Meira

Meira
BAB. 34



Hari semakin gelap bahkan sudah tidak ada cahaya yang bisa menuntun jalannya, hanya terlihat sedikit bias cahaya bulan itupun tertutupi dengan banyaknya pohon-pohon yang menjulang tinggi sehingga gadis itu tidak bisa melanjutkan langkah kecilnya lagi, dia hanya mampu terduduk di bawah pepohonan itu dan entah sekarang dia berada di tempat seperti apa dia tidak mau tau.


"Kak Al Al di mana, tolongin Meira..." Meira terus menangis ketakutan, bagaimana tidak dia sekarang berada di hutan yang gelap, sendirian dengan udara yang semakin dingin menghinggapinya serta bunyi-bunyian suara binatang malam yang ada di hutan apalagi saat malam justru suaranya semakin terdengar jelas. Meira terus menelungkupkan kepalanya diantara kedua lututnya untuk mengatasi ketakutannya bahkan suara ranting pohon berjatuhan pun rasanya terdengar mengerikan, ada banyak bahaya yang mengintainya di hutan ini seperti ular, buaya, bahkan hantu bisa saja ada di sampingnya saat ini, itulah pemikiran Meira. Otaknya dipenuhi dengan bayangan-bayangan yang menakutkan.


"Hiks... Hikss.. Meira takut."


"Kak Al Al di mana?" air matanya terus mengalir dengan segala ketakutan yang dia miliki saat ini.


***


Alando melangkah pelan menyusuri jalan di kegelapan malam mengarahkan senter dari handphonenya meski terbatas penerangan dia tidak mau menyerah, Meira membutuhkannya saat ini. Alando tidak peduli seberapa bahayanya jalan yang di telusurinya ini yang dia ingat jalan inilah yang belum dia lewati sejak tadi. Setiap dia melangkahkan kakinya beberapa menit sekali dia akan meninggalkan tanda meski tidak terlalu nampak karena gelap namun Alando sangat teliti dan ingatannya tidak perlu di pertanyakan lagi untuk yang satu itu, Alando termasuk mahasiswa yang cerdas bahkan jenius.


"MEIRA...!" teriaknya kencang sekaligus menajamkan pendengarannya.


Alando berharap Meira bisa mendengar teriakannya yang lumayan keras itu, bahkan mungkin makhluk-makhluk yang ada di sana baik makhluk nyata atau pun makhluk yang tidak nyata. Bisa jadi mereka juga ikut terkaget-kaget mendengar teriakkannya tersebut. Seandainya Meira memang ada di sekitar sini, Alando yakin Meira akan meneriakkan namanya balik. Namun sayang hasilnya sama tidak ada sedikit pun suara Meira yang terdengar. Kini dia bahkan sudah sangat merindukan celotehan gadis manis itu, tidak peduli seandainya nanti Meira akan terus berbicara atau pun menyanyikan lagu tidak jelasnya dia tetap akan berusaha sabar dan menyiapkan telinganya hingga panas yang penting Meira bisa kembali didekatnya lagi dengan segala tingkah laku cerianya dan sifat lugu yang sudah menjadi ciri khasnya seorang Meira.


Berbagai macam rintangan dia lewati. Jalan yang semakin sulit, rerumputan yang berduri dan entah hewan melata apa yang mungkin telah dia lewati tanpa peduli dia akan terluka bahkan sekarang saja kakinya sudah mulai sakit serta tubuhnya yang membutuhkan istirahat. Alando merasa sangat frustasi saat ini bahkan beberapa kali dia terus mengacak-acak rambutnya hingga rasanya dia ingin berteriak menumpahkan segala keputusasaannya.


"Hikss... Hikss..." suara tangisan seorang perempuan yang sedikit teredam membuat jantung Alando seketika berdetak kencang bahkan napasnya pun mulai meningkat, darahnya seakan mengalir cepat. Di hutan yang gelap ini cuma ada dua kemungkinan, kemungkinan pertama itu adalah suara tangisan Meira atau bisa juga gadis lain yang juga tersesat dan kemungkinan kedua itu adalah tangisan makhluk yang tidak ingin dia sebut, dan tentu saja Alando memilih kemungkinan yang pertama. Dia bukanlah Christ yang penakut dan langsung kabur tanpa mencari tahu sumber suara tersebut.


"Kreess... " perlahan Alando melangkah mendekati suara tangisan perempuan tersebut dan semakin dia mendekat maka semakin jelas juga suara tangisan tersebut hingga Alando semakin yakin kalau itu adalah suara tangisan Meira, gadis yang sudah membuatnya sangat khawatir.


"Hikss... Hikss..."


"MEIRA KAU ADA DI SINI?" Teriak Alando, saat ini dia hanya bisa mengandalkan instingnya bukan penglihatannya karena cahaya dari handphonenya tidaklah memungkinkan untuk melihat tempat itu secara keseluruhan.


"MEIRA...!" panggilnya kembali.


Meira yang dari tadi terus menangis ketakutan dengan tubuh yang gemetar hingga dia cuma bisa menelungkupkan wajahnya pada kedua lututnya sontak mengangkat wajahnya ketika mendengar suara teriakan kak Al Al nya yang terus memanggil namanya.


"Kak Al Al... ?" seketika tangisnya mulai mereda dan matanya mulai melirik ke sekitarnya.


"Kak Al Al Meira di sini." jawabnya serak, namun saat melihat cahaya lampu dari handphonenya Alando, meski Meira sendiri tidak secara jelas melihat wajah kak Al Al nya namun dia yakin itu adalah suaranya, seketika Meira bangkit dan menuju ke arah cahaya tersebut berada. Meira berlari dengan kakinya yang masih gemetar dia takut Kak Al Al nya tidak akan menemukannya kalau dia cuma berdiam diri di situ.


"Kak Al Al Meira takut, jangan tinggalin Meira hiks... hiks..." Cepat. Meira memeluk tubuh Alando dengan erat seakan dia sangat takut untuk kehilangan. Bahkan Alando pun tersentak kaget dan hampir terjengkang ketika Meira tiba-tiba menerjang tubuhnya dan memeluknya erat beruntung Alando bisa secepatnya menyeimbangkan tubuhnya hingga mereka tidak terjatuh bersamaan.


****


Zaden, Kenny, Steven dan Christ beserta rombongan bala bantuan menuju tempat di mana Alando tadi berada dan menunggu mereka, namun saat berada di sana ternyata Alando sudah tidak ada lagi.


"Dasar Alando! Seharusnya gue tahu dia tidak akan mau begitu saja menunggu di sini tanpa melakukan sesuatu." kesal Zaden, dia lupa sifat Alando seperti apa dan nyatanya dia bukanlah orang yang sabaran.


Kadang-kadang Alando tidak memikirkan masak-masak dulu permasalahannya dan langsung bertindak. Namun bodohnya Zaden malah mengabaikannya begitu saja, dia hanya takut Alando justru akan melukai dirinya di perjalanan, tanpa adanya cahaya mengiringinya mana bisa melangkah tanpa membahayakan dirinya sendiri. Bukannya Meira ketemu eh malah kini Alando juga ikut menghilang, Zaden dan ketiga temannya juga ikut frustasi kalau begini.


"Ya sudah kita cari saja mereka, tapi seandainya malam ini tidak ketemu juga terpaksa kita lanjutkan esok hari." ucap Zaden, beruntung beberapa orang khususnya laki-laki yang juga camping di tempat yang sama dengan mereka mau ikut membantu mencari.


"Oke...!" ucap mereka. Pencarian pun berlanjut, menyusuri jalan yang sekiranya akan dituju Alando, karena memang cuma arah sana yang belum mereka telusuri sejak sore tadi. Dengan peralatan seadanya dan sesekali meneriakkan nama mereka berdua Zaden berharap secepatnya dia bisa menemukan Meira dan Alando. Siapa yang tahu kalau di luar sana ada hal yang bisa membahayakan mereka berdua.


****


Alando sangat bersyukur akhirnya dia bisa menemukan Meira utuh tanpa sedikit pun terluka. Sekarang yang ingin dia lakukan hanya memeluknya erat meresapi keberadaan Meira yang sudah aman di pelukannya. Alando sadar Meira saat ini sangat ketakutan bahkan tubuhnya pun terasa sedikit gemetar.


"Aku sudah di sini dan aku tidak akan meninggalkanmu." sahut Alando lembut berusaha menenangkan tangis Meira.


Dia tidak peduli kalau sekarang dia harus berada jauh dari tenda bahkan kalaupun dia memang tersesat saat ini, Alando merasa itu bukanlah masalah buatnya karena kini dia sudah menemukan Meira, seseorang yang sangat berarti baginya. Biarlah besok pagi Alando mencari jalan keluarnya, lagi pula dia sudah membuat beberapa jejak pertanda mana saja jalan yang sudah dia lewati.


Mungkin saat gelap seperti ini memang tidak akan terlihat karena itu dia akan mengistirahatkan tubuhnya malam ini di sini bersama Meira barulah besok pagi saat cahaya terang mulai menembus hutan ini dia akan mulai bergerak. Alando hanya berharap teman-temannya bisa menemukan mereka berdua seandainya dia sulit untuk menemukan jalan kembali.


"Kak Al Al bawa Meira pulang, Meira takut di sini." Meira masih memeluk Alando erat takut untuk melihat sekelilingnya.


"Kita tidak bisa kembali malam ini Meira, jalannya sangat gelap bisa-bisa kita berdua makin tersesat jauh, lagi pula baterai handphoneku juga sedikit lagi mau habis." jelas Alando perlahan.


"Kita nggak bisa pulang?" tanya Meira yang mulai berhenti menangis namun masih membenamkan wajahnya di dada Alando dan masih dalam pelukan hangatnya.


"Iya, terpaksa untuk malam ini kita tidur di sini dulu, besok baru kita cari jalan pulang." jawabnya dan membawa Meira duduk di bawah pohon yang terasa aman untuk mereka duduki.


Jujur saat ini dia pun sangat lelah, Alando sangat membutuhkan istirahat. Apalagi udaranya juga semakin terasa dingin beruntung dia masih menggunakan jaketnya tadi siang begitu pun Meira yang juga menggunakan hoodie kebesaran Alando yang dia berikan malam itu karena jaket Meira bahkan sampai saat ini belum dia temukan, entahlah Meira menaruhnya di mana.


"Tapi Meira masih takut." jujur Meira, siapa pun pasti akan takut berada di tempat gelap seperti itu bukan cuma Meira bahkan Alando pun juga merasakan sedikit takut namun bukankah itu manusiawi tapi dia berusaha melawan ketakutannya itu untuk menenangkan Meira.


"Tidak apa-apa, ada aku di sini. Sini tidurlah dan pejamkan matamu serta terus bacalah semua doa yang kamu bisa." suruh Alando agar Meira bisa menghilangkan ketakutannya, Alando menuntunnya serta merebahkan kepala Meira kepangkuannya memberi perlindungan dan rasa aman yang bisa dia berikan. Sedangkan dia sendiri menyenderkan pungungungnya serta kepalanya ke pohon yang menjulang tinggi itu, rasanya melelahkan bahkan badannya kini benar-benar terasa remuk karena seharian ini waktunya memang dia habiskan untuk mengeksplore hutan dari cari foto-foto yang bagus sampai mencari Meira yang hilang hingga di sinilah dia berakhir. Namun semua kekhawatirannya seketika terobati karena kini Meira ada dalam pangkuannya tertidur dengan nyaman. Alando hanya berharap malam akan cepat berlalu berganti siang.


Sementara Zaden dan ketiga teman-temannya terpaksa berhenti di tengah jalan karena tidak mungkin untuk mereka terus melanjutkan pencarian lagi karena itu bisa membahayakan mereka juga, terpaksa kini mereka pun harus kembali ke tenda mereka lagi dan kembali melanjutkan pencarian esok hari, dan seandainya besok pun masih belum ketemu barulah mereka akan melaporkan ke pihak berwenang.


Vote like dan koment ya.