
Mera melihat Leon keluar dari kamarnya dengan pakaian yang rapih, “Kakak jadi pergi?”
“Iya, kau pasti ingin ikut kan?” Goda Leon
“Jangan menggodaku! Aku ingin sekali ikut untuk memberikan donasi itu. Tapi hari ini kakiku rasanya sangat pegal dan agak sedikit sakit.”
“Kakimu memang terlihat sedikit bengkak. Apa itu hal yang normal?”
“Kata dokter sih normal. Mungkin seharian ini aku hanya akan melakukan aktivitas rebahan. Belikan aku ice choco ya?!”
“Siap!” Kata Leon sambil mengusap perut Mera, “Aku pergi dulu ya?”
“Hati-hati di jalan!” Kini hanya Snow yang menemani Mera, seorang pelayan membawakan sepiring penuh buah-buahan segar untuk Mera. “Bisa kau antarkan ke halaman belakang? Sekarang aku ingin bersantai di halaman belakang.”
“Baik Nona.” Sang pelayan pun mengikuti Mera dari belakang.
Dipinggiran kolam renanglah tempat kesukaan Mera, karena musim gugur menjadikan cuaca mulai dingin ia lebih memilih menikmati sentuhan hangat cahaya matahari diluar ruangan. Rasa kantuk yang teramat sangat sering sekali menyerangnya saat hamil, yang ia inginkan hanyalah tidur dan bermalas-malasan. Semua keanehan yang ia rasa menurut dokter itu adalah hal yang biasa terjadi pada seorang ibu hamil, tapi tetap saja Mera aneh.
“Snow, temani aku tidur ya?”
Jaeha sudah sampai di Bandara Schiphol, sebelum pergi kerumah Leon, Jaeha memilih pergi dulu ke hotel untuk menyimpan sebuah koper besar yang ia bawa. Ia memilih untuk cuti dari pekerjaannya demi Sena, saat kedua orang tuanya diberitahu mengenai keberadaan Sena dan kondisi Sena sekarang, Tuan dan Nyonya Park merasa sangat bersyukur dan begitu bahagia, begitu juga dengan Nenek Jung. Meskipun Nenek Nam merahasiakan masalah kehamilan Sena pada mereka, tapi Nenek Jung dan keluarga bisa mengerti mengapa Nenek Nam melakukan itu. Tapi semenjak kedatangan Hwaran dan Jaeha yang sudah mengetahui semuanya, keadaan kembali menjadi normal dan Jaeha diijinkan untuk cuti dari pekerjaannya.
Sebelum berangkat Jaeha kembali melihat alamat yang dituliskan oleh Ibu mertuanya, “Hari ini, sudah cukup bagiku untuk melihatnya saja. Benar, itu sudah cukup untukku. Aku berharap Sena benar-benar ada di sana.”
Mobil pun dihidupkan, Jaeha menginjak pedal gas dengan penuh keyakinan dan mobil pun melaju pergi meninggalkan hotel.
Setelah acara pendonasian selesai, Leon pergi ke toko minuman untuk membli ice choco pesanan Adiknya. Minuman yang difavoritkan oleh Mera meskipun ia sudah dewasa, ya... memang benar coklat bisa menjadi kesukaan siapapun tanpa batasan umur. Apalagi coklat bisa membuat pikiran seseorang menjadi tenang, setidaknya itu yang Leon harapkan Saat mera meminumnya nanti.
“Terima kasih.”
Leon memberhentikan mobilnya saat melihat ada sebuah mobil yang berhenti di depan gerbang rumahnya, ia melihat seseorang keluar dari balik jendela mobil. Leon pun tersenyum.
Tok tok!
Jaeha terkejut mendengar suara kaca mobilnya diketuk, ia pun menurunkan kaca mobilnya dengan ragu. Orang yang berada di luar itu pun menunduk, Jaeha sendiri belum sadar siapa orang itu.
“Welkom in Amsterdam!” Orang itu tersenyum,
Setelah memperhatikan orang itu cukup lama akhirnya Jaeha tersadar, ia segera keluar dari mobil dan menyapa Leon.
“Akhirnya kau datang juga. Aku yakin saat kau menerima foto yang aku kirimkan kau pasti sangat marah.”
“Jadi, kau yang...”
“Benar itu aku. Aku pikir kau tidak punya keberanian untuk datang.”
“Apa Sena benar ada di sini?”
“Mera. Sena sekarang mengubah namanya menjadi Mera.” Jaeha terlihat muram, “Dia tidak bermaksud untuk melupakanmu, dia hanya tidak ingin kau temukan tapi sepertinya Ibu tidak tahan melihat Mera terus bersedih karena selalu merindukanmu.” Diam-diam Jaeha tersenyum. “Ayo masuk!”
“Tapi Se—Mera...”
“Ini kesempatan terkhirmu. Jika kau tidak mau masuk sekarang aku tidak akan membiarkanmu masuk untuk seterusnya.” Akhirnya Jaeha memilih ikut masuk, Leon terlihat ramah tapi Jaeha merasa ketakutan dengan ketegasan Leon.
“Dia pasti sedang bersantai dekat kolam renang.”
Jaeha terus mengikuti langkah Leon, saat sadar sebentar lagi akan masuk ke dekat kolam Jaeha memilih berhenti. “Aku sampai di sini saja.”
Leon terdiam sambil menatap Jaeha, “Baiklah, tapi pasang telingamu baik-baik. dan gunakan mata mu dengan baik juga.” Leon berbisik di telinga Jaeha, “Mera jadi semakin cantik lho saat sedang hamil.” Pipi Jaeha jadi merona merah, Leon sendiri terkekeh geli melihat Jaeha yang salah tingkah.
Snowlah yang menjawab panggilan Leon, karena Snow menggong-gong akhirnya Mera jadi terbangun dari tidurnya.
“Aku pikir kau tidak tidur. Ini, ice choco.”
“Wah~ terima kasih.” Leon memijit kaki Mera, dan bertanya bagaimana kakinya sekarang, “Lebih baik jika dipijat seperti ini. Terima kasih Kak.”
Dari balik tembok Jaeha merasa bahagia bisa melihat wajah cantik Sena kembali, Jaeha terharu melihat perut Sena yang sudah besar. Ia ingin menangis karena bisa bertemu kembali dengan Sena. Ia sangat berterima kasih pada Hwaran dan juga Leon.
“Mera, boleh Kakak bertanya sesuatu?”
“Bertanya apa?”
“Bagaimana jika Jaeha menemukanmu di sini?” Jaeha mulai tegang ketika Leon menanyakan tentang dirinya pada Sena.
“Aku harap Kakak tidak bertanya padaku lagi soal dia. Aku tidak ingin membahas apapun tentang suami orang lain.” Jaeha sedih mendengar Sena menyebutnya suami orang, seharusnya Sena sudah tau apa yang terjadi antara dirinya dengan Helena. “Aku tidak ingin mengingat apapun lagi tentang orang itu.” Jaeha benar-benar sedih karena Sena sudah tidak ingin mengingatnya, bahkan ia sadar kalau sena tidak menyebutkan namanya.
“Kau mau membohongi dirimu sendiri?”
“Dia menyetujui perceraian itu. Itu berarti dia sudah tidak ingin berhubungan dengaku. Dia sudah punya orang lain. Aku mohon jangan mengungkit apapun lagi tentang dia. Masalah perasaanku, itu urusanku.”
“Baiklah.” Leon melihat ke tempat Jaeha berada, Jaeha merasa sudah cukup puas dengan apa yang ia bisa lihat dan dengar, Jaeha tersenyum pada Leon.
“Kau masih ingin di sini?”
“Iya, sebentar lagi.”
“Kalau begitu Kakak masuk dulu. Hati-hati ya?”
Leon mengantarkan Jaeha kembali ke mobilnya, “Terima kasih karena sudah mengijinkanku untuk masuk dan melihat Sena. Aku berhutang padamu.”
“Tidak perlu menjadikannya hutang. Aku melakukan itu karena itu sudah menjadi keharusanku sebagai seorang Kakak yang peduli pada hubungan percintaan Adiknya.”
“Sekali lagi terima kasih.” Jaeha membungkuk dihadapan Leon
“Oh iya, apa kau mau bertemu dengan Sena setiap hari?”
“Melihat Sena setiap hari? Tapi Sena sudah tidak ingin melihatku.”
Leon memegang pundak Jaeha dengan tatapan seriusnya, “Ya atau tidak?”
Jaeha benar-benar ragu, ia harus memikirkan hal itu dengan matang. Jika ia berkata ya memang dia akan merasa puas bisa melihat Sena setiap hari, tapi bagaimana caranya? Jika suatu hari nanti Sena sadar akan keberadaanya, bagiamana jika Sena benar-benar membencinya? Tapi jika Jaeha menjawab tidak, Leon akan benar-benar menutup aksesnya untuk bertemu dengan Sena bahkan dengan buah hatinya nanti.
“Ya atau tidak?!” Leon menatap Jaeha dengan tegas, pegangan tangannya dibahu Jaeha semakin menguat. Melihat tatapan mata Leon yang tegas Jaeha pun akhirnya memilih memberanikan diri. Ia menyerahkan hidupnya pada Leon.
“Ya!”
Keesokan harinya Leon datang menemui Mera yang sedang membuat wafle bersama seorang pelayan di dapur. Leon pun mengajak Mera untuk pergi sebentar ke halaman belakang. Mera benar-benar sangat dijaga oleh Leon, bahkan Mera merasa jadi orang sakit karena perlakuan Leon yang berlebihan ini.
“Nah perkenalkan, dia adalah orang yang akan menjadi bodyguardmu.”
“Bodyguard?” Mera melihat seorang pria bertubuh tinggi memakai setelan jas hitam rapih berdiri membelakanginya. Hati mera tiba-tiba berdesir melihat postur tubuh orang itu, mengingatkannya pada seseorang
“Ini Mera, Adikku. Orang yang akan kau jaga.”
Pria itu mulai berbalik memperlihatkan dirinya...