa dirinya untuk membuka mata dan benar saja Meiranya sudah menghilang.


"Meira...!" Alando berkeliling tempat tersebut dan menemukan Meira sedang bermain dengan kucing orangenya. "Ngapain kamu di sini?" tanyanya kemudian.


"Main, kasian kak Al Al... Laura nggak ada temannya." Meira memang pecinta kucing dan awal Alando mulai melihat Meira juga berkat seekor kucing yang waktu itu hampir dia tabrak, meski saat itu dia belum mengenal istrinya dan hanya sekedar tahu dan itu juga pas Meira masih ospek.


"Biar saja, nanti juga temannya datang mungkin mereka masih di jalan." jawabnya asal.


"Oh..."


"Ayo, aku antar..." tariknya tangan Meira hendak membawanya masuk gedung kampus, lagi pula mahasiswa sudah mulai berdatangan memenuhi setiap sudut tempat.


"Itu mobil kak Zad Zad." tunjuk Meira pada mobil yang baru datang dan menempati parkiran biasa. "Ayo kak Al Al kita ke sana." ajak Meira.


"Tunggu di sini aja, entar juga ke mari."


Tidak berapa lama kemudian kaca mobilnya terbuka, Meira sudah hendak berteriak memanggil namun yang mereka lihat bukan cuma Zaden yang ada di sana tapi juga seorang perempuan yang wajahnya masih tertutupi rambut karena gadis itu terlihat menunduk.


"Kak Al Al itu Kak Zad Zad sedang apa?" tanya Meira penasaran, kalau di lihat dari arah mereka memang terlihat tepat dari samping, karena kaca mobil yang terbuka membuat mereka terlihat jelas.


"Mungkin pacaran, sama kayak kita dulu." jelas Alando, mengingatkan dirinya yang selalu berusaha curi-curi kesempatan hanya untuk mencium Meira di setiap ada peluang.


Berbeda kalau sekarang, setiap dia inginkan Meira kapan pun sudah tidak ada yang melarangnya lagi, Meira sudah halal untuknya asal dia tau tempat aja.


"Oh, Kak Zad Zad sudah pacaran."


"Siapa yang pacaran?" tanya seseorang tiba-tiba, tiga lelaki yang baru datang dan ikut penasaran di belakang Meira dan Alando.


Mereka jadi ikut-ikutan seperti orang yang lagi main detektif-detektifan, lebih tepatnya mengintip.


"Kak Zad Zad."


Mereka bertiga saling berpandangan dan mengikuti arah pandang Meira pada sebuah mobil yang kaca jendelanya terbuka dan menampilkan Zaden yang sedang menghimpit seorang gadis yang tampak familiar di mata mereka.


"Itu Santan kan Meira? Mereka berdua memang sudah pacaran." sahut Steven, karena waktu di cafe Zaden memang sudah pernah bilang kalau gadis itu adalah pacarnya.


"Oh iya, wah ini perlu diabadikan nih, buat kenang-kenangan mereka." ucap Kenny yang jiwa usilnya mulai bangkit lagi. Dengan camera handphone yang harganya puluhan juta itu kini Kenny mulai membidik setiap gerakan dua orang di dalam mobil tersebut.


"Kak Santan?"


"Wah boss kita hebat juga ternyata." ucap Christ kagum, jujur dia tidak seberani itu untuk mendapatkan pujaan hatinya si Sansan, seandainya dia bersikap seberani itu yang ada Sany pasti ngamuk dan memakannya hidup-hidup.


"Oh tidak...!" ngeri Meira.


"Sudah biarkan saja, kalian kayak nggak pernah seperti itu saja." Alando mencoba menarik Meira dari tontonan romantis sahabatnya itu.


"Gue kan belum pernah." sahut Christ ngenes.


"Itu menjijikan." sahut Steven cuek tanpa peduli pemikiran orang-orang yang akan salah paham dengan makna apa yang ada dalam pemikirannya.


Seketika pandangan mereka tertuju pada Steven yang memang belum pernah sekali pun terlihat dengan cewek, Steven tidak suka dengan yang namanya cewek manja plus ribet, karena itu dia tidak pernah dekat dengan perempuan mana pun."


"Loe normal?" tanya Kenny curiga.


"Hahaa..." tawa mereka pelan dan kembali fokus pada dua orang yang lagi panas-panasnya tersebut, kecuali Alando yang berusaha membawa Meira menjauh dari sana.


"AAA... STOP." teriak Meira berlari ke arah mobil Zaden di mana Kara Sebentar lagi akan jadi makanan Zaden.


"Kak Zad Zad nggak boleh cium kak Santan, itu dosa tau." ucapnya saat tiba di depan mobil tersebut.


****


Suara teriakan dari Meira menyelamatkan dirinya dari lelaki yang kini masih memeluk pinggangnya, hanya saja perhatiannya tertuju pada Meira dan lihat lah tampangnya sekarang! Kenapa lelaki di depannya ini tampak tenang-tenang saja, tanpa sedikit pun khawatir atau frustasi gitu? Kan sudah kepergok cewek yang dia sukai.


Sedikit kaget memang sempat terlihat tapi Zaden cepat menguasai dirinya, seolah kejadian yang barusan bukan apa-apa. Malah kini dia sudah bisa memberikan senyuman mengejek kepada gadis di depannya tanpa sedikit pun merasa bersalah, seolah itu adalah ciri khas dirinya.


"Hahh... gagal deh bikin videonya." keluh Kenny salah satu sahabat Zaden yang memiliki wajah sedikit bule.


"Meira ini gara-gara kamu sih." omel Christ menatap Meira.


"Kok Meira sih yang disalahkan." tidak terima karena Meira bahkan tidak tau letak kesalahannya.


Diantara perdebatan itu, Kara mendorong Zaden dengan kesal dan lega akhirnya dia bisa melepaskan dirinya dan tidak perlu jadi sarapan pagi buat Zaden si iblis penggoda itu di pagi yang panas ini.


'Oh Meira terima kasih menyelamatkanku.' batin Kara bahagia. Dia turun mobil dan melangkah mendekati Meira, dan berharap mereka semua tidak menggodanya apalagi bertanya macam-macam. Begitu pun Zaden yang menyusulnya kemudian dan cuma pasrah melihat tingkah konyol teman-temannya yang sedang berdebat, juga hanya bisa maklum dengan sifat uniq Meira.


"Kita kan sudah mau ambil video mereka lagi ehem-ehem Meira!' jelas Kenny yang sudah menyiapkan kamera handphonenya dari tadi, tinggal sedikit lagi menunggu mereka melakukan adegan hot kisses in the car.


"Oh, ya sudah kak Santan dan kak Zad Zad masuk mobil lagi, kalau gitu." suruh Meira dengan entengnya.


"Meira...!" Kara cuma bisa melotot mendengar perintah Meira seenak jidatnya, bisa nggak sih nih Meira dia paketin ke planet mars.


"Nggak gitu juga kali Meira istri bucinnya Alando." seru Christ setengah gedek dengan pemikiran Meira.


Alando mendekati Christ dan mengunci lehernya dengan satu lengan, "Christ loe mau jadi lawan tanding gue!" ancam Zaden, tau sendiri kalau Alando mengajak mereka latihan taekwondo, dia tidak akan main-main.


"Oh, tidak." Christ berusaha melepaskan tangan Alando darinya dan bergegas kabur, menjauh darinya untuk sementara waktu.


"Ayo, teman-temanmu mungkin sudah di kelasnya." Alando menarik Meira untuk tidak terlalu ikut campur dengan urusan sahabatnya itu, biar saja lah itu hubungan mereka. Lagi pula Alando akan mendukung siapa pun pilihan Zaden.


"Oh sepertinya gue juga harus pergi." ucap Kenny yang tidak mau mengganggu kesenangan Zaden. Di susul Steven yang cuma terkesan bodo amat.


Zaden melirik Kara yang dari tadi menatapnya penuh kekesalan. "Bagaimana kalau kita lanjutkan yang tadi." usil Zaden, entahlah sepertinya menggoda Kara adalah pekerjaan baru yang cukup menyenangkan.


"Mati saja kau." jawab Kara kesal, dan meninggalkan Zaden yang tertawa puas.


Sebentar lagi kelas di mulai, berharap saja tidak ada pertanyaan-pertanyaan yang keluar dari mulut Zia yang membuat paginya tambah suram.


'Kenapa sih Zaden selalu ingin menciumnya? apa gaya pacaran orang kaya sepertinya memang seperti itu.' gerutu Kara.


Kalau begini dia harus berhati-hati pada Zaden, dan jangan sampai Ayahnya tau kalau anak perempuannya sudah mulai bermain yang haram-haram! Maklumlah Ayahnya adalah orang yang taat beragama. Masih mending kalau cuma dapat ceramah siraman rohani tujuh hari tujuh malam, nah, bagaimana kalau malah kuliahnya yang harus dihentikan, batin Kara dilema.


Vote, like dan koment.