Maybe I Love You

Maybe I Love You
01. Pertemuan Pertama yang tak Menyenangkan



Seorang gadis tidur terlentang dengan posisi guling dan bantal yang sudah tidak pada tempatnya, terlihat jelas kamarnya berantakan sepert tidak terurus oleh si pemilik kamar. Neneknya Nam Hyun So berdecak kesal melihat kelakuan cucu semata wayangnya sangat malas bahkan untuk membersihkan kamarnya sendiri.



“Sena-ya! Bangun sayang ini sudah pagi. Minho sudah datang.” Nenek Nam mengguncang tubuh gadis bernama Kim Sena itu.



Mendengar nama Minho gadis itu langsung terbangun, “nenek kenapa baru membangunkanku?!”



Nenek Nam memukul lengan cucunya itu, “apa aku harus seumur hidup membangunkanmu?! Kau sudah berumur 25 tahun dan kau masih seperti anak kecil.”



“haish!” gadis itu langsung berlari menyambar handuk lalu masuk ke kamar mandi.



Nenek Nam geleng-geleng kepala melihat kelakuan cucunya, “jika saja mereka ada di sini mungkin semuanya akan berubah.”



Sena buru-buru turun menemui Minho yang sedang menunggunya di meja makan, “akhirnya kau muncul juga!”



Gadis itu segera duduk di samping Minho, “aku lupa kalau hari ini kita akan pergi ke sana. Maafkan aku.”



Minho mengusap puncak kepala Sena dengan gemas, “tidak apa-apa, lagi pula ini masih pagi.”



“kita sarapan dulu saja. Sena-ya, kau tidak memakai make up? Dan rambutmu apa kau tidak menyisirnya?” Nenek Nam benar-benar aneh dengan cucunya ini, semua orang pasti tidak akan ada yang menyangka kalau Sena adalah cucu dari seorang pengusaha terkenal.



“aku tidak mau! Nenek jangan memaksaku.”



“kau akan membuat malu Minho nanti. Pakai saja bedak yang tipis hm?!”



“tidak masalah, tanpa make up pun Sena kita sudah cantik.”



Gadis itu tersenyum lebar mendengar pujian dari Minho, Sena sebenarnya sudah menyukai Minho sejak lama, tapi gadis itu tidak berani mengutarakan perasaannya karena takut kalau Minho hanya menganggapnya tak lebih dari seorang adik, meskipun kadang perhatian Minho padanya melebihi perhatian dari seorang kakak untuk adiknya.



Setiap seminggu sekali mereka sering mengunjungi panti asuhan tidak hanya di satu tempat, untung saja neneknya setuju untuk membantu panti asuhan tersebut dan Minho juga setuju untuk bergabung dengannya. Sena lebih aktif di bidang sosial padahal neneknya ingin dia belajar tentang mengurus perusahaan sesekali tapi gadis itu tidak mau repot dengan urusan untung rugi naik turunnya saham.



Sampai di panti asuhan, mereka di sambut dengan teriakan anak-anak yang senang dengan kedatangan mereka.



“aku pikir kalian tidak akan datang.” Ucap Gyuri



“hari ini kami memilih datang kemari. Aku pikir mereka sangat merindukan kami.” Minho mengusap kepala Minhyun yang di gendongnya.



“ah benar! Hari ini ulang tahun Minhyun kan? kau ingin apa? noona akan membelikannya untukmu!” Sena terlihat sangat bersemangat



“banyak sekali! tapi Minhyun ingin membelikan ice cream untuk teman-teman.”



Anak-anak yang lain bersorak, anak kecil mana sih yang tidak suka ice cream?



“baiklah, ayo kita pergi ke toko ice cream sekarang. kau akan mendapatkan hadiahmu.” Minhyun tersenyum senang, begitu juga Sena dan yang lainnya.



Sampai di toko ice cream, Minhyun langsung berlari masuk ke dalam toko. Ia menunjuk berbagai macam rasa ice cream yang ada di hadapannya. Sedangkan Minho pergi ke toko kue untuk membeli kue ulang tahun.



“boleh kan?”



“tentu! Pilih apapun yang kau suka.” Anak itu berjingkrak-jingkrak senang,



‘anak selucu ini kenapa orang tuanya tega membuangnya?’ batin Sena



Selesai membeli ice cream Minhyun berlari ke luar dengan segera, mungkin anak itu sudah tidak sabar untuk kembali dan makan ice cream dengan teman-temannya.



“Minhyun-ah nanti ice cream mu jatuh. Jangan lari.” Sena memasukkan kartu kreditnya dengan tergesa-gesa. Apalagi ketika matanya melihat Minhyun menabrak seorang laki-laki dengan cepat gadis itu keluar menghampiri Minhyun.



“kau lihat! celanaku jadi kotor! Sial! Kalau jalan hati-hati!”




“kau tau berapa mahal harga celana ini? dan sekarang celanaku kotor karena ulah anak ini padahal aku ada pertemuan penting. Hey nona, makanya jaga anakmu dengan baik!”



Sena mendongak menatap pria yang membuatnya mendadak naik darah! “ahjussi dia bukan anakku, dia hanya—“



“ahjussi?! Kau memanggilku ahjussi? Apa aku terlihat tua?!”



“lihat! kau saja tidak mau di panggil ahjussi! Aku belum selesai bicara dia bukan anakku, aku belum menikah! Lagi pula dia hanya anak kecil kau tidak perlu sampai semarah itu padanya!”



“neo jinjja! Lihat ini! kau bisa lihatkan? Aku ada pertemuan penting dan celanaku jadi kotor karena anak ini.”



“aku kan sudah bilang minta maaf. Kalau memang penting lebih baik kau cepat pergi dan semuanya impas!”



“impas katamu?!”



“kau ingin aku menggantinya begitukan? Baiklah aku akan belikan celana yang sama persis seprti itu!”



“kau!? Dilihat dari penampilanmu saja kau seperti seseorang yang tidak memiliki uang,”



Sena mendengus sebal, gadis itu pergi ke bagian belakang tubuh pria itu dan tiba-tiba saja menarik celana bagian belakangnya untuk melihat label di bagian belakang celana.



“apa yang kau lakukan?!!” pria itu segera berbalik, dia merasa di lecehkan dan ini di tempat umum.



“apa merek celanamu? Aku akan membelikan gantinya! Berikan juga alamatmu padaku!”



“dengan cara apa kau membelinya? Menjual ginjalmu?”



Minho melihat Sena tengah berdebat dengan seseorang, dengan segera Minho menghampiri Sena.



“Sena-ya ada apa ini?”



“dia marah karena Minhyun tidak sengaja menabraknya. Aku sudah minta maaf tapi dia meminta ganti celananya yang kotor.”



Minho terkejut ketika melihat pria yang berdiri di sampingnya, begitu juga pria itu.



“Jaeha-ssi. Aku minta maaf atas nama mereka berdua, aku akan--“



“tidak perlu. Aku sudah terlambat.”



Sebelum pergi pria bernama Jaeha itu menatap Sena, tapi gadis itu malah memajukan bibir bawahnya seolah mengejek. Jika saja gadis itu adalah pria pasti Jaeha sudah menghajarnya sampai babak belur.



“oppa, siapa nama laki-laki itu?”



“Jaeha, Park Jaeha. Kau tidak tau dia?”



“namanya kekanak-kanakan sekali. Memangnya siapa dia?”



“dia direktur utama J-One Holdings. Perusahaanya bekerja sama dengan perusahaan kakekmu. Dan dia baru pindah dari Prancis.”



“aku kan tidak tau soal masalah perusahaan. Aku tidak peduli.”



Sena menatap Minhyun, ia berjongkok menghapus air mata anak itu “jangan menangis lagi, jika kau besar nanti kau harus berani melawan orang seperti itu, mengerti?”



Anak itu mengangguk, “ayo kita kembali, teman-temanmu pasti sudah menunggu.”