Maybe I Love You

Maybe I Love You
65. Tidak Baik-baik Saja



Helena berdiri di depan pintu gerbang rumah Jaeha, ia datang sambil membawa bubur untuk Jaeha karena ia mendengar kabar Jaeha yang tidak masuk kantor dalam beberapa hari dan sedang dalam kondisi yang buruk.


“Ini adalah waktu yang tepat untukmu.”


Kata-kata Minho mempengaruhinya, hingga akhirnya Helena sudah berdiri di sini. Sebenarnya perempuan itu ragu untuk datang, bahkan sudah setengah jam ia berdiri di depan pintu dan terus merasa ragu untuk menekan bel. Ia masih berkutat dengan pikirannya, apa pilihannya sudah benar untuk datang ke sini sekarang mengingat Jaeha sangat terpukul dengan kepergian Sena yang mendadak. Rasa senang dihatinya begitu sangat menjengkelkan.


Ting tong!


“Siapa?” Suara Bibi Hanmi terdengar dari intercom


“Aku ingin bertemu dengan Jaeha, aku...” Helena terdiam sesaat, “Aku keluarganya Jaeha.”


Beberapa detik kemudian pintu pagar terbuka, Helena pun melangkahkan kakinya untuk masuk.


“Bagaimana kondisi Jaeha?”


“Jaeha sama sekali tidak keluar kamar sejak kepergian Sena. Jaeha sangat terpukul dan terus merasa menyesal. Ia bahkan belum makan atau pun minum, Jaeha benar-benar mengurung dirinya di kamar.”


“Jaeha pasti sangat mencintai Sena...”


“Kami semua bisa melihatnya dengan jelas, selain Jaeha kami juga mengkhawatirkan Sena, apalagi sekarang Sena—“ Bibi Hanmi tak bisa mengatakan hal itu, apalagi jika perempuan yang bertamu sekarang adalah keluarga Jaeha.


“Sekarang apa?”


“Ah tidak, kami hanya khawatir kalau Sena sakit atau yang lain. Nona bisa pergi ke kamarnya, tolong bujuk dia agar Jaeha mau makan sesuap saja. Ini sudah empat hari.”


Helena merasa terpukul mengetahui kalau Jaeha benar-benar terpuruk seperti sekarang, tidak mau makan, tidak mau minum, tidak keluar dari kamar. Helena benar-benar merasa bersalah, ia ingin Jaeha kembali tapi ia tak mau melihat Jaeha terluka.


“Ah, Jaeha berada di kamar Sena. Kamar di sebelah kanan.” Meski Helena mengetahui fakta kalau ternyata mereka pisah kamar, tapi cinta Jaeha untuk Sena itu nyata.


Ada sedikit rasa takut dalam benak Helena begitu ia sampai di depan kamar Sena, ia takut jika Jaeha akan melampiaskan rasa kesal dan amarah itu padanya. Tapi jika itu memang yang harus ia terima dari Jaeha ia akan terima, Helena pun mengetuk pintu.


Tak ada jawaban


“Jae, ini aku. Bisa kau buka pintunya?”


Helena kembali mengetuk pintu,


“Jae, aku tau kau tidak suka aku datang kemari. Tapi aku khawatir padamu, aku dengar kau belum makan sama sekali, tolong buka pintunya dan makan. Aku... aku datang ke sini sebagai teman, untuk temanmu ini aku mohon buka pintunya.”


Hening, isi kamar itu tetap hening. Helena gelisah, ia takut kalau Jaeha pingsan di dalam sana karena tak menjawab dari tadi.


“Jae! Tolong buka pintunya! Kau tidak apa-apa kan? Jae!”


Seorang anak kecil datang menghampiri Helena, beberapa detik anak itu memandangi Helena dari atas sampai bawah, Helena pun tersenyum menyapa gadis kecil itu, Seol.


Tok tok tok!


“Oppa! Neneknya Kak Sena datang! Katanya Nenek ingin bertemu denganmu.”


Tanpa di duga pintu yang semula terkunci rapat itu kini terbuka, Jaeha langsung pergi ke bawah tanpa memperdulikan Helena yang sudah berdiri sejak tadi. Helena tersenyum sedih, Jaeha benar-benar sudah tidak ingin bertemu dengannya lagi.


Nenek Nam melihat Jaeha yang turun dengan terburu-buru, Nenek bisa melihat penampilan Jaeha yang tidak biasa, semuanya terlihat acak-acakan dan itu membuat Nenek memejamkan mata sesaat, ia juga tidak tega melihat Jaeha seperti ini, tapi semua sudah terlanjur. Begitu Jaeha sudah berdiri dihadapannya, Nenek Nam lebih dulu bicara sebelum Jaeha menanyakan keberadaan sena padanya.


“Ini surat cerai kalian!”


Senyum harapan Jaeha lenyap begitu saja begitu mendengar kata cerai yang keluar dari mulut Nenek mertuanya. Yang ia inginkan bukan itu, yang ia inginkah adalah Nenek bisa memberitahunya di mana keberadaan Sena dan juga memberitahunya kalau Sena akan memberikan kesempatan terakhir untuknya agar mereka bisa bersama kembali.


“Sena sudah menandatanganinya, tinggal kau yang harus menandatanganinya.” Nenek Nam melihat Helena yang berdiri di ujung tangga, Nenek Nam benar-benar tidak menyangka jika Jaeha membawa perempuan itu kerumahnya setelah Sena pergi meninggalkannya.


“Sena merasa ia menjadi orang ketiga diantara hubunganmu dengan istri pertamamu, ia tidak ingin terus menjadi penghalang hubungan kalian. Dia juga berkata agar kau bisa bahagia dengan istri pertamamu, ia tulus mengucapkannya sebagai teman masa kecilmu. Lupakan dia Jaeha.”


“Bagaimana aku bisa bahagia Nek? Bagaimana aku bisa melupakannya sedangkan Sena adalah kebahagiaanku! Dia segalanya untukku, Sena sudah salah paham! Nenek sungguh aku—“


“Segera tanda tangani surat itu agar semua masalahnya cepat selesai.” Nenek Nam pergi meninggalan Jaeha yang terdiam menatap berkas perceraian di tangannya.


Nenek Nam bersedih ia menyesali takdir cucunya yang begitu menyakitkan disaat Sena tengah hamil, kenapa kejadian yang sama harus terulang kembali? Harapan terbesar dari kedua keluarga harus hancur dalam waktu yang singkat.


Helena dengan langkah pelan turun untuk menghampiri Jaeha, ia memanggil nama pria itu. Helena tertegun melihat tatapan sedih dan putus asa dari Jaeha. Tangan Helena yang memegang nampan bergetar, Helena seperti terbawa oleh kesedihan Jaeha dan ini semua karena kesalahan dirinya.


Jaeha berjalan gontai kembali ke kamarnya, tapi Helena juga dengan cepat menahan Jaeha agar mau makan sesuap saja. Tanpa di duga Jaeha malah menjatuhkan nampan yang dibawa Helena, dengan tatapan tajam itu Jaeha meminta Helena untuk tidak datang menemuinya lagi. Helena benar-benar ketakutan dengan tatapan itu, Jaeha tidak pernah menatapnya seperti itu sebelumnya. Helena pun menangis terisak.


Suara dentuman musik membuat malam di gedung tersebut menjadi begitu ramai, lampu kerlap kerlip menambah suasana malam yang ramai dan sesak oleh orang-orang yang berdansa memuaskan hasrat pribadi mereka.


“Kami sudah menemukan kediaman Nyonya Kim, tapi Sena sudah tidak ada di sana.”


“Apa? Dia pergi lagi? Kemana?” Tanya Minho setelah meneguk habis minumannya,


“Kami tidak mendapatkan informasi mengenai itu. Saat kami bertanya pun mereka sangat menjaga mulut mereka dengan rapat.”


**


Beberapa bulan kemudian


Amsterdam, Belanda


Mera, Kim Mera. Sena merasa senang dengan nama barunya, ia mengganti namanya menjadi Kim mera. Sena bahkan berencana ingin merubah kewarganegaraannya tapi keluarga menentangnya, mereka mengijinkan Sena mengganti namanya tapi tidak dengan kewarganegaraannya. Sena mengganti namanya agar tidak mudah ditemukan oleh Jaeha maupun Minho, ia akan melakukan apapun agar keberadaannya tidak ditemukan oleh mereka berdua.


Mera kini menikmati pemandangan ladang hijau di depannya, ia ikut bersama Leon ke Amsterdam karena ia yakin Jaeha atau Minho pasti akan datang mencarinya ke Swiss, ia tidak akan bisa tenang jika terus tinggal bersama Ibunya. Jujur saja setiap hari ia merindukan Jaeha, nama pria itu selalu saja muncul dalam pikirannya setiap hari, bagaimana keadaannya, apa yang ia lakukan, pertanyaan-pertanyaan spele seprti itu membuatnya penasaran dengan jawaban yang entah kapan akan ia dapatkan.


Mera mengusap perutnya yang kini sudah membesar seiring dengan berjalannya waktu, “Maafkan aku karena kau jadi terpisah jauh dengan ayahmu, aku bukan Ibu yang baik benarkan? Tapi ibu bersyukur karena kau adalah anak yang baik, kau bisa memahami Ibu.”


Guk! Guk!


Mera melihat Snow yang berlari mengahampirinya diikuti Leon yang membawa segelas susu untuknya. Snow adalah anjing putih milik Mera, Leon sengaja membelikan anak anjing untuk adiknya itu agar Mera tidak merasa kesepian apalagi jika Leon sedang pergi ke luar kota.


“Waktunya minum susu!” Leon menyerahkan gelas berisikan susu yang langsung diterima oleh Mera


“Orang lain pasti akan berpikir kalau Kakak adalah suamiku.” Mera mulai meminum susu hangatnya


“Itung-itung belajar menjadi seorang suami.” Leon kini ikut berdiri di samping adiknya, melihat pemandangat menyejukkan yang terhampar luas di halaman belakang rumahnya. Dari jarak ini mereka bisa melihat sapi-sapi perah yang berada di ladang. Benar, Leon memiliki peternakan sapi perah sendiri, Leon berkecimpung dalam industri peternakan.


“Makannya kau harus segera menikah, banyak gadis yang terus mendekatiku karena ingin mendapatkanmu. Tapi kau sama sekali tidak pernah melirik salah satupun dari mereka.”


“Tunggu saja! Kau akan segera mendapatkan Kakak ipar yang cantik dan baik seperti Ibumu.”


“Arraseo, arraseo!”


“Sebenarnya apa yang kau pikirkan selain Jaeha?”


“Surat perceraian, surat itu belum sampai padaku padahal Nenek bilang sudah menyerahkan suratnya pada Jaeha tapi...”


“Harusnya kau tau Jaeha tidak akan pernah menandatangani surat itu. Mungkin dia sudah membakarnya jadi abu sejak Nenek memberikan surat itu padanya.”


Leon melirik Mera yang tengah meminum susunya “Kau masih mencintainya, bagaimanapun kau menyembunyikannya kau tidak bisa menutupinya. Kau menangis setiap malam karena kau merindukannya benarkan?”


“Tidak setiap malam kok! Kakak tau apa soal itu?”


“Aku ini lebih pintar darimu, aku sering melihat matamu bengkak setiap pagi kau tidak bisa menipuku dengan alasan disengat serangga atau sejenisnya, jelas kau menangis karena kau memikirkan Jaeha.”


“Kau selalu saja so tau!”


“Setidaknya perkataanku ada yang benar.” Leon melihat jam tangannya, “Aku harus pergi ke kantor ada rapat mendadak.”


Leon mengacak poni Mera membuat si pemilik rambut mendengus kesal.


“Besok jadikan kita pergi ke acara festival?”


“Tentu, aku takut nanti bayimu ngiler saat dia lahir karena kau tidak bisa pergi ke festival itu.” Dengan cepat Leon pergi dari hadapan Mera,


“Ya! Leon Kim!!!” Orang yang dipanggil tetap melenggang pergi sambil melambaikan tangannya.


“Haish jinjja! Sayang aku harap kau tidak seperti Om mu itu ya?” Bayi itu menendang perut Mera dengan kuat, “Aw! Dasar jagoan Ibu, apa itu berarti kau setuju?” Mera mengusap bekas tendangan bayina, “Apa ini kakimu sayang?” Mera mengusap bagian perutnya yang menonjol, Mera sudah cukup bahagia dengan hal ini, meskipun memang ia masih sering menangis karena rasa rindu yang terpendam pada Jaeha. Leon tidak bohong soal itu, meskipun bisa dibilang baru bertemu tapi Leon sudah sangat mengenalnya dengan baik.


“Jaeha, kau bilang ingin anak laki-laki kan? Keinginanmu terwujud, dia baby boy! Ayahmu pasti sangat senang.” Sang jabang bayi menendang kembali dan malah tidak bisa diam. “Apa kau juga senang sayang? Aw, perut Ibu.” Mera tersenyum bahagia, semuanya baik-baik saja ia sangat bersyukur, tak penting soal perasaannya terhadap Jaeha, ia sekarang hanya terus berdoa agar bayinya bisa sehat dan normal. Mera pun kembali menikmati waktu santainya bersama Snow.


Hansoo menghampiri istrinya yang terlihat melamun sedari tadi, bahkan saat dirinya duduk pun Hwaran tidak merasakan kehadirannya. Barulah saat Hansoo memegang tangannya Hwaran tersadar.


“Apa yang sedang kau pikirkan?”


“Mera, aku tidak bisa melihatnya terus menangis merindukan Jaeha. Apa yang harus aku lakukan? Jaeha juga sama ia merindukan Mera. Kau ingatkan bagaimana dia memohon agar diberitahu keberadaan Mera? Tapi aku tidak bisa melanggar janjiku pada Mera.” Hwaran tertunduk mengingat kembali saat Jaeha datang menemuinya dan memohon-mohon bahkan sampai berlutut di depan ia dan suaminya agar diberitahu mengenai keberadaan Mera.


“Mera butuh sosok seorang suami sekarang, ini pertama kali dalam hidupnya ia akan menjadi seorang Ibu. Aku tidak mau dia mengalami hal yang sama seperti yang ku alami.”


“Kau terus mengatakan kalau mera mempunyai nasib sama sepertimu, itu tidak baik.” Hansoo memegang erat tangan istrinya itu


“Apa aku harus tetap memisahkan mereka? Atau aku harus mengatakan hal yang sejujurnya pada Jaeha?”


“Mengingkari janji untuk kebaikan aku kira itu bukan hal yang salah. Aku akan mendukung apapun keputusan terbaikmu. Aku yakin, kau akan memilih keputusan yang terbaik terutama untuk anak dan cucu kita.”


---#---


**Jadi Sena udah ganti nama jadi Mera. Untuk bagian Minho bakalan tetap panggil Sena, untuk Jaeha beberapa episode kedepan masih panggil Sena tapi nanti dia bakalan manggil Mera juga.


Ada yang udah gak sabar nungguin Babynya? 😁😁**