Meira

Meira
BAB. 69



Dari pagi sampai siang ini Meira bikin kesal semua keluarganya terutama suaminya, Alando. Bagaimana tidak hampir setiap sepuluh menit sekali Meira menghubungi Alando lewat telpon dan menanyakannya kapan pulang, tentu saja dengan rengekan yang membuat Alando mengelus dadanya.


"Drrrtttt... Drtttttt..." lagi. Untuk kesekian kalinya panggilan dari istri tercintanya. Mau marah tapi nggak bisa, apalagi kalau sudah lihat muka polosnya Meira.


"Klik."


"Kak Al Al kapan pulang?, Meira nggak suka ditinggal sendiri." tanyanya langsung setelah telponnya tersambung, tanpa salam apa pun.


"Ini baru jam 15.00 siang Meira, aku masih kerja. Nanti sore aku pasti pulang, lagi pula di rumah kan ada ibu." sahut Alando sabar.


Padahal kerjaannya lagi banyak-banyaknya, kalau Meira terus mengganggu seperti ini bisa-bisa pekerjaannya malah tidak selesai-selesai. Saat ini dia sudah berada di tempat kerja, tepatnya duduk di belakang meja kerjany dengan komputer yang terletak di atasnya.


"Ibu sudah nggak sayang sama Meira lagi, Meira diomelin terus." adunya, dengan suara sedih. Perasaan Meira memang lebih sensitif akhir-akhir ini.


"Jangan ngomong seperti itu di depan ibu, nanti ibu sedih. Makanya jangan buat ibu marah." tegurnya. Istrinya ini padahal tidak marah pada ibunya sekali pun, walau dimarahin tiap hari juga dia tidak pernah mengadu, tapi berbeda dengan hari ini.


"Maaf," sesalnya, "Meira nggak mau lihat ibu sedih, tapi Meira nggak buat ibu marah kok." lanjut Meira dari sambungan telpon.


Mungkin Meira tidak sadar, justru tingkah cengeng dan manjanya yang berlebihan ini lah yang membuat seluruh keluarganya marah. Bukan marah sih... lebih tepatnya kesal aja, mereka mana mungkin bisa marah pada wanita kesayangannya itu.


"Kalau begitu minta maaf sama ibu, aku tutup telponnya." klik, tutupnya.


Alando menghela napas, mengumpulkan sisa-sisa kesabarannya yang masih ada.


Bukan apa-apa, dia hanya tidak mau lembur malam ini dan membuat istrinya itu menangis lagi hanya karena tidak melihatnya.


"Meira lagi...?" tanya Christ. Penasaran, akhir-akhir ini memang tingkah Meira menjadi menyebalkan dua kali lipat, belum lagi sifat manja dan cengengnya yang membuat sahabat-sahabat Alando maupun sahabat Meira sendiri kena imbasnya. Seperti kemarin saja, waktu Christ menolak membelikannya jus mangga, yang ada Meira malah menangis kejar dan merajuk padahal Alando sudah membelikannya sendiri tapi dia tetap ingin dibelikan olehnya.


"Hemmm... nggak tau kenapa, Meira jadi cengeng banget akhir-akhir ini." sahut Alando sejujur-jujurnya, dengan mata mengarah pada layar monitor komputernya serta tangan yang masih berada di keyboard.


"Bawa saja istrimu ke dokter kandungan Lan, mungkin dia lagi hamil." tawa Pak Edo, salah satu rekan kerja Alando yang juga bekerja di kantor mereka.


"Hahh...?"


"Dokter kandungan...?"


"Hamil...?"


Alando dan sahabat-sahabatnya ikut kaget dan mencerna omongan pak Edo, yang memang berusia lebih tua darinya dan sudah memiliki istri dan satu anak.


"Iya, istriku dulu juga kayak gitu waktu mengandung anak kami, bahkan mungkin lebih aneh dari istri kamu Lan. Nih ya, istriku itu masa minta dicarikan buah rambutan padahal bukan musimnya, dan alhasil nangis kejarlah dia berhubung aku nggak bisa memenuhi keinginannya. Yah intinya banyakin bersabarlah kalau memang istrimu itu hamil." jelas Pak Edo panjang lebar, menceritakan pengalamannya ketika pertama kali istrinya mengandung anak mereka.


"Lan loe nggak ada firasat sedikitpun?" cerca Steven.


"Atau mungkin ciri-ciri orang hamil gitulah." tambah Kenny, yang ikut kepo.


Kalau itu memang benar berarti dia akan memiliki keponakan baru, setelah cukup lama memiliki keponakan dari kakak perempuannya yang kini sudah sekolah SD namun sayangnya sudah pindah ke luar negeri mengikuti suaminya yang juga orang bule.


"Mana gue tau." jawab Alando yang masih setengah percaya, jujur dia kaget.


Kalau memang istrinya itu memang hamil, yah dia cuma bisa bersyukur. Meski dia memang masih ingin menikmati masa-masa berduaan, apalagi bisa dibilang masa pacaran mereka yang tergolong singkat, ditambah usia pernikahan mereka yang masih empat bulanan. Tapi untuk menggunakan kontrasepsi saat itu pun, dia enggan karena banyak orang yang justru menunggu 5-6 tahun baru bisa punya anak, apalagi dia memang berharap punya banyak anak nantinya biar rumahnya tambah rame tidak seperti dirinya dulu yang cuma sendiri.


"Ya nanya dong Lan." sahut Kenny kesal, kadang-kadang sahabatnya itu bisa sangat bodoh kalau menghadapi situasi seperti ini.


"Sama siapa...?"


"Hahaa..." tawa sahabat-sahabatnya yang tiba-tiba melihat Alando mendadak bodoh.


"Ya dokter lah Lan! Masa gue." sahut Christ.


"Atau loe nanya mbah google aja dulu." usul Steven, memberikan solusi tercepat.


"Oke." jawab Alando kembali menekuni layar monitor komputernya, tapi bukan ubtuk melanjutkan pekerjaannya melainkan menemui mbah googlenya.


Dari pada pikirannya terbagi antara pekerjaan dan dugaan-dugaan kehamilan istrinya yang masih belum seratus persen terbukti kebenarannya, kini Alando fokus dan menyusuri setiap artikel yang berhubungan dengan 'Tanda-tanda awal kehamilan' dan memang Alando merasakan perubahan Meira sedikit banyaknya seperti yang ada di artikel itu. Dari perubahan suasana hatinya yang tiba-tiba naik turun dan sepertinya dalam satu bulan lebih ini Meira belum mengalami masa haid karena sampai saat ini mereka secara teratur masih berhubungan badan tiap malam minimal jeda satu hari.


****


"Ibu... Meira pengen makan rujak, tapi dengan saus cokelat meleleh eummmm... pasti enak."


ucap Meira, yang kini menghampiri ibunya yang lagi nonton sinetron yang judulnya panjang kali lebar dan di luar nalar Meira.


Bahkan sejak tadi dia sudah mencoba memahaminya, namun sampai saat ini dia belum mendapat jawabannya juga, 'Anakku ternyata bukan anakku tetapi anak dari istri mantan sahabat suamiku.' Judul sinetron yang membuat Meira kesal sendiri dan ingin mencubit adiknya jikalau saat ini dia ada di rumah.


"Kamu aneh-aneh saja sih Meira, kayak orang lagi ngidam aja." ucap ibunya tidak sadar.


Hingga sekian detik akhirnya membuat ibunya tercengang dan menatap ke arah Meira yang lagi menikmati rujak saus cokelat imajinasinya. Ibunya terus menatap Meira menyelidik, dari fisik Meira memang agak sedikit gemukan ditambah sikap manja dan cengengnya yang sedikit berlebihan.


"Meira... bulan ini kamu sudah haid belum." tanya ibunya dengan sabar, karena kalau anak perempuannya ini memang hamil artinya dia harus lebih bersabar dan lebih ekstra menjaganya, maklumlah putrinya itu sangatlah ceroboh.


"Emmm... Sudah belum ya?" Meira mencoba menggali ingatannya yang telah menghilang begitu cepat. "Pembalut Meira masih banyak kok. Meira bahkan belum beli lagi." jawabnya santai.


"Hahhh... anak ini." percuma menanyai Meira, dia bahkan tidak mengerti maksud ibunya. Mungkin yang ada, dia akan terus bertanya padanya tanpa henti.


"Kenapa?"


"Bukan apa-apa. Kamu telpon aja suami kamu minta beliin rujak sama cokelat, nanti biar ibu yang buatin sausnya." suruh ibu.


****


Alando Benar-benar tidak fokus pada pekerjaannya hari ini, bagaimana tidak! yang dipikirkannya sepanjang waktu ya cuma Meira, apakah Meira beneran hamil seperti dugaan sahabat mau pun dirinya sendiri.


Ingin sekali secepatnya dia membawa Meira ke dokter kandungan dan mengetahui hasilnya tapi tidak mungkin juga bisa hari ini.


Kini Alando sudah berada di depan pintu rumahnya, tidak sabar menunggu pintu dibuka dan berharap sang istri lah yang menyambutnya dengan senyum paling manis yang pernah dia lihat, ada banyak pertanyaan-pertanyaan yang tersimpan di otaknya saat ini untuk istri manisnya itu. Bisa dikatakan Alando bahagia saat ini, apalagi jika terbukti istrinya memang sedang mengandung.


"Kreek..." pintu terbuka dan ternyata bukan istrinya melainkan ibu mertuanya yang kini membukakan pintu untuknya.


"Assalamualaikum Bu..."


"Waalaikumsalam..."


"Meira di mana Bu?" tanya Alando heran, karena biasanya saat ini Meira sudah duduk manis di ruang tamu dan menunggu kedatangannya. Biasanya setiap dia datang Meira akan memeluknya erat seolah mereka tidak bertemu berbulan-bulan dan itu sudah berjalan semingguan ini.


"Ada di kamarnya, sepertinya dia ketiduran setelah bosan menunggu kedatanganmu, oh ya Al... kamu bawakan rujak dan cokelat pesanan Meira." tanya ibu memastikan.


"Iya bu, ini."


"Ya sudah ini biar ibu yang buatkan untuk Meira."


"Iya, terima kasih ya Bu. Aku temuin Meira dulu."


"Tungu sebentar, ada yang mau ibu bicarakan sama kamu. Ini tentang Meira."


"Meira...?"


"Iya, sepertinya Meira sedang hamil. Kamu belikan saja dulu alat tes kehamilan biar jelas atau langsung ke dokter saja." saran Ibu.


"Iya bu, aku juga berpikiran seperti itu. Mungkin besok aku langsung bawa Meira ke dokter kandungan saja sekalian periksa kesehatannya." jawab Alando halus.


Ibu Meira dan ayahnya sudah dia anggap seperti orang tua kandung, mungkin dia salah satu orang yang beruntung karena memiliki mertua yang sangat baik terhadapnya, bahkan orang tua Meira sangat jarang nyaris tidak pernah ikut campur dengan urusan rumah tangga mereka kecuali kalau memang harus dan sekedar memberi nasihat terutama pada Meira yang selalu bersikap manja padanya. Namun sedikit pun Alando tidak pernah merasa keberatan dengan sikap manja istrinya karena sejak awal dia tau konsekuensinya saat memutuskan untuk menikahi Meira.


"Oh, ya sudah kalo begitu. Kamu temani Meira aja, ini nanti ibu antarin kekamar kalian." ucap ibunya sebelum beranjak ke dapur.


Setelah berada di kamar mereka, Alando mendekati istrinya yang sedang tertidur pulas dengan nyaman dan wajah itu terlihat sangat polos dalam tidurnya.


"Cupp..." Alando memberikan kecupan di bibirnya yang semakin hari terlihat menggoda dan sexy dari sebelumnya. Mungkin akibat ciuman panjangnya setiap hari yang tanpa bosan diberikan Alando untuk istrinya itu.


Dan kini bibir itu beralih pada perut Meira yang masih terlihat ramping dan mungkin saat ini sudah ada malaikat kecil mereka yang mulai tumbuh. "Cupp... Cupp... Cupp..." ciuman bertubi-tubi kini tertuju pada tempat tinggal makhluk kecil mereka, dan meski belum ada pemeriksaan entah kenapa Alando sangat yakin bahwa istrinya memang sedang hamil anak pertama mereka ditambah dengan ucapan ibu Meira tadi.


"Iih kak Al Al... Meira kan geli, heehee... peluk." mintanya manja, akibat ciuman suaminya di perut sang istri, jadilah Meira kebangun sendiri. Tapi Meira senang karena dari tadi dia sudah menunggu lama suaminya itu pulang ke rumah.


"Tapi aku belum mandi, Meira." tolak Alando.


"Nggak apa-apa Meira suka wangi kak Al Al, enak."


Mau tidak mau Alando menuruti istri tercintanya, meski agak gerah dan tidak nyaman kini dia memposisikan dirinya senyaman mungkin sambil memeluk Meira dengan masih berbaring dan tanpa menimpa perut Meira yang kini dia yakini, sudah ada janin yang tumbuh dalam rahim sang istri.


"Meira suka kalau dipeluk seperti ini." ucap Meira sambil memeluk suaminya.


"Iya, tapi sebentar aja. Setelah ini aku mau mandi."


"Aaaa... nggak boleh mandi, temanin Meira! Seharian ini kak Al Al sudah ninggalin Meira, hiks... hiks..." tangisnya tumpah lagi. Semakin erat memeluk tubuh Alando, tidak mau ditinggalkan lagi.


"Hahh..." Alando cuma bisa menghela napas dan lebih bersabar menghadapi tingkah istrinya yang semakin aneh dan manja. "Ya sudah, aku tetap di sini." ucapnya mengalah.


"Kamu sudah makan?" tanyanya khawatir.


"Sedikit, Meira nggak suka. Ikan dan telur buat Meira ingin muntah."


"Ya sudah, kamu mau makan apa? Nanti aku beliin. Tapi kamu harus makan." bujuk Alando, sambil mengelus perut Meira lembut, meski Meira merasa geli.


"Meira mau makan rujak dengan saus cokelat."


"Sudah aku belikan, tunggu ibu sebentar lagi.


Tapi selain itu kamu harus memakan makanan yang lain juga." bujuknya.


"Oh kalau begitu, Meira mau makan martabak manis isi keju."


"Ya sudah, nanti setelah mandi aku beliin ya?"


"Nggak mau, kak Al Al tetap di sini temanin Meira." Meira semakin erat memeluk suaminya dengan muka yang bersarang di ceruk leher suaminya sambil sesekali mengendus-endus kulit lehernya.


"Oke, nanti biar Rado yang pergi." Alando menikmati apa yang dilakukan istrinya, seandainya dia tidak ingat kondisi Meira yang mungkin sedang berbadan dua, mungkin saat ini dia akan menimpa istrinya dengan cepat dan bersikap dominan menguasai istrinya seperti biasa. Tapi untuk saat ini dia akan menahannya, menunggu penjelasan dari dokter yang akan mereka kunjungi besok.


"Gak mau... Rado sudah omelin Meira. Meira nggak suka."


"Terus siapa, Ayah? Kasian ayah, beliau baru pulang kerja." sahut Alando mencoba memberi penjelasan sambil mencuri kesempatan meraba-raba dada istrinya, yang baru dia sadari ternyata sekarang ukurannya bertambah dari terakhir kali dia menikmatinya dan dari yang dia baca kalau itu salah satu ciri orang sedang hamil.


"Iih bukan, Meira maunya kak Zad Zad yang beliin. Nggak mau yang lain. Kak Zad Zad baik."


Vote, like dan koment.