Maybe I Love You

Maybe I Love You
13. Honeymoon



Nyonya Park pergi mengantar Sena dan Jaeha ke bandara Incheon, nyonya Park bahkan datang pagi sekali karena dia khawatir menantu dan anaknya akan kabur. Nenek Nam juga ikut mengatar Sena dan Jaeha.


“keinginanmu akhirnya terpenuhi.” Ucap Nenek Nam


“keinginan apa?” tanya Sena bingung


“kau dulu bilang, kau ingin pergi bulan madu ke Jepang dengan Jaeha ketika kalian menikah nanti.” Nyonya Park tersenyum mendengar perkataan Nenek Nam


“nenek ingat soal itu tapi setiap hari ulang tahunku nenek selalu lupa! Aku tidak mengerti.”


Nenek Nam mencubit pipi Sena, “aigoo! Sudah sana pergi. Aku harap kalian membawa oleh-oleh yang membuat kami bahagia.”


“jaga Sena baik-baik.” ucap nyonya Park pada Jaeha


“aku mengerti, kami pergi dulu.”


Begitu sampai di penginapan, Sena langsung terpesona dengan rumah yang mereka tempati, suasananya sangat sejuk ditambah lagi halaman belakang yang dihiasi warna-warni daun musim gugur yang sangat cantik. Kolam ikan koi dan air mancur mini yang keluar dari bambu menambah kesan tradisional Jepang yang kental.


“kalau nona perlu sesuatu panggil saja kami.”


“ah! apa kau punya gitar?”


Jaeha membiarkan Sena pergi lebih dulu ke tempat penginapan mereka karena Jaeha ingin melihat dulu cabang perusahaannya di Jepang.


“kau sudah mengurusnya dengan baik. aku percayakan semuanya padamu.”


“baik pak. Aku tidak akan mengecewakanmu.” Ucap tuan Takada


Jaeha mengendarai mobilnya menuju penginapan, ia berharap Sena akan betah dengan tempatnya dan tidak membuat hal yang memalukan atau melakukan hal yang salah.


Pelayan membawa koper dan barang-barang Jaeha ke dalam rumah, “dimana Sena?”


“nona ada di halaman belakang.”


Jaeha berjalan masuk, tiba-tiba ia mendengar suara petikan gitar dari halaman belakang, langkahnya menjadi pelan berniat tidak ingin mengganggu si pemain.


“siapa yang main gitar?”


Begitu sampai di ambang pintu ia melihat Sena sedang memainkan gitarnya, gadis itu mulai bernyanyi. Jaeha bahkan takjub mendengar suara merdu Sena, ia tidak tau kalau Sena ternyata bisa memainkan gitar bahkan bernyanyi dalam bahasa Jepang pula.


Sena terlihat sangat bahagia, seperti seseorang yang bertemu kembali dengan teman lama.


(Itsu kara kono mune de yureteru hikari tebanashitaku wa nai, toomawari shitemo tsumazuitemo koko ni, zutto zutto hikatteru)


~Aku tak ingin melepaskan cahaya kerlap-kerlip di hatiku, bahkan jika aku bisa tersandung di jalan memutar, Selalu, selalu bersinar…~


(Tooku ni kikoeta kane no oto ga sukoshi sabishikute, mou ichido tsuyoku kondo wa takaku kake nuketa)


~Suara bel yang terdengar di kejauhan sedikit terasa sepi, sekali lagi aku melompat lebih tinggi dengan kuat~


(Tada kuri kaesu genjitsu mo hoshi no kazu no negai koto mo, mezasu beki asu wo mitsuketa Kono omoi ni wa Katenai)


~Kenyataan terus berulang dan keinginan ada sebanyak bintang-bintang, tak bisa menang melawan perasaan itulah tujuanku esok yang harus aku temukan~


Jaeha tak bisa mengalihkan pandanganya dari Sena, ia sangat menikmati setiap bait lagu yang dinyanyikan gadis itu. seolah ia terpesona dengan hal baru yang ia temukan dalam diri Sena yang tak ia ketahui sebelumnya.


(Me no mae ni hirakareta hate nai sekai tatoe yume demo ii, mayoi tsuzukete mo mune no oku de tsuyoku zutto zutto hibiiteku)


~Tak peduli bahkan jika dunia yang di depanku ini hanyalah mimpi, akan terus bergema kuat dalam hatiku selama-lamanya~


Petikan nya terlihat sangat halus gadis itu begitu menghayati setiap bait lagu yang ia nyanyikan.


(Osanai ribon wo suteta yoru kara mita yume wa, kagayaita machi de risou no hibi wo okutteta)


~Mimpi dari malam dimana aku membuang pita mudaku, aku telah menghabiskan setiap hari sempurna di kota yang bersinar~


(Kizutsukanai basho mezashite tsubasa bakari motometa kedo, kono senaka ni tada hitotsu mamoru mono ga areba ii)


~Tapi aku bertekad untuk tak terluka mencari sayap menuju tempat tujuan, aku hanya punya satu hal untuk melindungi punggungku~


(Sukoshi zutsu azayaka ni irodoru sekai kanjita mama de ii, hohoemi no iro mo meguri ai no iro mo motto motto kawatteku)


~Tak apa bila dunia sedikit demi sedikit diwarnai dengan warna cerah, warna senyuman yang akan mengubah pertemuan menjadi lebih dan lebih banyak~


(Kotae ga nakute mezasou toshite, kirei janakute akiramenakute, watashi mo kitto kono sekai to niteru shinji tsuzuketeru)


~Tujuan seakan tak ada jawaban, meski tak cantik dan bersih, aku tak akan menyerah,, aku percaya bahwa aku pasti serupa dengan dunia ini~


(Atarashii namida de miete kita mirai kowagaranakute ii, kokoro no itami to sagashiteta keshiki wa kitto kitto kasanaru)


~Tak apa bila aku tak takut akan masa depan yang terlihat pada air mata barumu, aku sedang mencari dan melihat rasa sakit di hatimu, pasti akan bertumpuk~


(Kagiri naku me no mae ni hirakareta hate nai sekai tatoe yume demo ii mayoi tsuzukete mo mune no oku de tsuyoku zutto zutto hibiiteku)


~Tanpa batas tak peduli bahkan jika dunia yang di depanku ini hanyalah mimpi aku akan terus bergema kuat dalam hatiku selama-lamanya~


(Zutto zutto hibiiteru…)


~Bergema selama-lamanya…~


(Sotto sotto hikatteru…)


~Perlahan-lahan bersinar…~


setelah terpesona cukup lama, “aku tidak tau kalau kau bisa main gitar.” Jaeha akhirnya berbicara setelah Sena selesai bernyanyi.


Perkataan Jaeha membuat Sena tersentak kaget dan berbalik ke belakang ke tempat di mana Jaeha berdiri, “sejak kapan kau di sana? Kau mendengarku bernyanyi?”


“semua orang pasti dengar. Kau tidak terlalu buruk dalam bernyanyi, aku pikir kau tidak bisa bahasa Jepang.”


“aku belajar bahasa Jepang, bagiku Jepang adalah negara yang menarik semuanya sangat menarik.”


“aku tidak bertanya.” Ucap Jaeha datar, Sena menatap Jaeha dengan tatapan kesal.


“nona tuan, makan siang sudah siap.”


Saat malam tiba, Jaeha memenuhi permintaan Sena yang sedari tadi terus merengek ingin jalan-jalan mencicipi streed food Jepang.


“kau ingin makan apa?” Jaeha tepat fokus mengemudi


“aku ingin takoyaki, okonomiyaki, ah yakiniku aku juga ingin yakiniku!”


“aku akan bilang pada ibu kalau kau—“


“kita cari dulu takoyaki.” Sena tersenyum senang, Jaeha akan menurut padanya kalau Sena bilang akan mengadu pada ibunya.


Mereka sampai di Dotonbori, salah satu tempat yang selalu ramai dikunjungi warga lokal maupun turis dari luar Jepang.



Sena segera menarik Jaeha ke arah dalam, “jalannya pelan-pelan!” tapi Sena tak mendengarkan perkataan Jaeha, Sena terlalu bersemangat untuk mengelilingi setiap sudut Dotonbori malam ini.


Gadis itu berhenti di salah satu toko ramen, di sana sedang ada kontes makan ramen super pedas dengan waktu super cepat.


“ugh, bau pedasnya.” Jaeha bahkan terbatuk-batuk hanya mengirup aroma ramennya saja.


“waw selamat untuk Tuan Tanaka! Ini ronde tarakhir, siapa lagi selanjutnya pemenang ronde ini akan dapat makan gratis semua menu di restoran kami?!”


Sena tersenyum jail, ia mendorong Jaeha kedepan membuat Jaeha mendelik kesal pada gadis itu, tapi Sena malah mengalihkan pandangannya ke arah lain seolah tak terjadi apa-apa. Jaeha bahkan tidak bisa makan pedas bagaimana dia bisa menang?


“oh silahkan, silahkan! Sepertinya kau bukan orang Jepang, dari mana asalmu?”


“aku dari Korea.”


“ah Korea! Ok siapa penantang tuan...?”


“Jaeha.”


“ok Tuan Jaeha, siapa yang berani menjadi penantang Tuan Jaeha ayo maju!!”


Seorang pria bertubuh gemuk maju kedepan sebagai penantang Jaeha, “ok, siapa nama anda?”


“Kazuto.”


“ok, bawakan ramennya ke sini!”


Sena dengan semangat menyemangati Jaeha, gadis itu tak bisa berhenti memperlihatkan senyumnya. Jaeha menelan ludahnya dengan berat begitu melihat kuah ramen yang begitu merah. Melihat senyum bahagia Sena membuat Jaeha ingin berusaha untuk menang, perasaan tidak ingin membuat Sena kecewa muncul begitu saja.


“ok kalian sudah siap?” keduanya mengangguk


“siap?! Mulai!!!”


Minho kembali dari LA ia mengambil ponselnya untuk mengabari Sena dan mengajaknya keluar untuk makan malam bersama.


Tapi sudah yang ke tiga kalinya gadis itu tidak mengangkat panggilan darinya, “kemana dia?” Minho kembali mencoba menghubungi Sena tapi tetap tak di angkat.


Sena ingin tertawa melihat reaksi Jaeha tadi tapi dia juga merasa kasihan karena Jaeha berkata perutnya seperti terbakar, Sena menyerahkan susu lagi pada Jaeha.


“bagaimana sekarang?”


“kau benar-benar berniat membunuhku!” Jaeha kembali meneguk susunya


“maaf, aku tidak tau kalau kau tidak suka makanan pedas. Tapi terima kasih, akhirnya kita bisa makan gratis besok sepuasnya.” Sena tersenyum senang


Melihat senyuman Sena yang diberikan untuknya membuat jantung Jaeha mendadak berdetak lebih cepat dari biasanya. ‘lagi?’ batin Jaeha


Ponsel Sena berdering, ia tersenyum senang melihat Minho menghubunginya.


“oppa!” Jaeha menatap gadis itu begitu mendengar Sena memanggil si penelepon dengan sebutan oppa, setidaknya ia tau siapa si penelepon itu.


“kau di mana? Dari tadi aku menghubungimu tapi kau tidak mengangkatnya juga.”


“maaf tadi tidak terdengar. Ada apa?”


“aku ingin mengajakmu pergi makan malam, aku sudah kembali dari LA. Kita pergi makan budaejjige di restoran kesukaanmu bagaimana?”


“wah aku ingin sekali memakannya, tapi tidak sekarang.”


Jaeha tidak melepaskan pandangannya dari Sena, tiba-tiba saja perasaan kesal itu datang sejak Sena mengangkat panggilan telepon dari Minho.


“kenapa? ap kau sedang di rumah nenekmu? Tapi di sana sangat ramai.”


“aku di-- ya! Berikan ponselku!”


Jaeha merebut ponsel Sena, Jaeha berdiri agar Sena tidak bisa meraih ponselnya. Pria itu menghentikan Sena dengan tangan sebelah kirinya yang terus meronta ingin mengambil ponselnya.


“Sena sedang bersamaku di Jepang.”


Raut wajah Minho berubah, “sedang apa kalian di Jepang?”


“kami sedang berbulan madu jadi jangan mengganggu kami lagi,”


Jaeha mematikan sambungan secara sepihak membuat mulut Sena menganga, “apa yang kau lakukan?”


“aku hanya ingin menghabiskan waktuku bersamamu tanpa ada yang mengganggu. Jangan mengangkat panggilan darinya saat sedang bersamaku karena aku tidak suka!”


“kenapa tidak suka?”


“kau ingin aku memberitahu nenek kalau kau masih berhubungan dengan Minho?”


Kali ini Sena yang terdiam, kalau sampai Jaeha memberitahu neneknya entah apa yang akan terjadi padanya dan Minho.


“baiklah, tapi kembalikan ponselku!”


“tidak akan!” Jaeha beranjak pergi, Sena mengikutinya dari belakang seperti anak kecil yang merengek ingin permen.


“juseyo~~!”


“jangan so imut!” Sena menormalkan kembali ekspresinya


“jae~, berikan ponselku!”


“selama di Jepang ponselmu akan ada padaku!”


“eeeeh?!! Mana bisa begitu?!” Sena kembali merebut ponselnya


“eo! yakisoba-da!” Jaeha menunjuk kedai yakisoba membuat Sena segera berlari begitu melihat tempat yang ditunjuk Jaeha.


Jaeha tersenyum kecil, “dasar rakus!” lalu mengikuti Sena ke kedai Yakisoba.