Maybe I Love You

Maybe I Love You
03. Bertemu Lagi (Tidak Menyenangkan)



Sena bertemu dengan Sujin di cafe miliknya, “kau sama sekali tidak berubah.” Ucap Sujin



“apanya yang harus berubah? Paling dadaku yang sedikit berisi.”



“dadamu masih sama saja. R.A.T.A.”



Sena melirik dadanya, “benar mereka sama saja. tapi mereka tidak terlalu rata!”



“kau mau coba kosmetik terbaru milikku? Aku akan memberikannya gratis untukmu.”



“jadi pertemuan ini sekalian promosi begitu?”



“aku tidak pernah membuang kesempatan, sukur-sukur kau mau membelinya.”



“tapi kau tau aku tidak bisa memakai make up.”



Sujin menghela nafas sebal, “bukannya tidak bisa, kau hanya malas iya kan?”



Sena terdiam, “Sena, kau sekarang di dunia yang berbeda ini bukan SMP atau SMA ataupun kuliah. Kalau kau seperti ini bagaimana bisa kau punya suami?”



“apa hubungannya?”



“semua pria ingin wanitanya tampil cantik, mereka menginginkan gadis yang cantik.”



“kau sahabatku bukan sih?” Sena meminum ice coffee miliknya



“forever! Demi aku, kali ini saja aku ingin mendandanimu. Itung-itung testimoni ok?”



“kau kan punya brand ambassador. Kenapa harus aku?”



“aku akan merasa puas setelah mendandanimu. Sebentar lagi kan hari ulang tahunku itung-itung kado saja, hmm?! sekali saja?!”



Sena akhirnya mau didandani oleh Sujin, “kali ini saja, jangan memintaku lagi!”



“arraseo! Akhirnya aku bisa membujuk si keras kepala ini.”



Sujin memoleskan bedak dengan rata ke seluruh bagian wajah Sena, setelah rata ia memberikan eye shadow berwarna pink lembut di kelopak matanya dilanjut eyeliner tipis dan maskara. Di bagian bibir Sujin memoleskan lipstik warna peach.



Sujin menyisir rambut Sena sepertinya memang dia sudah merencanakannya saat Sena memintanya untuk bertemu, ini benar-benar kejadian langka.



“Sena, kapan kau terakhir menyisir rambut? Kusut sekal!”



“aku tidak mau jawab.” Sena memang tidak pernah menyisir rambutnya, sama sekali tidak. Kalaupun iya dia hanya menyisirnya dengan jari-jari tangannya saja.



Sujin mengikat rambut Sena seperti ekor kuda dengan poni yang menutupi kening.



“kau benar-benar pangling! Dengan begini kan kau terlihat lebih fresh!”



Sena melihat pantulan dirinya di kaca, dia tidak ingat kapan terakhir kali pakai bedak dan lipstik bahkan untuk lipbalm pun dia tidak pernah menggunakannya, gadis itu menyentuh pipinya.



“kau suka kan?” Sujin bicara dengan nada menggoda



“sudah cepat foto! Tapi dalam jangka waktu sehari kau harus langsung menghapusnya.”



“pelit sekali. Berpose! 1,2,3.”



Sena benar-benar di buat jengah dengan tatapan orang-orang padanya, dan lagi ini waktunya orang-orang pulang kerja. “ini semua gara-gara gadis itu!”



“jangan di hapus sampai kau pulang! Ingat ini sebagai kado ulang tahunku! Kau harus mengirimkan fotomu saat sudah sampai di rumah, oke?!”



Sena menghela nafas sebal ini belum lagi sujin banyak sekali mengambil foto dirinya bahkan saat mereka tengah makan jajangmyeon pun ponsel tidak pernah lepas dari tangan sahabatnya itu.



Gadis itu mampir ke warung tteokbokki sekarang ia sangat ingin makan sesuatu yang pedas untuk meredam kekesalannya.



“aigoo, kau cantik sekali! Apa kau seorang artis?”



Sena menatap ahjumma penjual tteokbeokki tersebut, “bukan, aku bukan artis.”



“sayang sekali. Kau pasti akan sangat terkenal.” Sena tersenyum menanggapinya, gadis itu benar-benar tidak menyukai situasinya saat ini.



Sena menghubungi Minho, kali ini dia tidak ingin pulang naik bus ataupun naik taxi ia hanya ingin pulang dengan Minho.



“halo Sena!”



“oppa kau di klub?” sura musik yang kencang di sebrang sana membuat Sena yakin kalau Minho ada di klub.



“sebentar lagi aku pulang, kau di mana?”



“aku yang akan ke sana. Aku ingin pulang denganmu.”



“kau tunggu saja di sana. Aku akan menjemputmu.”



“aku ke sana saja. oppa tunggu di luar aku tidak mau menunggu sendirian.”



Meskipun Minho sudah melarangnya untuk datang karena takut terjadi sesuatu Sena tetap memaksa karena sedari tadi beberapa pria terus menatapnya dan ia tau kalau pria itu bukan orang baik.



Sena sama sekali tidak melihat Minho di luar kelab, ini sudah 15 menit. “apa aku masuk saja? panggilanku juga tidak di jawab.”



Penjaga yang awalnya melarang akhirnya membiarkan Sena masuk, suara dentuman musik begitu keras terdengar,



“bisa-bisa aku tuli lama-lama di sini. Di mana dia?”



Sena memperlihatkan foto Minho pada seorang pelayan, “dari sini kau naik ke atas, belok ke arah kiri lorong pertama pintu ke dua.”



Gadis itu tidak bisa mendengar perkataan pelayan itu dengan jelas dengan terpaksa dia mengangguk dan segera pergi ke lantai atas.



“kiri atau kanan?”



Langkah kaki gadis itu berjalan ke arah kanan, ia mengetik pesan pada Minho karena panggilannya sama sekali tidak diangkat.



“oppa kau di mana? Aku sudah sampai di--“



Bugh!



Ponsel Sena terjatuh, “aish! Hati-hati kalau jalan!” gadis itu berjongkok mengambil ponselnya.



“kau yang harusnya hati-hati, lihat ke depan bukan pada ponsel!”



“kau yang dat--“ begitu mendongak Hyerim terkejut karena dia bertemu lagi dengan pria yang memarahi Minhyun di toko ice cream, Jaeha.



“kita bertemu lagi rupanya!”



“siapa kau?” Jaeha terekejut bukan itu lebih tepatnya terpesona,



“kau tidak ingat aku? toko ice cream, ahjussi.”


Kali ini baru benar terkejut, karena begitu mendengar perkataan gadis dihadapannya ini mata Jaeha langsung membulat pandangannya turun naik memperhatikan gadis itu.



“kau... kau gadis itu? yang benar saja!”



“kau ternyata memang pelupa. Lebih tepatnnya aku tidak penting jadi kau lupa.”



“bukan begitu kau...” Jaeha memejamkan matanya, lebih tepatnya menetralkan pikirannya dia tidak mau mengakui kalau dirinya telah terpesona oleh gadis yang tidak punya etika ini.




“terserah kau saja tapi aku bukan seperti orang yang menempelkan warna lipstik merahnya di lehermu itu.”



Jaeha mengusap lehernya, benar ada warna merah di sana.



Cekrek!



“apa yang kau lakukan?”



“hanya bersenang-senang.” Sena tersenyum lebar, lebih tepatnya merasa puas



“kau!! Kau memang gadis tidak waras! Kita baru bertemu 2 kali dan kau sudah bertindak seperti ini?!”



“lagi pula dengan kita berdebat seperti ini bukankah kah kita sperti sudah dekat?”



“aku tidak sudi dekat dengan gadis sepertimu. Memalukan!”



Ekspresi wajah gadis itu sedikit berubah, “bagaimana jika artikel tetangmu keluar di berita besok? Direktur utama J-One Holdings bersenang-senang dengan seorang wanita di klub malam.”



“wartawan tidak akan mau menerimanya, lagi pula aku bisa mencegah mereka.”



“benarkah? aku juga bisa melakukan hal yang sama, agar beritamu dan foto ini keluar besok pagi.”



Melihat raut wajah serius Sena membuat Jaeha sedikit goyah, tapi bagaimana bisa? Dia bukan orang yang memiliki pengaruh apapun.



Mata pria itu melirik ke arah pintu, dengan segera Jaeha menarik Sena untuk ikut pergi bersamanya.



“ya! Lepaskan aku! aku harus menemui seseorang!”



“hei kau tuli ya! Aku bilang lepas!” Jaeha tiba-tiba saja mendorong tubuh Sena ke tembok, kedua tangn pria itu mencengkram pergelangan tangan Sena sehingga kedua tangannya berada di samping kepalanya,



“apa yang akan kau lakukan?!” Sena mencoba berontak,



“diam!”



“dengar aku tidak mau--“ perkataan gadis itu terhenti ketika tiba-tiba Jaeha mendekatkan wajahnya dengan cepat, membuat jantung gadis serasa berhenti detik itu juga. bibir mereka sangat dekat, satu langkah lagi maka bibir mereka akan saling menempel.



Jaeha perlahan menjauhkan wajahnya dari Sena, “akhirnya dia pergi.”



Sena mengerjapkan matanya berkali-kali menormalkan kembali keadaan dirinya, “apa yang kau--“



Sekali lagi Jaeha menghentikan pembicaraannya, Sena di masukkan ke dalam mobil Jaeha dan mereka pergi dari klub.



“kenapa kau membawaku pergi? Aku kan sudah bilang aku arus bertemu seseorang.”



“kalau kau kembali ke dalam wanita itu tidak akan melepaskanmu!”



“jadi kau dikejar wanita yang mencium lehermu itu? kenapa kau menghindar? Bukankah kau sering tidur dengannya?”



“dia terus saja memaksaku padahal aku tidak mau.”



“jadi benar kau sering tidur dengannya.”



“kenapa? kau kecewa?”



“mwo? Kecewa? Hanya gadis bodoh yang kecewa karena pria sepertimu! Aku hanya tidak mau punya suami bekas orang lain.”



“kalau kau berjodoh denganku bagaimana?”



“kenapa tiba-tiba bicara begitu? Seolah kau ingin berjodoh denganku?”



“kenapa kau tiba-tiba bicara begitu? Seolah kau ingin berjodoh denganku.” Jaeha malah seperti membuat lelucon dengan pertanyaannya barusan membuat Sena jengkel.



Ponsel Sena berdering, dengan segera ia mengangkatnya.



“oppa!”



“kau di mana? Pelayan bilang kau datang mencariku.”



“aku bertemu orang gila dan sekarang aku--“



Jeduk!



Jaeha tiba-tiba mengerem mendadak membuat kepala gadis itu membentur bagian depan.



“ya ampun leherku! Kau bisa nyetir gak sih?! Apa kau tidak punya SIM! Ok aku minta maaf karena menyebutmu gila tapi kau seharusnya--“



“neo gwaenchana?” Sena melihat Jaeha begitu berkeringat, pria itu menunduk dengan stir sebagai sandaran.



“kau kenapa? apa tiba-tiba kau sakit perut?” Jaeha menatap Sena membuat gadis itu sedikit takut. Ekspresinya tidak bisa disimpulkan oleh gadis itu, yang jelas Jaeha seperti menatapnya penuh nafsu.



“ke-kenapa kau menatapku seperti itu?” Sena semakin memojokkan dirinya ketika Jaeha bergerak mendekat.



Tapi Jaeha menghentikan dirinya, “ah shit!”


Sena melihat tangan Jaeha mengepal, urat-uratnya seperti akan pecah.



“kau baik-baik saja?” Sena memegang pundak Jaeha



“jangan sentuh aku! aku tidak ingin melakukannya padamu jadi jangan sentuh aku!”



“me-melakukan apa?” Sena tidak ingin berpikiran macam-macam tapi pikirannya sudah macam-macam.



“sepertinya dia memasukan obat itu kedalam minumanku! Argh sial! Kau tunggu di sini!”



Jaeha pergi keluar dengan terburu-buru untunglah mereka berhenti di tempat yang tidak sulit menemukan toilet!



“kenapa jadi aku yang malu? Harusnya dia yang malu kenapa aku? aish kenapa pikiranku jadi kotor begini?! Pergi pergi pergi pergi pergi!” Sena terus berbicara sambil menepuk kedua telinganya berharap pikiran kotornya segera pergi.



Jaeha kembali kedalam mobil, begitu masuk Jaeha bingung melihat Sena berbicara tidak jelas sembari menepuk kepalanya.



“apa yang kau lakukan?”



Mungkin saking fokusnya gadis itu tidak sadar kalau Jaeha sudah sadar dan bertanya padanya. Jaeha terpaksa menghentikan memegang tangan gadis itu untuk menghentikannya membuat Sena tersentak kaget.



“apa yang kau lakukan?”



Wajah gadis itu mendadak panas, Sena melihat Jaeha sama sekali tidak menunjukkan ekspresi malu dan itu membuatnya bingung.



“kau sama sekali tidak malu?”



“kau juga akan melihatnya kalau kau punya suami nanti.”



“benar-benar! Hey kita baru bertemu 2 kali dan kau... ah ya ampun!”



“lagi pula dengan kita berdebat seperti tadi bukankah kita seperti orang yang sudah dekat?” Jaeha mengcopy kalimat Sena.



Gadis itu kini menyimpulkan ini adalah pertemuan teraneh yang pernah ia alami. Suara klakson mobil dari arah belakang membuat gadis itu bahagia.



“siapa dia?”



“dia adalah orang yang ingin aku temui di klub!” dengan segera Sena keluar dari mobil Jaeha, dan masuk ke dalam mobil Minho.