
Sena menghubungi Seolhyun di mobil.
“masih belum selesai?” tanya Sena
“belum, aku benar-benar cemas!”
“aku yakin operasinya akan berjalan lancar, kau harus tenang. Kau tidak sendirian kan?”
“Jinwoo menemaniku. Tapi sekarang dia sedang beli minuman.”
“syukurlah, maaf aku tidak bisa menemanimu di sana.”
“tidak apa-apa! aku mengerti, Sora ingin sekali bertemu dengamu tapi aku sudah memberitahunya kalau kau akan datang jika operasinya sudah selesai, karena aku pikir kau tidak pergi ke Jepang.”
“besok sore aku pulang, aku akan langsung pergi ke rumah sakit menemui Sora.”
“baiklah, Sora pasti akan sangat senang.”
“hm, jaga kesehatanmu. Kabari aku lagi nanti ok?!”
“baiklah. Kau juga Sena!”
Sena membuka galeri fotonya di ponsel, ia melihat fotonya bersama dengan Sora.
“aku yakin semua akan berjalan lancar, Sora anak yang kuat.” Ucap Minho
“ya, aku juga yakin. Aku ingin cepat-cepat pulang, aku ingin menemaninya.”
Minho berhenti di depan gerbang tempat Sena menginap, tangannya menahan Sena untuk keluar membuat gadis itu menatap Minho dengan tatapan ‘apa?’
Minho mendekat berniat mencium Sena, tapi gadis itu malah berpaling membuat Minho heran dan menjauhkan tubuhnya.
“masuklah, tidur nyenyak malam ini!”
“gomawo oppa!” meskipun ada rasa bersalah, tapi entah kenapa Sena tak ingin melakukannya.
Sena melemparkan tas selempangnya di kasur gadis itu berjalan ke arah jendela ia membukanya membiarkan oksigen dari luar untuk masuk, banyak pikiran yang mengganggunya hari ini membuatnya termenung menatap ikan-ikan koi yang bergerak kesana kemari dengan tenang.
Tok-tok-tok!
“masuk!”
Seorang pelayan masuk membawakan secangkir teh untuknya, “aku tidak meminta teh.” Ucap Sena
“tuan yang mempersiapkanya.”
“Jaeha?”
Pelayan itu mengangguk kemudian pergi dari kamar Sena, “tumben!”
Jaeha sendiri baru kembali dari perusahaan beberapa menit kemudian, ia melihat lampu kamar Sena menyala “dia sudah pulang!”
“tuan!”
Jaeha berbalik, “nona mempersiapkan teh ini untukmu!”
“Sena?”
Jaeha membawa teh itu masuk ke kamarnya, kebetulan ia sangat haus membuatnya meminum teh itu dalam sekali tegukan walaupun masih sedikit panas.
Selang 15 menit, Jaeha mulai merasakan hal aneh yang terjadi pada tubuhnya serangan hawa panas itu mulai menjalar keseluruh tubuhnya. Pikirannya mulai kacau seiring bertambahnya waktu menuju malam.
“apa yang dia itu lakukan padaku?!” Jaeha pernah merasakan hal ini sebelumnya, tapi ia tidak menyangka kalau Sena yang akan melakukannya.
Braaaakkk!!
Jaeha melihat ke arah pintu, ia melihat Sena masuk dengan nafas terengah-engah
“ya neo—“
“apa yang kau masukkan kedalam tehku hah?!!!”
Jaeha mengernyit bingung, ‘dia ingin menyalahkanku setelah apa yang dia lakukan padaku?’
“tunggu! Kau menyalahkanku disaat kau sendiri memasukkan obat itu kedalam minumanku!?”
“apa lagi ini?! kau ingin menyalahkanku begitu? Kau tidak mau mengaku hah?! Dengan sengaja kau menyuruh pelayan mengantarkan teh padaku agar aku mau menghabiskan malam ini denganmu! Kenapa kau menggunakanku untuk melampiaskan nafsumu itu?!”
“alasanmu benar-benar sangat bagus! Berkaca dulu pada diri sendiri, kau yang ingin aku melakukan hal itu padamu kan? cih aku tidak menyangka ternyata pikiranmu lebih liar tidak cocok dengan wajah bocahmu itu!”
Sena menahan serangan libidonya yang mulai naik, matanya terpejam tangannya mencengkram erat ujung bajunya.
“dengar, aku tidak pernah memasukkan obat yang kau maksud itu kedalam minumanmu! TIDAK PERNAH!” suara gadis itu mulai terdengar berat ditambah penuh penekanan,
“lalu kenapa kau menyalahkanku?! Aku juga tidak melakukan hal itu?! shit!”
“lalu siapa yang melakukannya? lalu... lalu apa yang harus aku lakukan?! Ak-aku...!”
Jaeha berjalan cepat menghampiri Sena ia menyentuh pipi Sena membuat gadis itu memejamkan matanya, sesaat sentuhan tangan Jaeha membuat darahnya berdesir dengan cepat, begitu matanya terbuka pandangannya tertuju pada bibir Jaeha membuat gadis itu menggigit bibir bawahnya pikirannya mendadak kotor.
“tidak ada cara lain, kau menginginkanku dan aku menginginkanmu!”
“pasti ada cara lain, kenapa harus melakukannya?!”
“kau ingin menahannya sepanjang malam?”
“selama itu?! tapi— hmmmpp!“
Jaeha dengan cepat mencium bibir Sena membuat gadis itu mencengkram kuat baju Jaeha, jika bukan karena obat itu Sena tidak akan pernah mau menyerahkan dirinya pada Jaeha, tapi kali ini ia menginginkan Jaeha ia tidak bisa berhenti ia menginginkan lebih, ia ingin bantuan Jaeha untuk menyelesaikan penderitaan yang menyiksanya saat ini.
Sena marasakan tubuhnya kini terbaring di ranjang, Jaeha melepaskan tautan bibir mereka kedua manik matanya menatap Sena yang kini berada di bawah tubuhnya.
Seakan mengerti dengan tatapan Jaeha, Sena mengangguk pelan ia membiarkan Jaeha memilikinya malam ini, terpaksa ia melakukan ini terpaksa! andai hanya Jaeha yang meminum obat itu seperti waktu itu, ia akan membiarkannya kesakitan seorang diri ia tidak akan peduli! Tapi kali ini berbeda ia juga menginginkannya, ia bahkan tidak sadar kapan pakaiannya sudah terlepas tidak ada lagi kata malu untuknya sekarang ia hanya ingin merasakan kenikmatan itu malam ini!
**
’04.00 pagi’ batin Sena
Sena mengerjapkan matanya beberapa kali, ia masih sangat mengantuk apalagi seluruh badannya berasa remuk ia juga tidak tau berapa jam ia tidur tadi malam.
Gadis itu menyentuh tangan yang kini memeluk bagian perutnya dari belakang, ia berbalik menatap Jaeha yang masih tertidur pulas Sena tersenyum kecil melihat rambut Jaeha yang acak-acakan karena ulahnya semalam.
‘aku masih bisa tersenyum setelah kehilangan hal yang paling berharga dalam hidupku. Tapi kenapa aku tidak merasa menyesal?’
Benar, Sena sama sekali tidak menyesal buktinya ia masih betah dipeluk oleh Jaeha seperti sekarang. jika saja ia menyesal Sena sudah pergi dari kamar Jaeha detik ini juga bahkan mungkin pulang lebih dulu ke ke Korea, dan mungkin juga ia akan langsung melayangkan surat cerai untuk Jaeha.
Jaeha merapatkan tubuhnya membuat Sena semakin masuk kedalam pelukan Jaeha, Sena merasa nyaman dengan posisinya sekarang membuat gadis itu kembali menguap, dengan ragu-ragu ia melingkarkan tangannya ke pinggang Jaeha memebenamkan kepalanya ke dada bidang pria itu.
‘kali ini saja, cukup kali ini saja!’ matanya mulai terpejam kembali untuk masuk ke alam mimpi.
Jam 7 pagi Sena meninggalkan Jaeha yang masih tertidur pulas, begtu masuk ke kamarnya ia memeriksa ponsel yang tergeletak di atas meja.
“20 panggilan tak terjawab?” Sena melihat nama Minho dan Seolhyun di daftar panggilan tak tertajawabnya, perasaannya mulai tidak tenang setelah melihat nama Seolhyun. Ia menghubungi Seolhyun lebih dulu tapi ponselnya tidak aktif. Ia beralih menghubungi Minho tapi tak kunjung di angkat juga.
Sena melihat panggilan masuk di ponselnya, dengan segera ia mengangkat panggilan dari Minho
“oppa!”
Jaeha terbangung setelah Sena pergi dari kamarnya, ia melihat tubuhnya yang masih polos tanpa sehelai benang yang menutupinya ia benar-benar melakukannya dengan Sena semalam.
“apa dia marah padaku? Apa dia baik-baik saja?” begitu melihat Sena sudah tidak ada di sampingnya
Jaeha segera memakai pakaiannya ia buru-buru menghampiri Sena di kamarnya.
“Sena, ini aku. apa aku boleh masuk?!”
Karena tidak ada jawaban Jaeha memilih masuk karena khawatir dengan Sena, tapi pemandangan yang dilihatnya adalah Sena mengemasi pakaiannya ke dalam koper.
“kau mau kemana?!”
Seolah tuli Sena tak menanggapi pertanyaan Jaeha,
“aku tanya kau mau kemana? Apa kau sangat marah padaku sampai harus pulang lebih dulu?!”
Jaeha kaget melihat Sena menangis, Jaeha berpikir ia benar-benar menyakiti Sena semalam sampai gadis itu menangis seperti ini.
“aku minta maaf soal semalam, aku melakukannya karena situasi kau juga tau itu aku juga melakukannya karena kau mengijinkannya.”
“pesan tiket sekarang juga aku ingin pulang!”
“tapi kita masih ada waktu sampai nanti sore! Lebih baik kau pukul aku atau teriak sesukamu, aku lebih suka itu dari pada kau mendadak ingin pulang seperti ini!”
“aku tidak mempermasalahkan semalam, aku ingin pulang sekarang ada hal yang lebih penting aku harus segera sampai di sana!”
“apa? katakan padaku biar aku dapat mengerti!”
Jaeha mempersiapkan pesawat pribadinya karena itu jelas lebih cepat, Jaeha melihat Sena yang terus saja menghapus air matanya terlihat sangat jelas olehnya kalau Sena sangat menkhawatirkan Sora.
Sena merasakan Jaeha menggenggam tangannya dengan erat, tatapan matanya mengatakan kalau Sora akan baik-baik saja dan tatapan itu juga sedikit membuatnya tenang.
“untung sebentar lagi musim dingin.” Ucap Jaeha
“maksudnya?”
“kalau ini musim panas kita akan dianggap aneh karena memakai pakaian turtleneck.”
Sena memukul lengan Jaeha membuat pria itu meringis, “ini semua karena ulahmu!”
“kau juga melakukan hal yang sama!” ia menunjuk lehernya sendiri membuat Sena menatapnya kesal tapi berakhir dengan senyuman kecil di wajahnya, Jaeha senang karena Sena sedikit tersenyum dengan perkataanya, setidaknya itu membuat Sena merasa sedikit lebih baik.
Sena berlari sambil membawa boneka panda melewati lorong rumah sakit menuju ruangan ICU, langkahnya terhenti begitu melihat Seolhyun menangis dalam pelukan Jinwoo begitu juga Minho dan beberapa pengurus panti yang lain yang juga menangis.
Sena tau itu bukan tangisan kebahagiaan atas kesembuhan Sora, tapi Sena tidak mau percaya begitu saja. Sena buru-buru masuk ke dalam ruangan ICU jika saja Jaeha tidak menahan tubuhnya pasti kini ia sudah merosot ke lantai.
Jaeha menuntun Sena mendekati tubuh gadis kecil itu, Sena membuka kain yang menutupi wajah Sora yang sudah pucat.
“Sora-ya, kakak ada di sini. Lihat kakak membawakan boneka panda besar untukmu, ayo lihat Sora buka matamu! Kau bilang kau merindukanku ayo buka matamu aku ada di sini!” Sena mengguncang-guncang tubuh Sora yang mulai mendingin
“Sora! Sora ayo bangun sayang! Ambil bonekamu, peluk aku seperti biasanya! Kau janji akan sembuh, kenapa sekarang kau berbohong pada kakak?! Sora bangun Sora!”
Jaeha memegang kedua pundak Sena, ia berusaha menenangkan Sena sebisanya. Ia tau ini terlalu mendadak apalagi tadi Sora masih sadar saat mereka masih di Jepang, Jaeha bisa merasakan kesedihan Sena, ia bisa melihat kalau Sena sangat menyayangi Sora.
pintu ruangan itu kembali terbuka Sena melihat sepasang suami istri masuk mendekati tubuh Sora, mereka mengis sembari memanggil nama Sora berkali-kali.
“maaf kan kami sayang! Maaf karena kami membiarkanmu sendirian sayang, buka matamu kami datang.” ucap si wanita,
Sena sadar mereka adalah orang tua Sora, “kalian memintanya untuk bangun? Kenapa kalian datang setelah dia pergi untuk selamanya?!” amarah Sena mulai naik,
“Sena tenang!” ucap Jaeha
“kalian tau betapa Sora sangat merindukan kalian? dia menanggung sendiri kesakitannya saat seharusnya ia diurus oleh kedua orang tuanya! Apa kalian menyesal sekarang?!!”
Minho dan Seolhyun masuk mendengar teriakan Sena,
“maafkan kami, kami tidak punya pilihan lain saat itu!”
“hanya karena kalian tidak mendapat restu dari orang tua kalian, kalian tega mengorbankan Sora?! Apa itu cara yang pantas?!! Kalian tidak pantas menjadi orang tua, pergi dari sini! Dia sudah tidak membutuhkan kalian lagi pergi dari sini!!!!”
Tubuh Sena tiba-tiba lemas Minho berniat menolong Sena tapi ia sadar posisinya dan lagi Jaeha ada bersamanya, Jaeha adalah suaminya.
Jaeha menahan tubuh Sena agar tidak terjatuh,
“Sena! Sena sadarlah!” Jaeha segera membawa Sena ke UGD karena takut terjadi sesuatu padanya.
setelah selesai megnurus jenazah Sora, Minho pergi ia ingin melihat keadaan Sena ia berharap Jaeha pergi agar ia bisa bersama dengan Sena menjaga gadis itu lebih tepatnya.
Tapi yang ia lihat sekarang Jaeha terlihat sangat mengkhawatirkan Sena, Jaeha tidak pergi dari samping Sena menunggu gadis itu tersadar.
Minho bernafas lega ketika ia melihat mata Sena terbuka, walaupun ia tidak ada di sisi Sena ia cukup lega melihat gadis itu tersadar.
Minho menerima panggilan masuk, Minho dengan segera mengangkatnya sembari meninggalkan tempat Sena terbaring.
“sudah sadar?”
“baiklah aku akan pergi ke sana besok karena hari ini aku tidak bisa pergi.”
“lakukan yang terbaik agar dia bisa sembuh total.”
Sena berusaha bangun tapi kepalanya benar-benar pusing semuanya terasa berputar,
“kau harus istirahat, tekanan darahmu turun.”
“Sora, dimana Sora?”
“Sora sudah di bawa ke rumah persemayaman, tinggal upacara pemakamannya.”
Sena kembali menangis, ia menyesali dirinya karena tidak datang di saat Sora membutuhkannya, ia menyesal karena ia datang terlambat andai saja ia tau kalau Sora akan pergi secepat ini ia tidak akan pernah mau pergi ke Jepang ia akan terus bersama anak itu membuatnya bahagia di sisa awaktunya yang tersisa.
‘maafkan kakak Sora!’