Meira

Meira
Zaden dan Kara 3



Sebagian sudah dihapus, silakan kunjungi lapak satunya, Zaden dan Kara.


"Jangan membantah ucapan Papa mu, dia lagi emosi. Turuti aja dulu apa kata Papa mu itu." bujuk Mamanya yang bernama Nania, sambil membelai bahu putra semata wayangnya itu yang masih dilapisi jas mahalnya dengan kasih sayang.


Di usianya yang sudah 45 tahun Nania masih terlihat cantik dan awet muda tentu saja dengan semua pakaian mahal yang melekat pada dirinya menambah kesan elegan dan berkelas tinggi.


Dia khawatir hubungan Ayah dan anak itu semakin jauh, bukan cuma sama Papanya tapi juga dengan dirinya. Nania sadar, dia bukan Mama yang baik buat anak-anaknya.


Selama ini dirinya terlalu terobsesi untuk membesarkan karirnya bahkan saat memiliki anak kedua pun yang berjenis perempuan dia tetap mementingkan pekerjaannya dibandingkan kedua anak-anaknya yang masih kecil saat itu, hingga suatu hari Tuhan mengmbilnya.


Mungkin banyak yang tidak tau, bahkan Zaden sendiri pun membencinya karena itu, padahal di balik semuanya dia juga merasa sangat terpukul dan berkali-kali menyalahkan dirinya, namun bukannya memperbaiki dirinya sebagai seorang Ibu, Nania justru semakin menenggelamkan dirinya pada pekerjaan karena kalau tidak seperti itu, dia yakin dia akan gila. karena dengan sibuk bekerja itulah dia bisa melupakan kesedihannya dan melupakan putri kecilnya yang terus menghantui karena rasa bersalahnya.


Tapi sayangnya dia melupakan satu anaknya yang juga masih memerlukan kasih sayangnya dan dukungan saat itu. Dan kini semuanya sudah terlambat, banyak moment yang sudah tidak bisa dia dapatkan lagi, Zaden kini sudah tumbuh menjadi dewasa tanpa perlu pengawasan dan dukungan dari mereka kedua orang tuanya lagi.


"Hemm..." jawab Zaden singkat, yang tidak mau mendengar nasehat Mamanya lebih banyak lagi.


"Kreek..." Zaden memasuki ruang kerja Papanya, di mana Papanya itu memang sering berada di sana setiap ada pekerjaan yang harus dia selesaikan. Bahkan sekarang pun lelaki berusia 47 tahun itu masih fokus pada layar laptopnya dibanding kan dengan dirinya yang kini sudah berada dalam ruangan tersebut.


"Papa ingin bicara denganku?" tanya Zaden to the point dan mendudukkan dirinya dengan nyaman di atas sofa yang tersedia di sana.


Barulah setelah itu perhatian Papanya yang tadi fokus pada laptopnya kini berpindah pada putra penerus satu-satunya itu.


"Kamu pasti sudah tau kenapa Papa memanggilmu kemari!" tegas Papanya yang bernama Zaven Pramudya.


"Dia calon potensial buat kamu, tapi kamu malah mengacaukannya!" kesal Papanya.


"Coba pikir di luar sana apa ada yang lebih baik dari Mayang? Paling-paling cuma perempuan matre yang ingin hidup enak." ucap Papanya, menilai semua perempuan yang Mendekati Zaden, ya memang seperti itu.


"Tentu saja semua perempuan seperti itu Pa, mana ada sih perempuan yang mau hidup susah. Bahkan Mama pun menikahi Papa kan karena ingin hidup enak, apa bedanya dengan perempuan di luar sana.


"Jaga ucapan kamu, dia Mama kamu Zaden!" bentak Papanya yang tidak rela istrinya dihina oleh anaknya sendiri.


"Aku cuma mengingatkan Papa dengan apa yang Papa ucapkan barusan." jawab Zaden santai.


"Sekarang aku yang bertanya, apa Papa menikahi mama karena perjodohan? Apa Papa menikahi Mama karena dia calon potensial? Tidak kan, lalu kenapa aku tidak bisa menjalani hidup seperti apa yang Papa dapatkan? Aku tidak ajan mengikuti keinginan Papa, aku akan menikah dengan perempuan pilihan ku sendiri." setelah mengatakan itu semua, Zaden beranjak keluar dan mendapati mamanya yang terlihat khawatir dengan pertengkaran mereka kali ini.


Ini memang bukan perdebatan mereka yang pertama, Zaden dan Papanya sudah sering berdebat karena perbedaan pandangan.


Dua-duanya memang bersikap keras dan kadang-kadang tidak ada yang mau saling mengalah tapi untungnya tidak pernah terjadi pertengkaran hebat apalagi terjadi kekerasan pada anak.


"Tenang saja Ma, kami tidak saling memukul cuma sedikit berdebat seperti biasa." ucapnya lembut sambil tersenyum menenangkan pada Mamanya yang akhir-akhir ini lebih banyak menghabiskan waktu di rumah dan lebih memperhatikannya.


"Syukurlah." sahut mamanya lega. "Ya sudah kamu mandi dulu setelah itu kita makan bersama." ucap mamanya kemudian dan cuma diangguki Zaden dan berlalu ke kamarnya untuk mandi.


Vote, like dan koment.