
Hwaran sampai di bandara Schiphol, seperti yang ia janjikan pada Mera. Ia akan datang dan menetap untuk menemani putri kesayangannya itu melahirkan dan juga mengurus bayi. Sebuah mobil datang menjempunya, Hwaran juga mengajak satu orang lagi yang datang bersamanya untuk ikut masuk ke dalam mobil dan bergegas pergi ke rumah Leon.
Begitu sampai di rumah Leon Hwaran segera menanyakan di mana Mera beraada, si pelayang mengatakan kalau Mera sedang berada di ruang tamu lantai atas bersama dengan Rico. Setelah tau di mana keberadaan Mera, Hwaran dengan langkah pelan pergi untuk melihat apa yang sedang mereka lakukan.
“Lihat yang ini bagus kan? Jangan disatukan di sana!” Kata Mera,
“Apa ini semua cukup?” Hwaran tersenyum bergitu mendengar suara laki-laki yang tak asing di telinganya.
“Kalau masih kurang kan tinggal beli! Mereka sangat lucu~”
Hwaran memilih mengintip dulu sebelum menunjukkan diri, Hwaran sangat senang sekarang. ia benar-benar tidak salah mengambil keputusan meskipun akhirnya Jaeha harus pura-pura menjadi Rico untuk bisa dekat kembali dengan Mera.
“Bau parfum ini...” Hwaran sudah ketahuan,
“Kalian sepertinya asik sekali?”
“Ibu!” Tapi Mera menjadi kaget ketika tau ada orang yang bersembunyi dibelakang Ibunya, “Nenek kan?”
Ternyata Nenek Nam datang, Mera segera memeluk mereka berdua dengan penuh kerinduan. Begitu juga dengan Nenek Nam dan Hwaran.
“Aku tidak menyangka kalau Nenek akan datang juga! Aku sangat senang!”
“Karena sebentar lagi kau akan melahirkan jadi Nenek juga akan tinggal di sini.” Dengan berlinang air mata karena bahagia Mera kembali memeluk Nenek dan Ibunya. “Nenek sangat senang karena kau baik-baik saja.”
“Oh iya, kenalkan dia Rico. Dia bodyguardku.”
Hwaran mendekati Rico yang membungkuk memberi hormat, “Aku Ibunya Mera.” Rico tersenyum, ia juga memperkenalkan diri, tapi...
Plak!
Tamparan keras tangan Hwaran di punggungnya membuat Rico kaget bukan main, rasanya benar-benar perih. “Terima kasih telah menjaga putriku dengan sangat baik. kedepannya aku mengandalkanmu.”
“Baik Nyonya.” Rico tersenyum sambil menahan sakit.
“Apa Ayah tidak akan datang?” Tanya Mera
“Ayahmu akan datang setelah bayimu lahir, kau sendiri tau bagaimana sibuknya dia. Sekarang saja dia sedang berada di Italia. Ibu meninggalkan pekerjaan Ibu demi kamu, Ibu tidak ingin seperti dulu lagi.” Mera tersenyum senang, ia benar-benar bahagia.
“Ibu, nanti tidur denganku ya? Aku selalu tidak bisa tidur karena dibagian sini selalu terasa panas dan pegal.” Mera menunjukkan bagian di sekitar pinggangnya.
“Itu hal yang wajar. Kalau sudah mendekati persalinan pasti akan sering terasa panas atau pegal. Kau pasti kesakitan sampai tidak bisa tidur setiap malam.” Kata Hwaran sambil melirik pasa Rico. Rico sendiri hanya bisa menunduk, ia seperti sedang dihakimi karena masih tak mau jujur tentang siapa dia sebenarnya.
“Rico, apa Mera pernah minta yang aneh-aneh?” Tanya Nenek Nam
“Yang aneh? Tidak juga. Tapi kemarin malam sekitar jam 2 Mera ingin makan ice cream green tea. Tapi yang dimakan hanya sedikit.”
“Kau melakukan tugasmu dengan baik.” Lagi-Lagi Hwaran mengatakan hal itu membuat Rico merasa merinding.
“Nenek, buatkan aku Japchae!”
“Japchae?”
“Iya. aku ingin Japchae buatan Nenek.” Pinta Mera dengan wajah polosnya.
“Iya, iya. Nenek akan membuatkannya untukmu.”
Malam harinya lagi-lagi Mera tidak bisa tidur, dengan sabar Hwaran pun mengusap bagian pinggang Mera agar merasa lebih baik. Meskipun ia sangat lelah karena perjalanannya tapi Hwaran menikmati perannya sekarang, ia merasa benar-benar jadi seorang Ibu yang berguna.
“Mera...”
“Ya.”
“Kau tidak ingin kembali pada Jaeha?”
Mera tidak ingin membicara hal itu, bagaimana dia bisa memberikan jawaban saat dirinya sendiri masih memperdebatkan hal itu. Mera selalu menganggap keinginannya untuk kembali bersama dengan Jaeha adalah karena kondisinya yang sedang hamil dan itu bawaan dari si jabang bayi, jika nanti dia sudah melahirkan pasti akan kembali biasa, dia sendiri juga pasti akan bisa melupakan Jaeha karena sibuk mengurus anaknya nanti. Mera memilih tak menjawab, ia lebih memilih berpura-pura tidur.
“Kau mungkin harus tau ini, Jaeha sudah memutuskan hubungannya dengan Helena dan seemua ornag sudah tau.”
Kedua matanya terbuka, ia benar-benar tidak tau soal itu. Itu juga karena Mera yang tak ingin mengetahui apapun lagi soal Jaeha. Setiap kali Leon akan membicarkaan Jaeha, Mera selalu menyanggahnya dengan obrolan lain atau bahkan sampai memarahi Leon.
“Jika dia tidak mencintaimu, jika dia memang masih menginginkan Helena, Jaeha pasti tidak akan semudah itu mengakhiri hubungannya dengan Helena. Kau masih berpikir kalau Jaeha masih mencintai Helena?”
Perasaan mera campur aduk, ia tidak bisa menjelaskannya dengan baik. “Ibu tidak mengatakan apapun tentang aku kan pada Jaeha?”
“Kau ingin Ibu mengatakannya pada Jaeha?”
“Kenapa Ibu malah balik bertanya? Sudahlah, aku ngantuk. Terima kasih.”
Mera tidak langsung tertidur, ia memikirkan banyak hal. Tentang Ibunya berbohong atau tidak mengenai Jaeha, bagaimana jika dia ingin kembali, bagaimana jika Jaeha sudah benar-benar melupakannya, pikirannya jauh memanjang menggapai segala hal.
**
“Jaeha!” Panggil Hwaran, ketika melihat jaeha keluar dari kamarnya
“Ibu kenapa memanggilku Jaeha?”
“Ikut aku.”
Hwaran mengajak Jaeha pergi ke dekat peternakan. Jaeha sudah mempersiapkan diri saat mereka keluar dari rumah, melihat raut wajah Hwaran yang seperti itu membuat Jaeha menelan ludah dengan berat.
“Aku sudah beberapa hari tinggal di sini, dan usia kandungan Mera sudah 9 bulan. Aku tidak tahan dengan kepura-puraanmu yang terus menyamar menjadi Rico.”
“Aku memang pecundang.” Gumam Jaeha sambil menunduk,
Jaeha hanya bisa menghembuskan nafas pasrah, ia sadar diri kalau ia memang pecundang.
“Dulu kau tidak jujur soal pernikahanmu dengan Helena, sekarang pun kau tidak punya keberanian. Kau masih ingin memiliki sifat menjengkelkan itu?” Hwaran seperti sedang memarahi anak kecil karena Jaeha sedari tadi hanya menunduk tanpa banyak bicara.
“Aku sudah mengatakan mengenai berakhirnya hubunganmu dengan Helena. Mera memang tidak memberikan respon yang pasti tapi aku yakin ada rasa senang dan harapan agar dia bisa kembali padamu.” Barulah kali ini Jaeha bisa menatap Hwaran,
“Lakukan sekarang, atau tidak sama sekali.” Setelah mengatakan itu Hwaran pun pergi meninggalkan Jaeha sendirian. Hwaran memang bukan Ibu kandung Leon, tapi Jaeha bisa merasakan kalau mereka memiliki kesamaan. Sama-sama tegas dan selalu menempatkannya dalam sebuah pilihan.
“Oh iya,” Hwaran kembali berbalik, “Kami akan meninggalkan kalian berdua, jadi gunakan waktu yang kuberikan ini sebaik mungkin.”
Saat Rico kembali ke rumah, ia melihat Mera yang baru saja menutup pintu utama. Rico pun berjalan menghampiri Mera dan menanyakan apa Mera ingin jus jeruk atau tidak. Karena Mera mengangguk Rico pun pergi ke dapur untuk mengambil segelas jus.
“Rico! Aku ada di lantai atas!”
Rico pun pergi ke lantai dua, ia bisa menebak kalau mera pasti sedang membereskan kembali baju bayi dan perlengkapan yang lain. Ditambah lagi ada kiriman yang datang dari Ayahnya Mera dari Italia.
“Ini jusnya.” Selain membawaja jus Rico juga membawa sepiring Macaron.
“Oh iya, tadi Ibu bilang ada yang ingin kau bicarakan padaku, apa itu?”
Rico terdiam, ia bingung harus memulainya bagaimana. Ditambah lagi Mera yang tiba-tiba saja memancingnya, Rico belum melakukan persiapan apapun. Jika Rico memang jujur siapa dia yang sebenarnya, apa yang akan Mera lakukan padanya? Memukul? Menangis? Menyuruhnya pergi dan tak kembali lagi? Bahkan mungkin Mera akan semakin membencinya karena ia benar-benar seorang penipu.
“Rico?” Mera kembali bertanya karena Rico tak kunjung menjawab.
“Ti-tidak ada. Maksudku, nanti saja lain waktu.” Rico benar-benar belum siap, mental dan fisiknya belum siap.
“Ya sudah. Aku ke kamar dulu mengambil ponsel.” Mera pun berdiri dari duduknya, Rico kembali membantu mera membereskan apa yang belum selesai di bereskan. Tapi ia melihat Mera yang hanya diam berdiri saja.
“Mera?”
Rico melihat perempuan itu berpegangan kuat pada pegangan kursih, sedangkan tangan yang satunya lagi memegangi perutnya. Rico pun segera berdiri.
“Mera kau kenapa?” Rico melihat Mera yang terlihat meringis
“Perutku mulas.”
“Mulas? Mulas bagaimana?” Rico bingung,
“Mulas, perutku mulas.” Tangan Mera beralih memegang tangan Rico. Saat Rico melihat ke bawah, ada cairan yang mengalir dari kaki Mera.
“Mera kau...”
“Rico, perutku mulas sekali. Pinggangku panas.” Tanpa menunggu lagi, Rico segera menggendong Sena untuk di bawa ke rumah sakit, setidaknya ia tau kalau cairan sudah keluar berarti itu tandanya bayinya akan segera lahir. Ia meminta salah satu pelayan untuk mempersiapkan mobil.
“Hubungi Leon, beritahu juga Nyonya Hwaran kalau Mera di bawa ke rumah sakit.” Setelah mengatakan itu Rico pun segera pergi. Sebisa mungkin ia fokus mengemudi, meskipun sebenarnya ia benar-benar panik karena Mera semakin terlihat kesakitan. Ia tak tau apa yang harus ia lakukan di saat seperti ini!
“Bertahanlah, kita akan segera sampai di rumah sakit.” Rico semakin memperkencang laju mobilnya.
Begitu sampai di rumah sakit Mera segera dilarikan ke ruangan bersalin, Rico diminta untuk masuk karena Mera butuh pendamping. “Pembukaannya sangat cepat tapi sekarang masih pembukaan delapan, kau bisa menemaninya agar ia bisa tenang. Apa keluarga yang lain belum datang?” Rico menggeleng,
Pengalaman pertama dalam hidupnya, ini benar-benar menegangkan untuk dirinya. Tapi ia berusaha untuk tenang dan tidak panik. Sebisa mungkin ia harus bisa menguatkan Mera.
“Rico...”
Begitu Rico mengulurkan tangannya dengan segera Mera menggenggamnya dengan kuat, meskipun sakit tapi Rico tetap tenang. Rasa sakitnya tak bisa disamakan dengan rasa sakit yang sekarang sedang dialami oleh Mera. “Yang kuat Mera, tarik nafas lagi.” Mera menuruti apa kata Rico, mengulang dan terus mengulanginya.
“Pinggangku panas. Sakit...”
“Di sini?” Rico mengusap tempat yang di rasa sakit oleh Mera.
Sebenarnya Rico sudah tidak tega melihat Mera terus merasa kesakitan, tapi perawat mengatakan kalau pembukaannya masih di delapan. Ia ingin Mera di operasi saja agar rasa sakitnya cepat hilang, tapi setiap kali ditanya Mera ingin melahirkan normal ditambah lagi menurut dokter Mera memang bisa melahirkan normal. Tapi apa memang harus sesakit ini? Batin Jaeha, ia bahkan menangis melihat Mera yang tambah merasakan rasa sakit.
“Bertahanlah, kau akan segera melihat dia.”
“Jaeha...” Meskipun suaranya hampir tak terdengar, tapi Rico bisa mendengarnya dengan jelas. Air mata Rico semakin tak terbendung.
Hwaran berdiam diri dekat pintu, meskipun Nenek Nam menyuruhnya agar cepat masuk tapi Hwaran membiarkan Rico untuk bisa bersama dengan Mera. “Biarkan mereka merasakan rasa sakitnya bersama-sama. Aku tidak ingin mengganggu momen mengharukan seperti ini, aku akan masuk jika sudah waktunya.”
Saat pembukaan sudah mencapai sepuluh barulah Hwaran masuk, tapi saat itu ia melihat kalau Mera tak mau melepaskan tangan Rico. Mera menggenggam kuat tangan Rico, mereka benar-benar tidak bisa dipisahkan. Atau mungkin memang Mera bisa merasakan kalau Rico adalah Jaeha.
“Sayang ini Ibu. Ikuti kata dokter ya.”
Tak butuh waktu lama tangis Bayi pun terdengar, semua orang yang berada di dalam ruangan dan di luar merasa lega karena akhirnya semua berjalan dengan lancar dan berakhir dengan selamat. “Selamat ya, bayinya laki-laki.”
Bayi mungil itu ditempatkan di dada Mera. Rasa sakit dan lelah juga penantian panjangnya kini terbayar lunas dengan kehadiran bayi mungilnya ke dunia, Mera pun menangis.
“Selamat sayang, kau sudah resmi menjadi seorang Ibu.” Hwaran mencium kening Mera,
Rico terdiam sambil terus menatap bayi mungilnya, bayi yang tak bisa ia ketahui kehadiranya saat di awal kini benar-benar bisa ia lihat dengan mata kepalanya sendiri. Apa ia berhak bahagia? Apa ia berhak menjadi seorang Ayah ketika ia sendiri tak pernah tau tentang kehamilan Mera dan tak bisa menjadi suami yang baik? Ia bahkan sekarang merasa malu dengan dirinya sendiri. Ia tak berhak untuk bahagia bahkan menjadi seorang Ayah.
“Terima kasih Rico.” Ucap Mera,
Tapi Rico tak bisa menahan rasa syukurnya, “Terima kasih karena sudah berjuang melahirkannya ke dunia, kau memang Ibu yang hebat. Terima kasih Mera.”
----------------------------------------
Yey!!!!!!!! Debaynya udah lahir nih 🎉🎉👏👏 Park junior 👶 meskipun sebagai Rico tapi Jaeha bisa mendampingi Mera dalam menjalani persalinan, it's okay.
Makasih ya buat kalian yang udah setia sampai episode 71, semoga masih betah dan mau bertahan sampai akhir. 😊 jangan lupa like nha ya. Pict Debaynya di episode selanjutnya, tunggu hari Sabtu ya 😉