
Setelah perjalanan cukup lama karena macet akhirnya Sena sampai di tempat peristirahatan terakhir Sora, ia menyimpan buket bunga lili putih di samping bunga yang lain yang mulai mengering air matanya lagi-lagi terjatuh tanpa bisa ditahan.
“Sora-ya, eonni waseo.” Sena mengusap pusara makam soraa seperti mengusap kepala gadis kecil itu.
“bagaimana kabarmu hari ini? di sana kau sudah tidak merasa kesakitan lagi kan?”
“benar, kau pasti bahagia sekarang di sana. Kau bebas melakukan apapun yang kau mau yang tidak bisa kau lakukan di sini.”
“mianhae Sora-ya,” dengan tangis yang tertahan,
“maaf karena aku tidak bisa ada saat kau membutuhkanku, maaf karena aku tidak bisa mengantarkanmu ke tempat peristirahatan terakhirmu sayang.”
“jeongmal mianhae.”
Melihat tangis Sena semakin menjadi, Jaeha segera menarik Sena kedalam pelukannya, “Sora tidak membencimu, aku yakin itu. dia pasti tidak suka melihatmu terus menyesal seperti ini. jadi berhentilah menyalahkan diri sendiri dia pasti ingin kau bahagia meskipun dia tidak ada di sini.”
Jaeha mengelus punggung Sena, "sudah jangan menangis lagi."
**
Perempuan itu kini tengah menikmati pemandangan kota dari apartemen barunya,
“kapan aku bisa bertemu dengannya?”
Minho menghampiri perempuan itu seraya menyerahkan ponsel yang kini menjadi milik perempuan itu.
“tidak sekarang, kau akan segera menemuinya tapi aku harus menyelesaikan satu perkerjaanku dulu. Lagi pula hari ini dia akan pergi ke luar negeri, jadi bersabarlah.”
“apa dia benar-benar menungguku?”
“ya dia menunggumu, masih menunggumu. Dia sangat mencintaimu.”
Perkataan Minho membuat perempuan itu tersenyum senang, harapan besar masih ada untuknya agar bisa kembali pada pria yang sangat ia rindukan selama ini
“terima kasih sekali lagi. Aku tidak tau kenapa kau mau membantuku tapi terima kasih.”
“aku hanya kasihan padanya, dia selalu mencarimu setiap hari dia selalu memikirkanmu bahkan sampai jadi pemabuk. Aku hanya ingin membantunya itu saja.”
“dia pasti senang memiliki teman sepertimu.”
Minho tersenyum, ‘benar aku adalah teman dan kakak yang baik, Helena.’
**
Jaeha dan Sena mampir ke rumah keluarga Park, kedatangan mereka di sambut hangat oleh Nonya Park dan Nenek Jung yang kebetulan sedang berkunjung.
“kenapa kalian tidak bilang kalau mau datang? ” Nyonya Park memeluk Sena
"ini juga tanpa di rencanakan bu." ucap Jaeha
“bagaimana kondisimu sekarang?” tanya Nyonya Park pada Sena
“lebih baik bu, ibu dan nenek baik-baik saja kan?”
“tentu cucuku, ayo duduk.” Ajak Nenek Jung
Guk! Guk!
Anjing kecil hitam bernama Kui itu langsung meloncat kedalam pangkuan Jaeha, dengan patuh Kui duduk dengan tenang begitu Jaeha menyuruhnya untuk duduk.
“hai Kui!” sapa Sena, anjing kecil itu langsung memberikan kakinya pada tangan Sena sebagai ucapan selamat datang.
“ada apa kalian datang ke sini?” tanya Nyonya Park
“memang kalian habis dari mana dengan pakaian hitam-hitam seperti itu?” tanya Nenek Jung
“kami baru pulang dari makan Sora, Sena ingin ke sana karena dia tidak ikut dalam proses pemakamannya awaktu itu.”
“dia pasti senang kau datang mengunjunginya sayang.” Ucap Nyonya Park
“oh iya Jae-ya kau akan pergi ke Amerika kan hari ini?” tanya Nyonya Park
“iya bu, makannya kami ingin membawa Kui untuk menemani Sena di rumah.”
“oh begitu, apa kau mau ibu menemanimu sayang?” Nyonya Park bertanya pada Sena
“tidak usah bu, aku tidak mau merepotkan ibu.”
“kau yakin?” Sena mengangguk yakin, lebih baik ia sendirian di rumah dan hanya ditemani pembantu saja dari pada harus bersama ibu mertuanya karena sudah pasti ia tidak bisa bebeas melakukan apapun sesuka hatinya.
“berapa hari kau akan di Amerika?” tanya Nenek Park
“mungkin sekitar seminggu atau bisa kurang dari itu tergantung cepat selesai atau tidaknya pekerjaan di sana nek.”
“ingat selagi di sana jangan sampai kau melupakan istrimu, kau harus selalu mengabarinya hm?!”
‘padahal tidak dikabari pun tidak apa-apa.’ batin Sena
“iya nek,”
“ya sudah, ibu akan mempersiapkan dulu makanan untuk kalian makan siang, kalian makan siang di sini ya?”
Keduanya menangguk, Jaeha mengikuti ibunya ke dapur seperti anak kecil. sedangkan Sena ia memilih mengasuh Kui bersama Nenek Jung.
Sekitar jam 4 kurang Sena mengantar Jaeha ke bandara padahal Sena malas untuk pergi tapi Jaeha tetap memaksa minta di antar.
“oh ya, aku memasukkan sesuatu ke dalam kopermu.”
Jaeha menahan senyumnya “apa itu?”
“buka saja nanti di sana. Kau pasti terkejut.”
Terlihat Sena berusaha menahan senyumnya, membuat Jaeha semakin penasaran dengan kejutan yang diberikan Sena untuknya.
“baiklah, aku akan membukanya setiba di sana,”
“tapi kau harus membukanya saat kau sedang menelponku.”
“hmm? kenapa harus seperti itu?” tanya Jaeha heran
“lakukan saja!”
“baiklah, kalau begitu aku pergi dulu. Jaga diri baik-baik!”
Cup!
Sena menegang begitu Jaeha mencium keningnya cukup lama membuat darahnya berdesir cepat ditambah lagi jantungnya yang kembali berdetak tidak normal seketika itu juga ia mendadak terkena komplikasi.
“bye!”
“bye!” jawab Sena dengan suara pelan, Sena tetap menunggu sampai Jaeha tak terlihat lagi oleh kedua matanya. Saat akan masuk ke dalam mobil untuk pulang, Sena kembali menatap kembali ke arah dalam badara
'kenapa aku merasa akan kesepian?'