
Hari pernikahan itu pun akhirnya tiba, berita tentang pernikahan cucu dari Taesan Grup dan J-One Holdings menyebar sejak seminggu sebelumnya. mereka bahkan menyebut pernikahannya adalah pernikahan termahal tahun ini, padahal kalau bisa Sena ingin pernikahan sederhana saja toh dia tidak tau nasib pernikahannya kedepan akan seperti apa.
Tapi hal itu tidak mungkin terjadi, kaluarganya dan keluarga Jaeha menginginkan pernikahan yang megah untuk masing-masing cucu kesayangan mereka dengan alasan agar menjadi kenangan yang tak terlupakan seumur hidup.
Semua tamu undangan dari berbagai negara sudah datang dan memenuhi aula pernikahan, Jaeha dan orang tuanya tengah sibuk menyapa para tamu.
“kau akhirnya menikah juga.” Hyunjae datang bersama Sujin
“terima kasih kau sudah datang. Bagaimana di India?”
“ya begitu lah, makanan berbau kari tidak pernah lepas dari menu makananku.”
“aku tidak menyangka Sena akan menikahimu.” Ucap Sujin
“kau kenal dengan Sena?” tanya Jaeha
“aku teman dekatnya. Kami teman sejak SMP.”
Jaeha baru tahu kalau kekasih Hyunjae ternyata teman dekat Sena. Jaeha pikir dia tidak punya teman.
Si pengantin wanita sudah selesai di make up, setiap kali ada orang yang masuk gadis itu dengan segera melihat ke arah pintu harapannya sangat besar kalau ibunya benar-benar datang. Dari perkataannya memang Sena terlihat membenci ibunya, tapi jujur gadis itu sangat merindukan ibunya, ia sangat berharap hari ini walaupun harus di detik terakhir di hari pernikahannya ini.
“kau sangat cantik sayang.” Nenek Nam memandang cucu kesayangannya dengan berlinang air mata, akhirnya dia bisa melihat Sena menikah dengan orang yang tepat.
“ibu tidak menghubungi nenek?” tanya Sena ragu
“mungkin dia masih di perjalanan. Kau tenang saja hm?”
“kau sudah siap?” Kakek Choi datang menghampiri Sena,
“apa semua tamunya sudah datang?” tanya Nenek Nam yang dijawab oleh anggukan Kakek Choi.
Jaeha sudah berdiri di depan altar, semua orang kini tengah menunggu pengantin wanita untuk masuk.
Serangan gugup itu melanda pria bertubuh tinggi itu, “kenapa aku harus gugup? fuuuh!” ia menghembuskan nafas panjang berharap kegugupannya hilang.
Tapi nyatanya begitu kedua indra pengelihatannya melihat wanita bergaun putih masuk kegugupannya malah bertambah. Jaeha kembali terpesona melihat kecantikan Sena, senyum manis itu muncul meskipun sedikit di tahan, pandangan matanya tak bisa dialihkan dari gadis yang perlahan berjalan mendekatinya.
Sena kini ada di ambang pintu, jujur ia gugup apalagi dia takut terjatuh karena ia sama sekali tidak bisa memakai heels jelas itu akan sangat memalukan, gadis itu juga tidak pernah memakai dress dan gaun.
“tersenyumlah.” Kakek Choi menatap Sena, gadis itu tersenyum setidaknya demi kakek dan neneknya.
Begitu perlahan berjalan ke tengah-tengah tamu undangan ia baru bisa melihat Jaeha yang tengah menunggunya. Ia tak memungkiri Jaeha benar-benar tampan saat ini, tapi sangat disayangkan karena ia harus menikah dengan orang yang bisa dibilang bukan perjaka lagi. Ia ingat sendiri perkataannya pada Jaeha kalau ia tidak mau menikah dengan pria bekas orang lain, tapi kali ini dia malah menikah dengan orang itu dan sampai saat ini dia masih belum bisa mengingat Jaeha ia hanya tau dari neneknya kalau boneka rillakuma yang selalu dia peluk adalah pemberian Jaeha. Jalan hidupnya benar-benar kacau.
Selesai mengucapkan janji suci mereka kini telah sah menjadi sepasang suami istri, dan ini adalah saat yang harus dilakukan setelah pengucapan janji suci tapi gadis itu sama sekali tidak pernah ingin melakukannya, berciuman.
Jaeha mendekatkan wajahnya, “aku tidak mau!” bisik Sena
“kita harus melakukannya.”
“aku tidak mau di bibir! Kening saja!”
“kau bercanda? Mana ada hal seperti itu. harus dilakukan di b.i.b.i.r!” Jaeha tetap bersikeras membuat Sena menatapnya kesal.
“kau---“
Jaeha langsung saja mencium Sena agar gadis itu tidak bicara lagi, suara riuh tepuk tangan terdengar keluarga pasangan pengantin baru ini terlihat sangat bahagia karena semuanya berjalan dengan lancar.
Sena dengan segera mendorong tubuh Jaeha karena ini sudah lebih dari 10 detik. Jaeha menyeringai puas, sedangkan Sena ia ingin sekali memukul Jaeha karena berani mencuri ciumannya.
Sena melihat ke arah para tamu, matanya melebar mencari seseorang yang ia tunggu-tunggu sejak tadi tapi tidak ada. Bukan Minho, nenek sudah pasti melarang pria itu datang bahkan mungkin rumahnya di jaga ketat oleh para penjaga. Ibunya, ia berharap menemukan ibunya diantara ratusan orang yang hadir di pernikahannya. Tapi orang yang dicarinya sedari tadi belum menampakkan diri, membuat gadis itu mengepalkan tangan menahan segala gejolak emosi dan kesedihannya.
Jaeha menyadari gerak gerik Sena, tapi Sena malah memberikan jawaban yang membuat pria itu kesal. Jujur Jaeha masih penasaran kenapa sikap Sena jadi seperti ini, ibunya bilang dulu Sena sangat polos dan sopan dia seperti anak gadis pada umumnya. Tapi sekarang dia sangat tomboy, cara bicaranya pun berbeda tidak mencerminkan kalau dia seorang anak dari keluarga chaebol, selain masalah ibunya pasti ada hal lain dan ia harus mencari tahu.
Malam ini mereka menginap di rumah orang tua Jaeha yang sudah jelas pastinya ia harus sekamar dengan Jaeha berbagi ranjang dengan pria mesum itu, padahal ia berharap bisa pindah ke rumah pribadi Jaeha saja agar ia bisa tidur sendiri.
Begitu masuk ke dalam rumah barisan para pelayan menyambut mereka termasuk para penjaga, Sena memperlihatkan senyum ramahnya ketika satu persatu dari mereka memperkenalkan diri, padahal saat ini ia tidak ingin tersenyum sama sekali ketika ia tau kalau ibunya sama sekali tidak datang ke acara pernikahannya, ibunya berbohong untuk yang kesekian kalinya.
“kalian segera bersihkan diri, setelah itu turun untuk makan malam.” Ucap Nyonya Park,
'kalau begitu anggap saja ibuku sebagai ibumu!'
Sena menatap ibu mertuanya dan juga Tuan Park, membuat Nyonya Park dan suaminya menatap gadis itu bingung.
“apa kau perlu sesuatu sayang?”
“apa aku boleh memanggil kalian ibu dan ayah?”
“ya ampun sayang kau membuat kami cemas! Tentu saja, sekarang kami orang tuamu.” Nyonya Park mengusap air mata menantunya.
“anggap kami seperti orang tuamu sendiri. Dulu kau juga sering memanggilku ayah, dari dulu kau sudah kami anggap seperti anak kami sendiri. Kalau ada apa-apa jangan ragu untuk cerita, hm?” Ucap Tuan Park, membuat gadis itu mengangguk. Sedangkan Jaeha, ia menatap Sena dengan perasaan lega karena gadis itu mau menurutinya.
Sena masuk ke kamar Jaeha pandangan matanya menatap sekeliling sudut kamar dan pandangan matanya tertuju pada figura yang terpajang di nakas. Dua orang anak kecil berfoto di ayunan, anak perempuan kecil duduk di ayunan sebelah kiri sedangkan anak laki-laki duduk di ayunan sebelah kanan.
“ini aku dan kau?” pertanyaan Sena membuat Jaeha menghampirinya, pria itu ikut manatap foto tersebut.
“benar, itu kita.” Sena mengambil foto tersebut
“telingamu besar sekali!” Sena tersenyum lebar, Jaeha sadar baru kali ini ia melihat Sena tersenyum seperti itu, cantik. ia jujur pada dirinya sendiri Sena cantik tersenyum seperti itu, membuat Jaeha juga ikut tersenyum.
Sena melirik ke arah Jaeha, membuat mereka akhirnya bertatapan “kenapa kau menatapku seperti itu?”
“kau menatapku!”
“percaya diri sekali! Sudah kubilang aku menatap fotonya.” Jaeha kembali ke dekat lemari pakaian untuk mengganti bajunya membuat Sena memalingkan kembali wajahnya pada foto.
“ganti pakaianmu di toilet!”
“kenapa? aku kan suamimu! Apa kau belum pernah melihat tubuh pria? Tidak mungkin!”
“aku belum pernah melihatnya!”
“kau belum pernah melihat tubuh Minho?”
Sena berdecak kesal, “kenapa kau membawa-bawa Minho?”
“aku bertanya saja. serius kau belum pernah melihatnya?”
“apa kau dulu selalu seperti ini?”
Tok tok tok!
Suara ketikan pintu kamar membuat perdebatan mereka terhenti, Jaeha segera membuka pintu.
“ada kiriman untuk nona.” Jaeha menerima sebuah kotak dari pelayannya, ia menghampiri Sena yang tengah sibuk memilih baju ganti karena gadis itu sekarang masih dibalut dengan gaun pengantinnya.
“ini untukmu.” Sena langsung menjinjing gaun pegantinnya menghampiri kotak yang Jaeha simpan di atas kasur.
Begitu membaca tulisan di kartu yang tersimpan di dalam kotak raut wajah gadis itu berubah, “buang ini!”
“ada apa memangnya?”
“buang saja jangan banyak tanya.”
Jaeha melihat kartu ucapan yang gadis itu lemparkan begitu saja di kasur,
“sayang selamat untuk pernikahanmu, maaf ibu tidak bisa datang karena ada urusan mendadak. Ibu sangat ingin datang tapi sesuatu yang penting tiba-tiba saja muncul. Ibu harap kau bahagia bersama dengan Jaeha. Sekali lagi maafkan ibu, ibu menyayangimu.”
Jaeha menatap Sena yang perhatianya kembali tertuju pada koper, “ini dari ibumu, kau tidak mau menerimanya?”
tak ada jawaban.
“Sena!”
Gadis itu berdiri bermaksud pergi ke kamar mandi, tapi Jaeha berdiri menghadangnya “ini dari ibumu. Ibumu sengaja mengirimkan ini sebagai permintaan maaf. Setidaknya terima atau hubungi dia.”
“apa kau pikir semua ini cukup sebagai permintaan maaf? Kalau dia ingin minta maaf kenapa dia tidak datang langsung padaku setelah bertahun-tahun dia tidak pernah menemuiku! Apa lebih penting pekerjaannya daripada aku putrinya sendiri? Apa itu yang dianamakan sayang? Di hari terpenting dalam hidupku dia tidak datang! dia berbohong! Dia selalu berbohong!” kekesalan yang sedari tadi ditahan akhirnya meledak di hadapan Jaeha, nafas gadis itu naik turun wajahnya memerah menahan amarah dan air matanya yang ingin keluar.
“jadi buang saja paket itu dan tinggalkan aku sendiri!” Sena mengurungkan niatnya untuk membersihkan diri, ia membelakangi Jaeha bergerak ke arah jendela, tapi tiba-tiba Jaeha menarik tanganya hingga tubuhnya masuk kedalam dekapan Jaeha.
“apa yang kau---“
“menangislah! Aku tau kau menahannya sedari tadi. Jangan menangis sendirian.”
ditahanpun percuma, Sena akhirnya menumpahkan rasa sakitnya dalam pelukan Jaeha, gadis itu pun memeluk Jaeha dengan erat bahkan mencengkram bajunya dengan sekuat tenaga. Jaeha menyalahkan dirinya sendiri karena memaksa Sena untuk menerima paket dari ibunya.
“maafkan aku, karena memaksamu.”
Nyonya Park membawa album foto besar di tangannya, ia berharap Sena dapat mengingat masa lalunya dengan Jaeha jika melihat foto-foto masa kecil mereka. foto yang tersimpan di nakas di kamar Jaeha pun Nyonya Park lah yang sengaja menyimpannya.
Nyonya Park mengetuk pintu lebih dulu, “siapa?” suara Jaeha yang menjawab
“ini ibu, boleh ibu masuk?”
“masuk saja bu!”
Nyonya Park beranjak masuk setelah diijinkan oleh Jaeha, “sayang ibu membawa album foto kalian saat masih kecil---“ Perkataannya terhenti begitu melihat Jaeha sedang menyelimuti Sena,
“ada apa ini?” Nyonya Park melihat Sena masih mengenakan gaun pengantinnya, ia tau pasti terjadi sesuatu.
“Sena menerima paket dari ibunya, tapi ia tidak mau menerima dan ini salahku karena memaksa Sena untuk menerimanya.” Nyonya Park mengusap lembut pundak putranya itu
“jangan salahkan dirimu, aku tau kau berbuat seperti itu karena kau ingin Sena tidak membenci ibunya lagi, iya kan?” Jaeha mengangguk membenarkan perkataan ibunya.
"Hwaran, dia sangat tulus merindukan Sena.. aku tidak tau juga kenapa dia tidak menemui Sena di hari penting ini, tapi aku yakin semua pasti ada alasannya. bukan karena bisnis tapi karena hati. mungkin Hwaran juga belum siap untuk menemui Sena."
Jaeha menatap lembut gadis itu. Ia benar-benar merasakan bagaimana sakitnya Sena saat tadi, ia terlalu memaksa gadis itu, harusnya ia melakukannya dengan perlahan bukan seperti tadi.
“kenapa kau tidak menganti bajunya?” Jaeha menatap ibunya terkejut
“aku?”
“kau suaminya lalu apa masalahnya? Kau tidak kasihan melihatnya tidur dengan gaun itu?”
“ibu saja yang menggantinya.”
“kau ini! kau suaminya jadi harus kau! Asal kau tahan dirimu karena kau tidak akan mendapatkannya malam ini, jangan coba-coba bangunkan dia!” Nyonya Park meninggalkan Jaeha yang kini sedang menatap Sena yang tertidur dengan gaun pengantinnya,
‘apa aku harus melakukannya?’ batin Jaeha