
Sena membuka matanya perlahan ia bisa melihat sinar matahari yang menerobos masuk ke dalam kamarnya, ia mencari-cari guling kesayangannya tapi tak kunjung menemukannya. Gadis itu terpaksa bangun meskipun enggan untuk terbangun, gadis itu terkejut saat melirik ke samping kiri karena Jaeha lah yang tidur di sana.
“apa yang kau lakukan di sini?!” Sena melemparkan bantalnya tepat ke wajah Jaeha membuat pria itu mendengus sebal.
“kita baru menikah kemarin apa kau lupa?!” Jaeha mengacak-ngacak rambutnya frustasi! Ia bahkan tidak bisa tidur dengan tenang semalam setelah mengganti baju gadis yang sekarang berstatus istrinya itu.
“harusnya kau tidur di kamar lain kenapa tidur di sini?!” Sena mendekap erat selimutnya
“kau bercanda?! Ini kamarku seharusnya kau yang tidur di kamar lain! Tapi karena ini di rumah orang tuaku mana mungkin kita tidur di kamar terpisah, apa kata mereka nanti! Setidaknya berpikir dulu sebelum bicara! Dasar gadis bodoh!”
Sena mengerucutkan bibirnya, ia sadar sekarang “iya aku tau aku salah. tapi apa kau perlu mengataiku bodoh?!”
“kau sudah melempar mukaku dengan bantal, lalu kau berbicara seolah kau benar! Setidaknya redakan dulu rasa panikmu itu baru kau boleh bicara dan satu lagi berpikirlah yang benar sebelum kau bicara! jangan asal bicara!” Jaeha kemabali berbaring membelakangi Sena
Sena sendiri masih tetap mengerucutkan bibirnya, ia melihat tubuhnya yang kini memakai baju tidur dan itu jelas membuat matanya terbelalak kaget.
“apa kau yang mengganti bajuku?”
“kalau bukan aku siapa lagi?”
Mata gadis itu terbelalak Jaeha sudah melihat tubuhnya, semuanya! “dasar mesum! Kenapa kau mengganti bajuku!!”
Sena memukuli Jaeha membuat pria itu segera bangkit, “awww!!! Sakit! Berhenti!”
“dasar mesum! Cabul! Mencuri kesempatan dalam kesempitan!” Jaeha berusaha menangkap tangan Sena yang terus saja menghindar,
“aku terpaksa melakukannya! Apa kau mau badanmu pegal semua karena tidurmu tidak nyaman gara-gara gaun itu hah!? Berterima kasihlah karena kau akhirnya tidur nyenyak dan aku tidak berbuat hal yang menyebabkan kau sudah tidak perawan lagi!”
“harusnya kau membangunkanku! Dasar pria mesum!” Jaeha akhirnya mendapatkan kedua tangan Sena, pria itu memegangnya dengan erat membuat gadis itu sulit untuk berontak.
“ibu melarangku membangunkanmu! Lagipula kau tidur sangat nyenyak sampai kau sendiri tidak sadar gaunmu dilepas!”
Sena langsung terdiam mendengar kata ibu yang diucapkan Jaeha, “ibu datang ke kamar? Apa ibu melihatku menangis?”
“ibu datang setelah kau tertidur. Ia membawa album foto kita.” Jaeha menunjuk dengan dagunya, Jaeha juga melepaskan tangan Sena karena Sena kini sudah tenang.
“aku membebaskanmu menemui Minho atau siapapun, jadi jangan pedulikan urusanku kau mengerti?!”
“lagi pula kenapa aku harus peduli dengan urusanmu?!” Sena beranjak dari kasur ke kamar mandi untuk membersihkan badan lebih dulu karena kemarin ia tidak sempat mandi.
**
Sena akhirnya pindah ke rumah Jaeha, begitu datang para pelayan dan penjaga menyambutnya.
“kau tidur di sini.” Jaeha menunjukkan kamar Sena, gadis itu cukup puas dengan kamarnya.
“pelayan tidak akan bertanya apapun soal hubungan kita karena aku sudah memberitahu mereka.” Sena mengangguk,
“aku harus pergi, ada urusan penting.” Jaeha melihat jam tangannya
“aku juga harus pergi.” Perkataan Sena yang tiba-tiba membuat Jaeha menatap gadis itu
“kau mau pergi kemana?”
“kau bilang tidak akan mencampuri urusanku, kenapa kau bertanya?” Sena mendelik kesal,
“baiklah terserah. Kau bisa pilih mobil yang ingin kau pakai di garasi.”
“aku tidak bisa mengemudi!”
“pokoknya pilih saja yang kau suka, aku akan memilihkan supir pribadi untukmu.”
“aku lebih suka naik bus. Aku akan naik bus saja.” Sena mengambil tas kecilnya
“Tidak bisa kau harus diantar supir.”
Sena akhirnya menuruti perintah Jaeha memakai mobil pribadi, gadis itu pergi ke rumah sakit menemui Sora. Seolhyun mengatakan kondisi sora mendadak drop dan itu membuatnya cemas.
“sudah sampai nona.”
Sena bergegas pergi ke ruangan Sora, gadis itu terbaring lemah di ranjang perawatan dengan alat pendeteksi jantung yang menempel di dadanya, dan juga masker oksigen yang membantu pernafasannya.
“Seolhyun-ssi!”
“Sena-ssi!” air mata Seolhyun mengalir lagi ketika melihat Sena datang.
“kenapa? apa sebenarnya yang terjadi?”
“Sora bermain bersama anak-anak yang lain di taman mereka bermain kejar-kejaran dan itu karena aku teledor mengawasinya.”
“semua akan baik-baik saja.” Sena mengusap pelan pundak Seolhyun
“eonni, Sora akan baik-baik saja kan?”
Sena baru menyadari keberadaan Mina, Sena segera berjongkok mensejajarkan tinggi tubuhnya dengan gadis kecil itu.
“Sora akan baik-baik saja, kau harus mendo’akan sora agar cepat sembuh hm?” Sena mengusap kepala Mina membuat gadis itu tersenyum kecil.
“Mina merindukan Sora, jadi aku ajak dia kemari.” Ucap Seolhyun
“kau ingin makan atau minum sesuatu?” tanya Sena pada Mina
“tidak mau, aku akan makan kalau Sora sudah bangun.” Sena tersentuh dengan persahabatan mereka Mina sangat setia pada Sora.
Sena dan Seolhyun menemui Dokter Min di ruangannya, “apa pendonor jantungnya sudah ada?” tanya Sena
“masih belum, sangat sulit menemukan orang yang ingin dengan suka rela mendonorkan jantungnya maskipun orang itu koma atau harapan hidupnya sudah tidak ada lagi tetap saja keputusan ada di tangan keluarganya.”
“apa Sora masih bisa bertahan?” tanya Sena lagi
“untuk sekarang kondisinya masih belum terlalu buruk, tapi akan lebih cepat kalau ia segera mendapatka transplantasi jantungnya. Aku juga akan berusaha sebisa dan semampuku.”
Sena menggenggam lembut tangan Sora yang masih belum tersadar, berbagai macam pikiran muncul dalam kepalanya membuat gadis itu ingin meneteskan air matanya.
‘jika aku terbaring sekarat seperti ini, apa ibu akan datang menemuiku?’
Sena menatap wajah Sora yang polos dengan tatapan sedih.
“Sena-ssi, selamat untuk pernikahanmu.” Perkataan Seolhyun mengalihkan pandangan Sena dari Sora, gadis itu hanya menjawabnya dengan senyuman.
“maaf aku tidak bisa datang karena sora tidak ingin di tinggal, ia ingin sekali datang ke pernikahanmu tapi dokter melarangnya.”
“tidak apa-apa, ada Minyeong, Daseul dan anak-anak yang datang. kau pikir aku akan marah?”
“aku hanya merasa tidak enak padamu. aku pikir kau akan menikah dengan Minho, kalian sangat cocok.”
“takdir berkata lain.” Sena tersenyum pada Seolhuyun kemudian pandangannya kembali menatap Sora.
Pintu ruang rawat terbuka, Sena kaget karena Minho tiba-tiba datang pria itupun juga kaget karena Sena ada di sini. Tapi beberapa detik kemudian mereka saling tersenyum.
“aku tadinya menghubungi Minho, tapi karena Minho ada pekerjaan penting dan aku terlalu panik jadi aku menghubungimu.” Ucap Seolhyun pada Sena
“sekarang lebih baik.” jawab Seolhyun
Minho menghampiri Sena dan Sora, tangannya mengusap lembut kening Sora.
“kau sudah lama di sini?”
“hampir satu jam mungkin. Pekerjaanmu sudah selesai?” Minho mengangguk,
“kau mau makan siang bersamaku?”
Sena memakan tonkatsu pesanannya dengan lahap membuat Minho tersenyum senang, ia menatap ke arah jari manis Sena,
“kau tidak memakai cincin pernikahanmu?”
Gadis itu mendongak sambil memasukan potongan tonkatsu kedalam mulutnya, “aku hanya memakainya saat akan bertemu dengan keluarga, Jaeha juga begitu.”
“begitukahau bilang hari ini kau pindah ke rumah Jaeha?”
“iya, setelah mendapatkan kamarku aku langsung pergi ke rumah sakit karena aku sangat cemas mendengar keadaan Sora.”
“aku juga, begitu mendengar aku ingin langsung pergi tapi aku tidak bisa meninggalkan pekerjaanku.”
“oppa boleh aku minta tambah tonkatsunya?”
Minho tersenyum geli “pesan saja! mau nambah 10 porsi pun boleh.”
Minho menatap Sena yang memakan tonkatsu dengan lahap, sesekali pria itu tersenyum geli melihat tingkah Sena yang seperti baru pertama kali lagi memakan tonkatsu.
“oppa kau tidak makan?” Sena melihat spageti di depan Minho masih utuh sama sekali belum disentuh.
“aku tidak lapar.”
“lalu kenapa kau mengajakku makan siang? Kenapa juga oppa memesan makanan kalau tidak lapar.”
“karena aku tau kau belum makan siang.”
“uuu~ aku suka dengan orang yang peka.” Sena mengambil spageti milik Minho
“untukku ya?” Minho mengangguk.
“dasar gadis rakus.” Minho mengelap saus spageti di sudut bibir Sena, membuat pipi gadis itu merona.
**
“pembangunan proyek di Jeju adalah proyek besar yang membutuhkan anggaran sebesar 3 miliyar won—“
“lansung saja ke poin inti, apa masalah sebenarnya?” Jaeha memotong ucapan direktur Han
“hotel Hwanso akan menyewakan 20 lantai antara lantai 30 sampai lantai 50. Mereka ingin merubah persyaratan dari menyewa menjadi investasi.” Ucap Suho
“jadi kita akan memiliki 20 lantai kosong?” tanya Jaeha
“setidaknya ada 400 kamar. Kita perlu alternatif lain karena ini adalah sebuah hotel.” Direktur Heo menambahkan
“apa kita berhutang uang pada mereka? apa yang mereka pikirkan sampai mereka bisa meminta hal seperti ini?”
“sepertinya mereka memliki investor dari Taiwan.” Jawab Direktur Han
“dia menghianati kita begitu mendapatkan pacar yang kaya dari Taiwan.” Jaeha menyandarkan punggungnya di kursih,
“perluas jangkauan perusahaan asing yang mungkin tertarik, dan cari rekan bisnis yang memungkinkan dalam proyek ini, itu saja.”
Suho dan Jaeha masih ada di ruang rapat, “hyung kau sudah menemukannya?”
“perusahaan suaminya bangkrut dan mereka pindah setelah semua yang dimilikinya habis, aku masih mencari kemana mereka pergi.”
“terima kasih hyung, aku berharap ada kabar baik.”
“lalu bagaimana dengan Sena?”
“aku akan memikirkannya nanti, sekarang aku hanya ingin tau bagaimana kabarnya dan dimana dia.”
Sena pulang malam diantar Minho tepat saat itu juga mobil Jaeha berhenti di depan mobil mereka. begitu Jaeha memandan Sena yang masih belum keluar dari mobil Minho tapi tak berapa lama pria itu langsung pergi masuk ke dalam rumah.
“dasar!” guman Sena
“tidur yang nyenyak.” Minho mengusap pipi Sena,
“oppa juga. Selamat malam.”
Sena menaiki tangga menuju ke kamarnya, gadis itu melihat lampu di kamar Jaeha masih menyala.
“dia sudah tidur atau belum? Wajahnya ketus sekali.”
Setelah selesai membersihkan diri, Sena langsung naik ke kasur dan menarik selimutnya berharap ia bisa tidur setelah minum dua gelas kopi, Sena mematikan lampu utama hanya menyisakan lampu tidur dan perlahan menutup matanya.
Gadis itu membolak balikkan tubuhnya, ke kiri dan kanan, tengkuran dan terlentang. “aku tidak bisa tidur!”
Sena melihat jam di nakas, “jam 1. Aku ingin tidur!!”
Sena beralih ke ruang keluarga, ia memilih menonton acara di televisi “ini dia, acara komedi.”
Jaeha sendiri ternyata tidak bisa tidur, pikirannya terbagi bercabang membuatnya pusing. banyak hal yang ia pikirkan terutama Helena dan dia juga sedikit mengingat masa kecilnya bersama Sena.
“hahahahahahahahaha!”
Jaeha tersentak mendengar suara tawa yang begitu keras, ia melihat jam di nakas “01.30. dia belum tidur?”
Jaeha keluar dari kamarnya ia turun menuruni tangga, langkahnya terhenti melihat Sena sedang asyik menonton acara di televisi sambil makan keripik kentang.
“hahahahahha ya ampun perutku. Uhuk uhuk! Uhuk uhuk!”
Jaeha tersenyum melihat Sena tersedak karena ulahnya sendiri, “kau belum tidur?”
Sena melirik ke arah sumber suara, gadis it terkejut karena ia tidak tau sejak kapan Jaeha ada di sana. “aku tidak bisa tidur karena 2 gelas kopi. Kau sendiri kenapa belum tidur?”
“karena kau tertawa sangat keras aku jadi terbangun. Berhentilah tertawa dan cepat tidur!” Jaeha melangkahkan kakinya kembali ke kamarnya.
“cih, dimana ada tertawa yang tidak keras. dia kekurangan asupan lelucon!”
Beberapa menit berlalu Jaeha tidak lagi mendengar suara tawa Sena, “apa dia sudah tidur?”
Jaeha mengecek kamar Sena, tapi kosong. “dia belum kembali ke kamarnya.”
Suara televisi masih bisa dia dengar membuatnya melangkahkan kaki ke ruang keluarga lagi, Jaeha melihat Sena dalam posisi berbaring menyamping menghadap televisi di sofa, Jaeha kini berdiri di belakangnya, “ini sudah jam 2 lebih kau harus tidur!”
Tidak ada jawaban, “kau mendengarku?” Jaeha beralih ke hadapan Sena,
“pantas saja.”