Meira

Meira
BAB. 39



Meira dan Rado kini ada di rumah Alando, rumah yang sederhana namun cukup besar. Dengan cet warna pastel lembut bercampur abu-abu kalem serta furnitur yang klasik menambah kesan rumah tersebut lebih elegan dan menenangkan. Sayangnya Alando selama lebih empat tahun ini cuma tinggal sendirian dan kadang itu membuatnya malas berada di rumah.


Mungkin karena itu juga rumahnya tampak berantakan, barang-barang yang tidak terpakai berserakan, bungkus-bungkus plastik bergeletakan dan tampak debu di lantai yang jarang disapu oleh si pemilik rumah serta kaca jendela yang tidak pernah terbuka sehingga sirkulasi udara sangat buruk hingga membuat udara jadi sumpek.


"Waw... Kak Ale Ale ternyata lebih jorok dari aku." ejek Rado. Pertama kali masuk rumah Alando rasanya dia sedikit kaget, rumah sebesar ini sayang banget kalau tidak dibersihkan kesannya tampak suram karena tirai jendelanya pun masih tertutup.


Sewaktu mamanya Alando masih ada, dulunya rumah ini nampak sangat indah. mamanya tidak pernah absen merawat rumah mereka meski siangnya dia juga harus bekerja. Namun setelah mamanya meninggal rumah ini juga nampak kehilangan nyawanya.


Alando bukan laki-laki yang bisa mengurus rumah, dia hanya bisa memasak makanan sederhana untuk dirinya sendiri, membuang sampah yang sudah memenuhi rumahnya serta mencuci baju-bajunya sendiri namun untuk urusan lain jangan harap. Kadang-kadang Zaden juga mengirim beberapa pelayannya untuk membersihkan rumah Alando karena sudah nampak seperti rumah yang tidak berpenghuni.


Rumah ini memang satu-satunya harta yang diberikan sama papanya setelah dia memilih untuk pergi dari rumah, setidaknya papanya masih punya hati nurani tidak seperti di sinetron-sinetron yang ada di Indonesia.


"Meira kamu masih suka sama Ale Ale? Dia kan jorok!" bisik Rado pada kakak perempuannya itu, namun masih terdengar oleh telinga tajam Alando.


"Tutup mulutmu atau silahkan keluar dari pintu itu!" Alando memperingatkan Rado dengan kejamnya.


"Bercanda kak Ale Ale, tenang saja Rado itu bisa hidup di situasi apapun." Ucapnya, seolah-olah rumah Alando dalam kondisi yang mengerikan dan tidak layak.


"Meira tetap suka sama kak Al Al kok." senyumnya ceria.


"Nanti Meira bersihkan rumah ini, jadi kak Al Al tidak sakit." Karena buat Meira kotor itu penyebab segala penyakit dan dia tidak mau kak Al Al nya nanti sakit.


"Dasar bucin." Ejek Rado, kesal melihat Meira yang begitu memuja Ale Ale. Tapi sudahlah, dia bisa apa selain membiarkannya.


"Tidak usah kamu duduk aja." Suruh Alando, dia beranjak ke kamarnya mengambil obat-obatan luka untuk Rado. Maklumlah Alando juga sering terluka karena berkelahi, tidak cuma di kampusnya saat ini tapi semasa SMA nya pun dia sudah sering berkelahi. Mungkin karena faktor tidak ada orang tua yang menegurnya lagi.


"Tapi Meira mau, Meira nggak suka kotor." Sahut Meira dari belakang dan terus mengikuti Alando ke kamarnya. Kamar yang lumayan besar dengan nuansa mint lembut serta rak buku kecil yang penuh buku dengan satu ranjang dan lemari untuk pakaiannya. Meira tampak kagum dengan kamarnya Alando yang tidak seperti kamarnya yang tampak kecil, ada banyak foto Alando saat dirinya masih kecil bersama seorang ibu yang cantik diusianya yang terbilang masih muda.


"Ini kak Al Al masih kecil ya? Kak Al Al lucu sekali, kan Meira jadi gemes." Tawanya. Foto-foto Alando terpajang rapi di setiap dinding sudut kamarnya.


Meira tampak berbinar melihat foto kak Al Al nya waktu kecil, di foto itu Kak Al Al nya tampak bahagia dengan tawanya yang ceria beda jauh dengan saat ini tawanya tidak tampak terlihat lagi tergantikan oleh wajah dingin dan kesalnya.


"Hemm..." Alando ikut memperhatikan foto yang dilihat Meira. "Ini saat aku berumur enam tahun dan dia mamaku." Tunjuk Alando pada wanita cantik di sampingnya yang tengah tersenyum sayang padanya."


"Mama kak Al Al sangat cantik sayang Meira nggak bisa ketemu." Wajah Meira tampak sedih, mama kak Al Al pasti juga sebaik ibunya, pikir Meira.


Meski ibunya kadang cerewet tapi Meira tau ibunya sangat menyayanginya. Kemarin malam Alando memang sudah menceritakan tentang keluarganya pada Meira bahkan kedua orang tuanya pun tahu tentang keluarga Alando meski tidak secara detail.


"Seandainya mama masih ada dan melihatmu dia juga pasti sangat menyukaimu," ucap Alando, dia menghadap Meira dan menyampirkan rambut Meira ke belakang telinganya. Hening namun mampu menciptakan suasana yang romantis.


"Kalau kak Al Al, sudah suka atau belum sama Meira? Seperti Meira yang sangat suka sama kak Al Al waktu pertama kali kak Al Al menemui Meira di kelas." Tawanya.


Meira ingat saat itu dia langsung suka waktu melihat kak Al Al memarahinya karena terlalu berisik.


"Menurutmu...?" Alando semakin mendekat dan menghilangkan jarak antara mereka hingga Meira kaget dan memundurkan kakinya namun seketika tangan Alando menahan pinggang gadis itu dan mengurungnya dalam dekapan kedua tangannya.


"Kamu belum menjawabnya, menurutmu aku sudah menyukaimu atau belum?" Alando malah menanyakan balik pertanyaannya.


Dengan wajah yang serius dan terus menatap Meira yang semakin gugup.


"Me.. Meira kan tidak tau?" gugupnya dengan wajah yang tiba-tiba memerah. Ternyata seorang Meira pun bisa gugup dengan situasi seperti ini.


"Kamu satu-satunya gadis yang membuatku kesal sekaligus khawatir secara bersamaan dan kamu satu-satunya gadis yang membuatku jatuh sangat dalam."


"Ehhh...?" Meira sama sekali tidak mengerti dengan kata-kata puitis Alando.


"Meira membuat kak Al Al kesal dan jatuh ya...? Maaf..." Sahut Meira sedih dan menundukkan kepalanya takut menatap wajah kak Al Al nya.


"Aku suka sama kamu dan aku juga cinta sama kamu Meira. Selalu ingat itu di kepalamu!" ucap Alando cepat. Dia lupa kalau Meira lebih mengerti dengan katakata sederhana dan to the point dari pada kata-kata yang berbelit dan mengandung banyak majas. Meski dia harus berusaha keras untuk mengungkapkannya.


"Me..."


"Cupp..." Alando tidak mampu menahan keinginannya untuk tidak merasakan bibir mungil gadis yang ada di hadapannya saat ini. Bibir yang dari tadi sudah sangat menggodanya dan sepertinya dia sudah ketagihan dengan rasanya.


"Cupp... cupp..." Lumata*-lumatan lembut dia berikan untuk Meira dengan tangannya yang masih berada di pinggang Meira dan mengurungnya.


Sedangkan Meira dia hanya berdiam diri ikut terbawa suasana yang diberikan kak Al Al nya, ini lebih romantis dari pada ciuman pertamanya saat di pinggir sungai itu bahkan mungkin lebih romantis dari adegan di drama-drama korea yang pernah dia tonton karena saat ini dia merasakanya sendiri.


"WOII... MEIRA...!"


"KAK ALE ALE...!"


"Lama banget sih kalian di kamarnya awas ya kalau kalian berani macam-macam..! Nih rumah bisa gue berantakin jadi kapal titanic."


Teriak Rado yang merasa diabaikan oleh mereka berdua, sedangkan dia sendiri harus menahan sakit karena pukulan preman-preman itu. Ini karena gengsinya yang terlalu tinggi, seandainya dia tidak langsung menolak bantuan dari Ale Ale kejadiannya tidak akan begini. Tapi mau bagaimana lagi nasi sudah menjadi bubur. Terpaksa buburnya harus dia makan sampai habis dan kenyataannya dia tidak suka makan bubur.


"Huuhh..." Alando merasa kesal dengan teriakan-teriakan Rado dan terpaksa melepaskan bibir Meira darinya dan sejenak menutup kedua matanya dan menangkupkan dahi mereka dan menetralkan perasaannya saat ini untuk Meira.


Setelah dirasanya semua kembali normal barulah Alando membuka matanya dan menjauhkan dirinya dari Meira.


"Ayo... adikmu sepertinya sudah kelaparan." Alando menarik Meira keluar setelah mengambil kotak obat yang dari tadi dia cari.


"Oh... Meira juga laper. Tapi Meira mau bersihin rumah dulu, nggak enak dilihatnya. Kak Al Al pasti pemalas nggak suka bersihin rumah." Tuduh Meira.


"Itu benar, aku memang pemalas terus kamu masih suka sama aku?" tanya Alando sekali lagi, lagi pula dia memang tidak ingin menutup-nutupi kejelekannya pada Meira. Biar Meira tidak kaget lagi kalau seandainya nanti mereka berjodoh sampai ke pernikahan.


Alando memang berharap Meira lah yang akan menjadi istrinya kelak karena dia sama sekali tidak mau memikirkan perempuan lain yang akan menggantikan posisi Meira. Dan semoga itu untuk selamanya karena hanya beberapa orang yang bisa memegang prinsip itu.


Meira menganggukkan kepalanya.


"Loe kayak tarzan tersesat tau nggak? Nih obatin luka loe." Alando menaruh kotak obat untuk mengobati luka Rado.


Sekarang mereka ada di ruang keluarga yang lumayan besar dengan satu set sopa yang menghadap ke arah televisi. Dan sedari tadi tanpa permisi Rado malah menghidupkannya tanpa meminta izin dari sang pemilik rumah. Maklumlah Rado tipe cowok yang menganut prinsip 'Jangan sungkan anggap saja rumah sendiri.' Di mana pun dia berada.


"Gimana cara mengobatinya?" pertanyaan bodoh yang di lontarkan oleh anak SMA menurut Alando.


"Loe punya tangankan?" tanya Alando sarkasme.


"Punyalah! Nih..." Rado mengangkat kedua tangannya seolah pamer.


"Ya udah, gunain tangan loe!" sahutnya santai.


"Itu gue juga tau, maksudnya... Meira bantuin aku." Minta Rado.


"Nggak mau, Meira mau bersihin rumah ini. Biar kak Al Al nggak sakit." Ucapnya, dan beranjak mencari sapu rumahnya.


"Aku juga sakit ini." Rado makin memelas karena tidak mendapat perhatian dari kakaknya lagi saat ada Ale Ale di dekatnya.


"Kak Ale Ale...?"


"Gue mau masak, loe bisa cari cermin." Alando lebih baik menuju dapurnya dari pada mendengarkan rengekan Rado yang tidak enak didengar beda kalau Meira yang merengek, gadis itu justru akan membuat dirinya semakin menggemaskan.


Hari ini memang Zaden memberikan libur kerja untuk teman-temannya, karena kondisi mereka yang masih lelah akibat berkeliling hutan sepanjang hari. Lagi pula pekerjaan mereka bisa dikerjakan di rumah. Beda dengan kuliah, mereka mana bisa meliburkan diri sendiri jadi walaupun mereka sangat enggan dan masih betah di tempat tidur terpaksa mereka harus tetap masuk kuliah.


Tidak butuh waktu lebih satu jam makanan sederhana sudah tertata di atas meja. Ayam goreng dan oseng sayur serta tempe, makanan yang paling mudah dibuat oleh Alando karena dari kecil dia sudah terbiasa memasak untuk dirinya sendiri. Kedua orang tuanya masing-masing kerja apalagi setelah papanya pergi dia lebih banyak sendiri di rumah dan tentu saja lebih mandiri hanya saja Alando terlalu malas untuk membersihkan rumahnya.


"Meira ayo makan! tadi kamu bilang sudah laparkan?" Alando menghampiri Meira yang sibuk membersihkan plastik-plastik serta barang-barang yang berserakan di lantai.


"Iya. laper tapi kan Meira belum selesai membersihkannya." Sahut Meira yang masih sibuk dengan pekerjaannya.


"Sambung nanti, aku juga akan bantu. Mana Rado?"


"Emmm... di mana ya? Meira juga nggak tau, ya udah Meira cari dulu." Meira beranjak dan mencari Rado ke setiap sudut rumah sampai pada kamar yang tadi dia dan kak Al Al nya lagi beradegan romantis.


Namun saat sampai di kamar itu dia malah melihat Rado lagi tidur nyenyak di ranjang kak Al Al nya.


"Ihh... Radodo kok tidur. Meira udah keliling rumah nyariin. Radodo ayo bangun... Meira udah laper!" teriak Meira di samping telinga adik laki-lakinya itu.


"Duhh... jangan teriak-teriak Meira, aku masih ngantuk." Kesal Rado yang tidurnya terganggu karena teriakan Meira.


"Makan dulu... ayo, Meira sudah laper!" Meira terus mendorong tubuh Rado agar mau bangun.


"Ahh, iya-iya aku bangun." Mau tidak mau Rado terpaksa menuruti kemauan Meira, padahal dia masih sangat mengantuk.


"Kenapa sih mau tidur aja susahnya minta ampun?" gerutu Rado.


Mereka bertiga berkumpul di meja makan kecil yang cukup untuk empat orang menikmati makanan sederhana yang dibuat Alando dengan Rado dan Meira yang tidak bisa berhenti adu mulut bahkan kadang-kadang berebut ayam goreng seperti anak kecil. Dan tentu saja Alando yang terus menjadi penengah antara mereka berdua.


"Kak Ale Ale tolong ajarin gue bela diri dong." Cengir Rado.


Dia sadar dia sering membuat masalah dengan banyak orang sehingga banyak juga orang yang ingin melukainya, seperti hari ini makanya dia ingin belajar bela diri seperti Ale Ale. Dan Ale Ale orang yang pantas dia jadikan guru bela dirinya.


"Gue sibuk."


"Ayo dong kak Ale Ale." Mohon Rado sekali lagi.


"Nanti muka Radodo merah lagi, sakit. Terus Radodo jadi jelek." Sahut Meira, dia tidak suka melihat muka adiknya berubah jadi aneh seperti saat ini.


"Siapa yang bilang aku jelek?" tanyanya sewot.


"Meira." Tunjuk Meira pada dirinya sendiri.


"Gue cuma punya waktu hari minggu, itu kalau loe mau?" selanya diantara perdebatan dua orang yang tidak akan ada habisnya itu.


"Mau... mau..." Jawab Rado antusias.


"Meira juga mau...!"


"Nanti muka Meira merah, sakit. Terus jelek, dan kalau jelek Kak Ale Ale tidak mau sama kamu lagi hahaa..." Kata-kata Meira tadi di jadikannya senjata untuk menakut-nakuti Meira.


"Kalau begitu Meira nggak mau!"


Vote, like dan koment yaa...