Maybe I Love You

Maybe I Love You
80. Keluarga Selamanya




Angin berhembus lembut menerpa lambaian kain yang menghiasi sebuah taman, wangi semerbak bunga-bunga segar yang diterpa angin membuat siapapun merasa hanyut dalam kenyamanan. Orang-orang yang berpakaian rapih duduk dengan nyaman pada kursi yang sudah mereka tempati.


Di sebuah ruangan di deka taman, beberapa orang hilir mudik untuk memastikan apakah semuanya sudah selesai dipersiapkan atau belum.


“Lima menit lagi!”


“Sudah selesai!”


Seorang permpuan dengan balutan gan penganting putih yang begitu cantik berdiri dari duduknya, saat itu pula datang seorang pria dengan balutan tuxedo hitam mengulurkan tangannya, “Apa kau masih gugup?”


Si pengantin perepuan berbalik, “Aku rasa lebih gugup dari sebelumnya, Ayah.”


“Kau terlihat sangat cantik. Ayo, Jaeha sudah menunggumu.”


Mera menerima uluran tangan sanga Ayah, Ayah yang selama ini begitu menyayanginya, seorang Ayah yang paling ia sayangi tidak ada Ayah yang lain lagi baginya selain dari Ayahnya, Kim Hansoo.


Begitu ia sampai, semua pandangan orang tertuju padanya. sebenarnya pernikahannya yang kedua ini hanya didaftarkan saja sudah cukup bagi Mera, tapi berbeda dengan keluarganya. Meskipun yang diundang lebih sedikit dari pernikahannya yang pertama, tapi melihat tatapan orang-orang padanya dan juga situasinya yang berbeda membuatnya begitu gugup. Perbedaan yang sangat jelas adalah sekarang ia mencintai Jaeha, begitu pula sebaliknya.


“Tegakkan kepalamu, lihat siapa yang sedang menantimu di depan sana. Ayah yakin kau tidak akan merasa gugup lagi.”


Pandangan kedua insan itu bertemu, keduanya tersenyum bahagia seakan memberikan magnet kuat bagi siapapun yang menyaksikannya, magnet kuat yang membuat siapapun yang melihatnya ikut tersenyum bahagia.


Hansoo menyerahkan tangan putrinya pada Jaeha, saat pertanyaan diajukan tanpa ragu keduanya langsung mengatakan iya. Tidak seperti dulu, saat Mera harus memikirkan kembali apa pilihannya tepat atau tidak.


“Sekarang kalian sudah sah sebagai pasangan suami istri. Mempelai pria dipersilahkan untuk mencium mempelai wanita.”


Jaeha membelai lembut pipi Mera, dengan tatapan penuh kasih sayangnya ia tersenyum lembut. “Kau tidak akan meminta di kening lagi kan?”


“Kali ini aku akan meminta di dua tempat.”


“Hm?”


“Di bibir dan juga di kening.”


“Siap laksanaan.” Jaeha pun mencium mera.


Riuh tepuk tangan menandakan rasa bahagia mereka bagi pasangan pengantin baru, kedua keluarga meneteskan air mata penuh haru. Sekarang tidak ada yang perlu mereka khawatirkan lagi, bukan berarti tidak aka ada masalah, hanya saja mereka yakin kalau Mera dan Jaeha akan menyelesaikan masalah yang ada dengan lebih baik lagi, karena hidup tidak mungkin tanpa ada masalah. Karena sebuah masalahlah setiap orang bisa menjadi lebih dewasa dan berpikiran terbuka.


“*Saranghae.”


“Nado, saranghae*.”



**


Dua tahun kemudian, Venesia – Italia


“Arthur! Sini pakai baju dulu sayang!” Dengan langkah pendeknya Arthur berjalan mendekati Mera, semakin jarak mereka dekat Arthur pun berlari dan sampai dipelukan Mera.


“Duh, jangan lari dong! Nanti kalau jatuh bagaimana?”


“Mau mana?” Tanya Arthur pada Ibunya. Perkembangan Arthur cukup pesat, di umur 9 bulan Arthur sudah mulai belajar berjalan. Dan saat menginjak 1 tahun Arthur sudah bisa berjalan sendiri, Mera benar-benar bangga dengan putranya begitu juga dengan perkembangannya yang lain.


“Arthur mau jalan-jalan?”


“Eung!”


“Sama siapa?”


“Eomma! Appa! Hehehe.” Mera selalu gregetan begitu melihat tawa lebar Arthur, baginya benar-benar begitu menggemaskan, kadang ia juga ingin sekali menggigit pipi chuby putranya itu, mera selalu saja merasa dirinya seorang ibu yang aneh saat keinginan itu muncul. “Eo, Appa!”


Jaeha keluar dari kamar mandi, pagi ini giliran Jaeha yang memandikan Arthur. “Jalan-jalan!”


“Jalan-jalan? Kata siapa kita akan pergi jalan-jalan?” Jaeha menggendong Arthur yang sudah memakai pakaian lengkap, Athur menunjuk Mera sebagai jawabannya. “Ibumu memang penghasut!”


“Ibu mandi dulu ya? Disisir rambutnya sama Ayah, oke?”


“Oke!!”


Jaeha mendudukan Arthur di kasur, ia mulai melakukan tugas yang diberikan Mera untuknya. “Arthur, apa kau ingin melihat sungai?”


“Pelahu??”


“Ada, banyak lagi.”


“Lihat! Atul mau lihat!”


“Tapi Arthur harus makan sampai kenyang pagi ini, di sana juga nanti jangan nakal, oke?”


“Oke!”


“Cium pipi Ayahnya dulu dong!” Arthur mencium pipi kiri Jaeha, “Satu lagi.” Anak itu menurut, Jaeha juga melakukan hal yang sama untuk Arthur sampai anak itu tertawa geli. “Tunggu ya, Ayah pakai baju dulu.”


Sesampainya mereka ditempat tujuan Arthur begitu sangat antusias, pertama kalinya ia pergi naik pesawat dan pertama kalinya juga Arthur pergi ke luar negeri, anak itu benar-benar merasa senang dengan liburannya yang pertama kali.


“uwwaaahhh!! Bulung! Banyak! Ahahaha!” Tempat pertama yang mereka kunjungi hari ini adalah St. Mark’s Square, yaitu tempat yang merupakan pusat kota Venesia. Ditempat ini selain dikenal dengan yang berarsitektur klasik nan indah, tempat ini juga dikenal karena burung-burung merpatinya yang banyak selain itu para merpati tersebut berbaur dengan para wisatawan tanpa rasa takut. Arthur begitu senang dengan begitu banyaknya burung yang baru pertama kali dia lihat, anak itu tak merasakan rasa takut sama sekali saat dikelilingi banyak burung.


Mera dan Jaeha tersenyum bahagia melihat putra mereka yang begitu terlihat senang, awalnya mereka sempat ragu untuk acara liburan kali ini tapi jika terus ragu kapan lagi mereka akan berangkat? Ini juga sebagai kado ulang tahun untuk Arthur, meskipun harus dilakukan lebih awal. “Oh iya sayang, katanya di sini ada toko roti yang terkenal enak. Nanti kita mampir ya?” Ajak Mera,


Jaeha mengangguk, ia akan mengantar kemana pun Mera ingin pergi. “Apa Arthur juga mau roti?” tanya Jaeha


“Loti coklat!!!” Wajah boleh dominan mirip Jaeha, tapi masalah kesukaan hampir semuanya mirip seperti Mera. Tapi Jaeha merasa pembagian itu adil, setidaknya ada bagian dari diri Arthur yang mirip dengan Mera.


Selanjutnya adalah acara yang tak boleh dilewatkan jika pergi ke Venesia, apalagi kalau bukan naik gondola. Bagi Jaeha bayaran semahal apapun tidak akan pernah membebaninya, asalkan keluarga kecilnya bisa senang.


“Ayah, Ayah! Pelahu!” Tunjuk Arthur, “Naik?” Tanya Arthur


“Kau tidak mau bertemu dengan Minho?” Tanya Jaeha, “Bukankah dia di sini, di Venesia?”


“Aku bahkan tidak tau harus menghubunginya dari mana. Nomor telepon, email, aku tidak tau apapun tentangnya sekarang. Aku tidak membencinya, meskipun dulu dia melakukan berbagai cara agar kita berpisah tapi dia tetap Kakak kandungku, kami masih tetap satu Ayah.”


“Minho tak pernah bercerita tentang Ayah kadungmu?”


Mera menggeleng, ia menjelaskan kalau ia hanya tau dari Nenek kalau Ayahnya sudah meninggal karena kecelakaan, dan itu mungkin saja benar. Mera tidak ingin mencari tahu lebih jauh lagi, bukan maksud ia benci tapi untuk apa? Ia sudah punya Hansoo sebagai Ayah satu-satunya yang ia miliki dan orang yang benar-benar mencintai Ibunya.


“Istriku sudah dewasa.”


“Dari dulu aku juga sudah dewasa!”


“Masa sih?” Goda Jaeha,


“Cih!” Ya, iya... Mera tau hanya sebagaian kecil dari dirinya yang sudah dewasa. Tapi sifat kenak-anakan dan manja itu hanya ia tunjukkan untuk Jaeha seorang. Mera tak berani mengatakan hal seperti itu lagi, pernah ia mengatakannya tapi ia kalah telak oleh omongan Jaeha.


“Yoda.”


“Kau ingat nama panggilan itu?”


“Kenapa aku memanggilmu Yoda?”


Jaeha memegang telinganya, “Karena ini. Kau memanggilku Yoda karena telingaku besar seperti salah satu karakter dalam sebuah serial kartun. Kau tidak ingat tentang masa kecil kita?”


“Samar-samar. Aku ingat pernah memanggilmu seperti itu, tapi aku tidak ingat alasannya.”


“Lagi pula itu tidak penting. Yang terpenting adalah sekarang, kau bersamaku, kita bersama, dan sekarang kita bertiga. Keinginan dua orang anak kecil ternyata bisa terjadi juga, hahahaha. Kalau dipikir-pikir lucu juga ya?”


Mera ikut tertawa, Mera juga berpikiran sama. Setelah berpisah jauh selama bertahun-tahun, bahkan Mera sampai lupa total semuanya karena kecelakaan tapi jika tangan Tuhan sudah mulai ikut campur apa pun yang dianggap tidak mungkin bisa jadi mungkin.


Cup!


“Hey!” Mera melirik pada Arthur yang duduk disampingnya, Jaeha sendiri juga memberi isyarat kalau Arthur sedang fokus pada ikan-ikan yang ada di kanal. Venesia memang dijuluki sebagai salah satu kota romantis, sayang sekali mereka dulu tidak bulan madu di sini, tapi tak apa. jika sudah dua kali, sensasinya akan benar-benar berbeda.


Mera melihap peta di ponselnya, “Sepuluh meter lagi sampai.” Kini mereka sedang berjalan untuk pergi ke toko roti yang mera sebutkan tadi, beberapa orang keluar dari toko tersebut sambil membawa pesanan yang mereka beli. Aroma roti yang terbawa angin begitu sangat menggoda, Arthur sampai sudah tidak sabar dan menyuruh orang tuanya untuk berlari saja agar bisa lebih cepat.


“Selamat datang!” Sapa seorang pria dari toko dalam bahasa Venesia. Saat pria itu selesai membersihkan meja dan berbalik...


“Kakak...” Orang itu adalah Minho.


“K-kalian...” Suasana tiba-tiba saja berubah canggung dan kaku, walaupun sudah saling memaafkan tapi rasanya masih ada jarak yang menghalangi kedekatan diantara mereka.


“Bu~ loti!!!!” Suara nyaring Arthur sedikit mencairkan suasana, anak itu mulai memilih roti mana yang dia inginkan. Mera dan Minho duduk lebih dulu di salah satu meja.


“Aku tidak menyangka akan bertemu dengan kalian, putramu juga sudah besar.” Minho melihat Arthur yang begitu antusias meilih roti.


“Aku juga tidak menyangka kalau aku akan bertemu Kakak di toko roti ini. Apa Kakak bekerja di sini?”


“Ini punyaku.” Minho tersenyum bangga


“Oh! Sejak kapan kakak bisa membuat roti?” Minho menjelaskan semuanya, dari mulai pertama dia datang ke Venesia sampai bisa punya toko roti sendiri. Begitu datang Arthur langsung pindah kepangkuan Mera, ia pun minta disuapi roti oleh Ibunya.


“Dia mirip sekali dengan Jaeha, namanya?”


“Arthur, Arthur Park. Dia benar-benar copyan Jaeha kan?” Minho mengangguk, Mera meminta Arthur untuk memberi salam pada Minho, mera juga memberitau kalau Minho itu adalah Om nya.


“Om Leon? Sama?” Mera mengangguk, anak itu pun menuruti perinta Ibunya. Minho benar-benar terharu karena ia bisa bertemu dengan anak yang saat itu masih janin dalam kandungan, pria itu kembali ingat dengan kesalahannya tapi ini bukan saatnya untuk mengingat hal itu yang penting mereka sudah kembali bahagia dan Arthur bisa bersama dengan Ayahnya.


Arthur memberikan sepotong roti untuk Minho, saat Minho akan menerimanya Arthur menariknya kembali, “Aaa~?!” Minho tertawa tak percaya, begitu juga Jaeha dan Mera ternyata Arthur ingin menyuapi Minho, dengan senang hati pria itu menerima suapan dari bocah kecil itu.


“Sayang aku pulang.” Lagi-lagi Mera dan Jaeha merasa tidak asing dengan suara perempuan yang mereka dengar, mereka kembali dibuat kaget untuk yang kedua kalinya, dia adalah Helena! Dan yang lebih membuat mereka tercengang adalah helena memanggil Minho dengan panggilan sayang!


“Jangan-jangan kalian?!”


Minho memperlihatkan cincin di jari manisnya, “Benar, kami sudah menikah.”


Mera dan Jaeha benar-benar tak percaya dengan permainan takdir kali ini, ini baru yang namanya kejutan! Mera dan Jaeha sampai tak bisa berkata apa-apa, apalagi Helena adalah mantan istri Jaeha dan sekarang menjadi Kakak iparnya?


“Maafkan aku Mera.” Kalimat itulah yang diucakan pertama kali oleh Helena, perempuan itu tertunduk penuh penyesalan. Helena memang sudah meminta maaf pada Jaeha, tapi tidak pada Mera. Maka dari itu sekaranglah Helena ingin meminta maaf atas semua yang sudah ia lakukan.


“Sudahlah, itu masa lalu. Jika Jaeha sudah memaafkanmu berarti aku juga sama, yang penting sekarang kita sama-sama berjuang untuk bisa terus bahagia bersama keluarga masing-masing. Yang ingin aku pinta darimu adalah buat Kakakku untuk bisa merasakan apa itu arti cinta yang sesungguhnya, bahagiakan dia dengan cintamu yang tulus untuknya. Mungkin jika diartikan lebih dalam lagi permintaanku itu adalah permintaan sebagai penebusan rasa bersalahmu padaku. Aku sudah bahagia, maka kau juga harus bahagia.” Dengan lembut Mera memegang erat tangan Helena yang berada diatas meja. Helena menitikan air mata, ia pun mengangguk kalau dia akan melakukan semua itu semua yang Mera katakan.


“Arthur, kau tidak mau menyuapi Tante Helena?” Arthur pun melakukan hal yang sama seperti apa yang ia lakukan pada Minho.


Perbincangan mereka terus berlanjut menjadi lebih terasa hangat dari yang sebelumnya, tanpa ada jarak dan tanpa ada perbedaan. Mereka punya masa lalunya masing masing, dan terikat oleh sebuah hubungan dalam masa lalu tersebut, tapi itu hanya masa lalu. Ketakutan karena takut oleh godaan masa lalu? Tidak lagi. Karena rasa cinta dan kasih sayang mereka sudah jelas untuk dan milik siapa.


Mera memperhatikan setiap orang yang berada di sekitarnya, bahagia yang nyata tanpa sebuah kepalsuan, begitu juga dengan dirinya sendiri, dulu memakai topeng senyum palsu sekarang ia sudah membuang topeng tersebut.


‘Zaman boleh berubah, tapi manusia tetaplah sama. kita tetap butuh cinta, kebahagiaan, dan juga kehangatan sebuah keluarga. Mungkin dulu aku tidak bisa mendaparkan apa yang seharusnya aku dapatkan, sejak kecil ditinggal orang tua pergi sampai-sampai berujung aku yang membenci mereka tapi sebenarnya memang bukan benci hanya sebuah rasa rindu yang salah aku artikan. Aku yang seperti itu, tidak akan pernah membiarkan putraku merasakan apa yang aku rasakan, tidak ada penyesalan disaat aku memilih untuk kembali bersama dengannya karena aku memang butuh cinta, aku juga ingin memberikan cintaku untuknya, aku ingin memberikan apa yang belum sempat aku berikan sebagai seorang istri, penebusan rasa bersalah? Mungkin saja, karena aku selalu merasa bersalah karena tak berani bertanya dan lari dari masalah. Bahagiaku sekarang adalah hadiah yang aku dapatkan dari setiap luka yang pernah aku alami di masa lalu, aku tak pernah menyangka jalan hidupku akan melalui lika-liku perjalanan yang membuatku benar-benar merasa lelah dan hampir putus asa. Tapi dukungan dari keluargaku, membuat aku bertahan dan sampai pada hari ini. berbahagialah jika kalian masih memiliki keluarga.’



-THE END-


----------------------------------------


**huah berasa gaje banget ini endingnya 😫


makasih banget buat kalian yg udah suport aku dari awal sampai akhir. terima kasih untuk saran dan masukannya, komentar-komentar kalian juga bikin novel ini berasa hidup 😁😁 buat yang setia sampai episode 80 kalian hebat 😆😆🖒 maaf karena selalu banyak typo bertebaran, tanganku sering kepleset soalnya. pokonya big thank deh!! 😗


semoga kalian bahagia selalu! saranghae 💕💕


**INFORMASI PENTING!!


MILY2 UDAH DI UPDATE!!


emang baru 2 episode, tapi buat yang penasaran sama kisah Arthur, yu mampir.. cek profil aku ya.. 😊**