Meira

Meira
BAB. 30



Mereka berempat berusaha memasang tenda, namun yang ada mereka malah duduk bermalas-malasan, cape karena tidak bisa membuat tenda tersebut berdiri dengan tegak malah jadinya tenda itu roboh melulu. Hingga mereka bosan dan mengistirahatkan diri mereka terlebih dahulu.


"Ayo Meira kita pasang lagi tendanya." ajak Ami lagi, yang tadinya dia juga ikut malas memasangnya. Lebih enak melihat pemandangan di sekitarnya yang menyejukan mata.


"Nggak mau. Meira cape dan Kepala Meira sakit." alasannya, karena kesal tendanya tidak mau berdiri. Padahal dia sudah berusaha memasang tenda tersebut dengan perlahan.


"KAK AL AL BANTUIN MEIRA, MEIRA NGGAK BISA." teriak Meira dan terduduk pasrah di dekat tendanya yang belum terpasang sama sekali dengan muka yang ditekuk sedemikian rupa.


"Ya ampun Meira jangan teriak-teriak dong, budeg nih telinga aku." omel Sany yang ada di dekatnya yang juga lagi berusaha memasang tendanya bersama Mita. Masalahnya bukan cuma dia yang kaget tapi orang-orang di sekitarnya juga jadi melirik ke arah mereka, kan malu jadi pusat perhatian.


"Meira kesal." adunya pada Sany, kalau di suruh memilih Meira lebih suka disuruh menggambar atau membuat patung karena itu keahlian yang bisa dilakukan Meira dari pada harus memasang tenda berkali-kali dan itu membuatnya semakin pusing.


"Ya akunya juga kesal sama kamu." sahut Sany, teriakan Meira membuatnya ikut-ikutan jadi pusing, dia juga kan tidak bisa memasang tenda.


"Hahaa... bantuin tuh anak, kasian." suruh Zaden pada Alando yang mendengar teriakan Meira. Frustasi karena tendanya yang tidak bisa berdiri dengan tegak.


"Hemm..." huhh, Alando cuma bisa menarik napasnya melihat Meira. Apa jadinya kalau tidak ada Alando di sini. Apa Meira juga akan merengek seperti itu tapi bukan sama dia tentunya, mungkin sama Zaden atau mungkin Steven. Yah, memikirkannya saja membuatnya sedikit cemburu.


"Nggak usah teriak Meira!" Alando menghampiri keberadaan Meira dan segera membantu memasang tendanya yang akan di tempati Meira dan satu temannya.


"Kalau Meira nggak teriak kak Al Al pasti nggak mau dengar Meira." Meira merengut tapi kemudian tersenyum lagi saat melihat kak Al Al nya memasangkan tendanya dan Meira pun berinisiatif ikut membantu pekerjaan Alando biar lebih cepat selesai tapi yang ada kesannya malah bikin recok.


"Kapan selesainya kalau kamu terus menggangguku Meira." gerutu Alando namun yang ada kini dia hanya bisa memandang Meira yang cuma senyum-senyum di sampingnya, Alando mana bisa marah kalau sudah melihat senyum manis andalan Meira.


"Meira kan ingin membantu bukan mengganggu kak Al Al." sahutnya polos.


"Sudah kamu duduk aja di sini, jangan kemana-mana. Aku cape Meira! mau istirahat jadi biar kak Alando menyelesaikannya." suruh Ami, dan membawa Meira duduk menjauhi Alando. Kalau Ami tidak segera menjauhkan Meira dari kak Alando takutnya nanti tenda mereka gagal berdiri. Meira akhirnya mau menurut, duduk dengan manis dan terus memperhatikan apa yang dikerjakan oleh laki-laki yang sangat dia sukai itu.


* * * 


Selesai memasang tendanya Christ bermaksud membantu temannya Meira siapa lagi kalau bukan Sany, mungkin kali ini Christ memang benar-benar tertarik dengan perempuan yang menurutnya berbeda dari kebanyakan perempuan yang ada di sekitarnya, dan dia bertekad akan membuat Sany bisa menyukainya.


"Eh, mau kemana loe, bantuin gue ini." minta Kenny pada Christ yang sudah selesai memasang tendanya sendiri yang juga akan menjadi tenda mereka nantinya.


"Ih ogah gue, itu kan tendanya pacar loe bukan pacar gue, urus aja sendiri." Adelia memang memilih tidur di tenda sendiri, dia tidak mau bergabung dengan kawanan Meira karena menurutnya mereka tidak selevel, maklum lah Adelia berasal dari kasta atas tidak seperti Meira dan teman-temannya yang cuma dari kasta bawah. Sementara kawanan Meira juga tidak terlalu peduli dengan cewek manja itu yang kerjanya cuma mainan bedak plus bergelayut di samping Kenny.


"Mending gue bantuin pasang tenda calon pacar gue." tambahnya percaya diri, dan langsung pergi dari sana menjauh dari Kenny.


"Gue doain loe nggak akan berhasil." Kenny menyumpahin Christ karena kesal, namun di abaikan oleh Christ begitu saja dan memilih menghampiri di mana Sany berada.


"Hai sayang mau gue bantuin nggak?" rayu Christ saat sudah berada di dekat kumpulan teman Meira, lebih tepatnya di dekat Sany.


"Kakak ngomong sama aku?" tanya Sany, terlihat dia tidak suka dengan panggilan tersebut.


"Iya, mau gue bantuin nggak? Oh iya kita belum kenalan kan tadi, nama gue Christ dan loe?" Christ mencoba mendekati Sany.


"Sany, dan dia Mita, terus yang di sana Ami." mau tidak mau Sany mengenalkan dirinya dan kedua temannya pada Christ hanya untuk bersikap ramah.


"Oh Sany ya? nama yang bagus." puji Christ ingin mengambil hati Sany, namun sayangnya Sany tidak terlalu peduli.


"Ehmm... Oh iya kakak tidak usah membantu kami kok, kami bisa..."


"Bisa apanya sih? dari tadi gini-gini aja nggak selesai-selesai, aku kan juga cape San." potong Mita cepat yang sama sekali tidak mengerti situasi. Dari pada gengsi yang hasilnya nggak beres-beres mending jujur, pikir Mita. Dia kan juga pengen segera istirahat.


"Kalau gitu, biar gue bantu deh." tawar Christ dan lansung membantu memasangkan tenda mereka berdua tanpa mendengarkan tolakan Sany lagi. Sany cuma bisa melotot pada Mita yang cuma cekikikan memperhatikan interaksi keduanya.


Mita bukannya tidak mengerti dengan perhatian yang diberikan Christ pada Sany, dia sih tidak masalah dan akan ikut mendukung saja kalau mereka berdua juga bisa seperti hubungan Kak Alando dan Meira.


"Oh ya! gue sama Steven dan Alando mau cari kayu bakar dulu buat nanti malam bikin api unggun dan kalian para cewek-cewek silakan memasak untuk kita makan nanti, oke?" seru Zaden, meminta persetujuan pada semua teman-temannya.


"Siap kak." ucap para cewek-cewek kecuali Adelia yang nggak mau ikut-ikutan memasak, dia tidak pernah memasak.


"Lah kami berdua ngapain?" tanya Kenny dan Christ. Meski mereka berdua sangat senang tidak mendapat tugas apa-apa.


"Loe berdua jagain cewek-cewek lah, sekalian bantu-bantu masak." sahut Steven.


"Oh. Oke lah kalau begitu, kalau cuma jagain cewek-cewek serahkan sama gue." apalagi kalau diminta jaga Sany, nggak usah disuruh Christ juga mau. Anggap saja dia lagi misi pendekatan, meski Sany tampak cuek dan susah didekati tapi bagi Christ itu adalah tantangan untuknya agar bisa menaklukan hati gadis itu.


Mereka bertiga mencari beberapa ranting pohon yang memang sudah tumbang atau sudah berjatuhan di tanah bukan ranting yang mesih tumbuh di pohonnya supaya tidak menimbulkan kerusakan pada pepohonan di kawasan tersebut.


"Kurasa ini sudah cukup banyak." kata Alando, karena sekarang di tangannya ada lumayan banyak ranting pohon, begitu pun Steven dan Zaden cukuplah untuk membuat api unggun nanti malam.


"Oke, kita balik ke tenda." ajak Zaden, lagi pula perut mereka juga sudah pada lapar mungkin para cewek-cewek juga sudah selesai memasak. Namun saat mereka baru mau melangkahkan kaki mereka terdengar suara seorang perempuan berteriak minta tolong, karena merasa khawatir mereka pun langsung pergi ke sumber teriakan tersebut.


"Aaa... Tolong... tolong..."


"Kalian dengar...?"


"Arah sana, ayo." Zaden, steven dan Alando mencari suara teriakan yang sepertinya suara seorang perempuan, dan suara tersebut memang tidak jauh dari sana. Rupanya perempuan yang berteriak tadi adalah salah satu kumpulan peserta camping yang juga berada di kawasan sekitar tenda mereka, dan sepertinya mereka juga mahasiswa.


"Ada apa?" tanya Zaden pada salah satu teman perempuan yang minta tolong itu, sepertinya dia juga mau menolong hanya saja takut untuk melakukannya.


"Oh, itu..." tunjuk perempuan itu, pada makhluk kecil menakutkan buat mereka.


"Serangga...? loe berteriak untuk ini? bodoh!" ujarnya kesal, Alando mengangkat seekor ulat berwarna hijau di tangannya. Rupanya perempuan itu berteriak ketakutan hanya karena seekor ulat berwarna hijau yang berada di punggungnya, sedangkan teman-temannya juga pada takut untuk mengambilnya.


"Tetap saja itu menjijikan." sahut gadis itu. Alando mengabaikannya dan mengambil kembali ranting-ranting di tanah yang tadi dia kumpulkan dengan kekesalannya.


"Ya sudah, kalo begitu kita balik." pamit Zaden mencoba bersikap ramah pada perempuan-perempuan itu, meski dia juga tampak kesal, masa hanya gara-gara ulat kecil mereka berteriak sekeras itu hingga membuat mereka kaget. Perempuan memang aneh.


"Eh... Tunggu dulu..." perempuan itu menahan tangan Alando. "Terima kasih ya sudah bantuin gue dari ulat itu, gue Karina dan loe?" tanya Karina dengan senyuman ramahnya mencoba untuk berkenalan dengan Alando dan memberikan tangannya untuk bersalaman.


"Minggir." ketusnya, begitulah sifat Alando. dia akan bersikap dingin dengan perempuan yang mencoba untuk mendekat apalagi orang itu tidak terlalu dikenalnya.


"O... oke." senyum perempuan itu langsung menghilang saat diabaikan oleh laki-laki di depannya itu dan menyingkir dari hadapannya dengan rasa malu.


Setelah Karina menyingkir barulah Alando beranjak dari sana tanpa memandang apalagi sekedar berbasa-basi saja pada sekelompok perempuan-perempuan itu, dia enggan apalagi harus bersikap seperti halnya Zaden yang selalu bersikap ramah.


"Sombong banget sih tuh cowok, masa gue di cuekin?" Karina merasa tidak terima karena sudah diabaikan, selama ini dia belum pernah mendapat perlakuan seperti itu. Banyak laki-laki yang menyukainya bahkan rela melakukan apa pun untuk menarik perhatiannya, dan untuk pertama kalinya dia mendapat perlakuan sebaliknya.


"Loe kurang cantik kali dibandingkan sama pacarnya?" ejek teman satunya yang bernama Sena.


"Kalau gue lebih tertarik sama temannya tadi deh, udah ganteng ramah lagi." ucap Sena. Dia teresona dengan sikap ramah lelaki tersebut.


"Memang dia sudah punya pacar?" Karina sangat penasaran, jujur dia tertarik dengan lelaki sombong itu.


"Mana gue tahu, memang gue nyokapnya. Kenal aja enggak." balas Sena.


"Kalau begitu kita cari tahu aja, toh tendanya nggak jauh jauh banget dari tempat kita kan?" usul temannya yang lain.


"Siap." seru mereka.


Vote, like dan koment yaa..