
Suara air shower dari kamar mandi kini terhenti, dengan rambut basah dan tubuh yang kini beraroma sabun, Jaeha berjalan ke luar dari kamar mandi sambil mengenakan pakaian. Ia yang baru saja keluar kaget oleh Sena yang kini sudah berdiri di depan pintu kamar mandi, istrinya itu tersenyum manis menyapanya. Saat ia akan mandi tadi Sena masih terlelap tidur, ia pikir Sena tidak akan bangun cepat.
Sena mulai mendekatkan wajahnya, kakinya mulai berjinjit dan ia pun mencium bibir Jaeha tanpa ragu. “Good morning.” Diakhiri dengan senyuman.
Jaeha terdiam dengan serangan tiba-tiba ini. Ia tak menyangka Sena akan melakukan hal itu padanya, ia benar-benar tidak menyangka kejadian ini akan ia alami juga. Jantungnya berdegup dengan kencang setelah ciuman yang hanya dua detik itu.
“Tidak mau menjawab?” Sena benar-benar bertingkah imut di depan Jaeha,
“Kau... kerasukan apa?”
“Hah? Apa aku tidak boleh memberikan morning kiss padamu? lalu aku harus memberikannya pada siapa?”
“Aku pikir... kau tidak akan mau melakukan itu padaku.”
Cup!
“Diam. Jangan menegurku. Kau juga sering melakukannya dan sekarang kau merasakan hal yang sama bukan dengan apa yang aku rasakan ketika kau melancarkan serangan mendadak seperti tadi padaku?” Sena pun bersila tangan membalikkan semuanya yang pernah ia rasakan ketika Jaeha tiba-tiba saja menciumnya tanpa pemberitahuan.
Jaeha tersenyum, ia mengangguk mengerti. “Ya, ya, aku merasakannya. Rasanya seperti ada sengatan listrik di sini.” Ia menunjuk bagian dadanya, “Jantungku jadi terpompa sangat cepat sekarang.”
Sena kini tertawa setelah mendengarkan penejelasan Jaeha, ‘Aku sayang kamu. Aku ingin mengatakan itu.’
“Ayo kita sarapan! Bibi sudah menyiapkannya di meja makan.”
“Kau tidak mau mandi dulu?”
“Nanti saja! Aku sudah lapar!” Sena melihat rambut Jaeha yang masih basah, “Kau harus mengeringkan dulu rambutmu.” Sena menarik Jaeha untuk duduk di depan meja riasnya, “Duduk. Aku akan mengeringkannya untukmu.”
“Ini benar-benar aneh.”
Sena mulai menyalakan hair dryer dan juga mengambil sisir, “Aku sedang ingin bermanja-manjaan denganmu, apa tidak boleh?” Sena tidak bohong soal hal itu, dia memang sedang ingin seperti ini sekarang, ingin terus menempel dengan Jaeha. Bahkans Sena merasa nafsunya sedikit naik setelah tadi mencium Jaeha, ia merasa berubah menjadi perempuan yang mesum.
“Aku senang jika kau seperti ini.” Jaeha akhirnya memilih menikmati perlakuan Sena padanya, Jaeha berharap ini adalah pertanda baik untuk kedepannya. Sena yang mulai menerima dirinya, Sena yang mulai mencintai dirinya, dan untuk kehidupannya yang akan bahagia mulai dari sekarang dan seterusnya bersama Sena.
“Selesai.” Ucap Sena,
“Terima kasih.” Jaeha mebenarkan anak rambut yang menurutnya masih sedikit berantakan,
Tatapan Sena kini terpaku pada tengkuk Jaeha, baginya kini tengkuk itu terlihat benar-benar menggoda. Sena memejamkan matanya berusaha untuk menjauhkan pikiran mesumnya, tapi tidak bisa. Ia akhirnya lebih memilih untuk memberanikan diri untuk mencium tengkuk Jaeha, hanya satu kecupan. Tidak lebih, tidak akan lama.
Begitu Jaeha merasakan sentuhan bibir Sena di tengkuknya, pria itu benar-benar kaget bukan main. Baginya Sena yang polos tidak akan mungkin seperti itu, apalagi sampai menggodanya seprti sekarang, Jaeha pikir ciuman itu akan hanya berlangsung sekitar satu sampai lima detik saja, tapi ini lebih.
“Sena, apa yang kau lakukan?” Ucap Jaeha sambil mengusap kepala Sena, perempuan itu pun sadar dengan apa yang dia lakukan. Ia sendiri kaget karena bisa terbawa suasana, ia merasa malu karena tidak pernah seperti ini sebelumnya, Jaeha pun pasti merasa aneh padanya.
“Ayo sarapan! Eh?!”
Jaeha menarik Sena sehingga perempuan itu kini duduk dipangkuannya, “Kau bilang aku jadi mesum? Aku rasa kau yang semakin mesum” Pipi Sena mulai merona merah, “Ckckck tidak kusangka, benar-benar tidak kusangka. Istriku sekarang mulai berani menggodaku seperti tadi. Apa yang harus aku lakukan? Ini masih pagi.”
“Ak-aku bilangkan kita sarapan. Abaikan saja—“
Tanpa aba-aba Jaeha mencium leher Sena, menghisapnya pelan agar Sena tak merasakan sakit. Ia meninggalkan jejaknya di sana. Sena pun melihat lehernya di kaca, “Aku tidak meninggalkan jejak tapi kenapa kau membuatnya merah? Haish!”
Cup!
“Ayo sarapan.” Jaeha tak menanggapinya seperti yang Sena lakukan tadi,
“Menyebalkan!”
Sena, Jaeha, Bibi Hanmi, dan Paman Bong kini sarapan bersama di satu meja makan. Jaeha bertanya kenapa banyak sekali menu di meja, Bibi menjawab kalau Sena yang memintanya memasak semua ini. Sena meminta maaf pada Bibi Hanmi karena tidak bisa membantu karena dia bangun kesiangan.
“Tapi, kenapa harus sebanyak ini? Ini kan bukan hari yang spesial.” Tanya Jaeha
Tapi di balik itu, Bibi Hami merasa gusar dengan apa yang dilakuka Sena pagi ini. Bibi Hanmi merasakan sikap yang berbeda dari Sena apalagi terhadap Jaeha, Bibi bahagia dengan perubahan yang semakin baik ini, tapi ia ingat tentang pembicaraan mengenai Sena yang memiliki keinginan untuk pisah dari Jaeha. Bibi berharap kalau itu tidak akan jadi kenyataan, ia dan suaminya ingin Sena tetap di sini, menemani Jaeha dan terus bersamanya.
“Bibi!” Bibi Hanmi tersadar begitu mendengar panggilan Sena, “Bibi kenapa melamun?”
“Ah, tidak Sena. Bibi hanya senang melihat kalian berdua bisa lebih dekat seperti ini. Bibi benar-benar bahagia.” Sena tersenyum, begitu juga dengan Jaeha. Selama beberapa hari ini Sena harus mengeluarkan senyum palsunya, ia harus bisa menutupi kesedihannya dengan sempurna, ia harus membohongi semua orang, bahkan akhirnya harus meninggalkan kesedihan bagi orang-orang yang sudah mengharapkan yang terbaik untuknya yaitu bersama Jaeha.
“Apa kau perlu bantuan nanti untuk mengemas barang-barangmu?” Tanya Bibi Hanmi
“Tidak usah Bi, kan ada Jaeha yang membantuku. Aku akan mempergunakannya dengan sangat baik.”
“Oh~ begitu rupanya. Baiklah aku akan menjadi budakmu, tapi beri aku imbalan yang setimpal, oke?” Sena hanya tersenyum sebagai jawabannya. Bibi Hanmi benar-benar berharap ini akan terjadi untuk seterusnya, tidak akan ada kata perpisahan diantara mereka.
Ting tong!
Pintu rumah itu terbuka, “Oh, Hyunjae-ya!” Sapa Bibi Jungmi begitu pintu terbuka,
“Siang Bi! Apa Sujin ada di rumah?”
“Oh, Sujin baru saja pergi.”
“Pergi? Pergi ke mana?”
“Dia bilang akan bertemu dengan Sena. Mungkin pergi ke rumahnya?”
Hyunjae memperkirakan kalau Sujin akan mengatakan semuanya yang ia tau pada Sena, tapi kenapa dia tidak memberitahu? “Baiklah kalau begitu, aku akan menyusulnya saja. Siapa tau masih belum jauh. Sampai jumpa Bi.”
“Hati-hati!”
Saat menuju parkiran Hyunjae berusaha menghubungi Sujin, “Angkat!”
“Hallo!”
“Kau mau pergi ke rumah Sena?”
“Ya, aku akan mengatakannya. Dia harus tau! Aku tidak bisa menunggu lagi!”
“Aku tidak akan melarangmu, tapi apa kau tidak bisa mengajaknya untuk bertemu di luar saja? Kenapa harus ke rumahnya segala?”
“Jaeha juga pergi ke kantor kan? Di rumahnya pasti tidak ada siapa-siapa. Kau tidak perlu ikut, aku akan melakukannya sendiri.”
Sujin memutus sambungan teleponnya, ia menancapkan gasnya di jalan yang kebetulan lengang agar bisa cepat sampai. Hyunjae tak bisa ikut campur kalau Sujin sudah bicara seperti itu padanya, ia hanya bisa berharap kalau Sena bisa menerima kenyataan yang akan dia ketahui hari ini.
Begitu pintu rumah di buka Sujin langsung masuk tanpa menunggu kata-kata Bibi Hanmi selesai, begitu mendengar di mana letak kamar Sena, Sujin langsung naik dan tanpa mengetuk pintu Sujin langsung masuk karena pintu kamar juga sedikit terbuka.
“Sena!” Suaranya mengecil begitu melihat kalau Jaeha ada di sana bersama dengan Sena sedang membereskan baju ke dalam koper.
“Sujin! Kenapa kau datang kemari? Ada apa?” Sena berjalan menghampiri Sujin yang terdiam di dekat pintu.
“Pasti kau menerobos masuk seenaknya ke rumahku. Kau pikir aku tidak ada di rumah, benarkan?” Tanya Jaeha
“Diamlah! Aku ingin meminjam Sena sebentar. Bolehkan?”
“Kau tidak lihat kami sedang apa?”
“Sebelum dekat denganmu lagi Sena itu sangat lengket denganku! Jadi aku berhak meminjamnya. Ayo kita pergi minum kopi!” Sujin memegang tangan Sena, mengajak perempuan itu.
“Hanya minum kopi?”
“Kami akan mencari pria tampan dan muda!”
“Hey—“ Brak! Pintu kamar Sena tertutup menyisakan Jaeha seorang diri. “dikerjar pun percuma, biar aku saja sendiri yang melakukannya.”