
Berhubung acara keluarga besarnya sudah selesai, tepatnya selesai di tengah jalan. Alando mengajak Meira untuk nonton film yang baru rilis minggu ini. Dia tidak mau mengingat peristiwa di rumah papanya tadi, peristiwa yang membuat gadisnya sedih dan ketakutan. Meira sudah terlihat bahagia dan mulai kembali berceloteh seperti biasanya, apa pun yang dilihatnya akan dibahas tapi Alando justru bahagia mendengarnya karena itu artinya Meiranya sudah tidak memikirkan kejadian buruk yang dialaminya tadi.
Siapa bilang dia tidak marah, dia sangat marah terutama kepada Gaby, Radit dan terutama Zody yang sudah melukai kaki kekasihnya itu. Dia akan membuat perhitungan nanti setidaknya mereka harus mendapatkan balasan darinya, buat Alando maaf saja tidak cukup dia bukan orang yang mudah untuk melupakan kesalahan mereka.
Lagi pula dia memang sudah kesal dengan dua sepupu laki-lakinya itu yang selalu menganggapnya remeh karena tidak pernah dihargai oleh neneknya di waktu kecilnya itu.
"Kaki kamu masih sakit?" genggaman tangannya tidak lepas dari tangan Meira dan dengan perlahan dia membawanya menyusuri mall besar, cuma satu yang mereka cari saat ini yaitu gedung bioskop.
"Masih sakit sedikit, tapi Meira bisa jalan, kan sudah dikasih obat." awabnya, dan memperlihatkan kakinya yang sudah tidak apa-apa lagi. Tadi kak Al Al nya memang sudah membelikannya obat salep untuk memar kakinya di apotek.
"Ya sudah kamu tunggu di sini, aku beli tiketnya dulu." Ujarnya dan mengantri bersama banyak pasangan muda yang sepertinya juga lagi kasmaran seperti dirinya dan Meira. Ini pertama kalinya Alando mengantri, biasanya dia akan menonton secara rombongan bersama sahabat-sahabatnya yang juga single kecuali Kenny yang tidak pernah sendiri, namun meski begitu dia tetap ikut menonton bersama. Tentu saja Christ atau malah Zaden sendiri yang akan mengantri untuk mendapatkan tiket dan kali ini untuk Meira dia melakukannya dengan ikhlas apalagi film yang dia tonton bukanlah film action atau horor kesukaannya melainkan film romantis yang bikin baper gadis-gadis seperti Meira, film yang ceritanya sama sekali tidak masuk ke otaknya dan cuma bikin enek tapi ini lagi-lagi dilakukan untuk Meira agar dia senang.
****
"Hai Meira... kamu di sini juga?" Tiba-tiba seorang cowok yang dikenal Meira menghampirinya dan menyapa antusias. Dia ikut duduk di samping Meira, tempat duduk yang memang disediakan di ruang tunggu.
"Iya, Meira mau nonton sama kak Al Al. Itu Kak Al Al lagi antri beli tiket." Tunjuk Meira senang. "Kak Reno juga mau nonton ya? nonton film kesukaan Meira aja, pasti kak Reno suka." Tawanya ceria.
"Oh gitu ya? Haahaa..." Meira benar-benar seperti anak kecil tapi lucu di matanya. "Iya, mungkin kami juga akan nonton film yang sama seperti kamu nanti." Sahutnya dengan masih tertawa.
"Menjauh loe dari tunangan gue." Ketusnya dan mengambil tempat duduk di tengah-tengah antara Meira dan Reno dan memeluk bahu Meira pesesif dengan memandang kesal ke arah Reno. Buatnya Reno itu berbahaya dan bisa menjauhkannya dari Meira.
"Wah... Kalian sudah bertunangan kenapa tidak mengundang aku Meira." Tatapan tajam Alando tidak dihiraukannya, dia hanya fokus pada Meira.
"Tidak ada undangan buat loe! Sudah sana pergi." Usir Alando, lama-lama nih orang bikin kesal, pikir Alando.
"Hei... nggak bisa gitu dong, gue juga mau nanton di sini. Sama gebetan baru gue." Cengirnya, ternyata Alando begitu cemburu padanya, terpaksa dia buka rahasia, yang dia lihat laki-laki di depannya memang benar begitu mencintai gadis yang dulu pernah dia cintai. Cinta pertamanya yang kini sudah memiliki cintanya. Reno hanya bisa mendoakannya, bahkan mungkin dia sendiri tidak bisa sebegitu mencintai Meira dan menerima kekurangannya tanpa mempedulikan pandangan orang lain, berbeda dengan Alando yang hanya fokus pada Meira tanpa melihat sekelilingnya.
"Meira...?" sapa seorang gadis yang juga sangat dikenalnya, sahabat baik dari Meira.
"Mimi..." peluk Meira. "Mimi mau nonton juga ya?" senangnya, karena ada sahabatnya yang juga ikut nonton bersama mereka.
"Iya... Kak Reno tadi ngajak nonton film baru, ya udah aku ikut." Jelasnya dan melihat pandangan cemburu dari mata kak Alando pada kak Reno. Oke... Ami mengerti sepertinya kak Alando takut kehilangan Meira lagi.
Syukurlah itu artinya kak Alando benar-benar mencintai Meira bukan karena seperti gosip yang disebarkan cewek sakit itu, pikir Ami lega.
"Oh habis ya? Ya udah Mimi sama Kak Reno nonton film seram aja ya? Tapi hati-hati." Ingatkan Meira, takut kalau hantunya ada di samping mereka ikut nonton, batin Meira.
"Ayo Meira, kita menunggu di dalam aja." Tarik Alando tidak sabar, dia masih kesal dengan kebohongan Reno meski orang itu sudah meminta maaf padanya. Mungkin lebih tepatnya dia cemburu, Meira hanya boleh berdekatan dengannya.
Filmnya dimulai sejak satu jam yang lalu namun Alando sama sekali tidak mengerti dengan jalan ceritanya yang kusut, ribet banget pikir Alando, kalau cinta ya bilang cinta kenapa harus muter-muter segala. Genre percintaan memang tidak cocok untuk Alando dia lebih suka prakteknya, nyata di depan mata.
"Kak Al Al... Meira sedih." Adunya dengan mata yang sedikit berair mungkin tidak terlihat oleh kak Al Al nya saat ini karena gelap.
"Kalau begitu jangan menontonnya." Ucapnya santai, sama seperti dirinya yang sama sekali tidak fokus pada filmnya tapi lebih fokus pada Meira di sebelahnya walau muka Meira tidak terlihat jelas di matanya.
"Tapi Meira suka filmnya." Bisiknya di telinga kak Al Al nya agar kedengaran, tapi moment itu justru dimanfaatkan Alando untuk mencuri kesempatan menciumnya.
"Cupp..." Alando meraihnya meletakan kedua tangannya di pipi Meira agar gadis itu tidak bisa mengelak darinya, dia terus memperdalam rasa Meira dan mencicipinya tanpa peduli orang-orang di sekitarnya. Toh selama ini cuma Alando yang menjadi penonton mereka dan sekarang giliran mereka yang jadi penonton, seakan bioskop milik mereka berdua.
"Cupp... cupp... cupp..." Belum puas dengan rasa bibir mungil Meira, Alando memberikan kecupan-kecupan ringan berkali-kali padanya. Jangan sampai dia justru terciduk sama security bioskop karena hal ini. Untungnya tidak ada perlawanan dari Meira, dia bisa bayangkan wajah gadis itu yang merah dengan mata yang melotot, mungkin.
"Filmnya sudah selesai kali Lan! Masa anak orang loe sosor melulu, hahaa..." tawa Kenny, yang ternyata sudah ada duduk di samping mereka sejak tadi bersama kekasihnya Adelia. Dia juga tidak sadar kalau orang yang duduk di sampingnya adalah Alando dan Meira padahal dari tadi dia sudah sangat kesal karena dua orang yang ada di sampingnya cuma menambah kekesalannya karena harus menemani Adelia menonton film cengeng yang jauh dari pribadi maskulinnya. Kalau cuma kiss-kiss'an sih dia bisa di mana aja nggak harus di bioskop, tidak seperti sahabat pemarahnya itu.
"Loe ngapain di sini?" tanya Alando kesal, selalu saja ada orang yang mengganggu kesenangannya.
"Ya nonton lah...! Masa kayak loe, mau ciuman aja perginya ke bioskop." Ejek Kenny, ternyata menggoda temannya ini membuatnya senang, jarang-jarangkan dia bisa menindas Alando, biasanya dia yang ditindas.
"Ahh... Setan loe, ayo Meira." Tarik Alando menjauhi Kenny yang tertawa keras, kenapa mereka bisa bertemu empat orang pengganggu sekaligus. Apa dunianya ini sangat kecil hingga bisa kebetulan bertemu dengan mereka.
"Dadah Meira... besok jangan lupa ceritain film hari ini ya." Seru Kenny dan diikuti Adelia yang juga tertawa di sampingnya.
"Iya, dadah kak Ken Ken, kak Adedel." Ucapnya dari jauh karena tangannya sudah ditarik Alando. Tanpa menghiraukan tawa Kenny lagi dan orang-orang yang dia tabrak dengan bahunya.
"Kak Ken Ken kok dipanggil setan sih kak Al Al?" tanya Meira polos, tidak mengerti kalau Alando lagi kesal sama sahabatnya itu yang ternyata ada di samping dan memergoki mereka sedang ciuman.
"Itu karena dia tiba-tiba muncul di samping kita." Jelas Alando. Dan memutar otaknya agar tidak bertemu secara tidak sengaja dengan si Reno-Reno itu lagi. Mereka berdua, Reno dan Kenny benar-benar membuat kebahagiaannya bersama Meira berkurang.
Vote, like coment yaa.