Meira

Meira
Zaden dan Kara. 15



Lagi, Mobil Zaden melewati Kara dengan angkuhnya, seolah mereka tidak saling kenal. Dan Kara tidak peduli, dengan begini dia bisa kembali fokus pada kuliahnya dan pekerjaannya, urusan cinta memang baiknya nanti saja dulu.


"Iih bodo amat, sok kecakepan deh loe." ejek Kara dari jauh. Emang cakep sih! Tapi Kara nggak mau mengakuinya kali ini. Jujur Kara penasaran juga apa sih yang sudah diomongin Gina.


"Zia..." panggil Kara saat dia melihat temannya itu hendak masuk gedung kampus. Tidak biasanya jam segini Zia sudah datang.


"Tumben kamu pagi banget datangnya." ujar Kara.


"Pagi apaan? Sebentar lagi juga kelas akan dimulai. Kebiasaan dijemput Zaden sih." goda Zia.


"Hah?"


"Udah ah, ayo entar telat." tariknya tangan Kara yang masih bengong, mungkin ini efek tidak bisa tidurnya, dasar Zaden...! Awas aja kalau ngejar-ngejar dia lagi, Kara mau cari cowok baru aja.


Kehidupan Kara rasanya kembali normal, sudah dua hari ini Zaden tidak menyapanya apalagi mengganggunya dan sepertinya Gina masih berusaha mencari perhatian Zaden, ya udah bukan urusan Kara juga.


Tadinya Kara mau langsung pulang, badannya sudah sangat tidak nyaman dan sepertinya Kara harus minta izin dulu untuk tidak masuk kerja, mungkin karena semalam dia dan Zia pulangnya kehujanan, tapi karena ada yang memanggilnya mau tidak mau Kara menghampiri mereka dulu.


"Kak Santan, sini." panggil Meira dengan lambaian tangannya serta wajah senyum ceria seperti biasa.


Kara tidak masalah menemani Meira mengobrol tapi kenapa harus ada Zaden dan Gina juga sih, apa sekarang mereka mau pamer kebersamaan, 'Eh kok kesannya aku cemburu sih?' tidak, mungkin dia cuma kesal, Zaden seperti mempermainkannya, tanpa kejelasan dan tanpa putusan.


"Meira, kamu belum pulang?" tanya Kara saat berada di depan mereka yang masih duduk santai di bawah pohon yang menghiasi halaman kampus.


"Belum, Meira masih nunggu kak Al Al, masih ada urusan di dalam. "Kak Santan temani Meira dulu ya?" pinta Meira.


"Oh, ya sudah." Kara duduk di samping Meira dan berhadapan dengan Gina sedangkan di sampingnya ada Zaden, entah apa statusnya sekarang. Mantan pacar atau masih pacaran, yang pasti Kara tidak akan mengajak bicara terlebih dahulu sebelum Zaden yang mengajaknya bicara terlebih dahulu.


"Hai Kar..." sapa Gina ramah.


"Hai Gin..." balas Kara senatural mungkin.


"Kak Santan suka nggak sama yang ini? Dia ganteng, tapi masih gantengan kak Al Al sih, hihii..." cerita Meira sambil cekikikkan membahas idolanya lewat foto-foto di media sosialnya. Kara memang tau betapa Meira sangat menyukai drama dari negara ginseng tersebut.


"Enggak, aku sukanya sama Sasuke, Meira! Dia ganteng banget." tutur Kara, berbeda dengan Meira yang menyukai oppa-oppa Korea, Kara justru menyukai hal yang berbau anime-anime'an yang berasal dari negeri sakura tersebut. Apalagi kalau sudah membahas anime yang memiliki mata tajam.


"Sasuke itu siapa?" tanya Meira ingin tau.


"Sini aku tunjukin." Kara mulai membuka fitur handphonenya. "Ini lihat, ganteng banget kan? Matanya sangat tajam, dingin, kejam, jahat, angkuh, sombong dan tukang paksa." loh kok malah kayak sifat lelaki yang ada di seberangnya sih?


"Terus dari tangannya bisa keluar sengatan listrik yang sangat besar." lanjutnya, Kara sedikit merinding, dan menoleh ke depan tepatnya pada Zaden yang kini sudah menatapnya sangat tajam, ada sedikit kekesalan atau mungkin kemarahan di wajah itu.


Memangnya apa yang salah? Kara melakukan kesalahan lagi, pikir Kara tidak mengerti.


"Oh ini Sasuke yang kak Santan sukai ya?" seru Meira, dia hanya sedikit bingung dengan selera kak Santannya, kok sukanya sama kartun jepang sih? Kalau begitu kak Zad Zad juga harus jadi kartun, pikir Meira.


"I, iya..." jawab Kara gugup, karena tatapan Zaden padanya kini sudah sangat mirip Sasuke versi manusia nyatanya, tinggal rambutnya saja dibuat memanjang ke depan dan jubah hitamnya.


"Zaden kau kenapa?" tanya Gina, tiba-tiba ekspresi wajah Zaden berubah menyeramkan.


Namun pertanyaan Gina seolah diabaikan, Zaden masih menatap Kara dengan sangat tajam dan dingin. Sarat akan kemarahan atau mungkin kecemburuan.


"Jadi kamu suka sama Sakesake?" bentak Zaden, dia kesal. Baru didiemin dua hari Kara sudah memiliki tambatan hati baru. Apa dirinya sama sekali tidak membuat Kara terpesona, dan siapa Sake-Sake itu, namanya aja aneh maki Zaden.


"Hah?" Kara Kaget dengan pertanyaan Zaden.


"Iya, memangnya kenapa?" tanya Kara sedikit takut sekaligus bingung. Apa ada larangan menyukai tokoh anime yang dia sukai, sepertinya Zaden sudah kemasukan roh Sasuke deh, ngeri Kara.


"Sini kan handphone kamu?" minta Zaden tanpa adanya kata sopan, Zaden berubah dingin dan kejam seperti yang Kara inginkan. Bahkan dia bisa lebih jahat dari Sake-sake itu.


"Ngapain? Enggak..." tariknya handphonenya yang tadinya ada di genggaman Meira dan hendak memasukan ke dalam tasnya tetapi dengan cepat juga Zaden menariknya secara paksa dan, 'Bruuk...!" suara bantingan yang sangat keras ke arah lantai jalan, dan kini barang satu-satunya milik Kara terburai hancur menyisakan puing-puing kecil berserakan. Tentu saja pelakunya adalah Zaden.


Mereka semua kaget, lebih tepatnya shock. Bahkan Gina pun menutup mulutnya tidak percaya! Zaden yang tenang bisa sangat emosi seperti itu.


"Apa yang kau lakukan!" bentak Kara dan mendorong tubuh Zaden yang hanya mampu menggesernya beberapa langkah kebelakang, Kara hanya mampu memungut kartunya karena hanya itu yang tersisa.


"Kak Zad Zad kok jahat." Meira sedikit takut, karena ini pertama kalinya dia melihat Zaden berubah menyeramkan, mungkin memang benar kata ibunya kalau duduk di bawah pohon sambil melamun itu famali.


"Ada apa?" tanya Alando, dia baru datang dan tiba-tiba disuguhi kekacauan yang seperti ini. Dan melihat tampang Zaden yang sedikit frustasi sepertinya Zaden lah yang sudah membuat kekacauan itu.


"Kak Al Al sepertinya kak Zad Zad lagi kerasukan." bisik Meira dan bersembunyi di belakang tubuh suaminya.


"Hah...?" Alando bingung dan mencerna omongan Meira.


"Kau jahat sekali, kau kira membeli handphone itu semurah beli kerupuk." ucap Kara kesal, tapi tentu saja dia tidak akan menangis, apa lagi di hadapan manusia angkuh tersebut.


Itu satu-satunya barang berharga yang dia miliki, dan bagaimana cara Kara menghubungi Ayahnya di kampung, bisa-bisa Ayahnya datang dan menjemput paksa untuk pulang karena Kara tidak bisa mengabari Ayahnya lagi.


"Ini handphone Meira buat kak Santan aja." Meira sudah ingin memberikan handphonenya tapi ditahan oleh Zaden.


"Nanti akan ku ganti." ucap Zaden pelan.


"Hihii... nggak jadi kalo gitu." Meira menarik handphonenya kembali, "Kak Zad Zad belikan yang mahal buat kak Santan ya." pinta Meira. "Kasian kak Santan nggak punya handphone lagi." lanjut Meira.


"Iya." sahut Zaden sambil terus memandang wajah sedih Kara.


"Iya, dadah kak Santan."


"Meira, kamu tunggu di parkiran ya?" pinta Alando setelah kepergian Kara, sepertinya dia memang perlu bicara dengan Zaden. Setiap dia punya masalah Zaden lah yang selalu memberi solusi untuknya, dan sekarang sepertinya Zaden yang memiliki masalah dan Alando sedikit mengerti tentang apa? Karena dulu pun dia pernah mengalaminya.


Cinta kadang-kadang membuat orang bodoh dan sedikit kekanak-kanakan, padahal selama ini Zaden lah yang bersikap lebih dewasa dibanding dirinya sendiri bahkan teman-temannya yang lain.


Meira tampak bingung. "Kenapa?" tanyanya penasaran.


"Ada yang ingin ku bicarakan dengan Zaden." jawabnya dengan sabar.


Meira sedikit berpikir. "Meira nggak boleh tau?" padahal dia juga ingin ikut bergosip, dia kan juga ingin tau, kak Al Al nya mau ngomong apa sih? Batinnya.


"Enggak, ini rahasia kami." tegas Alando, berharap Meira mau mengikuti apa yang dia suruh dan jangan banyak bertanya lagi.


"Oh, ya sudah Meira ke parkiran dulu deh, dadah kak Zad Zad." pamitnya dan berjalan ke arah parkiran biasanya.


Zaden cuma membalas dengan senyum terpaksa, hatinya sedang tidak nyaman. Apalagi sikapnya memang sangat keterlaluan pada Kara.


"Kau juga." perintah Alando pada Gina yang masih diam terpaku, seolah Alando sedang mengusir gadis itu, jujur saja dia tidak menyukainya.


"Iya." sahutnya dan terpaksa meninggalkan tempat itu.


"Gue nggak mengerti, sebenarnya kalian punya masalah apa sih?" Alando membuka pembicaraan, karena Zaden terlihat enggan membuka suaranya.


"Zaden...?" panggil Alando.


Sepertinya Zaden memang harus berbagi cerita pada sahabatnya. "Haahh.. loe tau kan ekspetasi gue terhadap Kara sejak awal." Ungkapnya seolah sedang menunggu jawaban. "Awalnya gue pikir Kara itu cuma cewek matre, pansos dan sok-sokan ingin seperti Olivia dan bisa diterima oleh geng mereka, dan terlihat kan Kara memang selalu melakukan apa yang mereka suruh." jelas Zaden dan saat ini Alando cuma ingin menjadi pendengar yang baik dulu. "Dan beberapa hari mengenalnya, ekspetasi awal gue sudah berubah tentang Kara, dia jelas gadis pakerja keras dan kata matre langsung hilang seketika dan yah... gue sepertinya sedikit tertarik padanya." ucap Zaden, gengsi untuk mengakuinya tapi dia tidak punya pilihan lain cuma Alando yang bisa memahaminya.


"Sedikit? Bahkan ketika loe sama mantan-mantan loe itu, loe tidak pernah semarah ini." ungkit Alando tentang mantan-mantan SMA nya dulu. Zaden memang pernah beberapa kali pacaran dan Kara bukan yang pertama.


"Mantan gue cuma dua." koreksi Zaden. 'Mantan-mantan?' kesannya Zaden tidak ada bedanya dengan Kenny. "Oke, mungkin gue sangat-sangat tertarik pada Kara, puas." masih dengan gengsinya yang setinggi langit.


"Hemm..." gumam Alando bosan, padahal dia yakin Zaden memiliki perasaan yang lebih dari sekedar 'Sangat-sangat tertarik' pada gadis yang bernama Kara itu. "Terus apa masalahnya?" jujur Alando belum mengerti pangkal dari permasalahan hingga membuat Zaden begitu marah pada Kara.


"Gina." ujar Zaden.


"Hah?"


Flashback.


Zaden membawa Gina mengobrol di meja yang kosong, karena tidak mau mengganggu teman-temannya.


"Jadi masalahnya apa?" tanya Zaden, karena kalau masalah organisasi mau tidak mau dia hanya bisa memberikan solusi tapi untuk ikut turun tangan, dia tidak bisa lagi.


"Begini, kami akan melakukan kegiatan relawan untuk mengajar anak-anak jalanan, mungkin loe dan teman-teman lainnya mau ikut bergabung bersama kami, bagaimana?" bujuk Gina. Selain dia bisa dekat dengan Zaden nama ZACKS juga sangat berpengaruh bagi anak-anak kampus lainnya, dan mungkin dengan adanya ZACKS akan ada banyak mahasiswa yang akan ikut bergabung dengan kegiatan mereka.


"Itu sangat bagus." pikir Zaden. "Tapi gue sekarang harus fokus pada bisnis kami, jadi maaf gue nggak bisa. Tapi untuk urusan bantuan dana gue nggak ada masalah." lanjut Zaden.


"Oh begitu." sedikit kecewa memang. "Baiklah. Nanti akan gue bicarakan lagi dengan teman-teman gue yang lain." lanjutnya.


"Oke, itu saja kan?" tanya Zaden dan dia sudah hendak bangun dari duduknya tapi tiba-tiba celetukan Gina membuatnya membatalkan pergi dari sana.


"Loe dan Kara pacaran ya?" Gina memberanikan dirinya untuk bertanya, meski mungkin dia tidak akan menyukai jawabannya.


"Iya, kenapa?" ketus Zaden, dia tidak suka urusan peribadinya dipertanyakan.


"Ehmm... gue nggak maksud jahat sih, tapi banyak yang bilang Kara itu simpanan om-om." ujar Gina pelan dan agak sedikit takut kalau Zaden tidak mempercayainya.


Zaden menatap Gina penuh emosi. "Apa maksud loe bicara seperti itu...!" tidak ada keramahan lagi untuk cewek di depannya.


Gina sedikit gugup. "Gu... gue cuma menyampaikan apa yang gue denger, loe tau kan gue seperti apa? Kita sudah kenal hampir tiga tahunan ini, mana mungkin gue bohong." ucap Gina sedikit memelas. "Dari semester dua Kara bekerja untuk Olivia, dia jadi pembantu di rumahnya. Dan dua bulan yang lalu Olivia memecatnya, karena Kara ketahuan ada main sama Papanya Oliv." ucap Gina menjelaskan apa yang dia ketahui.


Zaden sedikit mengejek ke arah Gina dengan senyum sinisnya. "Dan gue nggak percaya." tegas Zaden, meski ada sedikit terlintas pemikiran seperti itu.


"Oke, gue punya buktinya." Gina memperlihatkan sebuah foto di chat groupnya. Terlihat di foto itu Kara diantar mobil mahal oleh bapak-bapak paruh baya dan itu sama seperti yang pernah Zaden lihat dulu." rasa amarah timbul begitu saja, Zaden benci mengakuinya kalau dulu dia memang pernah menduga Kara sama dengan apa yang dituduhkan oleh Gina.


"Itu foto Papa Olivia, mungkin Kara memang cari uangnya seperti itu!" tuduh Gina, rasa bencinya pada Kara membuatnya melakukan itu.


"Diamlah!" kesal Zaden, dia pergi dari kantin setelah berpamitan dengan teman-temannya tanpa menoleh Kara, dia sedang emosi dan tidak mungkin mengajak Kara untuk bicara, yang ada mungkin dia akan melukai gadis itu saat ini juga.


Flashback end.


****


Sepertinya masih ada yang bingung tentang cerita Zaden dan Kara ya? Maaf...


Jadi cerita Zaden dan Kara ini bukan kelanjutan Meira yang sudah melahirkan.


Tapi cerita Zaden dan Kara ini seminggu setelah pernikahan atau lebih tepatnya setelah meninggalnya Papa Alando, jadi di sini Meira belum melahirkan dan punya baby, tapi masih pengantin baru.


Ini karena kemaren itu saya terlalu malas membuat lapak Zaden jadi ya udah, digabung di lapak Meira deh.


Vote, like dan koment.