Meira

Meira
BAB. 64



Yang puasa dan gak suka bab ini di skip aja


***


Setelah menahan rasa malu dan sedikit bujukan akhirnya Alando bisa kembali membawa Meira masuk ke dalam kamarnya. Mungkin dia memang harus membiasakan istrinya itu untuk terbiasa dengan keberadaannya dulu, status pacaran dan pernikahan memang tidak bisa disamakan dan selama ini Meira sudah terbiasa dengan hubungan pacaran mereka bukan pernikahan.


Alando sadar gadisnya itu tidak sama dengan kebanyakan gadis-gadis di luar sana jadi dialah yang harus mengajari dan membimbing istrinya itu, lagi pula mengajari Meira hal baru rasanya cukup menyenangkan hanya saja dia harus banyak bersabar menunggu Meira, dari seorang gadis lugu menjadi seorang wanita dan istri.


"Kreek...!" Alando langsung mengunci pintu dan menyimpan kuncinya kedalam kantong celananya, dia tidak ingin mengalami rasa malu untuk kedua kalinya. Lebih mudah menghadapi cengiran-cengiran usil wajah sahabat-sahabatnya dari pada harus menghadapi wajah bingung dan tidak nyaman kedua mertuanya. Alando masih ingat bagaimana kedua orang tua Meira yang bingung menanggapi aduan putrinya itu, mereka bahkan tidak mampu mengeluarkan sepatah kata pun untuk menanggapi omongan Meira.


"Meira... Ayo kita bicara." ucap Alando dan mengarahkan Meira untuk duduk di atas ranjang mereka. Karena cuma itu satu satunya tempat yang bisa mereka gunakan untuk duduk, kamar Meira sangat kecil cuma muat satu ranjang dan satu lemari berbeda dengan rumah Alando, dia memiliki kamar yang cukup luas bahkan mungkin tiga kali lipat dari kamar Meira. Maklumlah rumahnya itu warisan dari papanya yang memang orang kaya.


"Ayo, Meira suka bicara dengan kak Al Al." timpal Meira, dia memang suka bercerita kepada kak Al Al nya entah tentang teman - temannya atau kegiatan apa saja yang dia lakukan dan selama ini Alando memang lebih suka jadi pendengar.


"Tadi kenapa kamu teriakin aku mesum dan pergi dari kamar?"


"Oh itu..., Meira kan ikutin kak santan. Kak Al Al tadi mesum seperti kak Zad Zad waktu di pesta itu, kan Meira takut." jelasnya.


"Hahh...?" ternyata istrinya ini benar-benar polos, "Begini Meira... Santan bilang seperti itu karena Zaden itu bukan suaminya, tapi berbeda dengan kita. Kita sudah menikah dan aku ini suami kamu, jadi tidak masalah kalau aku mesumin kamu, dan kamu nggak boleh menolak." tuturnya dengan penuh intimidasi, mau bagaimana lagi Alando tidak terlalu pandai memberi penjelasan yang manis untuk istrinya itu.


"Meira nggak boleh menolak kak Al Al...?" tanyanya meyakinkan pendengarannya.


"Iya. Karena itu tugas istri." sahutnya tegas, Entahlah Meira mengerti atau tidak dengan penjelasannya yang pasti dia berharap Meira tidak akan menolaknya lagi. Dan ini adalah pembicaraan terabsurd yang pernah dia lakukan, pikir Alando.


"Tapi Meira malu" senyumnya dengan wajah memerah dan menundukkan kepala dalam, ada rasa malu saat menatap wajah kak Al Al nya. "Meira juga takut, tapi Meira sayang banget sama kak Al Al." jujurnya dan masih tak mampu memandang wajah suaminya itu.


"Aku tau, ya sudah kita tidur dulu besok kita akan berangkat pagi-pagi." Alando mengingatkan, percuma meminta haknya saat ini karena Meira pasti akan ketakutan, jadi pelan-pelan saja di saat Meira sudah siap.


"Iya..." Meira mengangguk dan merebahkan dirinya di ranjang dan diikuti Alando di sampingnya. Sambil memeluk tubuh Meira, tidak ada penolakan hanya saja Meira sedikit canggung mungkin karena ini pertama kali ada laki-laki yang berbaring di sampingnya.


"Kak Al Al akan setiap hari ya tidur sama Meira?"


"Iya, setiap pasangan yang menikah akan seperti ini. Jadi kamu nggak boleh menolak." sahutnya dan memeluk tubuh Meira erat, mungkin saat Meira tertidur dia bisa sedikit mengambil kesempatan dalam kesempitan, batin Alando.


"Oh begitu, Meira nggak akan menolak kalau dipeluk."


"Tidur Meira...!" perintahnya, semakin cepat Meira tertidur maka semakin baik. Karena jujur saat ini dia tidak akan bisa tertidur.


Bagaimana dia bisa tertidur padahal saat ini ada istrinya yang sangatlah menggoda imannya.


"Iya kak Al Al." gumamnya dalam pelukan dada bidangnya Alando sang suami.


***


"Meira ayo, ini sudah jam 00.09. Sebentar lagi kita berangkat." panggil Alando, sekarang dia berada di luar kamar. Meira menutup pintu kamar, katanya dia ingin memakai baju dan malu kalau Alando ada di dalam melihatnya.


Padahal tanpa sepengetahuan Meira dia sudah melihat semuanya tadi malam saat Meira tertidur pulas layaknya orang mati.


"Kreek..." pintu terbuka, Meira berdiri di depannya dengan muka sedih dan bingung, "Kak Al Al Meira sakit." adunya.


"Sakit apa?" Alando meletakkan telapak tangannya di dahi Meira dan tidak merasakan apa apa, suhu tubuh istrinya itu sama sekali tidak hangat apalagi panas, "Tidak hangat." kemudian Alando menarik Meira masuk dan mendudukannya di ranjang.


"Badan Meira merah merah, banyak kiss marknya. Meira kan nggak ikut latihan taekwondo kayak Radodo?" Tunjuknya pada leher dan bahunya, sebenarnya masih banyak lagi tapi Meira malu memperlihatkannya.


"Kiss mark?" tau dari mana Meira kata-kata itu. Oh iya, Alando ingat dulu Steven pernah bilang kalau Christ tidak sengaja mengucapkan kata itu di depan Meira. Tapi setelah itu dia tidak menanyakan apa-apa lagi.


Tapi apa yang diucapkan Meira saat ini memang tepat, itu memang dia yang buat.


"Iya, di badan Meira banyak banget." polosnya.


Tentu saja, tempat itu tidak akan dia lewatkan, "Sini aku lihat." tariknya, dan mencoba membuka baju Meira. Setiap kesempatan harus dipergunakan, mungkin ini menjadi motto hidup Alando saat ini.


"Iih... nggak boleh. Nanti Meira kasih lihat Ibu aja." ujarnya.


"Jangan...!" larangnya, gawat kalau sampai Meira memperlihatkan pada ibunya, dia bisa malu dua kali. Mungkin ada baiknya Alando secepatnya membawa istrinya ini untuk tinggal di rumahnya sendiri, walau bagaimana pun mereka adalah pengantin baru yang perlu privasi.


"Tapi kan Meira takut."


"Itu cuma gigitan semut Meira, nanti aku beliin salep anti semut biar nggak bisa gigit kamu lagi. Sekarang kita harus berangkat." bujuk Alando, mereka akan menginap di hotel bintang lima selama tiga hari, hadiah dari papanya. Lagi pula Alando memang tidak ingin pergi jauh-jauh karena dia cuma mengambil cuti kerja satu minggu dan tersisa empat hari lagi untuk menikmati hari liburnya itu.


"Iya, Meira ikut." cerianya.


Membuat Meira kembali senang itu memang sangat mudah. Alando hanya harus mengatakan kata-kata yang baik atau bisa juga mengalihkan perhatiannya ke hal lain pasti Meiranya kembali ceria.


"Sini...." ditariknya tangan Meira untuk lebih dekat dengannya dan tanpa aba-aba dia memagut bibir istrinya "Cupp... Cupp..." Alando mencium bibir Meira semakin dalam tanpa takut dosa lagi, kan sudah halal. Tangan kirinya kini berada di tengkuk istrinya sedangkan tangan kanannya ada di pinggangnya.


"Prakk..." Rado menjatuhkan kunci motornya. "Oh my God, mataku kini ternoda." ucap Rado yang kaget saat melihat dua pasutri sedang bermesraan. Tadinya dia mau menanyakan sesuatu pada Meira tapi malah mendapat tontonan orang dewasa, salahkan mereka yang tidak mengunci pintunya.


Setelah memungut kuncinya kembali, Rado bergegas pergi dari sana. 'Haahh... benar benar, mereka berdua yang berciuman tapi gue yang merasa malu.'


Alando melepaskan ciumannya, lagi-lagi dia dapat gangguan. Salahnya sih, pintunya terbuka lebar, dia lupa untuk menguncinya.


"Kak Al Al... Radodo ngintip ya?"


"Hemm... Ya sudah kita berangkat sekarang dan pamitan dulu sama Ayah dan Ibu. Ayo..." ajak Alando dan mengangkat satu koper.


Setelah pamitan pada kedua orang tuanya mereka berangkat dengan taxi online menuju hotel yang sudah dipesan papanya untuk dia dan Meira bulan madu. Entah apa bedanya, Alando sama sekali tidak mengerti, padahal dia bisa mengajak Meira pulang ke rumahnya dan menghabiskan waktu di kamar bersama, dia rasa itu lebih menyenangkan dari pada harus menginap di hotel yang pasti selain menghabiskan banyak uang, istrinya ini pasti lebih menyukai berjalan-jalan di setiap sudut hotel tersebut.


"Kak Al Al... Kita jadikan beli salep? Meira nggak mau merah-merah begini." ucapnya sambil mengusap leher putihnya.


"Eheem..." Alando mencoba melegakan tenggorokannya, hal kecil begitu saja sudah membuat Alando tergoda "Iya, nanti kita singgah di apotik." mau tidak mau Alando mengikuti keinginan Meira, padahal Meira tidak memerlukan salep itu karena dia akan terus membuatnya seperti semalam saat Meira sudah tidur lelap. Untungnya pak sopir lebih fokus pada jalanan di depannya.


Flashback :


"Cup... Cupp..." perlahan Alando mengecup bibir istrinya itu dengan lembut dan seringan mungkin agar tidak membangunkannya. Hingga berlanjut menyusuri leher putihnya, mengecup dan menyesapnya cukup lama dan menimbulkan banyak tanda merah.


Dari tadi dia sudah sangat penasaran dengan sesuatu yang berada di dalam pakaian Meira, dua benda bulat yang cuma pernah dia lihat di video koleksi Kenny, benda yang hanya bisa dia lihat tapi belum pernah dirasakan.


Perlahan tangannya melepaskan apa yang melekat di tubuh istrinya dengan pelan dan hati-hati. Gaun tidur satin meluncur dengan indahnya menampilkan tubuh putih Meira yang hanya tertutupi bra pink serasi dengan gaun tidurnya, dia tau ini pasti pilihan Dinda, anak dari wanita penggoda itu. Meski Alando belum bisa menerima gadis itu sebagai adik tirinya, tapi setidaknya dia tidak terlalu membencinya apalagi Dinda sangat baik pada istrinya.


Alando meremas bahu Meira lembut dan menurunkan tali penutup dadanya dengan jantung yang berdetak keras dan darah yang semakin berdesir panas. Dua gunung kembar yang sangat ingin dia nikmati kini tersaji jelas di hadapannya. Dengan tangan gemetar dia meletakkan tepat diatas dua benda itu dan perlahan memijatnya, kenyal dan lembut. Berulang kali Alando melakukannya tanpa rasa bosan, dia seperti anak kecil yang baru mendapatkan mainan baru dan terlalu sayang untuk melepasnya. Puas bermain dengan tangannya kini justru dia ingin merasakan bermain dengan mulutnya layaknya seorang bayi yang kehausan.


Ternyata rasa Meira sangat enak, batin Alando. Dia tidak bosan berlama-lama di sana, wajah polos itu terlihat menikmati hisapan demi hisapan dari mulutnya.


"Eeghhh..." Meira melenguh, sepertinya dia merasakan apa yang dia lakukan hanya saja matanya terlalu berat untuk membuka. "Kak Al Al..." gumamnya dengan mata yang masih tertutup dan masih berada dalam dunia mimpinya.


"Bahkan saat tidur pun kamu masih menyebut namaku...?" bisik Alando dan kembali memeluk istrinya sambil memberikan gigitan-gigitan kecil, dia terlalu gemes melihat istrinya.


Flasback end.


Saat ini mereka sudah berada di hotel mewah yang biasanya hanya kaum-kaum elit yang bisa menikmati, hotel bintang lima bergaya Eropa. Meski ini bukan pertama kali Alando pergi ke tempat mewah seperti ini tapi justru kali ini sangat istimewa karena dia menikmati keindahan ini bersama istrinya, biasanya dia bepergian bersama sahabat-sahabatnya untuk menikmati liburan.


"Kak Al Al... Meira suka. Ayo temani Meira jalan-jalan, Meira nggak pernah ke tempat seperti ini sebelumnya." rengek Meira manja. Mungkin kalau ini bukan gadis yang dia cintainya, Meira sudah berakhir di kolam renang kali, bukan untuk berenang manja tapi dia ceburin.


"Kita masuk kamar dulu, nanti baru kita jalan jalan." tariknya pinggang istrinya agar tidak pergi kesana kemari. Menyusuri setiap koridor sudut hotel menuju kamar VIP yang sudah papanya pesan.


"Coba kalau ada Ayah, Ibu, Radodo, kak Zad Zad, kak Stip Stip, kak Kris..."


"Kita sedang bulan madu Meira! Bukan liburan." potong Alando, kalau mengajak mereka bukan bulan madu namanya tapi bulan naas. Karena hasratnya pada Meira tidak terpenuhi.


"Oh... Bulan madu apaan sih kak Al Al...? emang di bulan banyak madunya?"


"Bukan itu..." haahh... istri siapa sih nih? Pengen aku cium aja, batin Alando. "Nanti aku jelasin di kamar." tidak mungkin juga dia menjelaskan di sini, sedangkan ada pegawai hotel yang lagi membimbing mereka menuju kamar yang akan mereka tempati.


"Silahkan..."


"Terima kasih..."


Alando dan Meira kini memasuki kamar hotel yang begitu indah dan megah dengan nuansa classic. Meira terpesona melihatnya, berbeda jauh dengan rumah yang dia miliki.


"Kak Al Al, kita akan tinggal di sini ya?"


"Hemm... tapi cuma tiga hari, setelah itu kita pulang."


"Tidak apa-apa, lagi pula Meira pasti kangen sama Ibu dan Ayah, Radodo juga sih walau nyebelin hahaa..."


"Meira..." Alando menarik tangan istrinya untuk duduk di pangkuannya dan menyelipkan kedua tangannya pada pinggang gadisnya itu agar tidak bisa kemana-mana.


"Eehh... Meira kan malu." jawabnya menunduk.


"Kita sudah menikah jadi kamu harus terbiasa dengan ini." sahut Alando, tajam menatap wajah istrinya yang memerah dan salah tingkah karena malu.


"Oh..." Meira cuma mengangguk pasrah, duduk dalam pangkuan dan dekapan suaminya.


"Setelah pulang dari sini kamu akan ikut denganku dan kita tinggal bersama, cuma aku dan kamu. Tapi kamu masih bisa mengunjungi rumah orang tuamu kapan pun." jelas Alando, berharap Meira mau mengikuti perintahnya, untuk saat ini lebih baik mereka tinggal berdua dulu untuk privasi mereka. Jangan sampai kejadian memalukan tadi malam terulang lagi.


"Tapi kalau kak Al Al kerja, Meira kan sendirian? Meira takut."


"Kalau aku nggak ada, kamu tinggal di rumah ibu... Cupp..." Alando terus terusan mengecup pipi dan bibir Meira. Dia tidak bisa bertahan lebih lama lagi, dia sangat menginginkan istrinya. Persetan dengan matahari yang masih bersinar. Perlahan Alando membaringkan tubuh Meira di samping dan menimpa tubuhnya, mencium dengan rakus dengan tangan yang tidak bisa diam meraba tubuh istrinya setiap inci.


"Kak Al Al...?"


"Diam Meira, jangan menolak ku lagi."


"Tapi..."


"Ssttt..."


"Kak Ak Al...!


"Hemm..."


"Bell nya bunyi"


"Biar saja!"


"Titttt..."


"Hah...? Ahh... Siapa sih!" mau tidak mau Alando menghentikan aktifitasnya enak enaknya untuk kedua kalinya. Siapa pun orang yang sudah memencet bellnya dan mengganggu kesenangannya kali ini akan berakhir di tangannya.


"Klik..." dengan kasar Alando membuka pintu kamarnya, dengan wajah murka dia akan menyemprot orang di depannya.


"Ap..."


"Hai... Pengantin baru. Kejutan...!!"


***


Vote, like dan koment.


Saya yang nulis, saya yang mau muntah. 😊


Yang puasa, yang gak suka silahkan di skip aja.😅


Maaf ya berhubung lagi bulan puasa dan ngantuk berat jadi up nya sedikit lama.