Meira

Meira
BAB. 14



"Meira mana sih...?" Ami terlihat sangat menghkawatirkan Meira, karena biasanya Meira sudah duduk manis di kelasnya bahkan sebelum para mahasiswa pada berdatangan.


"Mungkin Meira terlambat hari ini." sahut Sany mencoba menenangkan temannya Ami.


"Aku takutnya kalau Meira itu nyasar lagi!" Beberapa kali Meira memang pernah nyasar, entah ke gedung jurusan lain atau malah numpang ke toilet yang berbeda lantai kampus.


"Enggak mungkinlah, Meira bukan anak kecil lagi. Masa nyasar berkali-kali." Jawab Mita.


"Iya Mi, dia bisa cari jalan sendiri lah!" timpal Sany yang membolak-balik buku diktatnya.


"Kalian nggak ngerti, Meira itu... dia berbeda." sahut Ami. "Dan itu karena salahku!" Ami nampak sedih, mengingat peristiwa 3 tahun yang lalu.


"Berbeda gimana? Karena sifat Meira yang kekanak-kanakan?" tanya Sany. "Terus apa hubungannya dengan kamu? memang kamu ikut memanjakan Meira hingga dia seperti itu?" Sany tidak mengerti kenapa Ami merasa bersalah. Begitu pun Mita yang cuma mengangukkan kepalanya. Selama ini Ami memang tidak pernah bercerita tentang kecelakaan yang menimpa Meira 3 tahun yang lalu.


"Salahku, Karena aku yang menyebabkan Meira kecelakaan." jujur Ami, "Dulu saat kami masih SMA Meira termasuk siswa yang cerdas di kelas kami, dia selalu mendapatkan ranking pertama. Meira juga memiliki sifat yang cukup dewasa. Tapi saat kelas dua SMA, Meira kecelakaan bahkan hampir meninggal." Dan ingatan Ami beralih ketiga tahun yang lalu.


Flashback :


Siswa SMA Satu Bangsa tampak berbondong-bondong menuju keluar sekolah. Ada yang berjalan santai, saling bercanda, berlarian bahkan ada yang masih duduk-duduk di taman. Terlihat juga para orangtua atau pun keluarga yang menjemput anak mereka. Wajar, memang sekarang waktunya anak-anak SMA pulang sekolah.


"Ra... ada yang nunggu kamu tuh di depan gerbang sekolah!" Nisa salah satu teman sekelas Meira dan Ami tiba-tiba menghampiri mereka berdua yang lagi duduk-duduk santai menunggu jemputan.


"Siapa?" tanya Meira penasaran.


"Lihat saja sendiri, kamu pasti kaget!" jawabnya dengan senyum menggoda dan berlalu begitu saja.


"Siapa ya Mi..? Tanyanya lagi, kali ini pertanyaannya tertuju kepada sahabatnya Ami. Sedangkan Ami hanya mengedikkan bahunya tanda tidak tahu.


"Dari pada penasaran, mending kita temui aja." usul Ami. Nama lengkapnya sih, Aminara Daniah tapi semua orang memanggilnya Ami.


Akhirnya Meira yang ditemani sahabatnya Ami menuju tempat yang diberitahukan Nisa tadi. Yaitu di depan gerbang sekolah. Namun saat Meira menuju tempat itu tampak sekelompok anak laki-laki yang diketahuinya adalah kakak kelasnya. Meira cuma mengenal dekat satu orang yaitu Reno Nigara. Sudah dua bulanan ini mereka memang dekat, bukan cuma mereka berdua, tapi mereka bertiga Meira, Ami dan Reno. Tapi kedekatan mereka cuma sebagai teman.


"Meira...?" Panggil Reno sembari tersenyum dan menghampirinya dengan membawa bunga dan balon berwarna pink. Membuat Meira terkejut dan merasa tidak nyaman dengan perasaannya.


"Kamu tahu kan sebentar lagi aku akan lulus? Aku tidak mau menyesal nantinya, jadi ada yang ingin aku katakan sama kamu."


Pandangan Reno tertuju pada Meira. "Selama ini aku suka sama kamu." seperti yang dia duga, Meira menatap Ami yang terlihat sedih bercampur marah. Selama ini Meira cuma menganggap Reno sebagai teman tidak lebih, apalagi setelah dia tahu perasaan Ami yang suka kepada Reno. Tidak, Meira tidak mau persahabatannya hancur karena cowok yang ada di depannya ini.


"Meira kamu mau jadi pacar aku?" Tanya Reno dan teriakan teman-temannya Reno pun semakin memenuhi suasana di tempat itu.


"Ami tunggu...!" Meira yang melihat Ami pergi begitu saja, tidak mempedulikan pertanyaan kakak kelas yang ada di depannya itu. "Maaf kak, aku nggak bisa!" tanpa melihat reaksi Reno, Meira langsung mengejar sahabatnya itu keluar sekolah.


"Ami tunggu... aku tidak punya perasaan apa apa pada kak Reno." jelas Meira yang masih mengejar Ami yang terus berjalan di depannya.


"Aku tidak menyalahkan mu, aku hanya perlu waktu sendiri." Jawab Ami yang terus berjalan, namun saat hendak menyeberang tanpa menoleh ke kiri dan kanan, ada sebuah mobil yang melaju kencang.


"Awas... bruuk..." Kecelakaan tidak terhindarkan. Tampak seorang gadis terseret cukup jauh dengan berlumuran darah di kepala, lengan dan kakinya berbaring tak sadarkan diri lagi.


"Meira... Meira...? Tolong... tolong... bawa teman saya kerumah sakit." teriak Ami yang terus berteriak minta tolong pada orang-orang di sekitarnya termasuk Reno yang baru menyusulnya. Untunglah ada seseorang yang berbaik hati mau mengantar mereka ke rumah sakit.


"Meira... Maafin aku, maafin aku Meira." Ami terus menangis meminta maaf, jika dia tidak berbuat bodoh seperti tadi Meira tidak akan kenapa-kenapa sekarang. Dia ingat saat akan menyeberang tadi ada sebuah mobil yang hampir menabraknya, namun tiba-tiba saja ada tangan yang menariknya cepat hingga dia tertarik kebelakang dan terjatuh, namun ternyata yang menariknya adalah Meira. Kejadiannya begitu cepat seakan Meira lah yang menggantikan posisinya untuk ditabrak.


Meira dibawa ke ruang ICU, untungnya masih sempat dan terselamatkan. Keluarganya pun sangat sedih, terutama adiknya, yang Ami tahu mereka sangat dekat. Meira mengalami masa kritis, beberapa kali dia hampir kehilangan nyawanya tapi untunglah dokter bisa menyelamatkannya kembali. Namun Meira mengalami koma, hampir satu bulan dia cuma berbaring dengan alat-alat yang memenuhi tubuhnya. Dokter pun awalnya menyerah kalaupun Meira bisa sadar kembali kemungkinan dia tidak akan senormal seperti sedia kala. Bahkan kedua orang tuanya harus menjual tanah peninggalan kakeknya Meira serta tinggal di rumah yang lebih kecil untuk biaya rumah sakit. Tapi itu tidak masalah buat mereka Meira lebih penting, yang harus mereka lakukan hanya terus berdoa dan berusaha selebihnya biar Tuhan yang menentukan garis akhirnya.


Setelah satu bulan koma, akhirnya Meira membuka matanya juga. Dokter yang tadinya menyerah akhirnya harus mengakui keajaiban itu memang benar ada. Namun seperti yang sudah diprediksi dokter. Meira tidak akan kembali seperti sedia kala. Beruntung Meira tidak mengalami cacat mental atau pun cacat fisik. Dia hanya kembali seperti anak kecil, dan kemampuan otaknya pun sedikit berkurang, serta tangan yang patah. Meski begitu beberapa hal masih dia ingat. Butuh satu tahun untuk Meira menjalani terapi. Mau tidak mau terpaksa Meira harus menghentikan sekolahnya dulu selama menjalani terapi. Dan kembali melanjutkan paket c saat keadaan Meira mulai membaik meski tidak sempurna. Bahkan Ami pun menunda kuliahnya demi bisa kuliah bersama Meira untuk menjaganya. Ini demi mengobati rasa bersalahnya.


Flashback End.


"Karena itu aku berusaha terus menjaga Meira, meski tidak 24 jam." dan ketika Ami melihat Zaden ketua geng ZACKS ada di kelasnya berbicara sama Meira pagi itu, dia sengaja tidak masuk karena melihat Zaden memperlakukan Meira dengan baik sehingga rasa khawatirnya hilang. Dia yakin Zaden tidak akan menyakiti Meira. Kalau sampai itu terjadi, meskipun takut dia pasti akan tetap menolong Meira.


"Meira..." Panggil Ami yang melihat Meira baru memasuki kelas dengan wajah yang gembira.


"Kamu kemana aja sih? Dari tadi kita cari cari, untung dosennya belum datang." Tampak Ami mengkhawatirkan Meira. Takutnya Meira nyasar lagi.


"Iya, kita bahkan sudah cari di bawah meja, di bawah kursi, dalam botol juga." canda Mita.


"Yee, emang Meira jin botol apa?" balas Sany.


"Hehee... bercanda San, habis nih anak ngilang terus akhir-akhir ini." sahut Mita yang penasaran, biasanya kan Meira selalu ngintilin mereka. Di mana ada Meira di situ ada mereka. Di mana ada mereka di situ ada Meira.


"Meira... maafkan kami." Sany dan Mita memeluk Meira secara bersamaan, selama ini mereka suka memarahi Meira karena keoon'annya yang mendarah daging. Tapi sekarang mereka akan memakluminya, tapi mereka tidak janji untuk tidak memarahi Meira kalau tingkat mengesalkan Meira naik level.


"Sansan dan Mimit emang salah apa?" Meira tampak bingung dan melihat ke arah Ami yang matanya terlihat memerah. "Iih... Sansan dan Mimit pasti sudah gangguin Mimi, Meira aduin sama Tante Chacaca yaa!" pelotot Meira dengan pose berkacak pinggangnya. Tante Chaca adalah mama Ami yang sedikit cerewet, mirip kayak Meira yang tidak punya rem untuk stop bicara, sama-sama bikin pusing.


"MEIRA...!" teriak mereka berdua yang dibuat kesal lagi, karena dituduh membuat Ami menangis. Sedangkan Ami hanya tertawa melihat kekonyolan mereka.


Vote, like dan koment yaa...