Maybe I Love You

Maybe I Love You
02. Kim Sena



Selesai merayakan ulang tahun Minhyun, Sena dan Minho kembali ke Seoul. Gadis itu memakan sepotong kue ulang tahun yang diberikan Minhyun untuknya bahkan ia memakan kue milik Minho.



Minho tertawa geli melihat mulut Sena yang belepotan dengan cream, “aku pikir umurmu salah, kau seharusnya masih berusia 15 tahun bukan 25.”



Minho memberikan tissue yang langsung diterima oleh Sena. “oppa, kau malu pergi bersamaku?”



Pertanyaan tiba-tiba Sena membuat Minho mengalihkan fokusnya dari jalan, “kenapa kau bertanya seperti itu? aku sama sekali tidak pernah malu pergi bersamamu.”



“tapi orang-orang memandangku tidak suka. Bahkan pria tadi menganggapku orang miskin gara-gara penampilanku.”



“mereka hanya melihatmu dari luar saja, mereka tidak tau apapun tentang dirimu yang sebenarnya. Jangan terlalu dipikirkan.”



“mungkin perkataan nenek benar. Harusnya aku--“



“jika kau tidak merasa nyaman jangan kau lakukan. Aku tidak pernah menuntut kau harus cantik atau berdandan saat bersamaku. kau ingat kata-kata ini ‘cantik itu bukan hanya dari luar tapi dari dalam hatinya pun harus cantik.’ Bukankah percuma kalau hanya luarnya yang cantik tapi hatinya tidak? Dan kau harus tau kau memiliki keduanya.” Minho menatap Sena sambil tersenyum,



“gomawo, hanya oppa yang mengerti aku.” Sena kembali melahap kuenya



“oppa bercandakan?”



Minho mencubit pipi Sena, “terserah kau saja!”



Sena langsung masuk ke dalam rumah, gadis itu melihat neneknya sedang berbicara dengan seseorang yang seumuran dengannya, Sena menyapanya kemudian pergi ke kamarnya karena ia merasa sangat lelah.



“apakah dia cucumu Sena?” tanya Jung Hae Ra



“benar. Dia sudah gadis sekarang, waktu berlalu sangat cepat.”



“Sena mirip sekali seperti ibunya, apa Hwaran sering berkunjung?”



“sejak kepergiannya ke Swiss dia sama sekali belum kembali karena pekerjaannya. Dia hanya sering menelpon tapi Sena tidak pernah mau berbicara dengannya.”



“dia pasti sangat merindukan orang tuanya. Bukankah saat itu umurnya 1,5 tahun?”



“benar. Dan itu adalah saat dimana ia harusnya tumbuh bersama orang tuanya. Mungkin karena itu dia tidak mau bicara dengan orang tuanya, dia benar-benar terluka.”



Gadis yang dibicarakan itu kini tengah asik dengan laptopnya, ia mengetikkan nama Park Jaeha di mesin pencarian. Tak perlu menunggu lama foto-foto dan berita tentang pria itu bermunculan, ia membacanya satu persatu.



“cih, ramah apanya? Kalian tidak tau orang seperti apa dia sebenarnya. Melihat wajahnya membuatku naik darah.”



Sena menutup laptopnya kemudian membaringkan dirinya di kasur, matanya terpejam kilasan masa lalunya muncul begitu saja.



“kau penghianat! Kau tau aku menyukainya tapi kenapa kau merebutnya!”



“cantik sih, tapi kalau tukang merebut pacar orang bukan cantik lagi namanya.”



“dasar pengganggu hubungan orang!”



“maklum sih dia kan kaya! Orang tuanya bahkan sudah tidak peduli padanya.”



Gadis itu menutup wajahnya dengan bantal, air matanya mengalir ia terisak pelan. “benar! aku hanya memiliki nenek dan Minho oppa!”



**




Bibi Mija kaget melihat nona mudanya sudah bangun jam segini dan lagi sedang berkutat dengan sayuran dan pisau.



“nona tumben jam segini sudah bangun?”



“aku tiak bisa tidur lagi. Kita masak bersama pagi ini oke?” bibi Mija tersenyum, ia senang karena Sena tidak pernah membedakan pekerja di sini bahkan mereka sering sarapan bersama.



Selesai memasak Sena pergi ke kamar neneknya, kakeknya belum kembali dari London jadi Sena masak sarapan yang sederhana.



“nenek!” gadis itu meloncat ke kasur, membuat neneknya kaget.



“tumben kau sudah bangun? Ada angin apa ini?”



Sena memeluk neneknya, “aku tidak bisa tidur lagi.”



“aigoo.. kau ini sebenarnya umur berapa sih hm?”



“kata Minho Oppa aku harusnya umur 15 tahun bukan 25.”



Nenek Nam mengusap kepala Sena dengan lembut, “benar malahan harus kurang dari 15 tahun. Kalau nanti kau menikah nenek pasti akan sangat sulit melepaskanmu.”



“aku tidak akan meninggalkan nenek, jadi nenek juga jangan meninggalkanku. ayo sarapan nek, aku sudah buatkan makanan kesukaan nenek.”



Hari ini Sena berencana menjenguk seorang anak yang terkena penyakit jantung di rumah sakit, anak itu menginginkan baju tidur panda jadi Sena berencana akan membelikannya.



“ya ampun ini sangat lucu! Apa ada ukuran yang sedikit lebih besar?”



Pegawai itu memberikan ukura yang lebih besar dari sebelumnya, “harganya 750.00 won.”



Sena paham kenapa pegawai berkata seperti itu, tidak aneh lagi untuknya. Padahal menurutnya ia tidak seperti orang kekurangan dana, tapi ya penampilan memang menentukan segalanya, masih tetap seperti itu.



“bungkus saja.” pegawai itu masih terlihat ragu, Sena segera mengambil dompet dan mengeluarkan black card miliknya, pelayan itu jelas terlihat kaget dan langsung menunduk minta maaf, Sena ingin sekali tertawa rasanya senang juga mempermainkan orang lain seperti ini.



Selesai membali baju gadis itu langsung pergi ke rumah sakit menemui Sora, begitu Sena datang gadis kecil itu langsung memeluknya.



“bagaimana kabarmu? Lebih baik?” Sora mengangguk,



Sena menyerahkan kotak padanya, begitu melihat isinya Sora langsung memeluk erat Sena, “terima kasih eonni!”



Seolhyun ikut bahagia, “terima kasih Sena. Sora sangat senang dengan hadiahmu.”



“sama-sama. aku hanya ingin dia cepat sembuh. Bagaimana keadaan di panti semua baik-baik saja kan? aku belum sempat pergi ke sana.”



“semuanya baik, itu juga berkat dirimu dan Minho. Sampaikan ucapan terima kasihku padanya.”



“tentu. Oh ya bagaimana dengan penyakit Sora? Aku sudah menyuruh pihak rumah sakit memberikan perawatan yang terbaik.”



“dokter bilang untuk sekarang kondisinya baik, asalkan Sora jangan terlalu banyak melakukan aktifitas berat. Padahal gadis itu sama sekali tidak bisa diam, dia selalu berlarian kesana kemari.”



“aku akan melakukan yang terbaik untuknya, kalau kau butuh sesuatu hubungi aku.”



“baiklah. Terima kasih Sena.”