
Hyunjae mengajak Sujin untuk singgah lebih dulu di cafe, ia ingin mendengarkan lebih baik tentang bahaya yang dibicarakan oleh Sujin tadi, jika berbicara sambil menyetir Hyunjae tak akan bisa fokus.
“Aku sedang tidak ingin minum.” Kata Sujin ketika melihat minuman yang dipesan Hyunjae datang,
“Kau harus minum. Itu baik untuk situasimu sekarang.” Akhirnya Sujin meminumnya meskipun hanya seteguk, “Jadi, bahaya apa yang kau maksud tadi? Aku bahkan meninggalkan orang penting di hotel karena aku khawatir padamu.”
“Maaf. Situas tadi benar-benar... aku memang tidak ingin itu terjadi.”
“Memangnya kenapa? Apa yang terjadi? Apa kau diam-diam meminjam uang dan tadi rentenir menagihmu?”
“Bukan itu! Aku bertemu Helena tadi, di cafe.” Hyunjae yang sedang minum bahkan sampai terbatuk-batuk, yang ia pikirkan adalah Sujin mengeluarkan kata-kata pedasnya atau bahkan lebih dari itu. “Aku tidak melakukan hal yang ada di dalam pikiranmu. Tapi mungki aku sedikit mengguruinya.”
“Maksudmu? Memangnya dia berbicara apa?”
“Sepertinya dia bingung, antara harus tetap merebut Jaeha dari Sena atau menyerah dengan keegoisannya dan membiarkan Jaeha bahagia dengan Sena. Dari penilaian ku seperti itu.”
“Jika Helena sadar kalau semua tindakannya itu salah dia pasti akan memilih menyerah, Jaeha bukan lagi bagian dari hidupnya sekarang. Tapi jika Helena tetap bersikeras, kau tau apa yang akan terjadi. Sena tidak akan mungkin mau menerimanya.”
“Aku sudah bicarakan padamu, sena tetap ingin bercerai dengan Jaeha?” Hyunjae mengangguk, “Aku tidak rela mereka bercerai, bukan berarti aku sudah memaafkan Jaeha hanya saja, jika Sena tidak sedang hamil mungkin aku akan merelakan mereka untuk bercerai.”
“Memang semuanya jadi rumit semenjak kemunculan Helena, Jaeha dulu begitu terluka ketika tau Helena menikah dengan orang lain saat mereka masih dalam status pernikahan. Saat dia sudah bisa move on, Helena malah datang kembali aku benar-benar kaget karena dia masih hidup.”
“Jaeha juga tidak bisa bersikap tegas.” Tambah Sujin, “Jika saja dia tegas dari awal, semuanya tidak akan berbuntut panjang sampai sekarang. Sena juga tidak akan terluka sedalam itu.”
Mereka terdiam dengan pikiran masing-masing, hanya mempersalahkan Jaeha itu tidaklah benar, hanya menyalahkan Helena juga tidak benar, manusia memang bisa berbuat salah dan tidak ada yang tau kedepannya akan seperti apa. Tapi memaklumi itu semua itu sangatlah sulit, Sena juga, seandainya dia tidak membiarkan hatinya luka semakin dalam dan bicara langsung pada Jaeha tentang semua yang dia tau Sena pasti akan bisa keluar dan bebas dari masalah ini sejak lama.
“Sayang...” Hyunjae menyadarkan Sujin dari lamunannya,
“Hm, ada apa?” Sujin langsung menatap Hyunjae yang memanggilnya,
“Minho Hyung,”
“Minho Oppa wae?”
Hyunjae terlihat ragu dengan apa yang akan dia katakan, “Apa Minho punya hubungan dengan Helena?” Sujin mengerenyit bingung dengan pertanyaan Hyunjae, tiba-tiba saja Minho masuk ke dalam obrolan mereka dan disangkut pautkan dengan Helena pula. “Maksudku, mungkin mereka saling mengenal begitu?”
“Aku rasa tidak mungkin, tapi tidak tau juga sih. Kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu padaku? Aku kan tidak tau kehidupan pribadinya Minho Oppa.” Sujin melihat keraguan yang tergambar jelas di wajah Hyunjae, “Katakan! Apa yang kau sembunyikan dariku!”
“Itu...”
Di rumah Nenek Jung
“Liburan?” Nyonya Park terlihat terkejut ketika Sena berkata kalau mereka berdua akan berlibur, mereka datang ke rumah Nenek Jung untuk meminta izin, kebetulan juga Nyonya dan Tuan Park ada di sana.
“Syukurlah hubungan kalian sudah membaik.” Ucap Nenek Jung, “Kalian berencana liburan ke mana? Nenek bisa carikan penginapan yang nyaman untuk kalian.”
“Ibu~ Ibu harusnya membiarkan mereka yang cari sendiri. Inikan liburan hasil rencana mereka berdua. Kita dulu sudah mengatur yang pertama bukan?” Ucap Nyonya Park sambil tersenyum penuh arti. Jaeha dan Sena tiba-tiba saja teringat saat malam pertama mereka yang tak di sengaja itu, membuat mereka terlihat menahan malu.
“Sena ingin pergi ke pedesaan, semacam itulah. Dia ingin berada dekat dengan alam dan udara yang segar. Dalam daftar kami ada Belanda, aku juga memasukkan salah satu desa di Swiss.”
“Dalam hal keindahan alam memang Swiss ahlinya. Alamnya benar-benar indah, menurut Nenek. Kenapa kalian tidak pergi ke Swiss saja? Di sana ada orang tua mu kan Sena?”
“Aku hanya ingin berdua saja dengan Jaeha, mungkin terdengar seperti aku bukan anak yang baik tapi aku hanya ingin berdua dengan Jaeha.” Ucap Sena sambil menatap Jaeha dengan senyuman manisnya, Jaeha sendiri merasa ini sebuah keajaiban karena Sena berkata hanya ingin berdua saja dengannya. Sena memang terlihat berbeda akhir-akhir ini, Jaeha merasakan itu sangat-sangat jelas, Jaeha bahkan sampai berpikir kalau Sena terkena sambaran petir yang merusak otaknya tapi jelas saja itu tidak mungkin.
“Ya ampun~ menantuku sangat manis.” Nyonya Park menyuapi Sena sepotong buah strawberry. “Baiklah, kalau begitu terserah kalian. Di mana pun itu asalkan tempat itu aman dan nyaman untuk kalian.”
“Kapan kalian akan pergi?” Tanya Tuan Park
“Tiga hari lagi.” Ucap Sena dengan cepat, Jaeha bahkan tidak tau kalau waktu keberangkatannya dipercepat.
“Kita belum memesan tiket. Kita bahkan belum tau akan liburan di mana—“
Sena memperlihatkan tempat liburan yang sudah dia pilih di ponselnya, Jaeha pun melihatnya dengan teliti “Hallstatt, Austria.” Gumam Jaeha, “Austria?” Matanya melotot kaget dengan tujuan destinasi mereka. Sena juga memperlihatkan sebuah aplikasi pemesanan tiket pada Jaeha.
Sena mengangguk menjawabnya, “Menurut hasil pencarian, Hallstatt adalah desa yang paling indah di dunia. Aku ingin pergi liburan ke sana, ya?” Dengan tatapan memohonnya yang menurut Jaeha itu sangat menggemaskan, ia tidak bisa menolak.
“Harusnya kau memberitahuku kalau kau sudah punya tempat yang ingin kau datangi.” Ucap Jaeha dengan ketus, “Akhir-akhir ini kau sering sekali mempermainkanku ya?” Bukannya menjawab sena malah menjulurkan lidahnya pada Jaeha tanda mengejek.
Semua orang tertawa melihat kelakuan Sena dan Jaeha yang semakin dekat, bagi para orang tua mereka seperti melihat Jaeha dan Sena saat masih kecil. Ada kesamaan Sena yang sekarang dengan Sena yang dulu sering bermain di rumah mereka. Meskipun kecelakaan itu membuat Sena hilang ingatan, tapi ada sebagian dari dirinya yang tidak hilang. Perjodohan ini tidaklah gagal.
“Baikalah, jika kalian memang sudah menentukan kemana kalian akan pergi. Izinkan Ayah untuk menyiapkan kendaraan dan tempat menginap untuk kalian di sana, bolehkan?” Sena dan Jaeha mengangguk setuju.
“Aku sangat senang melihat kalian seperti ini, usaha ku tidak sia-sia dalam menyatukan kalian.” Perkataan Nenek Jung merubah suasana menjadi penuh haru, apalagi bagi Sena. Sekarang ia yang paling merasa bersalah dengan apa yang sudah ia rencanakan, kini ia yang menipu semua orang.
“Kalian sudah memberitahu Nenek Nam?” Tanya Nyonya Park
“Setelah dari sini kami berencana akan mampir ke rumah Nenek.”
“Baguslah, Nenek mu juga pasti akan senang mendengar ini. Oh iya, jangan lupa oleh-olehnya ya. Yang spesial.” Nyonya Park tersenyum penuh arti membuat Sena dan Jaeha tersenyum malu. Mereka mengerti dengan kata spesial itu, diam-diam pula Sena menyentuh perutnya.
“Aku akan bekerja keras.” Ucap Jaeha dengan lantang, membuat semua orang tersenyum kaget.
Sena pun memukul lengan Jaeha saking malunya, “Kerja keras apa hah?”
“Argh, pukulanmu terasa makin sakit saja!”
Sena malah tersenyum mengejek Jaeha, ia akan melakukan semuanya yang terbaik yang ia bisa. Baginya ini terasa menyakitkan, tapi ia ingin melupakan sejenak semua masalah itu dan menikmati waktu berdua hanya bersama Jaeha, yang terakhir.
---#---
*Bahasa Korea*
Minho Oppa wae? \= Kak Minho kenapa?