
“Pulau Nami!!?”
Suho mengangguk membenarkan ucapan Jaeha, “Sena pergi bersama Minho dan juga anak-anak dari panti asuhan Cahaya Hati, yang aku dengar Sena aktif di kegiatan sosial.”
“kegiatan sosial. Jadi anak yang menabrakku waktu itu adalah...”
“kenapa kau tidak menanyakannya sendiri pada Sena?”
“aku sudah bilang padanya kalau aku tidak akan mencampuri urusannya.”
“dan sekarang kau ingin tau tentangnya? semuanya? Bukankah kau bilang kalian sering bersama saat masih kecil. Dia pasti tidak akan menolak jika kau bertanya padanya.”
“dia hilang ingatan hyung, dia sama sekali tidak mengingatku.”
“kau ingin Sena mengingatmu, benar begitu?”
Jaeha menatap Suho, mungkin memang benar itu yang dia inginkan tidak lebih hanya itu.
“ajak dia ke tempat dimana dulu kalian sering bermain atau pergi bersama, aku yakin dia akan mengingatnya.”
Gadis yang sedang dibicarakan Suho dan Jaeha kini tengah terpesona dengan keindahan warna dari dedaunan yang berjatuhan, barisan pohon berjajar rapih lurus sepanjang jalan seolah jadi pagar pembatas dan sedang menyambut kedatangan mereka.
Sena tersenyum senang melihat anak-anak berlarian sambil menendang-nendang daun yang menutupi jalan. Untunglah hari ini tidak terlalu ramai.
“eonni, ini sangat cantik.” Ucap Hyeoyeon, gadis kecil itu sejak tadi terus berda di sisi Sena.
“kau suka dengan tempat ini?” gadis kecil itu mengangguk, Sena melirik Minho yang juga tersenyum senang menatap anak-anak yang terlihat bahagia.
Sungwon menghampiri Minho, “hyung kapan kita akan ke kebun binatang? Aku ingin melihat binatang yang besar!”
“nanti setelah dari sini kita langsung pergi ke kebun binatang, kalian nikmati dulu pemandangan di sini.” Sungwon kembali menghampiri anak-anak yang lain
“Yeon-ah, kau tidak mau main bersama mereka?” tanya Minho pada Hyeoyeon
“aku ingin bersama eonni saja.”
Sena berjongkok memegang kedua lengan Hyeoyeon, “kau tau, hal yang paling menyenangkan adalah pergi bermain bersama seorang teman. Kau bisa membagi hal apapun bersama sahabatmu. aku tau kau masih belum terbiasa tapi kau harus menemukan teman sejatimu karena setiap orang itu berbeda.”
“Hyeoyeon! Ayo kita mandi daun!” Minhwa menghampiri Sena dan Hyeoyeon ia mengulurkan tangannya pada Hyeoyeon, gadis itu menatap Sena seolah bertanya apa semuanya akan baik-baik saja? dengan cepat Sena mengangguk meyakinkan Hyeoyeon, akhirnya Hyeoyeon mau diajak oleh Minhwa.
Hyuna menghampiri Sena, ia sangat lega karena akhirnya Hyeoyeon mau bergaul dengan yang lain.
“aku tau dia masih trauma karena dulu ia dikucilkan karena ayahna seorang kriminal, keluarganya bahkan tidak ada yang mau mengurusnya karena malu. Itu pasti sangat berat untuk anak seusianya.”
“aku tau, aku tau rasanya dibedakan. Aku tau rasanya disalahkan atas alasan dari hal yang sama sekali tidak kita ketahui dan tak masuk akal. Rasanya sangat berat.”
Minho memegang pundak Sena, pria itu dapat merasakan kesedihan yang dialami gadis itu.
“tapi jalan hidupnya masih pajang, dia tidak boleh terus seperti masa lalunya.”
‘meskipun aku sendiri masih terjebak dalam ketakutan akan masa laluku.’ Batin Sena
Nyonya Park datang menemui Jaeha di kantor, pria itu kaget karena ibunya tidak memberi kabar kalau akan datang.
“apa aku harus selalu memberi tahumu lebih dulu?”
“aku hanya takut ibu datang tapi aku sedang tidak ada di kantor. Ada urusan apa ibu datang kemari?”
“aku tadi pergi ke rumahmu, tapi orang dirumah bilang Sena sedang pergi dan kau juga belum pulang. Aku ingin memberikan ini untukmu dan Sena.”
Nyonya Park memberikan sebuah amplop pada Jaeha, “tiket ke Jepang? Maksudnya apa bu?”
“aku ingin mengirim kalian pergi bulan madu.”
“bu-bulan madu?” Jaeha benar-benar tidak percaya ibunya melakukan hal ini,
“benar, bulan madu. Aku pikir kalian akan pergi sendiri tapi sampai sekarang kalian belum juga pergi. Aku ingin kalian jadi lebih dekat lagi, dari yang ibu lihat kalian masih terlihat canggung satu sama lain.”
“tapi ibu tidak perlu sampai melakukan hal ini, kami akan dekat dengan sendirinya.”
“kapan? Sena masih belum ingat tentangmu kan? kau tidak pernah mengajaknya bicara soal masa kecil kalian kan?”
“tidak, aku tidak tau harus mulai dari mana. Aku akan melakukannya tapi tidak sekarang bu.”
“jangan membantah. Aku ingin kalian lebih dekat lebih akrab lagi seperti dulu. Nenek dan kakek Choi juga sudah setuju.”
“tapi bu--“
Nyonya Park mengangkat telapak tangannya pertanda Jaeha jangan lagi bicara dan membantah. “aku akan bicara langsung pada Sena, jadi kau jangan memberitahunya.” Jaeha hanya bisa pasrah, tak ada perlawanan lagi.
Minho dan Sena kini tengah jalan berdua, meskipun tadi sudah datang ke tempat ini tapi Sena masih saja tetap takjub dengan warna warni dedaunan musim gugur.
“tempat ini sangat romantis, meskipun Pulau Nami dekat tapi aku tidak pernah terpikirkan untuk datang kemari. Benar-benar.” Sena tersenyum mengejek dirinya sendiri,
“aku juga tidak terpikiran kenapa tidak dari dulu mengajakmu ke tempat ini.”
“bagaimana kehidupanmu dengan Jaeha?”
“selalu seperti itu, aku juga sering mengatakannya padamu bukan? Tapi akhir-akhir ini dia jadi selalu ingin tau aktivitasku urusanku dan segala macam. Padahal dia sendiri yang bilang kalau dia tidak akan mencampuri urusanku.”
“kau sudah ingat masa lalumu dengan Jaeha?” tanya Minho ragu
“aku tidak tau, hanya saat tadi saat bermain ayunan aku ingat saat Jaeha mengayunkanku dengan kencang dan aku memanggilnya Yoda, kepalaku bahkan sampai pusing.”
“seandainya kau ingat masa lalumu dengan Jaeha, apa yang akan kau lakukan?”
“maksud oppa perasaanku? Karena dulu aku mencintainya?”
Minho terdiam seolah mengiyakan pertanyaan Sena, “itu hanya perkataan anak kecil yang belum mengerti apapun. Lagi pula Jaeha sendiri sudah melupakanku saat dia pindah ke Prancis, dan sekarang dia pasti punya seseorang yang dia sukai, sama seperti aku.”
“benar, dia pasti memilikinya.” Gumam Minho
“jangan khawatirkan itu, aku rasa aku akan kesulitan untuk mengingatnya lagi karena itu sudah sangat lama.” Sena tersenyum, berharap Minho juga akan memberikan senyum manis yang selalu ingin ia lihat.
Tapi tanpa di duga Minho malah mencium Sena membuat gadis itu terkejut, Sena memejamkan matanya tapi tiba-tiba saja wajah Jaeha terlihat olehnya, Sena mencoba mengenyahkan wajah pria itu tapi tetap tidak bisa membuat Sena menjauh menyudahi tautan bibir mereka.
“ada apa?”
“ini tempat umum, ak-aku takut orang lain melihatnya dan jadi berita heboh.”
“kau mempermasalahkan itu?”
“aku harus melakukannya.”
Jaeha kini ada di klub beberapa wanita menggodanya sejak ia datang tapi Jaeha sedang tidak ingin bersama dengan mereka, yang ada dipikirannya kini hanyalah Sena yang sedang perg bersama dengan Minho.
“apa saja yang mereka lakukan di sana?” Jaeha kembali meneguk minumannya, seharusnya ia tidak perlu khawatir atau pun pusing karena Sena hanya melakukan pekerjaannya, Sena jelas menyukai Minho tapi akhir-akhir ini dia tidak suka jika Sena harus berdekatan dengan Minho.
“Jaeha?!”
Merasa terpanggil Jaeha melihat seseorang yang duduk disampingnya, “Jongmin?”
“benar kau Jaeha! Akhirnya kita bertemu lagi!”
“kenapa kau di sini? Bukannya kau di China?”
“aku ada urusan penting di sini, dan lagi aku akan bertanya hal yang sama kenapa kau di sini?”
“aku pindah beberapa bulan yang lalu,”
“dengan orang tuamu dan Helena? Maaf aku tidak bisa datang ke acara pernikahanmu.”
“aku tidak menikah dengan Helena.” Jaeha menatap gelas yang ada di hadapannya
“kau tidak jadi menikah dengannya? Bukannya kau bilang padaku kau akan menikahinya? Lalu kenapa?”
“dia pergi meninggalkanku, dia menikah dengan orang lain karena paksaan orang tuanya.”
“tapi kenapa tiba-tiba? Bukannya mereka merestui hubungan kalian?”
“orang tuanya memiliki hutang yang besar, hutangnya akan lunas jika Helena menikah dengan orang itu. seandainya aku tau dari awal mungkin aku akan membayar mereka dan sekarang Helena akan hidup bersamaku. tapi aku sekarang menikah dengan gadis lain.”
“kau sudah menikah!?”
Jaeha mengangguk, “dengan siapa? Aku pikir kau tidak akan semudah itu melupakan Helena.”
“aku memang tidak bisa melupakannya, karena aku tau Helena masih mencintaiku. Aku melakukan ini karena ibuku, aku tidak mau kejadian itu terulang lagi.”
Jaeha meneguk minumannya lagi, “aku menikah dengan teman masa kecilku.”
“tapi menurutku tidak buruk, kau pasti sudah mengenalnya dan dia juga sama sudah mengenalmu dengan baik.” Jongmin menerima minumannya
“dia tidak mengingatku, dia kehilangan ingatan masa kecilnya. Dia mengalami kecelakaan setelah aku pergi ke Prancis.”
“tapi tetap saja kau ingat dia, setidaknya tidak terlalu buruk. Kau ajak saja dia mengingat masa lalunya, aku yakin itu akan membantu.”
Jongmin dan ibunya menyarankan hal yang sama, ada keinginan dalam dirinya untuk melakukan hal itu tapi ia tidak tau apa Sena ingin mengingatnya atau tidak. Jika tidak usahanya akan sia-sia saja.