Maybe I Love You

Maybe I Love You
47. Don't Go



Rutinitas Sena saat hamil setiap pagi adalah jalan pagi, dia selalu bangun pagi sekali agar tak ketahuan oleh Jaeha. Dia mengikuti semua saran dokter agar kandungannya bisa lebih kuat dan sehat. Minum susu hamil pun selalu tanpa sepengetahuan Jaeha, jika ketahuan pun Sena hanya bilang kalau itu hanya susu murni biasa. Memang iya karena Sena jarang minum susu jadi Jaeha merasa sedikit aneh. Untung juga Jaeha jarang mengobrak abrik lemari dapur.


Tapi sayangnya pagi ini saat Sena sudah siap untuk jalan pagi, di depan pintu sudah ada Jaeha yang memakai pakaian olah raga sedang menunggunya. Sena pun berjalan mendekat, ia tidak punya pilihan lain, lewat jalan belakang pun Jaeha sudah mengetahui keberadaannya, untuk apa menghindar?


“Kenapa kau tidak pernah mengajakku, hm?” Tanpa aba-aba Jaeha mengecup kening Sena, membuat perempuan itu kaget. “Morning.”


“Kau pasti cape,” Meskipun terkejut sena tetap bersikap biasa. Memang bukan kali pertama serangan seperti ini, tapi itu selalu membuatnya terkejut dan membuat jantungnya berdetak tak karuan.


“Jika bersamamu aku tidak akan merasa cape.” Sena tak menanggapi, ia langsung membuka pintu. Jaeha pun mengiikuti di belakangnya.


“Ayo kita lari pagi!” Tanpa menunggu jawaban dari Sena, Jaeha langsung saja berlari. Sena memang ingin lari pagi, tapi tidak mungkin untuk sekarang. Yang ia takutkan sekarang adalah Jaeha akan bertanya kenapa dirinya hanya berjalan biasa saja. Sena lebih memilih berputar balik ke arah yang berlawanan. Sena memilih berjalan sambil mendengarkan musik, membuatnya jadi lebih tenang dan menikmati suasananya.


Sena kaget saat tiba-tiba saja Jaeha sudah ada di depannya, tubuh mereka hampir bertabrakan jika Sena tak segera menghentikan jalannya.


“Kenapa kau meninggalkanku?” Sena tak bisa mendengarnya karena ia menggunakan earphone. Jaeha kesal dengan wajah polos Sena, ia akhirnya melepaskan earphon sebelah kana Sena agar istrinya itu bisa mendengarkan ucapannya.


“Apa yang kau lakukan?” Sena akan memasangkannya lagi tapi di tahan oleh Jaeha


“Kau tidak bisa mendengarkanku kalau kau memakainya lagi.”


“Aku tidak perduli!” Kini Jaeha malah melepaskan earphone sebelah kiri membuat Sena kesal. “Kau ini!”


“Begini saja bagaimana?” Jaeha kini berdiri di samping Sena, mereka kini berbagi earphone. “Aku ingin tau lagu apa yang sedang kau dengarkan.” Sena malas berdebat, ia membiarkannya saja, akhirnya mereka berjalan berdampingan.


“Kenapa kau tidak lari?”


“Tidak ingin.”


Jaeha menghela nafas ketika mode cuek Sena sudah keluar. Pagi ini memang Sena sedang kesal pada Jaeha, moodnya kembali berubah jelek. Ia sedang tidak ingin melihat Jaeha, melihat batang hidungnya saja membuatnya begitu sangat kesal, entah karena apa tapi tiba-tiba saja begini. Malahan sekarang ia ingin memukul, mencubit, menjambak, seperti itulah. Menyiksa Jaeha rasanya seperti akan sangat memuaskan hatinya.


“Kau tidak akan pergi kemana pun kan malam ini?”


“Kenapa?”


“Aku hanya bertanya.”


“Tidak.” Lagi-lagi Jaeha menghela nafas, ia tak bisa melakukan apa-apa jika Sena sudah seperti ini. Dia hanya berharap Sena akan lebih menghangat lagi nanti.


Setelah Jaeha berangkat kerja, Sena menghampiri Bibi Hanmi yang sedang membereskan peralatan makan di dapur. “Bi, temani aku ya.”


“Ke mana?”


“Hari ini aku akan melihatnya.” Ucap Sena sambil mengusap perut datarnya, Bibi Hanmi tersenyum dan mengangguk setuju.


“Jam berapa? Apa yang harus di bawa?”


“Tidak ada. Hmm, jam sembilan kita berangkat.”


“Baiklah, aku akan memberitahu Paman Bong agar menyiapkan mobilnya.”


Tepat jam sembilan mereka pergi, senyum bahagia di dalam mobil terus diperlihatkan, percakapan soal si jabang bayi tak pernah berhenti sampai di rumah sakit. Segala macam hal soal kehamilan Sena tanyakan pada Bibi Hanmi, sena benar-benar antusias mendengar apa yang bibi hanmi katakan. jika saja keluarganya sudah tau dia pasti akan bertanya pada nenek atau ibunya, tapi dia masih belum siap untuk mengatakannya sekarang.


“keadaanya semakin baik, dia semakin sehat. Nah pada usia kehamilan ini organ-organnya suda mulai terbentuk. Di minggu ke enam kau sudah bisa mendengar suara detak jantungnya,” Sena meneteskan air matanya karena terharu, ia bersyukur bisa menjaganya sampai sejauh ini, usahanya tidak sia-sia, Sena dan Bibi Hanmi tersenyum penuh kebahagiaan, “jangan melakukan aktivitas yang berat-berat, hindari stress, dan makan makanan yang bergizi. Intinya pola hidup sehat.” Dokter In menyerahkan resep obat pada sena, “ini vitamin yang harus kau minum, pastikan jangan terlewat.”


“Baik dokter, terima kasih.”


Sena berpamitan untuk pergi.


“Sena, kau melupakan ini.” Dokter in memberikan hasil USG pada Sena, ia menerimanya dengan senyum bahagia.


“Kami permisi dokter.” Ucap Bibi Hanmi,


“Ah, aku merasa lega dengan hasil pemeriksaan tadi. Dia semakin sehat, semakin baik, perkembangannya juga bagus. Aku merasa sedang mengantarkan putriku sendiri.”


“Bagiku, Bibi sudah seperti Ibuku sendiri. bibi sudah membantuku dalam banyak hal yang ku lalui. Saat aku hampir saja kehilangan dia, Bibi yang membantu dan menjagaku. Terima kasih.”


“Sena~ ah, kenapa suasananya jadi seperti ini.” Bibi Hanmi menyeka air matanya, Sena tersenyum melihat Bibi Hanmi yang menangis terharu.


“Aku ingin buah jeruk, kita ke supermarket dulu ya Bi.”


“Beli lah apa pun yang kau mau, jangan di tahan.” Ucap Bibi Hanmi sambil tersenyum


Di kantor, Jaeha sibuk membereskan semua pekerjaannya untuk hari ini. Harus selesai sebelum sore, itulah yang sejak tadi dia katakan. Jaeha bahkan meminta pada Suho untuk memberikan pekerjaan yang lain. “Sudah. Semuanya sudah ku berikan padamu.”


“Ah, sudah bereskan? Sudah siap kan untuk nanti malam?”


Suho tersenyum, “Sudah, hanya tinggal sedikit lagi.” Jaeha bernafas lega, ia kembali berkutat dengan dokumen-dokumen kantornya.


“Jadi kau sudah menetapkan pilihanmu?”


Pena nya berhenti bekerja, “Mungkin sudah.”


“Mungkin?”


Suho tersenyum, akhirnya Jaeha bisa memilih mana orang yang dia inginkan untuk hidup bersama dengan dirinya selamanya. Orang yang tepat, orang yang memang lebih berarti untuk jaeha sendiri. Suho juga menginginkan hal itu, jaeha dan sena tetap bersama. Suho bahagia dengan pilihan Jaeha.


“Lalu kapan kau akan mengakhiri hubunganmu dengan Helena? Jangan buat kesalahan lagi Jaeha.”


“Sesegera mungkin. Aku tidak bisa membuat helena berharap lebih jauh lagi Hyung.”


“Lakukan dengan baik, buat agar Helena mengerti dan mau menerima kepetusanmu. Jangan berbuat kasar, bicara dengan kata-kata yang sopan.”


“Kau ini ayahku apa? Ceramahmu sudah seperti orang tua jaman dulu.”


“Aku hanya takut kau sampai membentaknya jika saja Helena tetap tidak ingin meninggalkanmu. Aku tidak akan bicara banyak lagi, karena kau sendiri sudah dewasa dan sudah tau mana yang benar dan salah.”


“Gomawo Hyung.”


Sena turun dari tangga lantai atas berniat ke dapur untuk mengambil puding dari dalam kulkas, tapi sebelum sampai Bibi Hanmi datang dari pintu utama sambil membawa sebuah kotak besar.


“Sena, ini untukmu.”


“Untukku?” mereka pergi ke kursi untuk melihat apa isi kotak tersebut, “Dari siapa Bi?” Bibi Hanmi menggeleng, ia tidak tahu. Sena pun membuka kotak besar tersebut, begitu terlihat isinya Bibi Hanmi langsung tersenyum senang melihatnya. Sebuah dress tanpa lengan selutut berwarna coklat susu dan sepatu hak dengan warna senada


“Pasti dari Jaeha. Oh, ini baca lah!” Bibi Hanmi mengambil sebuah catatan kecil dan memberikannya pada Sena.


‘Aku harap kau menyukainya, aku sudah menguhungi Paman Bong untuk mengantarkanmu nanti malam. Jam tujuh kau harus sudah berangkat. Aku akan menunggumu.’


Bukan raut bahagia yang keluar dari wajah Sena, tapi malah rasa takut yang ia perlihatkan dan Bibi Hanmi menyadari hal itu. “Sena, kau pasti takut kalau jaeha ingkar janji lagi bukan?” Tanpa ragu Sena mengangguk, ia sungguh sangat takut. ”Aku percaya kali ini Jaeha tidak akan mengingkari janjinya, dia benar-benar akan menunggumu di sana.”


“Tapi aku takut Bi.”


“Percayalah padanya. Dia akan ada di sana, menunggumu. Berdandanlah yang cantik malam ini. Kau tidak akan di kecewakan kali ini. Dia pasti ingin menebus kesalahannya, hm?” Sena menatap kembali pakaian yang masih ada di kotak, dia ingin sekali tidak datang dan membiarkan Jaeha merasakan apa yang sudah dia rasakan karena menunggunya berjamjam, tapi kenapa ia tidak tega?


Tepat jam tujuh malam Sena berangkat di temani Paman Bong, Sena bertanya di mana tempatnya tapi Paman Bong mengunci rapat-rapat mulutnya, ia sudah berjanji pada Jaeha untuk merahasiakannya dan ia tidak bisa membocorkannya meskipun Sena menatapnya dengan mata memelas.


Sena sampai di sebuah tempat seperti restoran, suasananya sangat sepi, tidak ada siapa pun yang terlihat. Sena mulai memasuki gerbang dan berjalan menuju pintu restoran, tapi saat ingin membukanya pintu tersebut terkunci, tidak ada orang yang bisa dia tanya.


Sena akhirnya memilih mengikuti jalan kecil ke arah belakang restoran, saat kakinya menginjak jalan kecil tersebut lampu-lampu kecil di samping kiri dan kanan jalan mulai bercahaya, senyum kecilnya tak bisa di tahan. Tak butuh waktu lama, begitu sampai di ujung jalan lampu-lampu yang lainnya mulai hidup, seseorang yang ia lihat sekarang tengah berdiri memunggunginya di samping meja yang berdiri tepat di tengah-tengah taman.


Mood Sena kini berubah, yang tadi pagi begitu kesal dengan Jaeha kini ia begitu sangat bahagia dengan kejutan ini. yang paling penting, Jaeha tidak berbohong. Dia benar-benar ada di Sana, sedang menunggunya.


Merasakan kehadiran Sena, Jaeha akhirnya berbalik, dia tersenyum lembut pada Sena dan memintanya untuk lebih mendekat.


“Maaf jika ini sangat sederhana, aku tidak bisa mengurus yang seperti ini. Ini juga s


Suho Hyung yang melakukannya.”


“Kau terlalu jujur.”


Jaeha tersenyum kikuk, “Tapi kau suka bukan?”


Sena mengangguk, “Tapi ada angin apa ini? tiba-tiba kau melakukan hal seperti ini?” Tanya Sena,


“Sebagian besar sebagai permintaan maaf, aku tau kau pasti takut kalau aku akan berbohong lagi kan?” Sena mengangguk, dia tidak bisa bohong, “Maafkan aku,”


“Aku yang harus minta maaf. Aku tidak mempercayaimu.” Jaeha mengusap pipi Sena dengan lembut, “Wajar saja. Aku mengerti.” Mata Sena terpejam menikmati belaian tangan Jaeha di pipinya, ia menarik nafas lalu menanyakan di mana makan malamnya. “Sekarang kau yang terlalu jujur. Sini duduk dulu.” Dinner romantis malam ini berjalan dengan lancar, mereka menikmati setiap hidangan sambil berbincang-bincang santai dengan penuh kebahagiaan.


“Terima kasih untuk makan malamnya, aku sangat menikmatinya.” Ucap Sena, perempuan itu langsung berdiri dari duduknya berniat untuk mengajak Jaeha pulang.


“Tunggu dulu.” Jaeha pun kini berdiri, berjalan ke arah belakang tubuh Sena. “Lihat ke atas!” Pada saat itu kembang api meletus mewarnai langit malam. Warnanya yang cantik menjadi penghias di langit malam yang berlatarkan gelap. “Kau dulu sangat suka dengan kembang api.”


“Sekarang pun masih sama. Cantik. Aku pikir kau sudah lupa.”


Jaeha merahasiakannya, sebenarnya dia memang lupa, maka dari itu ia bertanya pada Nenek Nam tentang apa yang disukai Sena, “Bagiku kau lebih cantik.”


Mereka kini berdiri saling berhadapan, Jaeha membetulkan mantel yang dikenakan Sena. “Sena...”


“Hm?”


Tatapan Jaeha begitu dalam pada Sena sehingga pandangan perempuan itu tak bisa berpaling ke tempat lain, kembang api yang selalu ingin dia lihat kini seakan tak berarti lagi. Wajah Jaeha semakin mendekat, Sena pun tak bisa menolak, mereka pun berciuman.



Semakin dalam ciuman mereka tangan Jaeha semakin erat menggenggam tangan sena.


Dalam ciuman itu, Sena sedang berusaha kuat menahan tangis. Pikirannya sedang dipenuhi pertanyaan apa arti dari ciuman ini sebenarnya, rasa tak ingin kehilangan yang ia rasakan seperti sebuah tipuan besar yang diberikan Jaeha untuknya.


“Aku tidak akan pergi.” Ucap Jaeha saat ciuman mereka usai. Ada rasa senang saat Jaeha mengucap kalimat itu, tapi Sena juga tak bisa percaya begitu saja dengan semua hal yang sudah dia ketahui dan dia lihat, sena tak bisa dengan mudah mempercayai itu. Dia juga tidak ingin menjadi yang kedua.


Sena tersenyum, “Tapi aku yang akan pergi.”


“Apa yang kau katakan? Pergi kemana?” Sena tertawa di balik kesedihannya. “Kau hanya bercanda bukan?” Sena tetap tertawa, “Sena~ jangan pergi dariku, oke? Aku juga tidak akan pergi darimu.” Tak memberikan jawaban, Sena hanya tersenyum.


Melihat raut wajah Jaeha yang terlihat sedih dan ketakutan akhirnya Sena mencium bibir jaeha lebih dulu. “Itu jawabanku.” Jaeha langsung tersenyum saat itu juga.