Maybe I Love You

Maybe I Love You
Egois



“Bagiamana kondisinya dok?” Tanya Sena dengan penuh kekhawatiran, saat ia mendengar teriakan Sujin dan melihat Jaeha tergeletak tak sadarkan diri di luar Sena tak bisa tenang, meskipun ia kecewa dan sakit hati tapi perasaannya tidak bisa dibohongi. Mencoba tak perduli, berusaha untuk tidak terlihat khawatir dan sedih ia tidak bisa menyembunyikannya.


“Sepertinya seharian ini tidak makan dan juga tidak minum apapun, Dia mengalami hedidrasi dan juga maag.”


“Apa harus di rawat di rumah sakit?”


“Tidak perlu, ini resep obatnya. Begitu dia bangun langsung berikan obat ini dan juga dia harus makan juga banyak minum air putih.”


Sena mengangguk mengerti, Sujin pun mengantarkan dokter tersebut sekalian dia pergi untuk membeli obat. Sujin sebenarnya bisa bertindak tak perduli bahkan ia bisa menghasut Sena untuk membiarkan Jaeha seperti itu saja. Tapi itu hanya sebagian kecil dari sifat jahatya yang muncul saat ini. Sebagian besar ia tidak bisa mengatakan itu karena ia tau Sena sangat mencintai Jaeha, lebih baik ia membantunya dari pada harus berdebat mempertaruhkan hubungan persahabatannya sendiri. Ia juga ingat kata-kata Hyunjae yang mengatakan kalau dia tidak boleh mengambil langkah yang ceroboh.


“Dia sampai seperti itunya mencari Sena...”


Sena masih tetap dalam posisinya, duduk di ranjang memperhatikan Jaeha yang masih tertidur. Tangannya pun tidak lepas dari tangan Jaeha, semakin sakit hatinya melihat Jaeha genggaman tangannya semakin menguat.


‘Kenapa seperti ini? Kenapa kau mencariku sampai seperti ini? Jika begini aku yang merasa bersalah karena membuatmu sakit. Apa mau mu? Sebenarnya bagimu aku ini apa?’


Air matanya kembali mengalir, Sena terlihat bergetar menahan tangis.


‘Bukankah kau bahagia karena Helena sudah kembali ke dalam hidupmu? Yang berarti aku bukanlah apa-apa sekarang. Aku hanya pelampiasanmu tapi kenapa kau sampai harus seperti ini? Jika kau mencintaiku... jika kau mencintaiku tolong bicara! Tolong katakan padaku. Rasanya aku mau mati jika kau terus menggantungku seperti ini.’


Jari tangan jaeha bergerak dan sena merasakannya, ia buru-buru menghapus air matanya, “Jaeha...”


Perlahan kedua mata yang terpejam itu mulai terbuka, Jaeha mulai bisa melihat cahaya terang yang menyilaukan matanya, “Jaeha kau bisa dengar aku?” Sebuah suara yang sangat ia ingin dengarkan kini terdengar juga, Jaeha pun kini menatap Sena yang ada di sampingnya. “Syukurlah.”


Jaeha merasa ini sebuah mimpi, Sena yang menghilang entah di mana tiba-tiba sekarang ada dalam jangkauan pengelihatannya dan dekat dengannya. Ia mengulurkan tangannya untuk menyentuh wajah Sena, Sena pun mendekat agar jaeha bisa menjangkaunya.


“Kau di sini?”


Sena mengangguk, “Maaf ya. Permainanku sepertinya keterlaluan sampai kau tumbang seperti ini.”


Jaeha pun berusaha untuk bangun dibantu oleh Sena, “Kalau kau hanya halusinasiku, aku mohon jangan cepat pergi. Di sini saja, kalau bisa ikut denganku untuk pulang.”


Sena mencium telapak tangan Jaeha, “Sepertinya nyawamu belum berkumpul semua ya, kau masih berpikir aku hanya halusinasi?”


Melihat senyum Sena dan merasakan sentuhan dari bibirnya, Jaeha kini mulai yakin kalau ia tak sedang berhalusinasi. Sentuhan di tangannya benar-benar nyata dan terasa hangat. Jaeha pun langsung menarik Sena agar masuk ke dalam pelukannya, Jaeha menangis.


“Kau kemana saja?! Kenapa kau tidak mengaktifkan ponselmu? Kau selalu membuatku khawatir, kau selalu membuatku gila karena aku takut kehilanganmu, aku takut kau pergi dariku aku takut kau terluka. Tolong jangan seperti ini lagi, aku tidak akan kuat jika kau meninggalkanku.” Semua kalimat yang terucap dari mulut Jaeha menyayat hati Sena, ia bahkan ingin menangis sejadi-jadinya tapi ia harus kembali menahan semua itu. Ia merasa Jaeha mencintainya tapi ia juga tidak bisa percaya, ia tidak bisa jadi yang kedua. Ia bukan wanita yang kuat yang sanggup dimadu dan berbagi suami.


“Sena...” Jaeha melepaskan pelukannya, “Biarkan aku melihatmu, biarkan aku melihat senyumanmu...” Sena tersenyum dalam linangan air mata, ia tersenyum penuh rasa sakit untuk Jaeha yang kini sedang menatap setiap inci detail wajahnya. “Aku merindukanmu...”


“Mian...” Ucap Sena. Akhirnya Sena lah yang meminta maaf, bukan salahnya tapi ia merasa bersalah. Cinta bisa membauatnya selemah ini. tak salah menjadi salah begitu juga sebaliknya. Berbohong, menyembunyikan demi kebaikan bersama bahkan untuk kebaikan diri sendiri, apa itu memang salah satu jalan yang benar?


Jaeha mengusap sisa air mata Sena dengan lembut, wajahnya kini mendekat, Sena pun memejamkan kedua matanya pertanda ia menerima Jaeha untuk menciumnya. Menjadi lebih dekat dengan dirinya.


Jaeha mulai menggerakkan bibirnya, ia menarik Sena agar lebih mendekat dan meminta Sena untuk membalas setiap gerakan bibirnya dan Sena melakukan itu seiring dengan semakin eratnya pelukan mereka. Tangan Jaeha mulai bergerak menelusup ke dalam baju Sena memberikan sentuhan lembut dikulit punggung Sena dan berusaha membuka sesuatu di sana. Tapi dengan cepat juga Sena menahan tangan Jaeha agar tak melakukan itu.


Jaeha melepaskan tautan bibir mereka, “Wae?”


“Kau sedang sakit. Kau harus istirahat.” Jaeha merajuk, ia mulai menciumi leher Sena. “Jaeha!” Ia mendorong Jaeha agar berhenti menggodanya.


“Kau harus istirahat kau sedang sakit. Lagi pula ini di rumah Sujin.”


“Benar ini adalah rumahku!” Sujin berdiri di dekat pintu dengan wajah masamnya, Sena dan Jaeha berdehem canggung, mereka bahkan tidak bisa mendengar kapan pintu itu terbuka.


“Tolong mengertilah~ Hyunjae sedang tidak ada di sini jadi jangan lakukan hal yang lebih jauh. Jika Hyunjae ada aku juga akan melakukannya dan kita akan double date di kamar masing-masing. Tapi kalian harus bayar!” Sujin menyerahkan obat pada Sena dan membawakan satu mangkuk bubur juga segelas air.


“Permainan kalian benar-benar bagus.” Ucap Jaeha dengan penuh penekanan, “Kalian pasti senang melihatku pingsan dan menderita.” Jaeha menatap Sujin dan Sena secara bergantian.


Sujin yang awalnya bingung kini berpura-pura lagi setelah diberi kode tatapan oleh Sena, “Aku ingin tau saja kau akan seperti apa jika sampai tak menemukan Sena. Aktingku sempurna bukan?”


“Baiklah, silahkan nikmati waktu kalian tapi jangan lakukan hal yang lebih intim lagi di sini.” Sena dan Jaeha diam-diam tersenyum,


“Oh, ini minum obatnya dulu.” Jaeha menurut, setelah obatnya di minum Sena pun memberikan semangkuk bubur itu pada Jaeha, “Habiskan ya?”


“Suapi.”


Sena tersenyum kecil, “Dasar manja.”


Di tempat lain,


Ting tong!


Jari-jari yang sedang mengetik sebuah laporan itu berhenti bekerja, Minho, ia menatap pintu apartemennya begitu mendengar suara bel. “Siapa yang datang?” Ia pun segera berdiri dan pergi menuju pintu untuk melihat siapa yang datang.


Ia pun melihat dari kamera pintu untuk melihat siapa yang datang. “Helena?” Ia melihat Helena yang terlihat sedih, tak memiliki harapan dan keadaan yang berantakan. Minho pun segera membuka pintu.


“Kenapa kau datang? Ada apa dengan—“


Greb!


Helena langsung memeluk Minho begitu saja tanpa mendengarkan lebih dulu apa yang akan Minho katakan selanjutnya, ia tak perduli apa yang akan ditanyakan Minho, setidaknya mungkin ia sudah tau pertanyaan apa yang selanjutnya. Yang ia rasakan kini hanya menginginkan sebuah sandaran, ia butuh ketenangan, ia butuh seseorang yang bisa membuatnya tenang, dan tidak ada orang lain lagi selain dari pada Minho yang selalu berada di pihaknya.


“Helena, kau kenapa?” Minho merasakan tubuh perempuan itu bergetar dan nafasnya yang berhembus kasar. Helena sedang menangis, menangis tanpa suara. “Kita masuk dulu.”


Mereka pun akhirnya duduk masih dalam posisi Helena yang memeluk tubuh Minho. “Aku akan mengambil air minum untukmu.” Helena malah semakin kuat memeluk Minho, “Agar kau bisa tenang. Lepaskan dulu.” Tapi percuma saja, baginya Helena sekarang sudah seperti bocah yang baru saja bertemu dengan ibunya setelah hilang berhari-hari.


“Pasti gagal, iya kan?”


“Aku... ingin menyerah saja.”


Minho berusaha melepaskan pelukan Helena, bagi Minho rasanya ini benar-benar canggung. “Kau ingin menyerah setelah sejauh ini? Tubuhmu terluka demi dia, kau melakukan apapun demi dia dan sekarang kau ingin menyerah? Lalu kenapa tidak dari dulu saja?”


Helena akhirnya melepaskan pelukannya, ia menatap Minho dengan mata sembab dan pipi yang basah oleh air mata. “Ya! Aku ingin menyerah! Aku ingin menyerah saja karena ternyata perjuanganku tak memberikanku kebahagiaan dan apa yang aku mau. Bahagia sesaat dan sedih seterusnya? Itu yang aku dapatkan! Aku pikir Jaeha masih mencintaiku benar-benar masih mengharapkanku untuk kembali padanya, kau bilang seperti itu tapi ternyata buktinya apa? Dia bahkan marah padaku karena aku berkata kalau kami sudah tidur bersama. Kau ingin aku melanjutkannya? Dia bahkan selalu memanggil nama perempuan itu dalam tidurnya, bagaimana bisa aku terus berharap jika aku sudah melihat hasil apa yang akan aku dapatkan!”


Nafasnya terengah-engah, Helena mengeluarkan semua kekesalannya pada Minho yang sudah ia pemdam berjam-jam. “Dia bahkan langsung pergi untuk mencari Sena, dia bakan tak perduli meskipun aku menangis meraung-raung memanggil namanya! Kau ingin aku meneruskan ini? Kenapa tidak kau sendiri saja yang melakukannya terhadap Sena? Kau mencintainya bukan?”


“Helena!”


“Apa? Aku bisa tau dari sorot matamu kalau kau mencintainya lebih dari seorang adik. Kekhawatiranmu padanya benar-benar berbeda dari perasaan khawatir seorang kakak pada umumnya. Apa aku salah? Aku bahkan merasa kau hanya menggunakan ku saja sebagai bidakmu dan kau hanya diam menonton tak melakukan apapun!”


Minho terdiam, di balik rasa tidak perdulinya ia merasa perkataan Helena memukulnya. Helena tersenyum tak percaya melihat reaksi Minho, dugaannya benar. Ia hanya seorang perempuan bodoh yang mau dibodohi dan digunakan oleh Minho sesuka hatinya. Lebih baik ia mati saja jika hanya akan mendapatkan luka seperti ini. “Lakukan saja sendiri.” Helena berdiri memilih untuk pergi, kenyamanan itu ia hanya dapatkan sesaat saja. kenapa tidak ada yang abadi untuknya? Ini tidak adil.


Minho menghalangi Helena pergi, ia memegang kedua pundak perempuan itu dengan tatapan serius. “Aku yakin kali ini akan berhasil. Kini aku yang akan turun tangan.”


Minho sendiri seperti Helena, ia sudah merasa sena sudah berubah semenjak ajakannya selalu saja di tolak. Ia merasa Sena mulai menyukai Jaeha, begitu juga sebaliknya. Cinta sudah tumbuh diantara mereka berdua, tapi Minho tak bisa menyerah begitu saja, ia mungkin memang sedikit tak berperasaan, semua yang dikatakan Helena itu benar, dia memang menggunakan Helena sebagai bidaknya dan ia yang mempunyai rencana. Ia sudah tak perduli pada persaan siapapun sejak Sena menikah dengan Jaeha. Mau melukai siapapun itu terserah, bahkan jika Sena harus terluka karena dirinya pun ia tidak apa-apa asalkan Sena bisa kembali padanya.


---#---


SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI


MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN 😊😊❤


Btw mau nanya nih pendapat kalian soal Maybe I Love You ini, ceritanya ngebosenin, gak ada perkembangan, jadi gak seru, atau gimana? kasih tau dong. 😊


Terus kalian pilih mana? Sena-Jaeha atau Sena-Minho atau Jaeha-Helena atau kah Helena sama Minho aja?


Ditunggu ya 😘