Meira

Meira
BAB. 13



Pagi ini nampak seorang Alando menunggu seseorang di parkiran, dia masih duduk santai di atas motor matic hitamnya, Alando sengaja menyuruh teman-temannya untuk lebih dulu pergi ke gedung basket, seperti biasa mereka akan latihan di pagi hari sebelum masuk mata kuliah. Pun dengan suasana kampus yang masih terlihat sangat sepi.


Tidak membutuhkan waktu lama perlahan satu buah motor matic mendekat ke arah parkiran di dekatnya, seorang gadis yang sudah dia tunggu dari tadi. Gadis itu duduk di boncengan seorang pelajar SMA laki-laki yang dia ketahui itu adalah adik Meira yang selalu dipanggilnya Radodo. Ternyata, bahkan adiknya sendiri saja tidak luput dari panggilan aneh Meira.


Turun dari motornya, Meira langsung berlari kecil ke arah Alando yang membuat adiknya Rado kesal setengah hidup.


"Kal Al Al..., Kak Al Al nungguin Meira ya?" setengah teriak memanggil kak Al Alnya, dengan penuh kebahagiaan dan percaya diri semakin dekat menghampiri Alando.


"Enggak! Aku juga baru datang!!" dusta Alando yang berusaha menutupi salah tingkahnya dengan omongan ketusnya.


"Oh, jadi kau yang namanya Ale Ale?" Tebak Rado adiknya Meira dengan sinis, yang kesal melihat Kakaknya menjadi bucin. Karena beberapa hari ini, di saat sakit pun Meira masih menyebut namanya.


"Ale Ale...?" tanya Alando bingung. Adik kakak ternyata sama saja, suka-suka mereka mengubah nama orang.


"Ihh... Radodo! Meira kan sudah bilang namanya kak Al Al bukan Ale Ale.! Ale Ale itu minuman buah." kesal Meira pada adiknya sambil mencubit lengannya Rado yang menyebalkan.


"Aww... Aduh... duh..." Rado mengaduh kesakitan karena cubitan kecil yang di lakukan kakaknya itu. "Loh kok aku yang di cubit sih?" tidak terima kakaknya lebih membela si Ale Ale itu.


"Radodo menyebalkan sih." cemberut Meira. Rado tidak menanggapi Meira, karena dia memang tidak bisa marah sama kakaknya itu, Tapi justru dia lebih memperhatikan laki-laki yang dari tadi cuma bersikap bodo amat.


"Awas loe yaa, berani permainkan kakak gue?" Tatapnya sinis.


"Memang loe kira kakak loe mainan, hahh...?" Balas Alando tidak kalah sinis.


"Meira bukan mainan kok, Meira kan manusia?" polos Meira. "Nih lihat..." Meira mencubit lengannya dan pipinya, memperlihatkan kalau dia bukan robot atau plastik.


"Ayo...!" Alando menarik tangan Meira dan menggenggamnya tanpa mempedulikan celotehan Meira dan sikap protectifnya Rado pada kakaknya itu.


"Pokoknya gue tetap akan mengawasi loe ya Ale Ale." Teriaknya. Sekarang Rado lebih bisa menerima. Setidaknya Rado sedikit tahu tentang si Ale Ale itu, dilihat dari sikapnya tadi, yang bukan seorang penjilat, Rado sedikit yakin kalau laki-laki itu tidak mempermainkan kakaknya, meski begitu dia tidak akan berhenti mengawasinya.


Alando membawa Meira menuju ke gedung basket tempat biasa dia dan timnya latihan. Beruntung belum ada orang yang berada di kampus sehingga penampakkan mereka berdua sekarang tidak akan menjadi viral di dunia perkampusan mereka. Alando dan Meira memang berbeda jurusan namun gedung mereka tidak berjarak terlalu jauh.


"Kak Al Al memegang tangan Meira?" Tanya Meira seakan tidak percaya ini adalah nyata.


"Kenapa? Tidak suka?" Alando menghentikan langkahnya dan menghadap Meira dan menatapnya menyelidik.


"Hehee... Meira suka! Suka banget." sahut Meira dengan gaya cengengesan dan manjanya saat ditatap Alando.


"Ya sudah. Diam jangan protes!" Perintahnya dan melanjutkan langkahnya menuju gedung basket di mana teman-temannya sudah berkumpul. Sedangkan Meira hanya mengangguk dengan senyum yang tak pernah lepas dari bibirnya.


Yang tadinya anak-anak tim basket pada ribut dan sibuk sendiri dengan bola basketnya, tiba-tiba senyap seketika, ketika melihat seorang Alando menggandeng tangannya Meira yang selama ini cuma bikin kesal dan ilfeel seorang Alando.


"Jangan-jangan Alando mengalami amnesia atau kena hipnotis?" sambung Kenny curiga.


"Atau mungkin juga saat sakit kemarin, ternyata Meira memiliki penyakit parah dan kecil kemungkinan untuk bertahan hidup sehingga Alando merasa kasian?" timpal Christ dramatis dan mendapat geplakkan di kepalanya, hadiah dari Zaden. Sedangkan Christ hanya mampu meringis.


"Drama king kalian semua! Bukankah memang ini yang kita inginkan?" sahut Zaden, merasa usahanya tidak sia-sia selama ini untuk mendekatkan mereka.


"Iya sih, lagi pula yang bisa tahan dengan sifat Alando kan memang cuma Meira? Cewek-cewek lain mah, dibentak dikit langsung kicep." Kenny teringat waktu awal-awal kuliah ada beberapa cewek yang mencoba mendekati Alando langsung kena bentak dan sejak itu tidak ada yang berani dekat-dekat lagi sama Alando, baru Meira yang bisa.


Waktu awal kuliah, Alando cuma berteman dengan Zaden. Tapi lama-kelamaan, karena mereka satu kelas akhirnya mereka berlima bisa akrab. Apalagi ketika Alando membantu membalas perlakuan senior mereka yang sok berkuasa saat ospek, hingga terjalinlah persahabatan sekaligus geng kampus yang mulai ditakuti para maha siswa.


Flashback:


"Di tempat parkir yang mulai sunyi mungkin juga karena para mahasiswa sudah pada masuk kelas, dan beruntungnya lagi tidak ada security yang sedang berjaga di tempat itu.


"Beneran loe akan melukis nih mobil?" tanya Kenny pada Christ yang sudah siap dengan piloxnya. Sedangkan Steven sedang berjaga jaga melihat sekelilingnya. Namun sayangnya dia tidak sadar ada seseorang yang juga berada di sana memperhatikan mereka.


"Ya beneran lah! Gue nggak terima. Seenaknya aja mereka menyiksa kita selama ospek." Christ masih tampak dendam dengan senior-senior itu yang menyuruhnya merayap seperti buaya sepanjang lapangan.


"Kalian sedang apa?" Alando yang berdiri tidak jauh dari sana saat melihat keanehan tingkah laku ketiganya, dia langsung menyusul mereka. Mereka bertiga kaget, kegep sama Alando yang merupakan salah satu teman sekelas mereka, seketika ketiganya jadi gugup. Pasalnya meski mereka teman satu kuliah, mereka tidaklah dekat, bahkan jarang atau sama sekali tidak pernah berinteraksi satu sama lain. Alando sama sekali tidak tersentuh kecuali sama Zaden. Sedangkan sama Zaden setidaknya mereka sudah cukup akrab.


"Oh... Ini, mobil gue kayaknya bannya bocor deh, tapi saat dilihat-lihat ternyata enggak." Christ terlihat gugup dengan penjelasannya dan berusaha menyembunyikan pilox di belakang badannya.


"Bukankah, ini bukan mobil loe? Mobil loe ada di sana!" tunjuk Alando pada mobil Range Rover berwarna hitam. Meski Alando cuek dengan sekitarnya bukan berarti dia tidak memperhatikan. Alando bahkan sudah hapal kendaraan apa saja yang digunakan teman-teman kuliahnya.


"Itu..." mereka merasa terintimidasi akan tatapan tajam Alando sehingga gugup menguasai mereka bertiga.


"Kemarikan..." Alando menadahkan tangannya untuk meminta benda yang disembunyikan Christ dan kedua temannya. Tanpa pikir panjang, Christ langsung menyerahkan pilox yang dia pegang. Dan tanpa disangka-sangka, setelah menerimanya justru Alando yang secara terang-terangan mencoret-coret mobil mahal seniornya tersebut tanpa rasa takut sama sekali.


"Kalau mereka bertanya siapa yang sudah mencoret-coret mobil ini, bilang saja Alando Garindra yang melakukannya." Jujur Alando juga kesal dengan sikap semena-mena para senior yang mengospek mereka. Kemudian Alando pergi begitu saja tanpa melihat tampang cengo ketiga teman kuliahnya tersebut.


"Waw... Itu baru keren." timpal Kenny dan di angguki kedua temannya yang masih terpana.


Dan sejak itulah mereka berlima menjadi sahabat hingga terbentuklah geng ZACKS yang selalu bikin keonaran di kampus. Namun tidak dipungkiri masing-masing dari mereka memiliki kelebihan dengan segala keberuntungannya.


Flashback end.


"Tunggu di sini! dan jangan teriak-teriak!" Perintah Alando yang menyuruh Meira duduk di bangku penonton, sedangkan dia sendiri menyusul teman-temannya untuk latihan. Namun Alando tidak yakin Meira hanya akan duduk manis menontonnya. Lihat aja sebentar lagi dia akan berteriak memberi semangat untuknya.


Vote, coment and like yaa...