
Seperti Sena, Jaeha rupanya menunggu pesan atau panggilan dari istrinya itu. bahkan saat sedang rapatpun Jaeha selalu melihat ponselnya berulangkali membuat Suho yang memperhatikannya tersenyum kecil karena tak biasanya Jaeha seperti ini. apalagi saat jam kerjanya sedang kosong, pandangan pria itu tak pernah lepas dari layar ponsel.
“sudah hubungi saja dia duluan, kenapa harga dirimu begitu tinggi?”
“aku ini pria, wajar saja kalau harga diriku tinggi.”
“setauku, wanta lah yang harus memiliki harga diri yang tinggi. Akan aneh jika seorang wanita mengejar cintanya terus-terusan, pasti mereka akan menganggap wanita itu tidak tau malu. Tapi wajar saja bagi pria jika terus mengejar cintanya, kau tida akan dipermalukan karena prialah yang memang harus melakukan hal seperti itu.”
“jika ditolak aku yang akan malu!”
“ditolak bagimana? Kalian sudah menikah! dia istrimu! Bagaimana jika dia berselingkuh dengan pria lain di sana?”
Terlintas di pikirannya tentang Minho, Sena pasti sering pergi keluar dengan Minho itu sudah pasti karena sebelumnya dia juga seperti itu. bahkan Jaeha menyaksikan Minho yang memeluk Sena begitu erat membuat ulu hatinya mendadak berdesir panas dan nafasnya terasa sesak.
“dia sudah pasti pergi bersamanya.”
“dengan siapa?”
“Minho, siapa lagi?!”
“jika kau berusaha dia pasti tidak akan pergi bersama pria itu lagi, aku jamin!”
“hyung, apa masalah kita di sini masih banyak?”
“aku pikir 2 atau 3 hari lagi selesai. Kau benar-benar merindukannya rupanya!”
Jaeha hanya tersenyum kecil, ya mungkin memang benar perlahan tapi pasti nama Helena kini telah tergantikan dengan nama Sena di hatinya.
Sena kini tengah duduk berhadapan dengan Jonghyun, orang kepercayaan neneknya. Sena juga sudah mengaggap Jonghyun seperti kakaknya sendiri mangkanya mereka dekat.
“oppa, bisa kau cari tau keberadaan orang ini?!” Sena menyerahkan foto yang ia temukan di kamar Jaeha
“bukankah ini suamimu? Lalu siapa perempuan ini?”
“ibu mertuaku bilang dia mantan pacarnya Jaeha, tapi entah kenapa aku merasa belum yakin kalau mereka hanya menjalin hubungan sebatas pacaran saja. aku masih merasakan kalau dia menyembunyikan sesuatu. Jadi aku mohon cari tahu semua tentang hubungan mereka. bisakan?”
“aku akan berusaha, mereka tinggal di Pranciskan?”
“ya, Jaeha kenal dia di Prancis karena satu kampus. Aku mohon bantu aku!”
“tenang saja, aku akan mebantumu. Kau tidak perlu khawatir.”
“gomawoyo Jonghyun oppa!”
“sama-sama, kalau begitu aku harus kembali ke kantor.”
“masih ada pekerjaankah?”
“ya, biasalah namanya juga orang sibuk!”
“ck, dasar! Ya sudah sana!”
“jaga dirimu! tapi Sena aku juga tidak bisa memberi hasilnya dengan cepat karena pekerjaan lain yang menungguku, tak apa?”
“heem aku akan menunggu hasilnya, hati-hati di jalan!”
Sena membaringkan tubunya di kasur, ia sebenarnya ingin membantu bibi Hanmi di dapur tapi rasanya benar-benar malas. Ia berbalik sehingga kini tubuhnya jadi menyamping, ia melihat Kui yang tertidur pulas di atas kasurnya sejak tadi. Sena membelai lembut kepala Kui membuat anjing kecil itu sedikit bergerak dari tidurnya.
“Kui, Jaeha itu orang seperti apa sebenarnya? Apa kau tau rahasia apa yang dia sembunyikan?”
Anjing kecil itu masih tertidur pulas, “kenapa aku berharap kalau mereka memang tidak pernah menikah? Kenapa aku harus merasakan ketakuan seperti ini Kui? Kenapa aku—“
Dering telepon menghentikan curahan hatinya pada Kui, ternyata Jaeha yang memanggilnya lebih tepatnya video call. Sena menghapus air mata yang mengalir dari sudut matanya, ia bahkan tidak tau kenapa air bening itu harus keluar.
Setelah terangkat, Sena bisa melihat wajah Jaeha yang terlihat kaku membuat kedua sudut bibirnya ingin sekali terangkat tapi ia berusaha menahannya.
“ada apa?” Sena akhirnya memulai pembicaraan karena Jaeha tak kunjung mengeluarkan suara.
“kau, sedang apa?”
“aku? aku... ya seperti ini.” Sena bisa melihat kursi kerja di belakang Jaeha, harusnya di sana sudah beranjak pagi.
“oh.”
Sena tidak tau harus bicara apa, kenapa rasanya jadi canggung? padahal kalau berhadapan tidak pernah canggung seperti ini? Jaeha juga sebenarnya sedikit kesal dengan jawaban Sena yang hanya ‘oh’ saja, tap ia juga tidak tau harus memulai pembicaraan seperti apa!
“ah, kenapa kau memberiku kecoak?!”
Sena kini tak bisa menghentikan bibirnya untuk tersenyum lebar, ia ingat bagaimana kepanikan dan ketakutan Jaeha dengan kecoa-kecoa itu.
“salah sendiri kenapa mempermalukanku?! Kau sendiri yang mulai! Pasti kau pikir aku hanya akan berdiam dirikan?! Tidak akan!”
“kau tidak mau minta maaf?!”
“tidak akan! Kau saja tidak minta maaf?!”
“aku kan sudah mengantarmu menemui Sora, apa itu belum cukup?”
“oooohhh jadi kau mengantarku tidak ikhlas begitu?”
“bukan begitu sayang!” Sena merasakan jantungnya berdebar lagi ketika Jaeha memanggilnya dengan sebutan sayang, dia keceplosan atau bagaimana? Batin Sena
“Aku ikhlas, aku takut kau kenapa-kenapa apalagi kau sedang sakit! Oh ya bagaimana kondisimu sekarang?”
“mmm, ya aku baik-baik saja!”
“kau kenapa? apa aku salah bicara?”
“hanya, hanya saja... aku merasa aneh saja kau... memanggilku sayang.” Sena menundukkan pandangannya
Jaeha sendiri terlihat salah tingkah, ia benar-benar tidak sadar dan kata itu keluar begitu saja.
“apakah tidak boleh?” tanya Jaeha ragu
“aneh saja! aneh iya aneh!”
“kalau begitu haruskan aku memangilmu yeobeo?” goda Jaeha
“apa sih?!” Sena tersenyum malu “itu lebih aneh kau tau?! Hish!”
“bogoshipeo!”
Keduanya saling bertatapan, Sena kembali diserang kejutan tak terduga membuat jantungnya semakin berdetak kencang.
“bogoshiptago!” akhirnya Jaeha bernafas lega bisa mengatakan perasaannya yang sebenarnya meskipun harus menahan malu yang teramat sangat,
“telingamu merah!”
Jaeha terbelalak tak percaya dengan kalimat yang dilontarkan lawan bicaranya itu, “kau ini!! Sena aku serius! Kenapa malah jadi membahas telingaku?!!”
“hahahahahaha, terlalu serius itu membosankan!”
“tapi aku tidak main-main, aku merindukanmu!”
“eum, sudah ya. Aku mau mandi! Jangan lewatkan makanmu, jaga kesehatan juga! Dah!”
“tunggu— haish dasar!“
Meskipun Jaeha tidak mendapatkan jawaban atas apa yang dia inginkan, tapi ia merasa lega karena ia telah jujur pada Sena bagaimana perasaannya sekarang.
Sedangkan Sena ia kini tengah berendam di bathtube dengan wajah yang memerah dan sesekali juga tersenyum, “aish, apa aku sudah gila? Kenapa aku terus tersenyum sih?”
Ia memegang dada di bagian jantungnya yang berdegup kencang, “sejak dia bilang merindukanku, kenapa jantung ini terus begini? Kenapa aku harus malu? Kenapa aku... kenapa aku merasa... merasa bahagia?”
Matanya terpejam, tiba-tiba bayangan saat Jaeha mencium keningnya terlintas dalam pengelihatanya, aroma pria itu, kehangatan sentuhan dari bibirnya, bagaimana ia bisa merasakan kalau ciuman itu benar-benar tulus untuknya.
“aish, hentikan! kenapa aku malah semakin membayangkannya. Tidak mungkin aku... merindukannya juga kan?”