
Helena baru kembali dari supermarket dengan membawa penuh dua kresek belanjaan. Sambil bersenandung dia membongkar isi kresek tersebut, ia bahkan membeli anggur merah yang mahal unutk malam ini. Tapi senyumnya tiba-tiba memudar ketika menatap lama wine yang ia pegang. Kata-kata Minho kembali terngiang di telinganya, Helena berjalan menuju kamarnya kemudian membuka sebuah laci kecil. Kegelisahan semakin terasa bertambah ketika ia melihat sebuah benda di dalam sana, ia tak bohong ketika hati kecilnya melarang untuk melakukan hal ini. Jika Jaeha sudah tidak mau dengannya harusnya dia mengerti dan mundur, tapi sisi egoisnya terus mendesaknya untuk terus mencoba dan mencoba lagi untuk mendapatkan Jaeha bagaimana pun caranya. Berdebat dengan diri sendiri memang benar-benar sulit, kabur kemana pun tetap tidak akan bisa terpisahkan.
“Mencoba, sekali lagi mencoba tidak ada salahnya. Maafkan aku Sena. Jika aku jadi kamu memang aku tidak akan mau, tapi kau pasti belum tau bukan? Ijinkan aku bersamanya malam ini.”
Sena memberhentikan taxinya di depan sebuah apartemen mewah, dari tatapannya ia ragu untuk menemui salah satu penghuni apartamen ini. Tapi ia tidak bisa memendam ini sendirian terlalu lama, ia ingin menangis dalam pelukan seseorang yang bisa ia percayai, seseorang yang selalu ada untuknya dalam situasi apa pun. Beban yang ia rasakan begitu berat, ia ingin mengeluarkannya, rasa sesak ini ia ingin menghancurkannya.
Sampai di lantai dua puluh satu, Sena segera berjalan ke salah satu pintu dan menekan bel. Ia berharap si pemilik rumah ada di dalam sana. Tapi ketika pintu terbuka ternyata bukan si pemilik rumah yang menyambutnya.
“Sena! Sujin baru saja pergi.”
“Bolehkah aku menunggunya di dalam?”
“Tentu saja, ayo masuk!” Sena ikut masuk ke dalam, pintu tertutup di luar kembali sepi. “Kalau kau ingin istirahat, kau bisa istirahat di kamar.” Sena mengangguk, ia memang sudah akrab dengan Ahjumma ini, tapi karena perasaannya sedang kurang baik rasanya benar-benar berbeda.
“Bi, bisa buatkan teh?”
“Tentu, aku akan mengantarkannya ke kamar.”
Sena mulai membaringkan dirinya di kasur yang luas, sendiri menatap langit-langit kamar yang berwarna putih bersih. Ketika sendirian seperti ini air matanya tiba-tiba saja mengalir, ia ingin pergi ke keramaian agar tidak menangis tapi ia tidak ingin mendapatkan kesakitan yang lebih, baginya mencoba melupakan atau mengalihkan perhatian malah membuatnya semakin kesakitan. Jika saja ia tidak sedang hamil sena akan berteriak di ruang karaoke, bernyanyi sampai malam atau bahkan lari maraton sampai perasaannya lega bahkan ia bisa minum soju sampai beberapa botol asal perasaannya bisa tenang kembali. Perasaannya yang semakin sensitif ditambah lagi keadaan yang seperti ini membuat perasaannya benar-benar hancur dan merasa tertekan, kesadaran dirinya sebagai orang kedua kadang malah membuatnya semakin terluka.
Tok tok tok!
“Sena!” Ia segera menghapus air matanya, mempersilahkan Ahjumma itu untuk masuk ke dalam kamar. “Istirahatlah, wajahmu terlihat pucat.” Ahjumma bernama Noh Jung Mi tersebut menyentuh wajah sena, menyalurkan kehangatan yang membuat Sena mendapatkan sedikit rasa nyaman.
“Aku hanya kelelahan, terima kasih untuk teh nya Bi.” Bibi Jungmi tersenyum, ia meninggalkan Sena di kamar Sujin sendirian untuk melakukan pekerjaan yang lain.
Di kantor
“Pastikan kita harus mendapatkan mesin keluaran terbaru itu, kita harus mendapatkannya. Dengan adanya mesih keluaran terbaru tersebut, kau juga mengertikan keuntungan apa saja yang akan kita dapatkan?”
“Baik Pak, kami akan mempersiapkannya.”
Setelah orang tersebut keluar kini Suho yang masuk sambil membawa kopi, “Ini.” Ia menyerahkannya pada Jaeha.
“Hyung, sepertinya Sena sudah memaafkanku.”
“Benarkah?” Suho terlihat ragu, Suho sebenarnya merasakan ada hal lain dalam tatapan Sena tadi. Perkataan Sena rasanya benar-benar seperti sebuah pedang tersembunyi bagi Suho untuk Jaeha. Tapi ia tak bisa mengatakan itu pada Jaeha, melihatnya bahagia seperti sekarang ia tak tega juga kalau harus mengatakan pemikirannya itu.
“Kenapa? Dia bahkan mengantarkan kotak makan ini, dia bahkan menyuapiku, dia juga tersenyum kepadaku.”
“Bisa jadi. Tapi kau jangan mengulagi kesalahanmu lagi, cukup sampai kesalah kemarin saja. Jika kau melakukan kesalahan lagi apalagi, kau yang akan menyesalinya Jaeha.”
“Malam ini aku akan menemui Helena.”
“Apa? Kau mau buat ulah apa lagi?”
Suho sudah mengeluarkan tatapan kesalnya.
“Aku akan mengatakan keputusanku. Ini mungkin sedikit menyakitkan untuknya tapi, hidupku yang sekarang untuk Sena. Aku ingin hidup terus bersamanya, memiliki anak, cucu, dan sampai tua bersamanya.”
Suho memegang pundak Jaeha, “Harus. Kau harus mengatakannya, jangan buat kesalahan lagi jangan melukainya lagi.”
Hyunjae dan Sujin keluar dari lift, rupanya Hyunjae menjemput Sujin tanpa memberitahu gadis itu, rencananya Hyunjae ingin membuat rasa kesal Sujin padanya menghilang karena urusan Helena yang bertemu dengan mereka di supermarket waktu itu, rasa kesal Sujin memang masih belum hilang sepenuhnya menurut persentasi Hyunjae hanya tinggal beberap persen lagi karena perilaku Sujin padanya mulai melembut lagi seperti biasa.
“Sepatu siapa ini?” Tanya Hyunjae
Begtu Sujin melihat sepatu tersebut ia langsung pergi ke dalam rumah,
“Sena, mana Sena? Di mana dia?”
Bibi memberi kode agar Sujin jangan berisik, Bibi Jungmi menunjuk kamar Sujin memberitahukan di mana posisi Sena sekarang. Hyunjae pun mengikuti Sujin pergi ke kamar. Begitu melihat Sena sedang tertidur, kedua mata Sujin menjadi berkaca-kaca. Ia merasa senang karena Sena akhirnya datang, ia memiliki firasat kalau Sena akan menceritakan apa yang menjadi masalahnya saat ini. Tapi ia juga sedih karena tau kondisi rumah tangga Sena yang sebenarnya seperti apa.
“Biarkan dia istirhat, dari wajanya Sena kelihatan lelah sekali.” Bisik Hyunjae, Sujin mengangguk ia tidak akan membangunkan Sena. “Ayo kita keluar.” Tapi saat mereka akan keluar suara ponsel Sena membuat mereka terdiam, mereka menatap Sena yang mulai bergerak merasa terusik dengan suara dering ponselnya, Sujin dengan segera mengambil ponsel Sena, melihat siapa yang menghubungi sahabatnya itu Sujin akhirnya mengangkatnya.
“Oppa, Sena sedang tidur. Nanti kau bisa menghubunginya lagi—oke, nanti aku akan memberitahu Sena.”
Setelah panggilan telepon berakhir, Sujin memasukkan kembali ponsel tersebut ke dalam tas. Tapi ada sesuatu yang membuat Sujin tertarik, ia mengambil lembaran kertas itu keluar. Ia menutup mulutnya dengan tangan begitu sudah melihatnya dengan jelas. Hyunjae yang melihat Sujin hanya diam kini mendekati kekasihnya itu untuk melihat apa yang membuat sujin begitu kaget. Begitu melihatnya Hyunjae langsung membawa sujin keluar dari kamar.
“Sena... Sena hamil. Hyunjae, Sena hamil!” Perasaan Sujin tak menentu, perasaannya tak jelas seperti sebuah lukisan abstrak.
“Sayang...”
“Aku senang, tapi aku... aku juga...”
“Tetap rahasiakan dari Sena kalau kau tau tentang Jaeha dan Helena. Biarkan Sena sendiri yang berbicara padamu. Yang harus kau tunjukkan sekarang adalah kau bahagia karena Sena sedang hamil dan kau akan menjadi seorang tante, itu yang harus kau tunjukan lebih dulu.”
“Tapi—“ Hyunjae tersenyum meyakinkan Sujin, itu adalah hal terbaik yang harus dilakukan Sujin saat Sena bangun nanti. Hyunjae juga berpesan agar Sujin berhati-hati dalam bicara, haurs memikirkannya dengan baik terlebih dulu. “Arraseo.”
“Temani dia ya.” Hyunjae mencium bibir Sujin membuat si pemiliknya terpejam, diam-diam ia juga menikmatinya, ia sebenarnya merindukan ciuman ini. Karena sejak ia kesal dengan Hyunjae ia tak membiarkan Hyunjae untuk menciumnya. “Aku pergi dulu.”
Setelah beberapa menit Hyunjae pergi Sena keluar dari kamar, melihat Sena keluar Sujin dibuat kaget karena ia belum sempat mengembalikan hasil USG ke dalam tas Sena. “Maaf aku mengambilnya,” Jelas Sujin ketika melihat tatapan Sena padanya. “Selamat ya!” Sujin menuruti apa kata Hyunjae, bersikap seolah tak mengetahui permasalahan rumah tangga Sena. Yang ia tau hanya Sena sedang hamil dan ia harus bahagia.
“Gomawo!”
“Baru bepara bulan? Ah~ aku akan segera menjadi seorang tante!!” Ucap Sujin sambil mengusap perut Sena.
“Baru lima minggu. Aku senang karena dia bisa bertahan bersamaku.”
Sujin tak menyangka kalau Sena akan mengatakan kalimat seperti itu, itu semakin membuka celah agar Sujin bisa membuat Sena berbicara tentang semua masalah dan kesedihannya. Sena seperti sedang memancingnya. “Maksudmu apa? Bertahan bagaimana? Apa terjadi sesuatu?” Sujin mengajak Sena untuk kembali ke kamar.
“Hampir saja aku kehilangan dia. mungkin dia mengerti kalau aku sangat membutuhkannya, membutuhkan seseorang yang benar-benar bisa membuatku kuat.”
“Sena maksudmu apa? Apa terjadi sesuatu? Katakan padaku!”
Air mata Sena mulai mengalir dari kedua matanya, “Aku lelah. Aku benci dengan perasaan ini. Kenapa... kenapa aku harus mencintai orang yang salah lagi?”
Bicara, Sena akhirnya bicara. Prediksi Sujin benar, Sena akan mengatakan semuanya sekarang itulah kenapa dia datang ke apartemennya. Wajah lelah itu mengatakan semuanya. Meski ia bukan pemeran utama tapi Sujin bisa merasakannya, Sena mencintai Jaeha. Sakit hatinya Sena karena mencintai Jaeha, sakit yang teramat sangat, Sujin merasakan itu.
“Kau tidak salah Sena. Jaeha yang salah.” Sena menatap Sujin tak mengerti, Sena bahkan belum menceritakan inti permasalahannya tapi Sujin seperti sudah mengetahui semuanya. Sujin tidak bisa berbohong lagi pada Sena, Sena sudah memberinya celah maka dia harus mengatakannya sekarang, semua hal yang dia ketahui. Sujin tak bisa berpura-pura tidak tau apa pun lagi.
“Jaeha yang seharusnya berkata jujur padamu tentang masa lalunya. Jika dia benar mencintaimu harusnya sejak kedatangan wanita itu dia harus memutuskan siapa yang akan dia pilih.”
“Sujin, kau...”
“Maafkan aku Sena, aku tau. Aku sudah tau. Aku bahkan sudah bertemu dengan Helena, istri pertama Jaeha.” Sena menggigit bibirnya yang bergetar karena menahan tangis, tubuhnya ikut bergetar menahan jeritan hati yang ingin meraung melepaskan rasa sakit. Sujin segera memeluk Sena saat itu juga membuat tangis Sena pecah, begitu juga Sujin. Ia juga ikut menangis melihat derita sahabat baiknya itu. Tangis Sena begitu terasa menyakitkan untuk di dengar, pelukan erat Sena padanya seakan mencari ketenangan dan pegangan agar ia terus menjadi kuat. Tapi tangis yang dikeluarkannya mengatakan hal yang berbeda, Sena lelah, apalagi sekarang dia sedang mengandung.
“Maaf aku menyembunyikannya darimu. Maaf aku tidak segera menenangkanmu Sena. Maaf karena aku terlambat.” Sena tak kuat untuk bicara, ia hanya menangis tersedu-sedu bersama dengan Sujin. Sena lelah harus menangis terus seperti ini, ia ingin pergi jauh, jauh sejauh mungkin meninggalkan duka dan rasa sakit yang ia alami di sini. Tapi apa ia bisa?
---#---
*Bahasa Korea*
Arraseo \= aku mengerti/baiklah