
Jaeha tertidur cukup lama ketika ia keluar dari kamar dan melihat ke luar dari jendela senja sudah menampakkan dirinya.
“Suho Hyung!” Jaeha merasa lapar, tapi ia enggan untuk membeli sendiri
“Suho Hyung!” tak ada jawaba Jaeha mencoba menghubungi Suho tapi sayangnya ponsel Suho tidak aktif. Dengan terpaksa Jaeha harus membelinya sendiri, padahal ia bisa menyuruh orang lain selain Suho, tapi entahlah.
Dengan kepala yang masih pusing Jaeha keluar dari kantor untuk pergi ke restoran tradisional yang dekat dengan kantornya. Dengan pandangan yang masih belum jelas Jaeha berhenti berjalan, pandangan matanya tertuju pada seseorang yang kini tengah berdiam diri juga tak jauh darinya, Jaeha merasa mengenal orang tersebut.
Jaeha terus mencoba menormalkan pengelihatannya, perempuan itu berjalan perlahan mendekati Jaeha, dalam jarak dekat samar wajahnya mulai terlihat jelas membuat Jaeha seketika terdiam, pikirannya serasa menghilang, otaknya seakan berhenti bekerja. Perempuan yang kini tengah menitikkan air matanya itu tersenyum bahagia dan merasa tak percaya. Tanpa ragu pula perempuan itu menghambur memeluk Jaeha dengan erat.
“Jae. Akhirnya aku bertemu denganmu! Jaeha!” isak tangis perempuan itu pecah membasahi jas Jaeha. Helena, ia tak menyangka bisa bertemu Jaeha secara tak sengaja hari ini. seharusnya ia pergi menjauh dari Jaeha karena ini bukan bagian dari rencana Minho, tapi ia tak bisa seperti itu lagi, ia terlalu merindukan Jaeha, sangat merindukannya setelah sekian lama tak bertemu.
Jaeha syok, semuanya terasa seperti mimpi, ia merasa ini benar nyata atau halusinasi, tapi sentuhan ini benar terasa nyata adanya. Selama ini pencariannya tak membuahkan hasil apapun tapi ternyata Helena ada di sini, di negaranya dan kini perempuan itu memeluknya.
“Helena.” Panggil Jaeha
dengan suara yang pelan, tapi bisa di dengar oleh Helena
Helena mengangguk, “iya Jae, ini aku.” kini tangan Jaeha bergerak, perlahan tapi pasti ia membalas pelukan Helena di iringi dengan salju yang turun dari langit untuk pertama kalinya di tahun ini.
Di dalam sebuah mobil di pinggir jalan, seorang perempuan juga sama terkejutnya dengan Jaeha, Sena. Dengan tergesa-gesa ia kembali dari panti untuk memberikan penjelasan pada Jaeha tapi ternyata ia malah mendapatkan kejutan tak terduga yang membuat hatinya terasa sakit, benar-benar sakit.
“kau... akhirnya kau bertemu istrimu... Jaeha.”
Beberapa saat yang lalu, sebelum masuk ke dalam parkiran kantor Jaeha, Jonghyun menghubungi Sena, karena tau ini penting Sena menghentikan mobilnya lebih dulu untuk menerima panggilan dari Jonghyun.
“Sena maaf aku baru bisa menghubungimu, banyak sekali pekerjaan di kantor sampai membuatku lupa untuk memberitahukannya padamu.”
“tak apa, aku mengerti. Aku juga lupa untuk bertanya.”
“Sena, kau yakin akan baik-baik saja?”
“aku... aku tidak tau. Tapi katakan saja aku harus tau kebenarannya dan aku yang memintanya sendiri.”
untuk beberapa detik Jonghyung tak bicara, “Sena... Jaeha dan Helena sudah menikah.”
Jonghyun tak mendengar kalimat apapun yang keluar dari mulut Sena di sebrang sana, “Sena! Sena kau baik-baik saja?!”
Tidak ada jawaban.
“Sena! Sena jawab aku! Sena!”
“hm, aku baik-baik saja.”
Jonghyun tak percaya, “kau di mana sekarang?!”
“oppa tak perlu mengkhawatirkanku, aku baik-baik saja.”
“jangan membohongiku Sena! Dari suaramu aku tau kau tidak baik-baik saja! katakan padaku kau di mana sekarang?”
“sungguh. aku sungguh baik-baik saja. jangan khawatir! Aku menikahi Jaeha karena terpaksa kenapa aku bersedih dengan berita ini.”
“Sena,” Jonghyun merasa bersalah memberitahukan hal ini pada Sena.
“oppa, apa kau sedang tidak bekerja? Kakek akan memarahimu nanti!”
“serius kau tidak apa-apa? aku harus bertanggung jawab kalau terjadi sesuatu padamu.”
“apa kau ingin sesuatu yang buruk terjadi padaku?”
“bukan Sena, bukan begitu—“
“ini masih jam kerja untukmu, aku juga harus melakukan sesuatu, bye!”
Sena berusaha untuk tak meneteskan air matanya, bibirnya bergetar, wajahnya memerah menahan air mata yang ingin keluar, bahkan sena menggigit bibirnya sendiri berusaha untuk tak menangis meskipun batinnya berontak ingin menjerit.
‘kenapa ini terjadi padaku? Eomma... kenapa... kenapa harus aku?’
Jaeha kini ada di rumah Helena sedang duduk di meja makan menunggu Helena yang sedang menyelesaikan masakan utamanya, Jaeha terus memandangi Helena seolah ini hanya sebuah mimpi. Kemungkinan hidup Helena sangat kecil setelah kecelakaan pesawat itu tak mungkin Helena bisa selamat, meskipun Helena sudah menceritakannya pada Jaeha, tapi pria itu tetap tak percaya dengan keajaibannya.
“tada!” Helena menyajikan sepiring galbi “aku mempelajarinya saat pertama kali datang ke sini, aku ingat kau sangat menyukainya dan dulu menyuruhku untuk belajar cara memasak galbi. Cobalah! Meskipun aku tidak yakin bagaimana rasanya.” Helena benar-benar bahagia, senyumi bahagia itu tak pernah pudar dari wajahnya.
“baiklah, aku akan mencobanya.”
Helena menatap Jaeha yang sedang mencoba masakannya satu persatu, “eotte?”
“semuanya menjelaskan kalau kau baru belajar memasak.”
Helena tersenyum kecut, “iya benar, tapi lumayankan?” Jaeha mengangguk, cukup membuat Helena kembali tersenyum senang.
“ya aku harus kembali,”
“hmm, padahal aku ingin bersamamu lebih lama aku juga ingin bercerita banyak padamu. ini pertama kalinya kita bertemu kembali dan kau tak bisa lama bersamaku.”
“maafkan aku.”
Helena memandangi Jaeha, perempuan itu tersenyum sedih, “tapi kau seperti tak bahagia bertemu denganku.”
“kenapa kau... berkata seperti itu?”
Helena berpikir kalau Jaeha pasti sedang ada masalah dengan Sena, hidup bersama tanpa cinta memang tak mengenakan. “jika kau merasa tak nyaman di rumahmu, kau bisa menginap di sini.”
Jaeha tampak kaget dengan ucapan Helena, meskipun ia tak mengerti kenapa Helena mengucapkan kata tersebut, “kenapa kau kaget begitu? Apa salahnya kita tinggal bersama? Aku kan istrimu.”
Jaeha memiliki perasaan tak enak, perasaannya campur aduk entah apa yang ia rasakan sekarang semuanya terasa tak jelas, apalagi secara tiba-tiba bayangan Sena muncul dalam pengelihatannya.
“Helena, aku harus kembali ke kantor. Masih ada yang harus aku kerjakan.”
Helena cemberut, ia tak ingin Jaeha pergi tapi ia tak bisa menahannya juga. Ini masih belum saatnya.
Saat kembali ke ruangannya, Suho sudah ada di sana dari posisi duduk Suho kemudian berdiri dan menghampiri Jaeha.
“kau habis dari mana?”
“aku... keluar cari makan.”
“cari makan bersama Helena?”
Jaeha terkejut bagaimana Suho bisa tau kalau dia sudah bertemu dengan Helena, “kau tak perlu tau bagaimana aku bisa memergoki kalian berdua.” Suho mengambil paper bag dan memberikannya pada Jaeha, isinya berisi kotak makan.
“dari siapa ini?”
“istrimu, Sena!”
“Sena?! Sena datang ke kantor?” Suho mengangguk, “dia... mengantarkan ini?” Suho menangguk lagi dengan tegas
“kau masih meragukannya? Sebenarnya apa yang terjadi dengan kalian? kau tidak pulang ke rumahmu selama dua hari ini, kau terus tidur di kantor.”
Ada senyum bahagia di balik semua kepusingannya hari ini, “ceritakan padaku,” pinta Suho sambil duduk
Akhirnya Jaeha jujur soal masalahnya, “Aku merasa di bohongi olehnya Hyung.”
“lalu kau malah bersama Helena?”
“kau seperti sedang menghakimiku. Perasaanku, pikiranku sedang kacau jangan menambahkannya lagi Hyung!”
“memangnya Sena berbohong apa padamu?”
“dia menerima kalung dari Minho tapi saat ditanya dia berkata kalung itu dari Sujin, bagaimana mungkin aku tidak kecewa. Dia tak bilang apapun soal Minho, aku rasa dia sudah tak memiliki perasaan apapun pada Minho tapi ternyata!”
“memangnya menerima kalung atau bertemu tandanya masih cinta?”
“lalu apa?! mereka pernah mencintai dan hampir kabur jika aku tak mencegahnya!”
“apa salah jika seorang Kakak memberi Adiknya hadiah sebuah kalung?”
Jaeha terlihat kaget dengan pertanyaan Suho, hal itu baru terpikirkan olehnya, “salahkah?” tanya Suho lagi
“memang... memang tidak! Tapi Minho masih mencintai Sena aku tau itu Hyung!”
“oke jika kau masih beranggapan seperti itu, Minho masih mencintai Sena, tapi Sena sendiri, apa ia masih mencintai Minho? Apa kau yakin mereka sering bertemu untuk berkencan?”
“aku... aku tidak tau.”
Suho menghela nafas panjang, “aku perhatikan Sena tadi kurang baik saat mengantarkan ini,”
“kurang baik?! maksud Hyung, Sena sakit? Harusnya juga dia ada di panti asuhan, kenapa dia malah ke sini?”
“entahlah, jika kau benar-benar khawatir padanya cek saja sendiri. Dia sudah berani mengantarkan ini padamu kenapa kau masih saja keras kepala?”
Jaeha tak berkata apapun, “dan lagi, aku ingin mengajukan pertanyaan yang mungkin merupakan pilihan terberat untukmu.”
Jaeha menatap Suho, begitupun sebaliknya, “kau memilih siapa antara Sena dan Helena? Helena masa lalumu, sekarang kau sedang bersama dengan Sena. Kau akan kembali pada masa lalumu atau melanjutkan keinginanmu untuk mendapatkan lebih dari Sena?”
“Jae, jangan memilih keduanya. Seseorang akan sangat tersakiti pada akhirnya. Kau harus memilih diantara mereka mana yang ingin kau perjuangkan. Aku berkata seperti ini karena aku peduli padamu, kau sudah seperti adikku sendiri aku ingin yang terbaik untukmu. Tolong pikirkan baik-baik mana yang lebih kau cintai..”