Maybe I Love You

Maybe I Love You
43. Apa Yang Ku Rasa



Bibi Hanmi yang baru saja terlelap langsung terbangun, membuka matanya lebar-lebar begitu mendengar suara pintu yang terbuka cukup keras. ia segera berdiri begitu melihat Jaeha masuk dengan terburu-buru diikuti Nyonya Park.


“Sena baru saja tidur.” Bibi Hanmi menjelaskan kalau Sena baru saja minum obat. Ia tersenyum kecil melihat Jaeha yang begitu mengkhawatirkan Sena, rasanya perkataan Bibi Hanmi pun entah di dengar Jaeha atau tidak.


Jaeha berjalan mendekat sambil terus menatap wajah Sena yang tertidur pulas, ia kemudian duduk di kursi di samping ranjang Sena. Tangannya terulur, menyentuh, lalu menggenggamnya. Dalam diam Jaeha menyesal, ia bertanya dalam hati kenapa bisa seperti ini?


Setelah pertengkaran hebat itu Sena kini terbaring di ranjang rumah sakit, itu karena dirinya. Jaeha menunduk terisak, tanganya masih terus menggenggam tangan Sena, perempuan itu sama sekali tak terganggu, masih tertidur, bahkan mungkin semakin pulas.


Bibi Hanmi dan Nyonya Park saling menatap memperhatikan Jaeha, keduanya merasa terharu, begitu juga merasa lega karena ini bukan hanya sekedar pura-pura. Ini jelas bukan hanya sekedar kedok di depan mereka. Jaeha mencintai Sena itu nyata.


Nyonya Park sudah pergi, ia harus menghadiri acara pembukaan salah satu butik di Gangnam. Jaeha menyuruh Bibi Hanmi untuk pulang, ia yang akan menjaga Sena.


“Kau yakin?”


“Aku yakin, mungkin Sena tidak akan memperdulikanku tapi, aku akan tetap di sini. Sena sakit karena aku, aku harus menebusnya.”


“Aku tidak tau kalian ada masalah apa, tapi Jaeha, aku ingin kau tetap bersama dengan Sena apapun yang terjadi. Sena membutuhkanmu.”


“Tapi aku bukan suami yang baik. Aku sudah menyakiti perasaannya aku mengingkari janjiku.”


“Jadi kau ingin melepaskannya pergi begitu saja?”


Jaeha tak menjawab, Bibi Hanmi tau Jaeha juga pasti merasa berat jika harus berpisah dari Sena. Diamnya Jaeha, memperkuat keyakinan Bibi Hanmi. “Berubahlah. Berubahlah menjadi lebih baik bagi Sena. Bagi orang lain mungkin tidak ada kesempatan kedua, tapi aku yakin Sena akan memberikannya untukmu asal kau bisa jujur dengan perasaanmu sendiri. Beritahu dia kalau kau sangat mencintainya dan kau juga tidak ingin kehilangan dia.”


Jaeha menatap wajah Sena dalam diam, tangannya terulur membetulkan anak rambut yang menutupi kening Sena. Jaeha tersenyum samar.


‘Aku tidak ingin kalian berpisah, entah apapun itu masalahnya, aku akan mendoakan yang terbaik untuk kalian berdua.’


Bibi Hanmi pamitan untuk pulang, ia berkata jika ada apa-apa Jaeha harus menghubunginya, Jaeha mengiyakan.


Kedua matanya kembali memandang tangan Sena yang sedang ia genggam, ‘Sena...’ Jaeha mencium tangan itu untuk pertama kalinya, ‘Maafkan aku, aku akan meminta pengampunan darimu. Aku sudah banyak membohongimu, bahkan membuatmu seperti ini. Maaf karena keegoisanku kau harus terluka, maaf jika aku baru sadar kalau aku mencintaimu.’


**


Helena termenung menatap ke luar dalam mobil Minho, sejak Minho menjemputnya Helena tak mengeluarkan sepatah katapun padanya. Yang dilakukan perempuan itu hanya diam.


“Kenapa Jaeha tidak menjemputmu?” Sudah yang ke tiga kalinya Minho bertanya seperti itu pada Helena, tapi tak ada jawaban yang keluar.


“Apa kau sungguh seorang Kakak? Kau benar-benar Kakaknya Sena?”


“Apa yang kau bicarakan? Aku memang Kakaknya Sena, aku sudah katakan padamu saat pertama kali kita bertemu. Kau lupa?”


“Kau... membantuku mendapatkan kembali Jaeha, apa sungguh karena ingin membebaskan Sena dari pernikahan palsunya? Atau ada alasan lain?” Helena masih tak mengalihkan pandangannya, berbicara tanpa menatap Minho.


“Aku sudah menjelaskan alasannya padamu. Kau tak perlu bertanya lagi.”


“Aku rasa Jaeha mencintai Sena.” Tepat saat itu lampu merah menyala, “Sena masuk rumah sakit dan Jaeha sangat panik. Saat aku keracunanpun Jaeha tidak sepanik itu, bahkan saat Jaeha menyelamatkanku kemarin Jaeha tak sepanik itu, aku bisa merasakannya.”


“Kau... kau bilang Sena di rumah sakit?”


“Rumah sakit mana? Sena di rumah sakit mana?”


“Universitas Myungsei.” Minho langsung menancapkan gasnya menuju rumah sakit, dengan cepat ia menyalip mobil-mobil di depannya membuat Helena berpegangan kuat pada sabuk pengamannya.


‘Tatapan mata itu kekhawatiran itu, itu bukan hanya sekedar kekhawatiran seorang Kakak terhadap Adiknya. Apa dia mencintai Sena? atau aku terlalu berpikir berlebihan?’


Helena ikut masuk ke rumah sakit, meskipun ia tidak bisa berjalan menyeimbangi Minho tapi ia tetap menyusul. Minho berlari menyusuri lorong rumah sakit, saat hendak membuka pintu, Minho mengurungkan niatnya. Ia melihat Jaeha ada di sana, wajah yang terlihat khawatir itu membuat Minho melepaskan pegangan tangannya dari gagang pintu. Bagaimana Jaeha menciumi tangan Sena bahkan ia melihat Jaeha menangis menyesal, membuat tangannya terkepal dengan kuat. Lagi-lagi dia kalah oleh Jaeha yang selalu jadi yang pertama.


Helena datang, ia ikut melihat kenapa Minho tidak masuk ke dalam. Di sana, ia meihat Jaeha seperti apa yang di lihat Minho. Tubuhnya bergetar, batinnya bergejolak. Kedua orang itu kini sama-sama merasakan cemburu dan tak menerima apa yang mereka lihat. Helena bisa mengerti kenapa ia tidak tahan melihat ini, tapi Minho?


“Kau bisa masuk ke dalam. Kau Kakaknya kenapa harus terus berdiri di sini?”


“Apa aku harus masuk setelah melihat semuanya?”


“Setidaknya kau harus bersikap layaknya seorang Kakak, kesampingkan dulu niatanmu untuk memisahkan mereka..”


“Aku tidak yakin akan diterima dengan baik.”


Minho memilih pergi, sedangkan Helena, perempuan itu masih berdiri mengintip Jaeha yang terus menggenggam tangan Sena. Helena sadar ada perbedaan besar dalam perlakuan Jaeha padanya, ya... Jaeha sudah berubah. Jaeha tak pernah seperti itu padanya setelah semua yang dialaminya di sini.


‘Apa kau sungguh mencintainya?’


Sore harinya Sena terbangun, cahaya mentari senja yang menerpa wajahnya membuat ia ingin mengangkat tangannya untuk menghalau cahaya tersebut yang menyilaukan kedua indera pengelihatannya.


‘Kenapa tanganku berat sekali?’


Saat kedua matanya melihat ke arah tangan kanannya, kedua mata itu langsung terbuka lebar melihat siapa yang tidur sambil memegangi tangannya tersebut.


‘Dia... datang...’


Cukup lama Sena menatap wajah Jaeha yang tertidur pulas, ‘Sepertinya dia baru saja tertidur.’ Rasanya betah menatapnya seperti ini. Andai semuanya berjalan normal dan dengan semestinya, ia sekarang ingin mengatakan kalau Jaeha akan menjadi seorang Ayah.


‘Apa kau akan bahagia jika aku memberitahukannya padamu?’


Sena sedikit memiringkan tubuhnya menghadap Jaeha, tangan kirinya terulur menyentuh beberapa helai rambut Jaeha, berharap pria itu tak merasa terusik dengan tindakannya ini karena ia ingin seperti ini lebih lama.


‘Sayang, Ayahmu ada di sini. Apa kau senang?’ Sena tersenyum meskipun ia menitikkan air matanya. Air mata bahagia, kesedihan, penyesalan, semuanya terkumpul dalam satu tetesan yang mengalir dari sudut matanya.



‘Tangan ini...’ Sena menyentuh pelan tangan Jaeha agar si pemiliknya tak terbangun, ‘Sungguh sangat hangat. Kau ingin di sentuh oleh Ayahmu? Oh tidak, jangan sekarang sayang. Biarkan ayahmu tidur. Dia kelihatan sangat lelah sekali.’ Betah, sekarang Sena sangat betah seperti ini. Ia berharap Jaeha akan tertidur lama sampai besok pagi.


‘Jaeha... jika aku tidak ingin melepaskanmu, apa kau akan tetap bersamaku? Maafkan aku karena aku mencintaimu, maafkan aku karena aku memiliki perasaan itu terhadapmu. Kau tak perlu memaksakan diri untuk mengataka kalau aku penting dalam hidupmu, karena harusnya aku tidak ada dalam kehidupanmu. Harusnya aku tidak boleh mencintaimu, membiarkanmu menggantikan posisi Minho dalam hatiku, seharusnya aku menahan perasaan ini agar tidak semakin mendalam. Maafkan aku.’


Jaeha bergerak dalam tidurnya mencari posisi nyaman, tangan Jaeha bergerak melepaskan diri dari sentuhan Sena, tapi ternyata tangan tersebut kini malah berada di atas tangan Sena, bergerak menggenggam tangannya, membuatnya merasa hangat. Dalam senyum penuh kehangatan itu Sena ikut kembali memejamkan matanya, rasa hangat yang mengalir dari tangan Jaeha membuatnya benar-benar merasa nyaman untuk kembali tertidur.