
"Drrttt... drrtttt..." ternyata handphone Christ yang berbunyi dan yang terpampang adalah nama Alando si raja iblis, sebutan yang dia berikan untuk Alando yang memiliki aura iblis hahaa... beruntung Alando tidak mengetahuinya.
"Meira...? Alando sudah ada menghubungi kamu nggak?" tanya Christ, penasaran.
"Hp Meira baterainya kan sudah mati." Jujur Meira.
"Kenapa nggak bilang? Adik kamu tau nggak kamu nyasar!" tanya Christ, pantas saja Alando langsung menghubunginya bukannya Meira terlebih dahulu.
Sebagai jawaban, Meira cuma menggelengkan kepalanya. "Kak Kris Kris kan nggak nanya." Sepolos itulah Meira.
"Aduuh Meira..! Orang tua dan adik kamu pasti khawatir sekarang."
Klik, Christ menerima panggilan video call dari Alando.
"Loe jangan macam-macam ya Christ, besok gue pulang. Mati loe di tangan gue!" tampak muka Alando yang kesal setengah mati.
"Hahaa... gue cuma bercanda jangan serius dong Lan, mestinya loe berterima kasih sama gue. Tau nggak Lan masa Meira nyasar sampai jalan di dekat kantor bokap gue? mana sendirian lagi duduk di bawah pohon kayak gembel baru magang aja." Tutur Christ.
"Ya udah gue mau ngomong sama Meira."
****
Akhirnya selesai juga presentasinya pada investor yang akan menjadi bagian pendukung terbesar di perusahaan mereka. Tentu saja ini akan memberi keuntungan pada masing-masing pihak, beruntung usaha mereka kali ini membuahkan kesuksesan.
Dan ternyata investor mereka adalah seorang gadis muda yang memang cukup sukses dalam dunia bisnisnya sehingga mampu memberikan investasi besar-besaran pada perusahaan mereka. Dan sepertinya gadis yang bernama Malika itu sangat tertarik dengan sikap wibawanya Zaden, dan Alando tidak terlalu mempermasalahkan itu toh Zaden juga belum memiliki pasangan dan setidaknya mereka memiliki status sosial yang sama.
Sejak tadi perasaan Alando sudah tidak nyaman, dia khawatir pada Meira takutnya ada orang-orang yang ingin berniat jahat padanya. Meski dia sudah memberi peringatan pada para mahasiswa di kampusnya tetap saja dia khawatir. Ya ampun, bagaimana bisa gadisnya selugu itu? Alando sangat merindukannya saat ini. Baru tiga hari saja dia tidak bertemu Meira rasanya sudah berbulan-bulan. Namun saat memeriksa beberapa pesan masuk, ada satu pesan yang menarik perhatiannya dan satu pesan itu juga yang bisa membuatnya sangat kesal.
"Christ mati kau!" Alando cemburu, Meira hanya akan jadi miliknya dan selamanya akan begitu. Kalau perlu dia akan meminta Meira secepatnya pada orang tua Meira tanpa menunggu lulus kuliah.
Tanpa menunggu lama Alando langsung menghubungi Meira namun tidak ada jawaban sama sekali dan itu semakin membuat Alando murka, beberapa kali dia coba namun sama saja. Akhirnya barulah dia menghubungi nomor Christ. Untungnya tersambung dan setelah beberapa detik berselang Christ akhirnya menjawab panggilan video callnya dan benar saja pemandangan di sekitarnya persis sama dengan di foto yang dikirim sahabat tukang tikungnya itu, dan itu membuat hati Alando semakin panas.
Terpampanglah senyum secerah mentari dari Christ seolah memgejeknya. "Loe jangan macam macam ya Christ, besok gue pulang. Mati loe di tangan gue!" ancam Alando, dia tau sahabatnya itu tidak mungkin menghianatinya tapi tetap saja kalau sudah berhubungan dengan Meira dia akan kehilangan kecerdasannya.
Dan setelah itu mengalirlah penjelasan dari Christ, ternyata gadisnya kesasar di jalan dan itu cukup jauh dari rumah Meira, bagaimana bisa dia nyasar ketempat itu? Mungkin buat gadis lain itu bukanlah masalah besar tapi ini adalah Meiranya, gadis itu berbeda dari kebanyakan. Bagaimana dengan adik Meira, apa dia tidak menjemputnya?.
"Ya udah gue mau ngomong sama Meira." Ucap Alando, dan kini pemandangan beralih pada wajah lugu gadisnya.
"Kak Al Al... Meira kangen. Kak Al Al kapan pulang?"
"Besok, kamu kenapa bisa nyasar sih Meira?" tanya Alando yang masih sedikit khawatir.
"Angkot yang Meira tumpangi mogok terus Meira nggak tau harus jalan kemana? Untung ada tante maminya kak Kris Kris jadi Meira selamat." Cerita Meira yang penuh antusias.
"Ya sudah nanti sampai rumah hubungi aku besok kita ketemu." Ucap Alando lembut, sungguh dia sangat merindukan gadisnya itu. Setidaknya kekhawatiran Alando pada Meira sudah terlepas bebas.
"Iya... dadah kak Al Al." Klik sambungan di putus Alando.
****
"Serius dia pacarnya kak Alando?" tanya Jason terpana melihat senyum lugu Meira.
"Kak Meira sama aku aja ya?" goda Jason.
"Aww... sakit! Apaan sih loe?" Jason tidak terima dapat pukulan dari kakaknya.
"Itu baru pukulan dari gue belum dari Alando, jadi jangan cengeng." Ejek Christ, menatap sinis pada adiknya yang masih bocah tapi kelakuan playboy, sepertinya Jason lebih cocok jadi adiknya Kenny sahabatnya itu dari pada jadi adiknya sendiri.
Selesai makan bersama barulah Christ mengantar Meira pulang ke rumah dan untungnya Alando sudah terlebih dahulu menghubungi Rado hingga tidak ada terjadi salah paham, dan benar saja adiknya itu kalang kabut mencari keberadaan kakak perempuannya itu sebelum Alando menghubunginya.
****
Jam 12.00 siang Alando kembali ke kotanya, dan satu-satunya orang yang ingin dia temui adalah Meira, dia sudah sangat merindukan kepolosan gadisnya tersebut. Dari bandara Alando memutuskan untuk pulang ke rumahnya terlebih dahulu dan mengganti pakaiannya, baru setelahnya dia pergi ke kampus hanya untuk menjemput kekasihnya itu. Karena memang empat hari ini Alando dan Zaden tidak masuk kuliah, tentu saja tidak akan ada masalah untuk mereka karena ada campur tangan dari Zaden. Siapa juga yang akan mempermasalahkan keabsenan mereka, perlu diingat keluarga Zaden adalah donatur terbesar kampus mereka.
"Kak Al Al..." Teriak Meira saat melihat Alando sudah menunggunya di taman parkir. Salah satu hal yang juga paling Alando rindukan yaitu, kebiasaan Meira yang berteriak memanggil namanya setiap mereka bertemu.
"Meira kangen banget sama kak Al Al." Peluknya, untung di parkiran cuma masih ada beberapa orang yang lewat di dekat mereka hingga tidak menimbulkan perhatian dan tentunya tidak ada yang berani mengganggu apalagi sampai menegur mereka.
"Ayo kita pulang." Tidak ada balasan dari Alando tapi bukan berarti dia tidak merindukannya juga. Alando hanya sulit bermulut manis setiap harinya.
Dia hanya memasangkan helmnya untuk Meira sebagai bentuk perhatian mungkin ini juga sudah menjadi kebiasaan Alando untuk Meira.
Motornya melaju meyusuri jalan menuju rumah Alando.
"Loh ini kan rumah Kak Al Al bukan rumah Meira?" tanya Meira bingung, dia kira kak Al Al nya akan mengantar Meira pulang kerumahnya langsung.
"Temanin aku makan dulu di sini, aku malas makan sendirian Meira." Alando memang sedang malas makan, dia ingin makan berduaan sama kekasihnya ini tapi alasan utamanya mengajak Meira ke rumahnya untuk menghabiskan waktu bersama karena beberapa hari ini mereka tidak bertemu dan kalau dia ke rumah Meira mana bisa mereka berdua-duaan.
"Oh gitu? Meira akan temani kak Al Al makan dulu kalau begitu." Jawab Meira polos.
Alando memang hanya ingin menghabiskan waktunya bersama Meira tanpa gangguan adik Meira si Rado itu, lagi pula dia sudah kirim pesan pada Rado kalau dia akan mengajak kakaknya itu jalan-jalan.
"Kak Al Al mau makan apa? Tapi isi kulkasnya cuma ada telur dan nugget." Beritahunya pada Alando setelah melihat isi kulkasnya yang cuma ada dua jenis makanan.
"Aku belum sempat belanja, kita makan yang ada aja ya...?" tanya Alando meraih tangan Meira dan membawanya ke dalam pelukan.
"Iya, Meira suka nugget kok." Jawab Meira menatap wajah kak Al Al nya yang lebih tinggi darinya.
"Tapi aku sukanya kamu." Untuk pertama kalinya Alando menggombal untuk Meira, rasanya Alando memang harus secepatnya melamar Meira pada kedua orang tuanya, tapi masalahnya apakah orang tua Meira mau begitu saja menyerahkan putri kesayangannya ini kepadanya. Dia sadar kalau dirinya belum dewasa secara keseluruhan, kadang dia masih egois dan lebih mengandalkan emosinya dari pada memikirkan resiko yang akan terjadi setelahnya. Sedangkan masalah finansial untuk saat ini memang keadaannya lebih baik apalagi setelah perusahaan digital kecil mereka saat ini telah berkembang dan produk yang mereka pasarkan saat ini telah dilirik banyak pengguna internet di Indonesia dan mungkin suatu hari nanti akan berkembang secara global.
"Meira juga suka kok sama kak Al Al, setiap hari Meira tambah suka." Tawanya menghiasi wajah cantik Meira.
"Aku tau...!" Alando terus menatap Meira dan mengecup kening Meira dan satu tangannya yang tadi memeluk pinggang Meira kini beralih pada tengkuk Meira perlahan Alando mendekatkan wajahnya pada Meira dan ******* lembut bibir gadisnya itu lembut.
"Cupp... cupp..." Kecupan lembut terus berlanjut mungkin karena Alando terlalu merindukan Meira hingga dia tak mampu melepasnya. Meira memang gadis yang pasif tapi Alando menyukainya karena dia tipe lelaki dominan, dan dia rasa dia sudah merusak kepolosan Meira.
"Cupp..." Alando mengakhirinya dengan kecupan di kening Meira tanda dia sangat menyayanginya. Dia ingin memperlakukan Meira secara benar walau kadang godaan sulit dilawan.
"Ayo kita menikah?"
***
Vote, like dan koment yaa