
Leon benar-benar memberikan Mera dan Jaeha waktu untuk berdua, Leon menyuruh Jaeha untuk tinggal di rumahnya menemani Mera dan Arthur selama dia pergi keluar kota untuk lima hari kedepan. Setelah melihat ada kemajuan diantara mereka, Leon sangat berterima kasih pada sekertarisnya karena menyetujui pertemuan di luar kota yang cukup jauh pula.
Mera mendelik kesal pada Leon sebelum keberangkatannya, dari pada bekerja Mera tau kalau Leon akan mendapatkan liburannya lebih banyak. “Tenang, aku akan membelikan kalian oleh-oleh. Kalian harus berdamai, jangan membuat keributan di rumah, jika kalian ingin membuat Arthur ketakutan dan menangis lagi, ya~ terserah saja.” Mera tak menjawab, ia malah membuang muka, bukan berarti ia benar-benar tidak suka dengan situasi ini hanya saja... semua perasaannya masih bercampur aduk seperti sebuah adonan kue.
Leon mendekat pada Jaeha, “Lakukan pendekatanmu mulai dari sekarang, bicarakan apa yang harus kau bicarakan, ungkapkan perasaanmu yang sebenarnya.” Bisik Leon, Jaeha mengangguk mengerti.
“Kakak berangkat dulu. Arthur jangan nakal ya, jadi anak yang baik. Om pergi dulu, muah.”
Setelah mengantar kepergian Leon, mera meminta disiapkan air hangat untuk mandi Arthur, setelah beberapa hari hanya di lap kain basah sekarang Arthur akan kembali mandi karena sudah benar-benar sembuh. “Kita mandi sekarang! Kau senang?” Baby Arthur mulai kembali bergerak aktif dan merespon kata-kata Mera.
“Mera,” Perempuan itu berbalik menatap Jaeha yang baru saja memanggilnya, “Boleh aku yang memandikan Arthur?” Jaeha akan melakukan pendekatan apapun agar bisa kembali dekat dengan Mera, tapi ia juga ingin sekalian belajar mengurus bayi karena saat menjadi Rico ia hanya bisa memperhatikan saja. Mera memberi kode agar Jaeha ikut dengannya ke kamar mandi, Jaeha pun tersenyum senang.
Baby Arthur sangat gembira saat tubuhnya masuk ke dalam air membuat suasana yang canggung berubah seketika, “Hati-hati lehernya,” Mera dan Jaeha seakan lupa dengan jarak yang ada, jarak yang jauh tiba-tiba saja menjadi terasa sangat dekat. Berbicara bersama, tersenyum dan tertawa bersama, bahkan sampai bertatapan sambil tersenyum seperti tak pernah terjadi pertengkaran apapun.
“Hhhmmm, anak Ayah sudah wangi.” Athur tertawa saat Jaeha menciumi perutnya, Mera tak menyangka Arthur bisa sesenang itu. “Ini tangannya ini, mmmuuaahh~!” Arthur berceloteh ketika Jaeha mengajaknya berbicara, benar-benar sesuatu yang begitu menghibur.
‘Aku senang Arthur kembali ceria, sehat terus ya anak Ibu.’
“Mera...”
“Hm?” Jawabnya sambil tetap fokus pada Arthur.
“Saranghae.”
Jari-jari tangannya yang sedang bermain langsung terhenti. Deg-deg-deg, jantung Mera tiba-tiba saja berdetak cepat. Serangan tiba-tiba ini membuatnya tidak baik-baik saja! Ia merasa seperti salah dengar tapi Jaeha dengan sangat jelas mengatakan sebuah kata yang selalu ingin dia dengar dari seorang Park Jaeha. Ia ingin meminta Jaeha untuk mengatakannya lagi tapi harga dirinya menentang keras untuk meminta hal itu.
“Mera, aku bersungguh-sungguh. Kau pasti akan mengatakan kalau waktuku sama sekali tidak pas, tapi aku ingin Arthur juga tau kalau aku benar-benar mencintaimu.” Jaeha menggenggam kedua tangan Mera, “Jika kau ingin aku menjelaskan kembali semuanya aku akan jelaskan, tapi sungguh aku mencintaimu. Maaf karena aku tidak segera mengatakan perasaanku padamu dan malah membuatmu pergi dari sisiku, maaf karena aku tidak tau kalau kau hamil dan malah menyakitimu, aku sungguh-sunggu minta maaf.”
Mera tak bisa berkata-kata, ia ingin menangis tapi air mataya tidak mau keluar.
“Sejak kau hadir dalam hidupku aku mulai bisa melupakan Helena bahkan sampai sepenuhnya, aku tidak perlu menjelaskan kenapa Helena datang karena kau pasti sudah tau lebih dulu dari pada aku. Kau juga pasti berpikir aku berbohong karena aku mengingkari janji yang sudah aku buat padamu demi Helena, tapi aku tidak tau itu sebuah tipuan, aku mengkhawatirkannya hanya karena dia tidak punya siaps-siapa di sini, hanya itu.”
Mera tetap tak bisa bicara, lidahnya terasa kelu, yang hanya ia bisa sekarang hanya menatap kedua bola mata Jaeha yang seakan mengintimidasinya untuk tidak berpaling dari si pemilik mata.
“Maaf karena aku terlambat mengambil keputusan, aku terlambat sehingga membuatmu pergi dari sisiku. Aku meminta maaf karena aku membohongimu lagi dengan berpura-pura sebagai Rico, aku melakukannya karena kau takut kau tidak akan membiarkanku untuk bisa bertemu denganmu lagi. Aku melakukannya karena aku sangat merindukanmu, maafkan aku... sekali lagi aku mohon maafkan aku.”
Mera melihat air mata yang jatuh mengalir di pipi Jaeha, pria itu menangis dihadapannya mewakili perasaannya yang benar-benar menyesal atas apa yang telah dia lakukan.
“Aku pernah bilang, kau lebih baik memukulku atau membentakku, marah padaku, tapi jangan diam-diam pergi begitu saja, karena aku bisa gila jika kau tiba-tiba pergi lagi.”
Mera menghela nafas, ia merasa nafasnya tertahan begitu lama membuatnya sesak. “Jauhkan wajahmu dariku!” Mera mendorong Jaeha agar menjauh, tapi Jaeha tak begeming.
“Katakan kekesalanmu padaku, keluarkan amarhmu padaku agar aku bisa tenang!”
Jaeha melihat pipi Mera yang merona merah membuat Jaeha diam-diam tersenyum kecil, ia merasa puas dan ia merasa bahagia dalam rasa berasalahnya, setidaknya ia tau kalau Mera sudah terpengaruh olehnya. Jaeha bisa merasakan apa yang dikatakan Leon agaknya memang benar, ia ingin mendengar Mera mengatakan kata cinta untuknya. Tapi jika memang bukan sekarang saatnya, ia akan menunggu dengan sabar.
Jaeha mendekatkan wajahnya, Mera kaget tapi ia tak bisa bergerak.
“Aku mencintaimu.”
Wajah Jaeha semakin mendekat, Mera juga tidak berusaha untuk menolaknya, tapi hanya tinggal sedikit lagi— pluk! Mera memberikan penghalang tangan agar Jaeha tidak jadi menciumnya,
“Kenapa?” Tanya Jaeha
“Tidak sekarang...” Mera menunduk, ia tidak bisa dibeginikan! Jantungnya serasa mau meledak!!
“Lalu kapan?”
“T-tidak tau!”
“Ya sudah ini saja!” Jaeha mencium pipi Mera secara kilat, membuat Mera melotot kaget. “Maaf, aku sudah tidak bisa menahannya lagi. Sejak kita bertemu aku ingin sekali memelukmu, aku ingin menciummu karena aku benar-benar rindu.”
Jaeha memang mesum, sejak pertemuan pertama mereka sebelum menikah hal yang memalukanlah yang terjadi diantara mereka, tapi baginya sekarang ini sudah berlebihan! Mera belum siap untuk hal seperti itu! “Berhenti berbicara aneh! Keluar dari kamarku sekarang juga!” Mera manarik Jaeha agar berdiri, kemudian mendorong punggunya agar keluar dari kamarnya.
“Kau melakukan ini saat kita akan pergi ke makam Sora, kau mendorongku seperti ini juga saat kau baru selesai mandi.”
“Aku tidak ingat!” Setelah Jaeha keluar Mera dengan cepat menutup pintunya, Jaeha tersenyum bahagia, ia benar-benar bahagia meskipun belum mendengar apa yang ingin ia dengar.
Di dalam kamar, Mera terduduk di depan pintu. Ia merasakan pipinya yang memanas, kecupan singkat di pipinya membuat batin Mera berdesir hebat, jantungnya juga berdetak sangat cepat membuat dadanya terasa sesak.
“Dia benar-benar— oh, ya ampun. Kenapa aku harus tersenyum sih? Kenapa kau harus jadi salah tingkah? Ini gila!”
‘Perasaan memang tidak pernah bisa dibohongi, ekspresi yang dibuat sebagaimana rupa pun tidak akan pernah bisa membohongi. Aku kalah, aku mengaku kalah.’
----------------------------------------
*Bahasa Korea*
Saranghae \= Aku mencintaimu
hmmmm, sepertinya kalian sudah bosan ya? 🙁 pengen cepet2 tamat ya? kelamaan ya? 😔