Meira

Meira
BAB. 72



Usia kehamilan Meira kini sudah memasuki 8 bulan, tinggal satu bulan lagi mereka akan melihat malaikat kecil mereka, dan Alando memang sudah menyiapkan dua nama putra dan putri karena mereka memang belum mengetahui jenis kelamin, itu akan menjadi kejutan untuk mereka, yang terpenting adalah janin dalam perut Meira sehat tanpa kekurangan apapun.


"Kak Al Al... Meira pengen digendong lagi seperti dulu. Boleh nggak." minta istrinya, yang ikut duduk di samping suaminya yang dari tadi berkutat di depan laptop, mengerjakan pekerjaan kantornya yang belum terselesaikan.


"Enggak, itu bisa membahayakan bayi kita nanti." Takutnya kalau Alando menggendong istrinya yang kini telah memiliki bobot melebihi biasanya, dan tiba-tiba jatuh kan bahaya. Tidak bisa dibohongi kalau Meira sekarang tambah berat. Kalau dulu dia bisa menggendong istrinya itu setiap hari tapi sekarang mungkin cuma beberapa jam saja dia akan membuat mereka terjatuh bersamaan.


"Oh, yaudah nggak jadi." cemberutnya, dia kangen masa-masa pacaran dan awal-awal pernikahan di mana kak Al Al nya sering menggendongnya, entah dengan cara menggendong di punggungnya atau di depan dadanya.


"Kamu kenapa nggak tidur?" tanya Alando, mengalihkan perhatiannya yang dari tadi fokus pada laptopnya dan beralih pada istri manisnya.


"Meira kan nunggu kak Al Al, lagian Meira nggak bisa tidur."


Melihat istrinya yang terus menatapnya, ada rasa tidak tega hingga akhirnya Alando memilih menutup laptopnya dan memang sebaiknya dia menyelesaikannya besok saja.


Setelah Alando menaruh laptopnya di atas meja kecil yang ada di kamar mereka Alando menarik istrinya menuju tempat tidur mereka, berbaring saling memeluk dan membuat posisi Meira lebih nyaman.


"Ya sudah, sekarang kita tidur." ajak Alando sambil mengusap-usap perut Meira yang lumayan besar.


"Meira nggak bisa tidur. Susah tidurnya." Meira paling suka dimanja suaminya seperti ini, dipeluk dan diusap-usap perutnya dengan sayang dan itu membuat Meira nyaman.


"Kak. Al Al...?"


"Bagaiman kalau kamu membiasakan memanggilku papa? Sebentar lagi kita kan jadi orang tua." usul Alando, sebenarnya dia sudah sering meminta istrinya itu untuk memanggilnya dengan sebutan papa tapi ujung-ujungnya balik lagi kepanggilan awalnya.


"Meira lebih suka memanggil kak Al Al."


"Tapi nanti anak kita akan meniru panggilan dari kamu, sayang. Nanti dia manggil aku kakak bukan papa." jelas Alando, tapi sebenarnya dia juga sama, masih sulit membiasakan dirinya untuk memanggil istrinya itu dengan sebutan mama rasanya aneh aja, dia terbiasa hanya memanggil namanya saja atau panggilan sayang.


"Hihii... Iya. Tapi Meira belum bisa, nanti aja ya kak Al Al. Setelah bayi Min-Min kita sudah ada."


"Baiklah, tapi jangan panggil dia bayi Min-Min lagi dong Meira, itu nama apa lagi sih? Jelek banget, aku nggak suka." kesalnya, seenaknya aja Meira memberikan nama artis idolanya.


"Oppa MinMin itu ganteng kak Al Al... nggak jelek. lagi pula Kak Al Al waktu itu bolehin Meira beri nama bayi kita Lee Min Ho kok. Tapi kalau cewek nanti namanya Suzy biar cantik kayak idola Meira.


"Enggak, aku nggak suka. Lagi pula aku nggak ingat sudah bilang setuju dengan nama itu. Kamu pasti mimpi." tuduh Alando.


"Benarkah?"


"Iya...! Lagi pula aku sudah punya nama yang kupersiapkan untuk anak kita nantinya."


"Jadi nama idola Meira nggak boleh ya?"


"Enggak!" tegasnya, kalau sampai anak mereka menggunakan nama artis negara sana bisa-bisa kelak anak mereka akan sering kena ejek. Lagi pula nama itu tidak cocok untuk orang Indonesia.


"Iya. Meira ikutin apa kata-kata kak Al Al aja deh." pasrah Meira, lagi pula dia tidak akan bisa menentang apa kata suaminya, Meira terlalu memuja suaminya itu.


"Cupp... cupp..." Alando tidak bisa untuk tidak tergoda pada istrinya, sejak usia kandungan Meira semakin membesar dia sering puasa paling cuma sesekali saat dia tidak bisa menahannya lagi. Begitu pun saat ini, dengan tampilan tubuh Meira yang makin berisi terutama dadanya yang makin membulat justru membuat istrinya itu semakin terlihat sexy di matanya.


"Sayang kita main iya-iya dulu ya?" minta Alando yang kini sudah sangat menginginkan istrinya, bahkan wajahnya kini sudah menyesap leher istrinya.


"Emmm... Nanti bayi Meira kasian." Meira masih tampak berpikir, dia takut kalau bayinya akan sakit.


"Tidak akan terjadi apa-apa, aku akan pelan-pelan dan sangat hati-hati." bujuknya.


Dua bukit yang makin membesar itu kini habis digarapnya, sebelum bayi mereka nanti yang akan menguasai sebaiknya Alando memuaskan dirinya terlebih dahulu. Perlahan tangannya meraba apa yang ada pada istrinya setiap inci, tentu dengan masih memikirkan kondisi istrinya yang sedang hamil besar.


Memberikan kenyamanan dan memposisikan istrinya terlentang di atas kasur yang empuk dengan kaki yang menjutai ke lantai sedang dirinya harus memposisikan dirinya dan berdiri diantara dua kaki Meira yang membuka. Hingga malam itu dipenuhi oleh desahan-desahan hangat antara mereka berdua yang saling menikmati, hingga pada titik kepuasan yang mengharuskannya menghentikan permainan iya-iya mereka, meski dia akui dia masih sangat menginginkan istrinya itu tapi dengan kondisinya saat ini Alando tidak bisa egois yang cuma memikirkan hasratnya semata.


****


Dengan muka masamnya, Rado terpaksa menemani kakaknya yang cengeng jalan pagi di taman dekat komplek mereka. Katanya ini baik untuk kesehatan dan meghilangkan ketidaknyamanan selama masa kehamilan.


Seharusnya sih kak Ale Ale yang harus menemani istrinya ini tapi berhubung dia harus pagi-pagi ke kampus untuk bimbingan skripsi mau tidak mau dialah yang menggantikan posisinya.


"Hei Meira, aku malu tau, nanti orang-orang mengira kalau aku sudah menikah dan punya istri yang sedang mengandung." sindirnya.


Sekarang saja cewek-cewek yang lewat dekat mereka pada memandangnya, mungkin dalam pikiran mereka, Rado adalah calon papa muda.


Bahkan beberapa cewek terlihat bisik-bisik saat melihat hubungan yang terlihat manis antara mereka berdua.


'*Ya ampun, masih muda banget sudah mau jadi papa muda.'


'Duh papa mudanya perhatian banget sih*.'


Sedikit bisik-bisik yang bisa Rado tangkap dari mereka cewek-cewek pengagum Papa muda itu.


"Benarkah? nanti Meira aduin sama Ayah dan Ibu, biar Radodo dijewer." serunya dengan mata melotot dan berkacak pinggang seolah dia marah dengan kelakuan adiknya.


"Tau ah... aku laper." kakaknya benar-benar bikin kesal. Dia ngomong apa, jawabnya apa.


"Meira mau makan itu." tunjuknya pada penjual bubur kacang ijo.


"Seharusnya kan aku yang ngomong kayak gitu." omel Rado. Kan dari tadi dia yang kelaparan.


"Tapi kan Meira duluan yang ngomong kayak gitu." Meira juga tidak mau kalah.


"Terserah deh, kamu yang bayar." usul Rado, kan Meira yang mengajaknya ke sini.


"Meira nggak bawa uang." Meira seperti biasa, cengengesan tanpa dosa. "Radodo aja yang bayar, kan Meira lagi hamil."


"Istri kak Ale Ale ternyata kere." ejeknya, namun begitu dia tetap membawa kakaknya duduk di depan gerobak bubur kacang tersebut dan memesan dua mangkok.


"Istrinya, sebentar lagi mau melahirkan ya Mas...?" tanya bapak pedagang bubur kacang tersebut, mungkin bapaknya terbiasa mengajak pelanggannya mengobrol biar rame.


"Istri? kapan saya menikah Pak, pacar aja saya belum punya, masa sudah mau melahirkan saja, bisa dicoret dari kartu keluarga entar saya Pak, hahaa..." canda Rado, menyahuti obrolan bapak tersebut.


"Oh... saya kira yang mas bawa itu istrinya, ternyata bukan toh, hahaa..." tawa bapaknya, "Maaf yo mas." sambungnya.


"Dia kakak saya Pak."


"Suami Meira itu kak Al Al...!" sahut Meira yang mendengar obrolan mereka.


vote, like dan koment.