
Helena mondar-mandir didekat jendela kamarnya, tangan kakirinya menggenggam sesuatu dan tangan kanannya memegangi ponselnya.
“Lakukan! Kau ingin bersamanya bukan? Lakukan seperti apa yang aku perintahkan. Besok malam dia akan bersamamu.”
Hatinya gelisah, ia hanya ingin Jaeha bersamanya atas keinginan dari diri Jaeha sendiri, bukan dengan cara seperti ini. Tapi jika tidak seperti ini, Jaeha tidak akan mau bersamanya. Jika harus disiksa lagi ia tidak mau, meskipun hanya pura-pura tapi ia menolak tawaran itu. Ia juga tidak mau terlihat lemah meskipun itu cara paling ampuh untuk menarik simpati dan perhatian Jaeha.
“Aku juga punya cara lain, satu-satunya cara paling ampuh agar Jaeha sepenuhnya kembali padamu.”
“Apa itu?”
“Hamil. Kau harus hamil.”
“Hamil? Tapi bagaiamana caranya?”
“Kau goda saja Jaeha, dia suamimu dan kau adalah istrinya. Dia pasti mau. Atau jika dia tidak mau, kau bisa menggodanya dengan minuman. Dia akan mabuk dan kalian akan tidur bersama.”
“Jika dia tidak mau?”
“Kau bisa pura-pura hamil.”
Helena memandang ke luar jendela, ia bingung dengan pilihannya sendiri. Ada sedikit rasa yang tak bisa ia mengerti dan terus ia sangkal dalam hatinya. Pengorbanan yang ia lakukan sudah sejauh ini mana mungkin ia menyerah begitu saja, tapi... tapi ketika mengingat Jaeha yang begitu bahagia bukan karena dirinya membuatnya ingin menyerah saja dan membiarkan Jaeha bahagia bersama Sena. Yang ia inginkan adalah Jaeha bahagia. Keegoisannya, ia ingin Jaeha bahagia bersama dirinya, seperti dulu. Tapi... kenyataannya sekarang, senyum bahagia itu tak pernah terlihat saat bersamanya.
“Aku... aku harus bagaimana?”
Di rumah Jaeha
“Sena, apa yang sedang kau lakukan?” Tanya Bibi Hanmi ketika melihat Sena sedang memotong beberapa macam sayuran di dapur.
“Aku ingin membuat Heottok Bi, isi sayuran.”
“Oh, Yache Heotteok? Apa kulitnya sudah jadi?” Sena menunjuk panci ukuran sedang yang langsung di lihat oleh Bibi Hanmi, “Kulitnya sudah bagus. Kau mau mengirimnya juga untuk Jaeha?”
“Apa maksud Bibi? Aku tidak ingin terlalu terlihat baik untuknya. Nanti juga dia pulang, biarkan saja. Aku sedang tidak ingin pergi ke mana-mana.” Bibi Hami melihat rebusan mie yang sudah matang, setelah itu ditiriskan lalu di potong-potong kecil menggunakan gunting lalu di bumbui baru di campur dengan sayuran yang lain. Bibi Hanmi kini yang mengambil alih.
“Kau masih marah pada Jaeha? Sampai kapan?”
“Aku bukannya masih marah. Hanya saja... entahlah. Mood ku sering berubah-ubah kalau menyangkut tentang Jaeha, kadang aku jadi malu sendiri seperti misalkan tadi pagi aku sangat jengkel padanya tapi pas sore bisa jadi aku ingin sekali bermanja-manjaan dengannya. Apa setiap orang hamil selalu seperti ini? Selalu labil? Rasanya benar-benar menyebalkan.” Keluh Sena dengan ekspresi kesalnya.
Bibi Hanmi tersenyum kecil sambil mencampur bumbu, “Dia pasti akan mirip sekali dengan Jaeha.”
“Kalau mirip aku akan semakin sulit untuk melupakannya.”
Wajah senyum Bibi Hanmi memudar begitu mendengar kata-kata Sena, “Nak, kau benar-benar ingin bercerai dengan Jaeha?” Sena diam sesaat, ia juga masih belum yakin seratus persen soal keinginannya itu, bahkan lima puluh persen pun belum. “Rasa kesal itu hanya bertahan sesaat saja karena kau sedang hamil, aku mengerti bagaimana kesalnya dirimu ketika Jaeha sudah melanggar janjinya sebanyak dua kali. Tapi dia benar-benar menyesal, mungkin dia tidak punya pilihan lain karena ada kegiatan penting yang harus dia datangi. Ingat jangan mengambil keputusan di saat kau sedang merasa marah, itu hanya akan menyiksa dirimu sendiri.”
“Masalahnya lebih rumit dari itu.”
“Jika kau tidak ingin menceritakannya pada kami, kami mengerti mungkin ini masih belum saatnya. Tapi aku mohon pikirkan lagi, demi dia.”
Sena hanya diam tak menjawab, ia malah mengambil adonan dan mulai membuat Yachae Hettok satu persatu. Jika dipikirkan dua kali pun Sena tidak yakin kalau Jaeha akan memilihnya meskipun dia mengatakan kalau dirinya sedang hamil, bisa jadi dia tetap jadi yang kedua dan harus berbagi suami dengan Helena. Dia tidak ingin itu, dia hanya ingin menjadi satu-satuna orang penting dalam kehidupan Jaeha. Bukan bersama perempuan lain, lagi pula Jaeha terus mencari Helena meskipun saat itu mereka sudah menikah, bisa terlihat kalau Jaeha benar-benar peduli pada Helena, masih. Lalu untuk apa dia bertahan? Bertahan dalam kebahagiaan orang lain itu benar-benar menyakitkan.
“Sena!”
Sena berbalik ke arah pintu begitu mendengar suara Ibu mertuanya yang baru saja datang. “Eommoni.” Sena menunjukkan senyum terbaiknya, Nyonya Park langsung memeluk Sena dengan penuh kasih sayang. “Apa yang Ibu bawa?” Tanya Sena ketika melihat Ibu mertuanya itu membawa bungkusan.
“Oh ini...” Bungkusan itu mulai di buka, beberapa box makanan kesukaan Sena dan Jaeha. “Aku membuatnya untuk kalian. di makan ya?”
“Eommoni~ kamsahamnida, jal meokgessseubnida.” Bibi Hanmi mulai mengambil box itu satu persatu untuk di pindahkan dan di masukan ke dalam kulkas.
“Ah, dan ini.” Nyonya Park menyerahkan kotak yang berbeda pada Sena. “Antarkan ini pada Jaeha ya?”
“Eh? Kenapa harus aku?”
“Hm? Kenapa harus aku? Kamu kan istrinya, dan jangan bilang kalau ini buatan Ibu ya.”
“Tapi aku—“
“Ah benar, sekalian saja sambil membawa ini. Kebetulan sekali kan?” Sena menatap Bibi Hanmi dengan tatapan tak percayanya, Bibi Hanmi memihak Ibu mertuanya.
“Yachae Heotteok? Hm~ kelihatannya enak.” Sena tidak bisa menolak jika ada Ibu mertuanya di sini. dia terpaksa mengiyakannya, sangat terpaksa. “Bersiaplah.” Ucap nyonya Park sambil menepuk bahu Sena.
Sena memilih untuk naik taxi meskipun di paksa oleh Bibi Hanmi dan Ibu mertuanya untuk di antar Paman Bong saja, sampai-sampai Sena cape sendiri karena meyakinkan mereka kalau dia akan baik-baik saja. Untung saja taxi yang Sena pesan datang tepat waktu sehingga dia bisa buru-buru pergi meskipun Nyonya Park dan Bibi Hanmi masih bicara.
“Ini ongkosnya.”
Sena turun dari taxi lalu masuk ke dalam gedung kantor, beberapa orang membungkuk dan memberti salam padanya. Awalnya memang Sena tidak mau untuk datang ke kantor, tapi dalam hatinya ada perasaan senang tersendiri saat menginjakan kakinya di sini, senyum yang diberikan Sena untuk orang-orang yang menyapanya bukanlah sebuah tipuan, itu asli. Sesekali juga Sena meraba perutnya dalam hati dia bertanya pada anaknya apakah dia senang karena akan bertemu Jaeha sekarang, meskipun tak ada jawaban tapi Sena bisa tau sendiri.
“Kemana Yejin? Biasanya dia ada di sini.” Sena langsung saja masuk tanpa harus menunggu persetujuan siapa pun dan karena Yejin tidak ada di tempatnya. Biasanya Sena akan bertanya dulu apa Jaeha sedang ada tamu atau tidak pada Yejin.
“Enak tidak?” Sena berhenti di depan pintu ketika mendengar suara perempuan yang cukup ia kenali.
“Sudah ku bilang jangan datang ke kantor, kau sudah janji waktu itu.”
“Aku ingin kau mencicipi ini, aku baru belajar membuatnya. Aku tidak sabar ingin memberikannya padamu, aku ingin kau jadi orang pertama yang mencobanya. Di makan lagi, aa~?” Tangan Sena mulai mengepal, nafasnya mulai terasa sesak. Ia ingin pergi tapi tak bisa, seakan Sena menantikan percakapan mereka berikutnya.
“Kau tinggal bilang, aku akan pergi ke rumahmu atau kita bertemu di luar.”
“Kau selalu ada alasan jika aku mengajak untuk bertemu. Tapi kalau kau bilang begitu, bisakah nanti malam kau datang ke rumah?”
“Kenapa memangnya?”
“Kau lupa? Hari ini tanggal pernikahan kita. Lihat!” Nafas Sena terasa semakin sesak, jantungnya berdetak pula dengan cepat. Rasanya ia ingin melepaskan bom di hatinya tapi entah yang keberapa kali ia harus menahannya, lagi-lagi ia harus menaha ini. Menahan rasa sakit ini, sendirian dan ini begitu sangat menyakitkan.
“Ah, benarkah?”
“Pastinya kau sudah lupa. Aku paham meskipun sakit hati karenanya.”
“Apa yang kau lakukan!?”
“Sudah lama aku tidak menciummu.” Bibir bawah Sena mulai berdarah karena digigit dengan kuat, ingin marah pun ingin melabrak pun Sena sadar diri. Dia bukan yang pertama, dia hanya orang kedua. Dia dan anaknya hanya orang kedua. Tak tahan lagi Sena lebih memilih pergi.
Mendengar suara sepatu dari luar ruangan pribadinya Jaeha segea membuka pintu melihat siapa yang datang dengan wajah yang panik. Sampai ke pintu ruang kerjanya dia tak melihat siapa pun kecuali Yejin yang baru kembali ke mejanya.
“Yejin, apa ada orang yang datang?”
“Tidak ada Pak.” Masih dengan mata yang mencari ke sana sini, Jaeha akhirnya memilih masuk kembali ke dalam ruangannya.
“Ada apa?” Tanya Helena yang keluar juga dari ruangan pribadi Jaeha.
“Sebaiknya kau pergi sekarang. terima kasih untuk makanannya.” Jaeha akan duduk kembali di kursihnya tapi ditahan oleh Helena.
“Datang ya, kau harus datang. jangan lari dari perkataanmu.” Helena kembali mencium pipi Jaeha, setelah tadi mencium pipi kiri sekarang di bagian pipi kanannya. Tanpa menunggu jawaban Jaeha, Helena akhirnya pergi.
Sena bersembunyi di balik lorong, Sena menarik nafas panjang. Kesedihannya berubah, rasa marah, penyesalan, sakit hati, kini lebih mendominasi membuat pandangan matanya berubah tajam, meskipun ia sadar dengan dirinya sendiri tapi ia tak bisa menyembunyikan rasa ketidak sukaanya. Terutama saat ia melihat Helena yang berjalan pergi melewati lorong tempatnya berdiri kini, sambil terus menatap Helena yang sedang menunggu lift, Sena mengambil ponselnya, ia menekan tombol panggil pada salah satu kontak di ponselnya.
“Oppa, naya.”
Suho dan Jaeha keluar dari ruangan Jaeha untuk mengunjungi bagian departemen keuangan, tapi langkah mereka terhenti apalagi Jaeha benar-benar terkejut melihat siapa yang datang.
“Selamat datang Nyonya.” Sapa Yejin, Sena pun tersenyum pada Yejin. Tatapannya kini beralih pada Jaeha yang masih tak berkedip melihat Sena yang kini berdiri tak jauh darinya. Seperti mimpi saja, bukan itu juga tapi karena Jaeha takut kalau Sena bertemu dengan Helena. Tapi Jaeha membuang semua prasangka itu, Sena bahkan belum pernah bertemu dengan Helena, bagaimana Sena bisa tau. Yang berarti mereka beretemu pun tidak akan ada apa-apanya.
“Wae?” Tanya Sena sambil menatap Jaeha
“Kenapa kau tiba-tiba datang? Harusnya kau menghubungiku dulu.”
“Kenapa memangnya? Kau suka kejutan bukan? Datang tiba-tiba tanpa pemberitahuan, rasanya seperti naik rollercoaster, senang, terkejut, kadang bisa jadi ada rasa takutnya, menyenangkan melihat orang punya ekspresi seperti itu.” Sena tertawa kecil setelah mengatakan itu, “Atau, bagiku tidak akan ada waktu?” Sena memasang wajah murungnya.
“Bukan begitu.” Jaeha mengajak Sena untuk masuk setelah menyuruh Suho untuk mengundur waktu. Suho mengerti dan langsung pergi ke bagian keuangan.
“Aku memang kaget karena kau datang tiba-tiba, tapi aku juga senang karena kau mau datang ke kantor.”
“Ini aku bawakan bekal makan siang, dan ini Heotteok yang aku buat. Semoga kau suka.” Jaeha pun mengambilnya, ia langsung duduk dan membuka kotak makan tersebut. Raut wajahnya berubah menjadi senang, ia menyuruh Sena untuk duduk juga di sampingnya.
Saat Jaeha mengambil sumpit Sena malah merebutnya, “Buka mulutmu, a~?” Senyum Jaeha kali ini bertambah lebar, kekhawatirannya sekarang menghilang. Kekhawatiran yang sebelumnya sudah ia buang, karena itu semua tidak mungkin melihat perlakuan Sena padanya sekarang.
“Ini masakan Ibu kan?”
“Eh? Kau tau?”
“Masakan Ibu ku beda dari yang lain. Terima kasih sudah mengantarkannya untukku.”
Sena tersenyum, “Habiskan ya, aku harus membawanya kembali dalam keadaan kosong. Tapi sisakan juga untuk Suho Oppa, aku juga ingin dia juga mencicipi Heotteoknya.”
“Tidak bisa, ini semua milikku!”
“Dasar rakus.” Keduanya tersenyum, satu senyum palsu satu lagi senyum bahagia yang asli.
---#---
*Bahasa Korea*
Eommoni~ kamsahamnida, jal meokgessseubnida. \= ibu terima kasih, aku akan makan dengan baik (terima kasih untuk makanannya)
Oppa, naya \= kakak, ini aku