
Dua hari telah berlalu, dan hari ini adalah hari di mana Meira akan sah menjadi istri seorang Alando Garindra. Dua hari yang sudah Meira lalui sejak terakhir dia bertemu kak Al Al nya di mana saat itu Meira menerima ciuman darinya, dan di hari yang sangat istimewa ini Meira bisa bertemu kembali dengan kak Al Al nya, dan dia sudah sangat tidak sabar untuk itu dan terus menantikan kehadiran kak Al Al nya.
Saat ini Meira masih berada di kamarnya untuk dirias, meski ini cuma akad nikah dengan acara pernikahan yang sederhana namun Meira harus tetap tampil cantik untuk hari bahagianya ini apalagi acara ini hanya akan sekali seumur hidupnya, itulah harapan Meira termasuk semua keluarga.
"Ya Tuhan, anak Ibu cantik banget hari ini." puji Ibu Meira yang baru saja memasuki kamar, berhubung Meira sudah selesai didandani dan penata riasnya pun sudah bersantai maka Ibunya ingin segera melihat tampilan putrinya yang sangat cantik namun tidak menghilangkan kesan manis dan imutnya itu.
Meira tampil menawan dengan kebaya berwarna putih nan elegan yang pas di tubuh namun masih tertutup untuk dirinya, karena Alando memang tidak suka kalau Meira mengenakan pakaian yang menampilkan bentuk tubuhnya.
"Hihii... Apa nanti kak Al Al akan suka melihat Meira?" tanyanya begitu bahagia dan menanti hari ini. Sebentar lagi kak Al Al nya akan datang dan mereka bisa bertemu lagi.
"Ckckk... Ya ampun anak ini, yang ada dipikiran kamu itu cuma nak Al saja. Pusing Ibu mendengar rengekan kamu seminggu ini." gerutu Ibunya, pasalnya anak perempuannya ini sudah bikin darah tinggi kedua orang tuanya kumat, setiap hari yang diomongin Alando saja.
"Meira kangen."
"Haahh... Nak Al pasti akan sangat menyukai penampilanmu hari ini." Ibu Meira membelai lembut penuh kasih pada bahu putrinya, anak perempuan satu-satunya yang sebentar lagi akan menikah dan dibawa pergi oleh suaminya. Meski begitu tidak ada penyesalan apalagi marah, justru Ibu Meira merasa bahagia karena sekarang anaknya itu sudah mendapatkan pasangan yang sangat menyayanginya dan akan membahagiakannya serta menggantikan posisi kedua orang tuanya.
"Mulai hari ini kamu harus berbakti sama nak Al, harus menurut apa katanya dan jangan melawan perintahnya kalau itu adalah hal yang baik." ucap Ibu Meira, sebenarnya dia ingin memberikan banyak nasehat pada Meira namun dia tau pemahaman Meira akan sesuatu hanya sebatas kata-kata sederhana yang mudah dicerna oleh pikirannya.
"Meira nggak akan melawan kak Ak Al kok Bu." gelengnya, dan menatap Ibunya lekat.
"Iya, ibu tau kamu sangat menyukainya kan? Udah Ibu mau keluar dulu dan bersiap-siap menunggu keluarga calon suamimu itu." tutur Ibunya, kalau lebih lama di sini bisa-bisa air matanya berjatuhan tak tau malu.
***
"Iih... Meira kok kamu yang duluan yang nikah sih, padahal kan aku duluan yang memiliki cita-cita menikah muda. Huhh... gagal deh." gerutu Mita, jangankan calon suami... calon pacar yang selama ini dia kejar-kejar saja belum dia dapat. Selama ini Mita sudah menyukai teman sekelasnya Niko tapi sayang tidak ada balasan, cintanya bertepuk sebelah tangan, batinnya.
"Makanya, cepat-cepat cari pacar." goda Ami, nampak jelas wajahnya hari ini terlihat sangat bahagia layaknya orang yang sedang jatuh cinta.
"Duuh... yang baru jadian yang jomblo dengerin aja deh." balas Mita menggoda Ami balik.
Canda mereka berempat di sebuah kamar khusus yang dihuni oleh calon pengantin wanita, demi menghilangkan ketegangan gadis yang sedang terlihat gugup itu. Masalahnya sampai saat ini keluarga sekaligus calon suaminya belum terlihat tanda-tandanya akan datang. Padahal kak Al Al nya sudah menghubunginya dari setengah jam yang lalu kalau mereka sudah dalam perjalanan.
"Tenang saja Meira, aku yakin mereka sebentar lagi juga datang kok!" ucap Sany, mencoba menenangkan sahabatnya itu.
"Telpon lagi deh." usul Sany.
"Udah, Meira udah hubungi berkali-kali tapi nggak diangkat. Pesan Meira juga nggak dibales." Meira tambah murung, dia takut terjadi sesuatu pada kak Al Al.
"Mungkin mereka masih dalam perjalan ke sini." yakinkan Ami.
"Iya..."
***
Alando dan keluarga kini sudah dalam perjalanan, cuma butuh kurang lebih setengah jam lagi mereka akan sampai, namun sedari tadi Alando terus merasa tidak tenang dan gugup merasukinya.
"Santai saja Lan, kita pasti datang tepat waktu." hibur om Rendrawan yang berada di kursi depan samping sopir. Dari tadi dia sudah memperhatikan tingkah Alando yang gelisah. "Dulu Om juga merasakan hal yang sama seperti yang kamu alami saat ini, namun setelah sampai di rumah tujuan dan ijab pun terucap semua kegelisahan itu sirna dan rasanya hahh... lega." cerita Om Rendrawan berbagi pengalamannya yang dulu.
"Tenang saja, kita akan segera sampai." sambung Papa Alando yang duduk di kursi sampingnya. Mobil mereka terus melaju namun tak jauh di depan mereka ada beberapa mobil, dan "Cittt... bruukk..." dua mobil saling berhantaman dan terjadilah kecelakaan.
Sedangkan di rumah Meira kini suasananya semakin tegang. Keluarga Meira dan sahabat-sahabatnya pun sudah berkumpul tinggal menunggu kedatangan mempelai laki-lakinya. Begitu pun Pak penghulu berusia sekitar empat puluh lima tahunan tersebut terpaksa harus bersabar ikut menunggu kedatangan mempelai lelaki yang belum terlihat kemunculannya, padahal satu jam lagi dia juga harus menikahkan seseorang di tempat lain.
"Gimana, ada kabar dari Alando...?" tanya Kenny yang juga ikut panik. Orang-orang di sekelilingnya pun semakin rame berbisik. Entah apa yang mereka bicarakan, yang pasti masih berhubungan dengan ketidak datangan Alando dan keluarganya atau belum datang saja.
"Tidak ada. Gue sudah berusaha menghubungi Alando berkali-kali namun nihil. Sepertinya telponnya tidak aktif." ujar Zaden yang dari tadi juga berusaha menelpon Alando, sayangnya dia tidak memiliki nomor kontak keluarga Alando satu pun.
"Maaf, kalau sampai sepuluh menit lagi calon mempelai tidak datang maka terpaksa saya harus pergi dari..."
"Tunggu... tunggu Pak, saya... hahh..." Alando berlari secepat yang dia bisa memasuki rumah yang kini akan menjadi tempat akad nikahnya dengan Meira. Bahkan kini napasnya pun tersengal-sengal, benar-benar butuh perjuangan untuk sampai di sini.
"Lan loe benar-benar bikin khawatir orang saja!" ucap Zaden, dia lega Alando akhirnya ada di sini. Tadinya dia sudah mau berangkat mencari Alando, siapa tau mobilnya bermasalah di jalan.
"Kita semua bahkan sudah mau berangkat nyariin loe tau nggak?" dari suaranya ada rasa panik dari Christ namun sudah berubah menjadi suatu kelegaan.
"Oh syukurlah kamu sudah datang Lan, Ayah sudah sempat khawatir tadi." seru Ayah Meira dan menepuk bahu Alando pelan namun nampak jelas di wajahnya ada rasa bahagia akan kedatangan calon menantunya tersebut setelah berjam-jam dibikin panik berjamaah.
"Keluarga kamu di mana?" tolehnya ke belakang dan tidak ada satupun keluarga Alando terlihat.
"Haahh... Itu Yah, tadi ada kecelakaan di Jalan..." cerita Alando meski napasnya belum teratur.
"Tidak apa-apa Yah, Ibu. Semua baik-baik saja. Tadi saat kami berangkat ke sini tiba-tiba ada mobil di depan kami yang mengalami kecelakaan. Mau tidak mau kami sempat berhenti cukup lama untuk membantu mereka sambil menunggu ambulan dan berhubung mobil-mobil itu menghalangi jalan, kami tidak bisa langsung pergi. Untungnya ada pengendara motor yang bersedia mengantar aku kemari Yah." jelas Alando menceritakan semua kejadian yang membuatnya hampir batal menikahi Meira hari ini, ditambah motor yang dia tumpangi tiba-tiba mogok di tengah jalan beruntung jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah Meira hingga dia putuskan untuk berlari.
"Oh syukurlah... Ya sudah, sebaiknya kita menunggu keluargamu sebentar lagi." ajak Ayah Meira duduk dan menunggu kedatangan mereka. Tampak muka-muka tegang orang-orang di sekelilingnya kini berubah lebih santai dan sumringah.
Tidak lama keluarga Alando pun datang memasuki rumah Meira yang sederhana namun cukup menampung keluarga yang datang. Alando dari tadi terus menoleh ke bagian dalam rumah menunggu kemunculan calon istrinya yang selalu tampak manis di matanya, namun sayang belum terlihat ada tanda-tanda Meira keluar menemuinya.
Suasana di ruang tamu kediaman keluarga Meira kini menjadi tenang, dua lelaki yang berbeda usia kini saling duduk berhadap-hadapan, dengan tangan yang saling menjabat.
"Bagaimana, apa kalian sudah siap?" tanya Pak penghulu itu.
"Iya, insyaallah siap."
"Saudara Alando bin Garindra!" ucap ayah Meira.
"Saya."
"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan anak perempuan ku, Meira Putri bin Suryadi dengan mas kawin emas sebesar 15 gram dan seperangkat alat sholat dibayar tunai.
"Saya terima nikahnya dan kawinnya Meira Putri binti Suryadi dengan mas kawinnya yang tersebut dibayar tunai."
"Bagaimana para saksi? Sah?"
"Sah!"
"Alhamdulillah, Haahh..." lega, akhirnya segala bentuk beban, gelisah dan gugup yang tadinya bersatu di dalam dirinya kini entah menghilang kemana. Seulas senyum pun kini menghiasi bibir Alando, padahal jarang-jarang dia terang-terangan menunjukkan senyumnya itu pada sembarang orang namun kini Alando tidak bisa menutupinya lagi, sungguh bahagia dirasakannya saat ini mengingat dia dan Meira kini resmi menjadi pasangan suami istri.
Begitu pun sahabat-sahabat Alando dan Meira yang kini turut bahagia melihat kebahagian sahabatnya juga. Terutama Zaden, dia bahagia melihat Alando sudah menemukan kebahagiaannya sendiri.
Beberapa tahun ini dia menyaksikan kepahitan dan kesakitan Alando ketika dia kehilangan mamanya dan sejak itu tidak ada sedetik pun senyum terulas di wajahnya dan ini pertama kali Zaden melihatnya lagi dan dia mensyukuri itu.
Tampak Meira berjalan dituntun oleh Ibu, dengan anggun dan cantik menggunakan kebaya putih yang pas di tubuhnya. Untuk sesaat Alando terpana melihatnya, Meira tampil cantik dan dewasa terlihat lebih kalem.
"Ehem... nggak usah dilihatin kayak gitu juga Lan, malam masih jauh." goda Christ yang tertawa melihat muka bloon Alando dan kini menjadi salah tingkah karena semua orang di sekitarnya ikut-ikutan tertawa.
"Hapus tuh Lan iler loe, sabar tunggu malam tiba." tambah Steven, dia ikutan gatal pengen resein sahabatnya tersebut.
"Hahaaa..."
"Sialan kalian...!" maki Alando, sayangnya saat ini dia tidak bisa memberi pelajaran untuk sahabat - sahabatnya itu, nggak enak sama keluarga besar mereka berdua.
"Kak Al Al... Meira tadi sudah takut kalau kak Al Al nggak jadi datang." serunya dan menghambur kepelukan seorang lelaki yang kini sudah sah menjadi suaminya. "Meira juga kangen banget." tambahnya. Mau tidak mau Alando membalas memeluknya meski sedikit canggung karena banyak anggota keluarga yang senyum-senyum memperhatikan.
"Wahh... Meira, mentang-mentang udah sah! dekapin terus tuh si Alando." ejek Kenny, melihat Meira memeluk Alando memang sudah sering tapi berbeda kalau ini di depan umum dan banyak keluarga yang memperhatikan mereka apalagi di hari pernikahan, Meira benar-benar nggak ada jaim-jaimnya.
"Ya ampun nih anak!" kesal ibu Meira dan segera menariknya. "Duduk yang sopan di samping suami kamu." suruh ibunya.
Meira patuh dia duduk manis di samping Alando dengan wajah bahagia dan senyum manis di bibirnya "Iya, Meira duduk kok."
"Sekarang cium tangan suami kamu." perintah Ibu Meira yang kini ikut duduk di sampingnya dan mengarahkan putrinya untuk mencium tangan Alando sebagai bentuk hormat dan baktinya pada imam di rumah tangga mereka.
Meira menyentuh lembut tangan suaminya dan perlahan menciumnya dengan perasaan bahagia. Begitupun Alando yang merasa seperti mimpi karena kini dia sudah memiliki seorang istri dengan usianya yang memang masih 22 tahun.
"Kalau cium kak Al Al nya boleh?" tanya Meira dengan senyum lugunya, berhubung dia sangat merindukan kak Al Al nya juga.
"MEIRA..." kesal ibunya, anak perempuan kok malah nggak ada malunya, batin ibunya. Anaknya memang bikin pusing.
"Hahaa... tunggu di kamar Meira." tawa Kenny, dan diikuti oleh tawa semua keluarga dan sahabatnya Meira.
"Iya"
***
Vote, like dan koment yaa...
Duuh.. udah nikah nih Meira dan Alandonya tapi bingung juga mau nulis kelanjutannya, besokan udah puasa ya😁😁