
Sena akan menutup pintu kamarnya tapi di tahan oleh tangan Jaeha yang tiba-tiba saja muncul, saat Jaeha masuk Sena tak bisa melarangya. Ia ingin mengusir Jaeha dari kamarnya atau bahkan pulang ke rumahnya tapi ia malas bicara.
Sena lebih memilih pergi ke balkon untuk menghirup udara segar, tapi tubuh Sena kembali tertarik ke dalam kamar.
Sena menatap tak suka pada Jaeha karena sudah mengganggu ketenangannya, “Sena kenapa kau tidak bicara kalau kau akan ke rumah Nenek? Kau membuatku khawatir, bukan hanya aku tapi Bibi Hanmi dan Paman Bong juga.”
Sena tak menjawab, pandangan matanya menuju ke luar seolah tak mendengar apa yang Jaeha katakan. “Sena aku ada di sini, aku bertanya padamu, aku bicara padamu Sena!”
“kau membentakku?”
“tidak bukan begitu, setidaknya tatap aku, jawab pertanyaanku.”
“kenapa aku harus selalu padamu ke mana aku akan pergi? Kau saja tidak pernah bilang padaku, kenapa aku harus bilang? Aku sudah bosan mendengar pertanyaan itu darimu dan aku juga sudah bosan memberikan jawaban yang sama padamu.”
“apa aku melakukan kesalahan? Kau bersikap aneh padaku tak seperti biasanya.”
“sudah ku bilang kau tak salah apapun!” Sena melepaskan tangan Jaeha yang sedari tadi memegang pundaknya.
“baik, aku akan memberitahukan semua jadwalku padamu. semua yang ku lakukan, kemana aku akan pergi dan aku sedang apa, aku akan memberitahukannya semua padamu. tapi kau harus melakukan hal yang sama, kau harus memberitahuku kemana kau akan pergi kau harus ijin dulu padaku.”
“kau akan melakukan itu? kau yakin akan memberitahukan semuanya padaku? Dengan jujur?”
Deg!
Seperti ada pukulan keras pada jantung Jaeha saat mendengar pertanyaan Sena. Jujur?
“aku akan melakukannya.”
“cih, aku tidak yakin, aku tidak percaya.” Sena berjalan ke arah pintu, “Sudahlah, aku tidak butuh semua yang kau bicarakan tadi!” Sena mempersilahkan Jaeha untuk keluar dari kamarnya.
“kenapa aku harus keluar?”
“ini kamarku, aku ingin istirahat sebentar. Kau datang ke sini membuatku semakin pusing.”
Jaeh berjalan menghampiri Sena, tapi bukannya keluar Jaeha malah menggendong Sena lalu menghempaskan tubuhnya ke atas kasur.
“apa yang kau lakukan?! Aku menyuruhmu keluar!”
Jaeha naik ke atas kasur, ia langsung tidur di samping Sena sambil melingkarkan tangannya memeluk pinggang Sena.
“aku juga butuh istirahat.” Mata pria itu kini terpejam, “marahnya nanti lagi, hm? Ijinkan aku tidur, aku juga lelah. Aku tidak tidur semalaman karena ada masalah di kantor, kepalaku juga pusing.”
Jaeha semakin merapatkan dirinya pada tubuh Sena begitu pula dengan pelukannya, Sena tak bisa berkutik. Meskipun ia marah, ia masih punya rasa tak tega pada Jaeha. Itulah yang tidak ia sukai dari dirinya yang sekarang.
“baiklah tapi jangan peluk aku seperti ini. kau membuatku sesak nafas.”
1 detik
2 detik
3 detik
4 detik
5 detik
Hening, tidak ada jawaban.
“Jaeha?” Sena bisa mendengar kalau Jaeha sudah mendengkur yang berarti pria itu sudah tertidur pulas, sudah pergi ke alam mimpi. Sena menatap wajah Jaeha cukup lama, sesekali ia tersenyum kecil entah apa yang dipikirkannya, wajahnya mendekat entah kenapa ia ingin mencium kening Jaeha saat itu juga namun ia ragu, bagaimana jika Jaeha bangun? Bagaimana jika Jaeha hanya pura-pura tidur? Ia yang akan malu sendiri setelah tadi ia marah-marah pada Jaeha. Tapi keinginannya terlalu kuat, ia akhirnya mencium kening itu dengan lembut ini adalah pertama kali untuknya karena tak pernah melakukan ini pada Minho sebelumnya.
‘Jaeha, apa mungkin aku... mencintaimu?’
**
Sujin menjemput Hyunjae di bandara, ia benar-benar bahagia karena Hyunjae mau menyempatkan diri datang untuk acara pesta ulang tahun pernikahan orang tuanya. Begitu Hyunjae melihat Sujin, pria itu langsung merentangkan tangannya, tanpa menunggu lagi, Sujin berlari lalu masuk ke dalam pelukan Hyunjae.
“bagaimana perjalananmu?” tanya Sujin masih dalam pelukan Hyunjae yang memeluknya dengan erat.
“aku pikir pesawatnya akan jatuh karena cuaca buruk.”
Sujin memukul punggung Hyunjae, pria itu mengaduh, “apa yang kau bicarakan?! Jangan berkata seperti itu! aku bisa saja menahanmu untuk tidak pergi lagi ke luar negeri!”
“baiklah, maafkan aku. kita pergi sekarang?”
Sujin menatap wajah Hyunjae yang tersenyum lembut padanya, “kajja!” Hyunjae meraih tangan Sujin, ia menggenggamnya dengan sangat erat lalu memasukkannya ke dalam saku mantelnya.
“kenapa di korea begitu dingin?”
“lihatah, di luar turun salju.” Sujin menunjuk keadaan di luar bandara, butiran putih itu mulai turun dari langit. “Mau makan dulu? Yang hangat-hangat?” tanya Sujin sambil terus bergelayut manja dilengan Hyunjae, seakan hanya ada mereka berdua di bandara.
Sujin terkekeh geli, “mwoya~ kajja! Kita bernostalgia!”
Sebelum pulang mereka mampir di restoran Sundubu-jiggae, itu adalah tempat pertama mereka kencan. tempat di mana Hyunjae merasa yakin kalau ia benar-benar mencintai Sujin. Mereka memilih tempat yang sama, posisi duduk yang sama, bahkan menu yang sama, sup tahu lembut dengan seafood.
“masih sama.” ucap Hyunjae sambil melihat sekitar
Sujin juga melakukan hal yang sama, “benar, hanya ada perubahan di sebelah sana.” Sujin menunjuk bagian pojok belakang, Sujin berkata kalau dia sering ke sini bersama dengan Sena kalau ada waktu.
“ah benar, bagaimana dengan kehidupan teman kita itu?” tanya Hyunjae sambil menatap semangkuk penuh Sundubu yang baru datang. “kamsahamnida.”
“masitge deuseyo.” Ucap si pelayan
“sepertinya mereka sedang ada masalah, tapi aku tidak tau. Mungkin juga sekarang sudah baikan,” Sujin mencoba kuahnya lebih dulu, “hangatnya.”
“masalah apa?” Hyunjae juga mengikuti
“waktu itu aku menghubungi Sena, menanyakan soal donasi dari hasil penjualan make up tapi Jaeha yang mengangkatnya, aku meminta Jaeha untuk memberitahu Sena agar menghubungiku lagi. Dua hari setelah itu aku menghubugi Sena, bertanya kenapa dia tidak menghubungiku, tapi Sena bilang kapan aku menghubunginya?”
“bisa saja kan Jaeha lupa memberitahu Sena.”
“entahlah, itu juga bisa jadi sih. Enthlah aku tidak tau mana yang benar, tapi aku rasa Sena sedang menyembunyikan sesuatu.”
“lalu kenapa kau tidak bertanya? Tanyakan padanya, siapa tau dia juga butuh teman untuk curhat.” Hyunjae menyimpan potongan kimchi ke mangkuk nasi Sujin
“aku masih belum berani bertanya, biasanya tanpa di tanya anak itu akan dengan sendirinya bercerita.”
“coba kau tanya saja, kalau memang Sena punya masalah kau harus jadi pendengar yang baik, kalau sena tidak punya setidaknya kau sudah berusaha untuk peduli. Sekarang kita makan dulu. Tapi... coba kau ajak Sena untuk datang ke pesta, siapa tau dia bersedia untuk datang.”
“baiklah.”
Beberapa menit berlalu mereka akhirnya selesai menyantap hidangan paling pavorit di restoran ini, Sujin meninggalkan Hyunjae untuk pergi ke kamar kecil, pria itu memanggil pelayan untuk membayar.
“aku ingin memesan dua sup tahu lembut kimchi, pedas.”
Hyunjae melihat ke samping kiri, ia merasa kenal dengan suara pria tersebut.
“di makan di sini atau di bawa pulang?”
“di bawa pulang” si pria menyerahkan daftar menunya
“Dongha!” pria bernama Dongha itu menengok ke arah sumber suara, mulutnya menganga kaget melihat Hyunjae sahabatnya ternyata ada di tempat yang sama dengannya.
“Hyunjae!” Dongha beralih tempat, ia menghampiri Hyunjae yang sudah berdiri menunggunya. Kedua pria itu berpelukan, mereka saling melepas rindu karena sudah lama tidak bertemu.
“kebetulan sekali! kau sehat?!”
“ini adalah sebuah kebetulan yang membahagiakan! Tentu saja! kau sendiri?” pelukan mereka terlepas
“kelihatannya?” Dongha tertawa gembira, mereka akhirnya duduk berhadapan.
“kau sudah bertemu Jaeha?” tanya Dongha
“belum, aku baru saja pulang dari Italia. Kau sendiri? Kau pasti sering bertemu dengan Jaeha!”
“aku ada waktu Jaeha sibuk, Jaeha ada waktu aku yang sibuk. Saat kami berdua ada waktu, ya kami malas pergi keluar. Apalagi Jaeha kan sekarang sudah menikah, ia pasti lebih betah di rumah lah.” Keduanya tersenyum penuh arti.
“tapi...”
“tapi apa?” tanya Hyunjae penasaran
“kau masih ingat Helena kan?”
“tentu, aku masih ingat. Dia cinta pertama Jaeha. Kenapa?”
“kau pasti tau dia menghilang sejak kejadian jatuhnya pesawat itukan?” Hyunjae mengangguk, dia tau soal itu karena saat itu dia bersama dengan Jaeha ketika mendengar kabar kecelakaan itu. “menurutmu, apa Helena masih hidup? Atau sudah meninggal?”
“kenapa kau bertanya seperti itu? tiba-tiba membahas Helena pula.”
“entah pengelihatanku yang salah atau bagaimana, aku merasa melihat Helena! Di sini, di Korea, di Seoul!”
“harapan hidupnya pasti kecil, korban dari kecelakaan pesawat jarang ada yang selamat, baik terjadi di laut apalagi di daratan, kecuali adanya keajaiban. Tapi kau yakin itu Helena? Kau tidak salah orang?”
“entahlah, aku... juga tidak yakin. Aku tidak bisa melihatnya dengan jelas karena saat itu banyak sekali orang. Sudah lama kita tidak bertemu dengan Helena, aku yakin mungkin pengelihatanku yang salah.”
“tapi, Dongha...” Dongha menatap Hyunjae, “jika... jika benar Helena masih hidup dan dia benar ada di sini, di Korea, di Seoul... menurutmu siapa yang akan di pilih Jaeha?”
“siapa Helena?!” Sujin sudah berdiri di samping mereka berdua.