
Sena menghampiri Jaeha yang sedang sibuk dengan gitarnya, gadis itu membawa sepiring mochi dan dua gelas teh matcha.
“kenapa dengan gitarnya?” gadis itu duduk di hadapan Jaeha
“suaranya terdengar kurang enak. Jadi aku sedikit membetulkannya.”
“kau bisa main gitar?” tanya Sena, tangannya mengambil mochi dari piring
“tentu saja. aku bisa memainkan semua jenis gitar.”
“wah hebat! Kalau begitu nyanyikan satu lagu untukku.” Jaeha menatap Sena yang tengah mengunyah mochi, ia tidak menyangka Sena akan meminta hal itu darinya meskipun memang hanya permintaan biasa.
“serius? Kau akan terpesona olehku.”
“kau bilang aku kenak-anakan, tapi kurasa kau yang kenak-anakan.”
“benar, mungkin faktor karena terlalu sering bersama dengan anak sekolah dasar.”
“mwo!? Ya sudah kalau tidak mau, aku juga tidak memaksa.”
Jaeha mulai memetik senar gitarnya begitu melihat Sena akan pergi, mendengar Jaeha mulai memainkan gitarnya Sena kembali duduk dengan tenang memperhatikan jari jemari Jaeha yang dengan lihat memainkan senar gitarnya.
(Nuntteugodo neol baraboji mothan jichin chueoge heuryeojin neoui mameul nan chatji mothae)
~Aku tidak dapat melihatmu bahkan ketika mataku terbuka. Aku tidak bisa menemukan hati mu yang telah berawan karena kenangan usang~
(Manhi ulgo jichyeo deo isang mothan saenggakhaedo neoreul bomyeon gwaenchanheul geot gatha)
~Aku tidak bisa melakukan lebih karena aku terikat dan menangis terlalu banyak. Tidak peduli berapa banyak aku berpikir, aku pikir aku akan baik-baik saja ketika jika aku melihatmu~
(Jikhyeojugo sipheo neoui jalmotdwaen nappeun beoreutdeulkkajido himdeun nal utge mandeuneungeoya)
~Aku ingin melindungimu … Bahkan kebiasaan burukmu membuat ku tersenyum ketika aku lelah~
(Jom himdeulgetjiman neol saranghae rago maldo halgeoya meonjeo nae phume oneun nal kkaji)
~Meskipun mungkin sulit, aku akan mengatakan bahwa aku mencintaimu sampai hari pertama kau datang ke pelukanku~
Sena melihat Jaeha kini tengah menatapnya, entah kenapa Sena merasa tersentuh dengan lagu yang dinyanyikan Jaeha padahal belum tentu Jaeha ingin melindunginya sesuai dengan arti lagu yang dinyanyikannya saat ini.
(Ulji mothae useodo gieok mothae oneul harudo kkum cheoreom nuntteumyeon sarajil geot gatheun)
~Aku tidak bisa tersenyum, aku bahkan tidak ingat kapan aku tersenyum. Hari ini juga aku merasa seperti itu mungkin akan hilang seperti mimpi ketika aku membuka mata ku
(Neol bogodo gyeothe eobneun geot gatha phyohyeoni seothureungabwa neol saranghagien)
~Bahkan ketika aku melihat mu, aku merasa seperti kau tidak dengan ku. Kurasa aku masih canggung dalam mengekspresikan perasaan ku … Untuk mencintaimu~
(Jikhyeojugo sipheo neoui jalmotdwaen nappeun beoreutdeulkkajido himdeun nal utge mandeuneungeoya)
~Aku ingin melindungimu … Bahkan kebiasaan burukmu membuatku tersenyum ketika aku lelah.~
Mata mereka saling memandang seolah ikut hanyut dalam lantunan lagu dan suara gitar yang lembut,
(Jom himdeulgetjiman neol saranghae rago maldo halgeoya meonjeo nae phume oneun nal kkaji)
~Meskipun mungkin sulit, aku akan mengatakan bahwa aku mencintaimu sampai hari pertama ka datang ke pelukanku~
Sena tidak bisa mengalihkan pandangannya dari kedua manik mata Jaeha
(Hoksireun ongireul chaja naege tteonaga haengbokhae halgeoni)
~Apakah kau bahagia ketika kau meninggalkan ku untuk mencari kehangatan yang berbeda?~
(Geuraedo neol bonael su eobseo baby juggi boda deo apheun thende)
~Meski begitu aku tidak bisa membiarkanmu pergi baby. Ini akan menyakiti bahkan lebih dari saat mati~
(Naega neolsaranghae. Dareun nugudo ani ne aphe itjanha)
~Aku mencintaimu .. lebih dari siapa pun … tidak, aku di samping mu~
entah apa yang Sena lihat dari kedua bola mata pria yang duduk di hadapannya ini, entah kebenaran atau kebohongan.
baginya saat ini Jaeha terlihat sangat tulus menyanyikan lagu itu untuknya
(Naega ni soneul japgo itjanha)
~Aku memegang tangan mu~
(Nugugaui phume jul su eobseo aesseo utgo itjanha bonael su eobseohaneun mameul wae)
~Ku tidak dapat memberi mu kepada orang lain. Hati ku tidak dapat membiarkan kau pergi … Mengapa~
Bahkan lagu sudah selesai pun keduanya masih tetap saling memandang, Sena yang lebih dulu tersadar akhirnya mengalihkan pandangannya ke tempat lain barulah memberikan tepuk tangannya untuk Jaeha.
“suaramu bagus juga, tidak salah kalau aku menyebutmu mirip seperti Janyeol.”
“siapa Janyeol?”
“member One, Janyeol. Dia juga bisa main gitar suaranya hampir mirip sepertimu. Ini makan ini!”
Sena menyuapi Jaeha mochi, padahal Jaeha ingin menolak karena ia bisa sendiri tapi terlambat.
“sore nanti jadikan kita pergi ke Festival Momiji?” Sena mencoba menenangkan suasana walaupun terasa canggung
“tentu, kau ingin sekali melihatnya kan?” Jaeha berusaha mengunyah mochi dalam mulutnya karena Sena memberinya ukuran yang cukup besar.
“ppfffttt!” Sena merasa lucu melihat Jaeha yang sedang mengunyah,
“jangan tertawa!!”
“aku tidak tertawa! Ppffffttt!” Sena menutup mulutnya menahan tawanya,
Jaeha menyimpan gitarnya, dengan segera ia mengambil mochi yang berukuran besar ia mengarahkannya pada mulut Sena.
“ya ya ya hentikan! Aku bilang tidak mau aww!” punggung Sena kini menempel di dinding, ia tidak bisa lagi mundur.
Jaeha akhirnya bisa menghabiskan mochi yang sedari tadi dikunyahnya, “kau harus merasakannya juga.”
Sena tetap mengatupkan mulutnya, ia menahan tangan Jaeha agar tidak memasukkan mochi ke dalam mulutnya.
“aku akan laporkan pada ibu!”
“kenapa kau bawa-bawa ibu? Aku tidak menyakitimu sama sekali.”
“kau juga terus membawa-bawa ibumu untuk menekanku! Kenapa aku tidak boleh?”
“karena dia ibuku!” Jaeha tetap berusaha memasukan mochi itu kedalam mulut Sena, ada rasa senang dalam batinnya ketika ia bisa mengerjai Sena seperti ini.
“kau bilang aku bisa menganggapnya ibuku juga, jadi dia ibuku juga. Hhmmppp!!!”
“nona, tuan!” pelayan itu langsung berbalik begitu melihat posisi Sena dan Jaeha, relfeks Sena mendorong Jaeha agar menjauh.
“ada apa?” tanya Sena
sambil membenarkan posisinya
Tanpa menatap mereka pelayan itu mengatakan ada tamu untuk Sena,
“tamu untukku?” tanya Sena ulang yang dijawab anggukkan oleh si pelayan.
Mereka akhirnya pergi ke ruang tamu, tapi Sena begitu terkejut melihat siapa yang datang menemuinya. Tubuh Sena bergetar hebat tangannya mengepal menahan semua perasaan yang tiba-tiba muncul secara bersamaan.
Jaeha sendiri tidak menyangka kalau ibu dan ayah mertuanya akan datang, ia juga terkejut.
“Sena-ya.” Hwaran perlahan mendekati Sena, wanita itu sudah tidak bisa menahan air mata bahagianya begitu melihat Sena.
Gadis itu masih terdiam seperti patung, ia seperti kehilangan nyawanya matanya terus memandang Hwaran yang semakin mendekatinya tanpa berkedip. Hwaran mencoba memegang kedua lengan Sena gadis itu masih tetap tak berkutik,
“kau sudah tumbuh sebesar ini.” Hwaran menggenggam erat kedua tangan putrinya,
“maafkan aku karena tidak ada bersamamu saat kau tumbuh, maafkan aku karena aku tidak bisa menjadi ibu yang baik, maafkan aku karena aku tidak bisa datang saat kau membutuhkanku. Maafkan ibu sayang.”
“ibu kemana saja?” mendengar Sena memanggilnya ibu membuat tangis Hwaran pecah, begitu juga Hansoo yang sedari tadi memperhatikan mereka, bahkan Jaeha pun ikut menangis bahagia karena usahanya tidak sia-sia.
“apa ibu tau apa yang aku alami? Apa ibu tau aku selalu cemburu pada teman-temanku karena mereka selalu bersama orang tua mereka? apa ibu tau aku ingin sekali seperti mereka, aku ingin menghabiskan waktuku denganmu, aku... aku...“
Hwaran memeluk Sena dengan erat, “maafkan ibu, maafkan ibu sayang. Ibu tidak bisa jadi ibu yang baik untukmu, jadi ibu yang sempurna untukmu maafkan ibu sayang.” Tangis Sena pecah, rindu yang selama ini ditahannya akhirnya meledak detik ini juga. Orang yang paling ingin ia temui akhirnya datang menemuinya tanpa harus ia meminta.
“maaf karena aku membencimu, maaf karena aku salah paham padamu ibu, maaf karena aku egois, maafkan aku ibu.” Hwaran mengangguk, ia mengerti kenapa Sena seperti itu ia sangat mengerti dan sama sekali tidak pernah menyalahkan putrinya tidak pernah.
Hwaran melepaskan pelukannya, ia mengusap air mata Sena dengan lembut. Sena menatap Hansoo, “ayah!”
Hansoo memeluk Sena yang menghambur kepelukannya, “benar aku ayahmu. Maafkan aku karena tidak bisa jadi ayah yang baik untukmu, maaf karena aku meninggalkanmu.”
‘benar, dia ayahku selamanya akan tetap menjadi ayahku.’ Batin Sena
“iya ayah.” Hwaran pun ikut masuk kedalam pelukan Hansoo, Jaeha lega karena masalah pribadi Sena dengan ibunya sudah selesai.
Mereka pergi ke Kyoto untuk mengikuti Festival Momiji Arashiyama, Sena tidak pernah pergi dari sisi ibunya seperti prangko yang menempel pada amplop. Sena bahkan menjadi begitu manja makan di suapi bahkan mereka mandi bersama, terlihat dengan jelas kalau Sena sangat merindukan ibunya. Jaeha dan Hansoo hanya bisa tersenyum senang melihat ibu dan anak itu saling melepaskan rindu. Apalagi memang Hwaran tidak bisa lama-lama berada di Jepang karena harus kembali ke Swiss bersama dengan Hansoo.
“padahal aku ingin ibu menginap dan menghabiskan waktu semalaman bersamaku.”
“lalu Jaeha bagaimana? Kau sudah punya suami kau harus ingat itu.” tapi Sena malah memajukan bibir bawahnya dengan wajah cemberut.
“kau harus lebih dewasa hm? Berdandanlah yang cantik kalau kau tidak ingin Jaeha di ambil perempuan lain.”
“dia memang playboy!”
ucap Sena tiba-tiba
“benarkah? kalau begitu kau akan menduakan putriku?” kini Hansoo yang bicara
“ti-tidak akan, aku sudah berjanji akan menjaganya pada ibu. Mana mungkin aku seperti itu.”
“lihat dia gelagapan, dia gugup!” Sena menunjuk-nunjuk Jaeha yang duduk di jok depan di samping ayahnya.
“hahahaha, apa kalian dulu selalu seperti ini?” tanya Hwaran
“aku tidak ingat, tanyakan saja padanya.”
“dia dulu tidak pernah tomboy seperti ini, cara bicaranya, sifatnya semua sangat berbeda.” Ucap Jaeha
“sudah hentikan perdebatannya karena sebentar lagi kita sampai.”
Sena ingin sekali berjalan berdampingan dengan ibunya di acara festival, tapi Hwaran malah menyerahkan tangan Sena pada Jaeha. Gadis itu akhirnya menuruti perintah ibunya, sebenarnya ia tidak ingin berdekatan seperti ini dengan Jaeha karena perasaan aneh itu selalu tiba-tiba muncul membuat jantung Sena tidak pernah tenang.
Mereka mengikuti arak-arakan yang berjalan melewati jembatan Togetsukyo, Sena benar-benar kagum dengan pemandangan yang terlihat dari jembatan.
“menurut kabar yang kudengar pemandangan malam di sini sangat indah.” Ucap Jaeha
“benarkah? aku sangat ingin melihatnya.”
ucap Sena antusias
Mereka sampai di di tepi sungai Oi, pertunjukan tarian tradisional dan seni Noh dan Kyogen akan segera di tampilkan. Kebahagiaan memang melupakan segalanya, Sena yang awalnya tidak mau dekat dengan Jaeha sekarang malah gadis itu yang terus merangkul lengan suaminya itu. mereka benar-benar seperti pasangan suami istri pada umumnya, bahkan ibu dan ayahnya terlihat senang melihat kedekatan Sena dan Jaeha.
“aku rasa kita harus seperti mereka juga.” Hansoo menggenggam tangan Hwaran, membuat istrinya itu tersenyum,
“aku tidak keberatan kalau kita kembali ke masa muda.” Kali ini Hwaran yang merangkul lengan Hansoo
Akhirnya acara yang ditunggu-tunggu oleh wisatawan tiba, pelayaran bangsawan di sungai Oi dengan perahu kecil yang dihiasi penuh dengan bangsawan dengan kostum tradisonal diiringi juga dengan musik tradisonal Jepang.
Sena begitu terpukau dengan festival ini, ia sangat salut dengan kebudayaan tradisonalnya yang masih dipertahankan sampai sekarang dan baginya hari ini adalah hari paling spesial dalam hidupnya.
Sena melupakan Minho begitu juga Jaeha yang melupakan Helena, mereka berdua hanyut dalam kebahagian di Festival Momiji ini.