Maybe I Love You

Maybe I Love You
09. Perasaanku



Sena menggeliatkan tubuhnya gadis itu menepuk-nepuk tempat kosong disampingnya, “ini bukan sofa.”



Gadis itu mendudukkan dirinya dengan rambut yang acak-acakan dan mata yang masih belum terbuka sepenuhnya, “seolma..”



Jaeha menyantap sarapan paginya, pandangan matanya tidak lepas dari ponsel yang sedang digenggamnya itu, ia sadar Sena tengah berjalan menuju meja makan tapi pria itu pura-pura tidak tau.



Sena duduk di hadapan Jaeha, gadis itu mulai mengoleskan selai coklat pavoritnya di rotinya, sesekali gadis itu melirik Jaeha yang masih tetap fokus pada ponselnya.



‘apa iya semalam dia memindahkanku ke kamar?’



Jaeha sesekali juga mencuri pandang pada Sena, ia teringat kejadian semalam.



“kau mau apa?” mata Sena masih terpejam dalam pangkuan Jaeha



“badanmu akan sakit kalau tidur di sofa,” Jaeha tetap berjalan menaiki tangga



“dasar mesum!”



“apa kau tidak tau cara mengucapkan terima kasih?”



“Yoda.”



Jaeha menghentikan langkahnya, jantungnya tiba-tiba berdebar mendengar panggilan Sena pada dirinya itu adalah panggilan masa kecilnya, “barusan kau memanggilku apa?”



Tapi Sena tidak menjawab, gadis itu tertidur kembali.



“kau harus diet!” ucapan Jaeha itu tiba-tiba membuat Sena berhenti mengoleskan selai begitu mendengar perkataan Jaeha, ia terkejut karena Jaeha tau apa yang ia pikirkan dan bukan hanya itu berarti secara tidak langsung Jaeha mengatainya gendut!



“jadi kau yang memindahkanku semalam?”



“hantu yang memindahkanmu semalam, mereka bicara padaku kalau tubuhmu sangat berat membuat tangan mereka pegal!”



Sena mendengus sebal, “aku tidak yakin dulu kita berteman baik.” gumam Sena



Jaeha berdehem pelan, ia mendengar perkataan gadis itu. “kau ingat panggilan yang kau berikan padaku saat masih kecil?”



Sena mendongak sambil mengunyah rotinya, “aku belum ingat apapun, kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu?”



‘berarti semalam hanya kebetulan? Dia juga sepertinya tidak ingat percakapan semalam.’ Batin Jaeha



“tidak, aku hanya bertanya saja.”



“ngomong-ngomong kau tidak memakai make up lagi?”



“kau ingin melihatku memakai make up? Kau menyukanya?”



“bukan begitu, hanya saja biasanya wanita selalu ingin terliat cantik.”



“aku akan memakai make up jika aku menyukai seseorang.”



“bukankah kau menyukai Minho?” jawab Jaeha dengan cepat



“Minho oppa menyukaiku apa adanya, dan aku rasa aku masih cantik walaupun tanpa make up. Kalau orang yang kucintai suka dengan gadis yang senang berdandan, dengan senang hati aku akan melakukannya.”



“kau terlalu percaya diri.”



“kau juga sama saja! wlee!” Sena segera meninggalkan meja makan sambil membawa rotinya sebelum Jaeha menghardiknya!



Sena pergi ke cafe menemui Sujin, begitu melihat hyerim datang Sujin langsung melambaikan tangannya.



“ada apa kau memintaku bertemu? Dan lagi bukannya kau sedang di New York?”



“aku pulang karena nenek sedang sakit, ia ingin sekali aku yang menemaninya.”



“lalu bagaimana kondisi nenekmu sekarang? ah aku sama sekali tidak tau.”



“setelah dirawat keadaannya mulai membaik, awalnya nenek tidak mau dibawa ke rumah sakit. Tapi aku mengancamnya kalau aku tidak akan menemuinya lagi kalau tidak mau di bawa ke rumah sakit.”



“dasar gadis kejam! Tapi kalau memang tidak mau susah. Semoga nenekmu cepat sembuh.”



“terima kasih. Oh iya aku punya berita bagus untukmu.”



Sena menatap Sujin seolah berkata ‘apa’,



“banyak sekali yang memintamu agar menjadi brand ambassador produk kecantikan mereka.”



Sena hampir saja tersedak, “mwo?!! Apa kau belum menghapus fotoku?”



Sujin menggeleng sambil tersenyum lebar, “kan sudah ku bilang kau harus menghapusnya setelah 24 jam! Neo jinjja!!” Sena menundukkan wajahnya dengan raut wajah kesalnya



“banyak sekali orang yang menyukainya, aku tidak tega juga menghapusnya.”



“lalu kau bilang apa?”



“aku bilang saja kau model dari produk kosmetikku. Mereka kan tidak tau kalau itu akun sosial mediaku. Mereka bahkan terkejut saat tau kalau kau menikah dengan Jaeha!”




“teman Jaeha? Siapa?”



“Hyunjae, aku kan datang bersamanya saat pernikahanmu. Kau lupa?”



Sena mencoba mengingatnya meskipun akhirnya dia tidak ingat, “aku sedang tidak fokus waktu itu.”



“dasar menyebalkan! Bagaimana? Hyunjae akan minta ijin pada Jaeha.”



“ya! Han Sujin!” ucap Sena dengan tatapan tajamnya



“arraseo, arrasseo! Minum, minumlah!” Sujin tersenyum tapi akhirnya gadis itu mengerucutkan bibirnya,



‘kenapa juga Sena masih belum berubah?’ Batin Sujin



di saat yang sama pula Jaeha kini sedang bersama dangan Hyunjae di ruangannya,



“mworago?”



“aku ingin menjadikan istrimu barand ambassador produk kosmetikku, atau jadi model dari pakaianku. Bagaimana?”



“dia tidak akan mau.”



“kenapa?” Hyunjae meletakan minumannya di meja,



“dia saja tidak suka memakai make up.”



“lihat ini!”



Hyunjae menunjukkan foto Sena yang di unggah Sujin pada Jaeha, pria itu terkejut karena banyak sekali yang menyukainya.



“cantikkan? Aku sendiri menyukainya.” Jaeha mendelik, perkataan Hyunjae membuatnya sedikit kesal.



“bukan aku yang menentukan, kau minta saja pada orangnya. Yang aku tau dia pasti tidak akan mau.”



“Sujin sedang mencobanya.”



“kalian sekongkol?”



Hyunjae malah tertawa, “aku tidak bisa membantu.”



“kau kan suaminya, kau bisa membujuknya.”



“Jae! kau tau aku menikasi Sena karena apa, apa kau pikir aku akan mau membujuknya?”



“baiklah, aku hanya berharap Sujin dapat membujuknya.”



“aku tidak yakin.”



**



Jaeha yang baru pulang langsung menghampiri Sena yang tengah asyik menonton televisi, ia ingin coba mencari tahu kenapa Sena tidak mau menggunakan make up dan bergaya seperti orang kekurangan dana.



“wasseo!”



Jaeha melepaskan jasnya ia duduk di samping Sena sambil melonggarkan dasinya.



“kau menerima tawaran dari Sujin?” ucap Jaeha to the point



“apa Hyunjae menemuimu? Atau Sujin datang padamu?”



“Hyunjae datang tadi siang.”



“lalu kau jawab apa?”



“aku bilang bagaimana kau saja, aku tidak punya hak kan soal masalah itu meskipun aku memang suamimu.”



Sena menghembuskan nafas lega, “tapi kenapa kau tidak suka memakai make up?”



Seketika Sena terdiam, Jaeha memandang Sena ia menunggu jawaban gadis itu.



“kau tidak perlu tau! Aku sudah siapkan makan malam, kalau sudah dingin kau hangatkan saja sendiri.”



“kau bisa masak?”



“jangan remehkan aku!”



“aku tidak yakin! Kau sudah makan?”



“sudah, aku tidak kuat kalau harus menunggumu pulang. Oh iya, aku masak galbi. Kau suka galbi kan?”



Jaeha menatap Sena yang fokus memandang ke arah televisi, ia dulu berharap Helena bisa memasak makanan kesuakaannya itu tapi Helena belum pernah melakukannya karena kemampuan memasaknya memang kurang. Dan sekarang selain ibunya, Sena memasak makanan kesuakaannya dan lagi-lagi hal itu membuat jantungnya mendadak berdebar kencang.



‘wae ire?’ batin Jaeha