Maybe I Love You

Maybe I Love You
05. Kebenaran dan Kesalahan



Begitu sampai Sena langsung buru-buru masuk membawa belanjaannya karena dia sudah terlambat. “gara-gara para pendemo itu!”



“nenek maaf aku---“



Sena kaget melihat kakeknya datang dan juga ada tamu di rumahnya, ia tidak diberi tahu kalau mereka kedatangan tamu.



“maafkan aku, aku tidak tau kalau...”



“Sena-ya, ini keluarga kakek Park Tae Jo. Kau mengingatnya? dulu kau sering sekali bermain bersama dengan cucunya di sini.” gadis itu menggeleng, sejak kecelakaan itu Sena tidak mengingat masa kecilnya. Yang ia ingat hanya ibunya, ayahnya, nenek dan kakeknya saja.



“kau sangat cantik kau sudah tumbuh dewasa, kau tidak mengingatku?” wanita bernama Ahn Mi Rae memeluk Sena, gadis itu tersentak tapi dari raut wajahnya menandakan kalau dia benar-benar nyaman dalam pelukannya.



“maafkan aku.” Sena menunduk merasa bersalah,



“tidak apa-apa aku mengerti, ini paman Park Gyu Tae dan ini ibu mertuaku Jung Hae Ra.”



“annyeong haseyeo.” Sena membungkuk member salam,



“kenapa Jae belum datang?” tanya Kakek Park



“maaf aku datang terlambat.”



Sena merasa familiar denga suara orang yang baru masuk ke dalam rumah kakeknya, “itu dia putraku, Park Jaeha.”



Mendengar nama yang disebutkan Tuan Park tadi membuat Sena memeriksa ke arah pintu, matanya melebar melihat orang yang berdiri itu adalah orang yang sama dengan orang yang dia pikirkan detik ini.



“neo!” ucap mereka berbarengan



“kalian sudah bertemu?” tanya nyonya Park karena melihat reaksi Sena dan putranya



“Jaeha-ya, ini gadis kecil yang fotonya ibu berikan padamu semalam. Kau ingat sekarang?”


Jaeha pun juga kaget ternyata gadis yang ada di foto itu adalah gadis yang tidak punya malu dan bar-bar itu. dunia benar-benar sempit! Ditambah lagi gadis itu adalah teman masa kecilnya, kenapa Jaeha tidak bisa ingat?



“lebih baik kita makan malam dulu, aku sudah sangat lapar.” Ucap Kakek Choi



Kakek Choi dan Kakek Park benar-benar akrab pergi ke ruang makan pun mereka saling rangkul, tapi perasaan Sena benar-benar tidak enak perasaanya mengatakan akan terjadi satu hal besar setelah makan malam ini.



Melihat Jaeha membuat Sena teringat malam itu, pikirannya mulai kotor membayangkan hal yang tak perlu dia bayangkan!



‘Kenapa lelaki tampan rata-rata playboy? aku bahkan menyebutnya tampan!’ batin Sena



Tapi dia memang tidak memungkiri kalau Jaeha memang tampan apalagi dilihat dari samping seperti sekarang karena mereka duduk bersebelahan di tempat makan.



“aku memasak makanan yang sederhana, semoga kalian menyukainya.” Ucap Nenek Nam



“sederhana lebih baik.” jawab Nenek Jung



“waktu kecil mereka selalu saja berebut makanan, tapi sekarang mereka sepertinya malu-malu.” Nenek Jung berkomentar setelah sedari tadi memperhatikan Jaeha dan Sena yang saling diam.



“ibu mereka baru bertemu kembali setelah sekian lama, wajar sajakan? Lagi pula mereka bukan anak kecil lagi, mereka sudah dewasa.” Ucap Nyonya Park



“Jaeha-ya, maafkan Sena jika dia tidak bisa mengingatmu. Sena mengalami kecelakaan sewaktu kecil jadi ingatan masa kecilnya terhapus.” Ucap Nenek Nam



“ne.” Entah apa yang harus ia jawab karena sebenarnya juga lupa-lupa ingat tentang masa kecilnya bersama Sena.



Nenek Nam menyuruh Jaeha dan Sena berjalan-jalan dulu di taman belakang dengan alasan mengakrabkan diri mereka masing-masing karena sudah lama tidak bertemu.



Hampir 15 menit mereka menyusuri taman tapi tidak ada kata yang keluar dari mulut mereka masing-masing, hanya kadang terdengar hembusan nafas berat yang mereka keluarkan.



“jadi kita teman masa kecil?”



“harusnya kau ingat karena isi kepalamu tidak rusak.”



“setelah diingat-ingat kau dulu tidak seperti ini, kenapa sekarang kau berubah?”



“kau ingat rupanya aku orang seprti apa. setiap orang akan berubah! Kau sendiri melupakanku berarti kau sudah berubah, benarkan?”



Jaeha harus ekstra sabar karena Sena selalu bisa menjawab setiap pertanyaannya dan membuatnya kesulitan untuk menjawabnya kembali.



“ngomong-ngomong orang tuamu kemana? Kenapa mereka tidak ada?”



Sena menghentikan langkahnya membuat Jaeha juga ikut berhenti, “aku tidak tau.”



“mana mungkin kau tidak tau, kau kan putrinya.”



“sudah kubilang aku tidak tau dan aku tidak peduli!” nada bicara Sena mulai meninggi, Jaeha sadar itu lebih baik dia mengganti topik pembicaraan dan menanyakan sisanya pada ibunya.



“baiklah, aku minta maaf karena menanyakannya.”



Sena kembali berjalan, “kanapa keluargamu datang ke rumahku?”



“rumah kakemu.”



“iya lah terserah! Jawab saja!”



Jaeha berpendapat kalau hyerim tidak diberitahu soal perjodohan mereka jadi lebih baik Jaeha juga tidak memberitahunya.



“entahlah. Aku hanya ikut saja.”



Seorang pelayan datang menghampiri mereka berdua, “nona, tuan. Nyonya besar memanggil kalian.”



“kalian akan menikah 2 minggu lagi.”



Ucapan kakeknya bagaikan petir di siang bolong, Sena benar-benar terkejut dia tidak percaya kakeknya mengambil keputusan seperti itu tanpa membicarakannya lebih dulu.



“kakek, janga bercanda. Aku saja tidak ingat apapun tentang dia kenapa malah.... malah jadi menikah?!”



Sena melirik ke arah Jaeha, pria itu sama sekali tidak menunjukkan reaksi keterkejutannya, “kau sudah tau?” Sena benar-benar dibohongi,



“kalian dulu berencana akan menikah ketika sudah dewasa, sekarang keinginan kalian terwujud.”



“kakek itu hanya pembicaraan anak kecil. Itu cinta monyet! Bohong kalau dia tidak memiliki kekasih, bohong kalau dia tidak mencintai seseorang!” Sena menunjuk Jaeha



“katakan kau punya orang yang kau cintai kan?” Sena meminta jawabannya dari Jaeha,



“kau juga tidak setuju kan dengan rencana pernikahan ini? katakan!” air mata gadis itu sudah mengalir di pipinya



Jaeha memang tidak setuju, tapi dia menyayangi ibunya lebih dari apapun “aku setuju. (aku terpaksa)”



“nenek, nenek tau kan aku menyukai seseorang. Katakan itu nek! Katakan pada kakek!”



“Sena-ya kau tidak boleh menolak. Ini demi kebaikanmu.” Sena merasa kecewa dengan neneknya,



“kakek aku mohon, ini tidak benar kan?” Sena beralih memohon pada Kakek Park,



“maafkan aku Sena-ya, keputusan ini sudah bulat. Kami sudah berjanji sejak dulu kalau kami akan menikahkan kalian berdua jika kalian sudah dewasa.”



Sena pergi begitu saja meninggalkan mereka dengan rasa kecewanya, perasaannya hancur neneknya bahkan tidak mau membelanya. Seolah-olah mereka tidak menginginkan kebahagiaan untuknya.



Gadis itu menangis sesegukan di kamarnya, setelah dia merasakan kebahagiaan seharian ini kenapa tiba-tiba sekarang awan mendung mengintarinya?



Sena ingin menghubungi Minho tapi ponselnya di rebut oleh neneknya,



“jangan hubungi dia lagi!”



“kenapa nenek tidak bilang pada kakek kalau aku menyukai Minho oppa? Harusnya nenek bilang!”



“kau tidak bisa menikahinya! Kalian tidak boleh menikah!”



“kenapa tidak bisa?! Katakan alasannya kenapa tidak bisa!? Apa karena dia tidak sekaya Jaeha?”



“dia itu kakakmu!”



Sena terdiam dadanya terasa sangat sesak neneknya seperti melemparkan bom tepat di jantungnya,



‘fakta macam apa ini? kakak?’



“satu ayah beda ibu. Dia kakakmu! Kau tidak bisa menikah dengannya!”



“nenek jangan bercanda! Ayahku Kim Han Soo, marga kami saja berbeda apa maksud nenek?”



“ibumu menikah dengan Lee Byung Jae, setelah satu tahun pernikahannya tiba-tiba seorang wanita datang dengan anak kecil yang berusia 5 tahun dan dia adalah putra ayahmu. Ibumu tidak menerimanya dan akhirnya mereka bercerai tanpa tau kalau ibumu sedang hamil. Setelah kau lahir Hwaran kembali menikah dengan Kim Han Soo, ayahmu yang sekarang.”



Kakinya terasa lemas, gadis itu jatuh terduduk di lantai fakta itu seakan membuat dunianya hancur. Kenapa dia dibohongi, kenapa mereka tidak jujur padanya sejak dulu?



“waktu itu kau pergi dari rumah tanpa sepengetahuanku, dan Minho lah yang menemukanmu. Kau tidak mau berpisah darinya kau ingin selalu dekat dengan Minho dan itu membuatku membiarkan kalian dekat sampai sekarang. aku melakukannya demi kebahagianmu karena kau selalu menangis ingin bertemu dengan ibumu dan Minho lah yang akhirnya membuatmu tersenyum.”



“harusnya nenek bilang padaku! Harunya kalian memberitahuku!” Nenek Nam memeluk Sena yang menangis semakin keras, dan itu juga membuatnya ikut menangis.



“maafkan nenek, ini salah nenek.”



“kenapa dia tidak pernah memberitahukannya padaku! Kenapa?”



*flashback*



“dia adikmu, apa kau sudah tidak waras?!” terlihat wajah bagian kanan Minho memerah



“aku tidak bisa membohongi perasaanku kalau aku mencintainya.”



“buang perasaanmu padanya dan katakan yang sejujurnya pada Sena.”



“aku tidak bisa melakukannya, Sena juga memiliki perasaan yang sama denganku.”



“aku membiarkanmu tetap disisinya hanya untuk membuatnya ceria dan bahagia bukan jadi seperti ini.”



“maka dari itu tolong restui kami, aku akan membuatnya bahagia aku tidak akan pernah membuatnya terluka. Dan asal nenek tau aku tetap tidak akan pernah melepaskanya apapun yang terjadi.”



“kau memang sudah tidak waras!”



**



Ini adalah hari ke lima setelah kejadian malam itu, peresmian tanggal pernikahannya dan fakta tentang Minho adalah kakak tirinya.



Neneknya pasti sedang sibuk mempersiapkan segala keperluan pernikahannya, Sena bahkan tidak pernah keluar kamar setelah kejadian itu. ia hanya menyuruh pembantu untuk mengambilkan apa yang dia mau.



Minho bahkan memanggilnya berpuluh-puluh kali tapi Sena enggan untuk mengangkat panggilan darinya, bahkan pesan dari sujin pun sama sekali tidak dia balas. Dia tidak ingin berkomunikasi dengan siapapun.



Triiiinnng!



Minho:


Ayo kita bertemu!



Sena sebenarnya tidak ingin bertemu dengan Minho, tapi dia juga ingin tau kenapa Minho tidak pernah memberitahukan kebenaran itu padanya ataukah Minho benar-benar tidak tau kalau dia adalah adiknya?



Begitu datang Sena melihat Minho tengah menunggunya, perlahan Sena menghampiri Minho. Fakta tentang Minho, ciuman malam itu kencan pertama mereka semuanya melintas degan tiba-tiba membuat air mata di pelupuk matanya menumpuk.



“kau baik-baik saja?”



“kau pikir aku baik-baik saja?”



“Sena -ya dengarkan aku--“



“kenapa kau tidak jujur padaku?! Kenapa ka menutupi kenyataannya?!”



“karena aku benar-benar mencintaimu. Aku tidak mau kehilanganmu aku ingin tetap bersamamu bukan sebagai seorang kakak.”



“tapi itu tidak bisa. Itu tidak boleh terjadi!” air mata yang sedari tadi ditahannya kini tumpah membasahi pipinya.



“kau mencintaiku? Kau menyukaiku?” Sena mengangguk, dia juga tidak bisa bohong soal perasaanya dia nyaman berada dekat Minho, dia selalu bahagia ketika dekat Minho.



“kalau kau memang mencintaiku, ayo kita pergi.” Minho menyerahkan tiket pesawat padanya,



“kita pergi dari sini, jauh dari sini.”



“tapi aku tidak bisa, ini... ini tidak boleh terjadi. Ini sudah salah sejak awal.”



“aku tidak peduli! Aku hanya ingin bersamamu selamanya itu saja. apa kau mau menikah dengan orang yang tidak kau kenal?”



“dia sahabat kecilku Jaeha, dia bukan orang lain.”



“kau ingat dia? apa kau mengingatnya?” pertanyaan Minho membuatnya terdiam, Sena memang tidak mengingat apapun tentang Jaeha.



“aku akan menunggumu besok pagi di bandara. Aku harap kau datang dan ikut bersamaku.”