Maybe I Love You

Maybe I Love You
45. Stay With Me



Sepulang dari rumah sakit, Sena harus rela kembali sekamar dengan Jaeha karena Ibu mertua dan Neneknya ikut menginap entah untuk berapa hari. Jaeha mengunci rapat kamar Sena agar tidak ada yang bisa masuk, ia sudah memindahkan beberapa pakaian milik Sena ke kamarnya karena ia diberitahu lebih dulu jadi Jaeha punya persiapan.


Mereka kini tengah berkumpul bersama di ruang keluarga sambil menonton acara televisi bersama, kebetulan juga Tuan Park mampir sebelum pergi ke bandara untuk urusan bisnisnya di Jepang. Sebenarnya Jaeha juga harus ikut pergi, tapi Tuan Park mengerti kalau Sena lebih membuatuhkan Jaeha dari pada pekerjaannya.


“Lain kali jangan terlalu banyak makan-makanan pedas, akibatnya jadi seperti ini kan?”


“Ne, Abeonim. Sudah lama sekali aku tidak makan pedas jadi, aku tidak bisa menahan diri.” Sena menikmati puding yang di bawa oleh Tuan Park


“Sena memang keras kepala, dia tidak akan pernah kapok.” Nenek Nam menimpali, Sena hanya nyengir dengan wajah polosnya


“Dan kau Jaeha,” Tuan Park kini berbicara pada Jaeha, “Mungkin kau bosan mendengar ini, tapi aku akan mengatakannya juga. Jaga Sena dengan baik, tidak perduli Sena sudah sembuh pun kau harus tetap menjaga dan merawatnya dengan baik.”


“Ne, Abeoji.”


Nyonya Park menatap Sena dan Jaeha secara bergantian, “Kalian juga harus segera berbaikan, tidak baik saling berseteru terlalu lama.” Sena dan Jaeha hanya menjawabnya dengan senyuman, Sena sendiri hanya akan mengikuti alurnya, dia tidak akan memulai duluan untuk berdamai. Ia tidak salah, itulah yang ia tau.


Nenek Nam, Nyonya Park, dan Tuan Park menyadari bahwa keduanya masing tidak mau untuk saling bicara, bahkan untuk saling menatap pun Sena dan Jaeha terlihatenggan. Tapi satu yang mereka sadari, kalau Jaeha berniat untuk memperbaiki semuanya, hanya saja Sena yang masih berkeras hati terhadap Jaeha. Dalam berumah tangga memang wajar jika ada pertengkaran, mereka juga pernah mengalaminya. Mereka saling memandang, memaklumi apa yang terjadi pada Sena dan Jaeha, mereka sebenarnya masih belum dewasa secara sepenuhnya, mereka yakin kalau Sena dan Jaeha akan berbaikan, segera.


**


Setelah empat hari tiga malam Nyonya Park dan Nenek Nam menginap, akhirnya Sena bisa bernafas lega karena Nenek dan Ibu mertuanya sudah pergi. Ia duduk di kasur, tersenyum sambil mengusap perutnya dengan lembut.


“Sayang, malam ini kita tidur berdua lagi. Maaf Ibu tidak bisa membiarkanmu tidur bersama dengan Ayahmu, meskipun kau ingin.”


Suara pintu tertutup membuat Sena kaget bukan main, itu bukan pintu kamarnya tapi pintu kamar mandi. Jaeha baru saja keluar dari sana. Pantas saja dia tidak ada saat mengantar Ibu dan Neneknya pulang.


‘Dia, tidak mendengar perkataanku barusankan?’ Sena mulai merasa deg-degan ketika Jaeha berjalan mendekat sambil menatapnya. Pria itu berjongkok di hadapannya, mereka hampir saja sejajar. Sena mulai was-was saat Jaeha menatap bagian perutnya, ia berharap, benar-benar berharap kalau suaranya yang cukup keras tadi tak terdengar oleh Jaeha dari kamar mandi.


Tanga Jaeha bergerak menyentuh perut Sena, perasaannya berdesir hebat saat telapak tangan itu menyentuh perutnya. Jujur saja ia ingin menangis. “Perutmu sakit lagi? Kau dari tadi terus menyentuh perutmu.” Jaeha bahkan mengusap-ngusapnya meskipun sebenarnya ia takut kalau Sena akan menolak. Ia ingin berbaikan dengan Sena, ia tak betah Sena terus bersikap seperti ini padanya.


Sena memalingkan wajahnya, “Tidak.” Jawabnya dingin


Jaeha menurunkan tangannya, ia tau Sena tak ingin ia terus menyentuh perutnya.


“Aku akan memindahkan barangku.” Sena segera berdiri, melangkah ke lemari untuk mengambil bajunya lebih dulu. Saat akan membuka pintu lemari, Jaeha tiba-tiba saja datang dan menutup pintunya, menimbulkan suara yang keras.


“Di sini saja.” Sena menelan ludahnya dengan berat, “Jangan pindah, di sini saja.” Kepala Jaeha menunduk sampai menyentuh pundak Sena, kedua tangannya kini melingkar memeluk Sena dari belakang. “Di sini saja.”


Sena merasakan pundaknya yang basah, “Kau...” Jaeha semakin mengeratkan pelukannya, ia tak akan membiarkan Sena pergi dari kamarnya.


Sena khawatir karena tekanan kuat yang dilakukan Jaeha pada perutnya, ia masih takut. Sena berusaha melonggarkannya, ia tak meminta Jaeha untuk melepaskan pelukannya hanya saja ia ingin pelukannya sedikit melonggar. Jaeha menurut. Asal Sena tak pergi ia akan menurut.


“Aku tidak akan pergi. Aku ada di kamar sebelah.”



Jaeha menggeleng, ia mulai menciumi ceruk leher Sena. Mata perempuan itu terpejam, tiba-tiba saja ia merasa terpancing dengan rayuan Jaeha, pria itu sekarang sudah tau di mana area sensitif Sena. Sena menjauhkan kepala Jaeha dari lehernya, ia ingin berbalik tapi Jaeha tak mengijinkannya.


“Jika kau seperti ini, aku benar-benar akan pergi!” Pelukan Jaeha terlepas, Sena akhirnya bisa berbalik untuk melihat Jaeha. Matanya berpendar begitu melihat kedua mata Jaeha yang basah oleh air mata. Ia baru melihat Jaeha seperti ini.


‘Kenapa kau menangi? Kenapa kau menangis Jaeha? Kau bahkan tidak bisa memilih aku, kau tidak memilihku kenapa kau menangis?’


Tangan Sena terulur, ibu jarinya bergerak lembut mengusap kedua mata Jaeha yang kini tertutup, “Uljima. Kau terlihat sangat lemah jika seperti ini.”


Sena berusaha memberikan senyumnya untuk Jaeha, “Aku ada di kamar sebelah, jika kau masih bersalah, maka teruslah merasa bersalah! Tapi itu juga bukan sepenuhnya salahmu.”


‘Takdir yang salah.’


“Semalam lagi!”


“Hm?”


“Semalam lagi! Tidurlah di sini semalam lagi! Setelah malam ini, kau boleh tidur di kamarmu.” Ucap Jaeha dengan nada kecewa, tapi sorot matanya penuh dengan pengharapan. Sena terdiam sesaat, tapi ia kemudian memberikan senyumnya.


**


Sujin dan Hyunjae sedang berbelanja bersama, mereka berniat akan memasak bersama untuk makan malam. Yang paling exited adalah Sujin, ia selalu ingin melakukan hal tersebut dengan kekasihnya, dan malam nanti akan menjadi kenyataan. Awalnya Hyunjae selalu menolak karena ia tidak bisa memasak, meskipun sekarang pun masih belum bisa, tapi ia sudah tau bagaimana cara memotong atau pun mengupas buah dan sayur, tak banyak yang ia bisa, tapi lumayan bisa sedikit membantu Sujin, dan ia setuju untuk melakukannya malam ini.


Sujin mengeluarkan catatannya, ia melihat daftar bahan yang sudah terbeli. “Ini sudah,” Sambil sesekali melihat ke troli, Hyunjae hanya diam memperhatikan. “Ini sudah, sudah, sudah, hmmm... tinggal bahan untuk galbijjim! Iga, kita harus beli iga sapi!”


Sujin dan Hyunjae sampai di bagian daging, setelah melihat-lihat mereka pun akhirnya menentukan pilihan dari berbagai macam pilihan iga sapi. “Kita lupa membeli buah pir. Aku akan pergi mengambilnya.”


“Hyunjae!”


Sujin dan Hyunjae melihat ke arah suara, seorang perempuan tersenyum tapi juga dibaluti dengan kekagetan.


“Sudah lama kita tidak bertemu.” Sujin melirik pada Hyunjae, Sujin makin merasa dikompori ketika melihat ekspresi kekagetan Hyunjae, bagi Sujin, Hyunjae saat ini seperti sudah tertangkap basah berselingkuh.


“Aku tidak manyangka bisa bertemu denganmu di sini.”


“Helena.” Sujin terbelalak kaget dengan ucapan Hyunjae barusan, kedua matanya bergantian menatap Helena dan Hyunjae.


‘Perempuan ini... Helena?!!!’


Hyunjae dengan ragu menerima jabatan tangan dari Helena. Melihat Hyunjae menerima jabatan tangan itu Sujin semakin memanas, ia segera mencubit pinggang Hyunjae agar melepaskan jabatan tangan mereka.


“Bagaimana kabarmu? Sudah lama sekali sejak saat itu bukan?” Senyumnya kini sedikit memudar.


“Kabarku baik. Iya, sudah cukup lama. Kau tinggal di Seoul?”


Helena mengangguk, “Aku... ingin menemui seseorang. Orang yang sangat aku rindukan.”


“Nappeun nyeon!” Hyunjae langsung melirik Sujin dengan tatapan kaget, sedang kekasihnya itu memberikan ekspresi seolah tak mengatakan apapun.


“Nde?”


“Ah, itu di belakangmu barusan ada perempuan yang merusak rumah tangga temanku. Perempuan ******!” Sujin segera menahan tangan Hyunjae yang akan menyentuh pinggangnya yang berniat menenangkan Sujin. Hyunjae tidak tau kalau Sujin akan bicara sembarangan seperti ini, ia juga tidak suka. Tapi bukannya harus ada aturannya sendiri meskipun kita tidak menyukai sesuatu?


“Dia kekasihmu?” Tanya Helena pada Hyunjae


“Ne, dia calon istriku. Namanya Sujin.”


“Senang bertemu denganmu.” Helena kembali mengulurkan tanganya untuk berjabat tangan dengan Sujin, sebagai tanda perkenalan.


Sujin melihat tangan Helena, “Ne.” Tapi tak di terimanya, Hyunjae lagi-lagi geleng-geleng kepala, ia harus segera mengakhiri pertemuan ini sebelum Sujin melakukan hal yang lebih ekstrem.


“Maafkan dia, moodnya memang sedang kurang bagus hari ini.”


“Benar. Moodku benar-benar buruk setelah melihat perempuan perusak itu!” Hyunjae memegang tangan Sujin di pegangan troli.


“Eum, kami masih harus berbelanja keperluan yang lain. Maafkan untuk pertemua kali ini Helena.”


“Tidak apa-apa. Aku harap hubungan kalian langgeng.”


Hyunjae menggenggam tangan Sujin, ia berbsik agar Sujin jangan berkata apapun lagi pada Helena. Setelah tak terliat lagi oleh Helena, Sujin melepaskan diri dari Hyunjae.


“Kenapa kau berkata seperti itu?” Tanya Hyunjae


“Jadi perempuan itu yang bernama Helena?” Hyunjae mengangguk, ia memina Sujin untuk mengecilkan volume suaranya, karena mereka masih di supermarket.


“Bagaimana mungkin aku tidak emosi melihatnya? Dia yang membuat Sena terluka, perempuan itu dan juga Jaeha!”


“Aku tau, tapi kau harus tahan emosimu. Jangan bicara sembarangan apalagi di hadapannya, kita tidak boleh memperlihatkan rasa ketidak sukaan kita terhadap seseorang.”


“Aku tidak mau jadi orang munafik! Kau ini lebih membela Jaeha ya dari pada Sena?!”


“Bukan begitu sayang, aku sudah bilang padamu. Meskipun Jaeha sahabat baikku, tapi kalau dia salah aku tidak akan pernah membelanya.”


“Ah sudahlah! Aku tidak mood untuk makan malam denganmu! Ambil ini!” Sujin melemparkan catatannya pada Hyunjae kemudian pergi meninggalkan pria itu sendirian.


“Meskipun aku berbuat salah saat dia sedang datang bulan, dia tidak pernah semarah ini padaku. Perempuan memang selalu benar tidak pernah salah.”


---#---


Abeoji/Abeonim \= Ayah (formal), Abeonim biasanya digunakan untuk memanggil ayah mertua.


Nde? \= ya?


Nappeun nyeon \= perempuan jahat/perempuan ******.