
Kakek Choi datang kembali ke rumah Leon untuk menemui Arthur, Mera sekarang merasa tersisihkan karena baik Ibu, Ayah, Nenek dan Kakeknya sekarang lebih memprioritaskan Arthur. Tapi Mera tak begitu memperdulikan itu sekarang, ia tak mau pusing berlama-lama hanya karena hal itu, yang penting semua orang bisa menyayangi putranya. Ia akan melakukan yang terbaik, ia akan merelakan hal yang paling berharga sekalipun hanya demi Arthur.
“Lihat Kakek bawa apa? Kau mau pegang ini?” Mera tersenyum geli melihat Kakeknya yang sedang bermain bersama Arthur. Sejak kelahiran Arthur, Mera merasakan kebahagiaan yang luar biasa, begitu juga dengan keluarganya. Leon sendiri jadi lebih cepat pulang, Ibunya bisa tinggal lama di sini bersamanya begitu juga dengan Neneknya. Mera sangat senang bisa seperti ini, berkumpul bersama dalam sebuah kebahagiaan.
“Mera...”
“Iya, Nek. Ada apa?”
“Nenek sepertinya harus ikut pergi besok bersama dengan Kakek.”
“Besok? Tapi kenapa tiba-tiba?”
“Nenek kan tidak bisa meninggalkan rumah lama-lama. Nenek juga harus mengurus ini itu di Korea setelah pulang nanti. Ibumu juga sama seperti Nenek.”
“Ibu juga akan pergi besok?”
“Bukan besok. Kau bisa tanyakan sendiri pada Ibumu soal masalah kepulangannya. Yang pasti Nenek akan pulang besok, kalau kau masih belum mau kembali ke Korea dilain waktu Nenek akan mengunjungimu kembali.”
Mera sebenarnya ingin sekali pulang ke Korea, ia sudah rindu suasana di kota Seoul, makanan, budaya, semuanya! Tapi jika dia pulang, besar kemungkinan dia akan bertemu dengan Jaeha begitu juga dengan keluarganya.
“Mungkin setelah umur Arthur cukup untuk bisa naik pesawat.” Nenek Nam tersenyum lega, meskipun enah kapan tapi ia senang karena Mera punya keinginan untuk kembali ke Korea.
Setelah kepulangan Nenek dan Kakek tak lama kemudian Hwaran pun kembali pulang ke Swiss bersama dengan Hansoo. Hwaran berpesan agar Mera bisa menjadi lebih dewasa lagi tapi sebelum kalimatnya selesai Mera sudah memotong pembicaraannya dan berkata kalau ia sudah mengerti semuanya. Hwaran hanya bisa geleng-geleng kepala melihat putrinya yang masih saja susah jika diberi nasihat, tapi Hwaran setidaknya bisa tenang karena ada Leon dan juga Rico yang menjaga Mera. Yang paling ia harapkan adalah Rico segera memberitahu Mera siapa dirinya sebenarnya, Hwaran juga berharap kalau mereka berdua bisa kembali bersatu demi Arthur.
“Kau harus tegas, kau harus berani! Sampai kapan kau akan terus mengulur-ngulur waktu?”
Hwaran mendesah pelan meningat kata-kata itu, ia merasa terlalu tegas saat mengatakannya pada Rico. Tapi jika tidak seperti itu, Rico akan terus mengulur waktu dan terlalu banyak mempertimbangkan semuanya.
“Tidurlah. Perjalanan kita di udara masih panjang.” Hansoo memegang tangan Hwaran, “Percaya padanya.”
Saat tengah malam tiba-tiba saja Arthur menangis, mera langsung terlonjak bangun begitu suara tangisannya semakin keras. “Iya sayang, ini Ibu... kenapa sayang, hm?” Mera menggendong Arthur dari tempat tidurnya, tapi Arthur masih tetap menangis. Mera mencoba memberinya ASI tapi Arthur tak mau menghisapnya. “Sayang kamu kenapa? Apa kamu mimpi buruk? Ini sayang, coba lagi.” Arthur masih tetap saja tak mau menghisapnya.
Rico mengetuk pintu kamarnya Mera pun mengijinkan Rico untuk masuk. Rico langsung bangun begitu mendengar suara tangisan Arthur, saat ada Hwaran dan Nenek, Rico tak bisa seperti ini tapi sekarang ia harus melakukannya apalagi Leon sudah mengatakan ia akan terus pura-pura tertidur walau Arthur terus menangis, ia akan membiarkan Rico untuk mengurus Arthur bersama dengan Mera, dengan kata lain Leon tidak akan ikut campur dalam mengurus Arthur di malam hari.
“Arthur kenapa?”
“Tidak tau. Aku sudah coba memberinya ASI, tapi tidak dihisap juga. Apa dia mimpi buruk ya?”
“Boleh aku menggendongnya?” Mera langsung memberikan Arthur pada Rico,
“Hey, hey, Arthur... kenapa kamu sayang? Tenang ya, jangan nangis lagi.” Baby Arthur masih tetap menangis, tapi tak menunggu lama Arthur mulai tenang. Merskipun Mera merasa heran karena Rico bisa menenangkan Arthur, tapi Mera merasa lega juga karena putranya tidak menangis lagi, saat melihat Arthur menangis Mera selalu merasa bingung apalagi jika tangisnya tidak berhenti juga Mera bisa terserang panik karena ia tak mengerti keinginan Arthur itu apa.
“Mungkin dia mimpi buruk. Sepertinya dia ingin minum susu, coba kau beri dia ASI sekarang.”
Rico menyerahkan Arthur pada Mera, saat akan mengeluarkan payudaranya Mera melihat Rico masih memperhatikannya, ia pun berdehem agar Rico bisa membelakanginya. Mendengar itu Rico langsung mengerti dan berbalik, ia menyesal karena harus menjadi Rico disaat seperti ini.
“Bagaimana?” Karena Arthur terdengar akan seperti menangis lagi,
“Sudah bisa. Kenapa harus main drama dulu sih? Aku bingung jika dia tiba-tiba menangis dan tidak mau minum susu, digendong juga tangisnya tidak berhenti, aku malah jadi panik.”
Rico tetap membelakangi Mera, tapi sekarang ia duduk juga di kasur. “Yang kudengar katanya itu cobaan untuk orang tua, akan bagaimana sikap si orang tua pada anaknya yang seperti itu. Apa mereka akan kesal, sabar, atau bahkan melakukan hal yang tidak seharusnya.”
Mera menghela nafas ia melihat baby Arthur yang tidak kembali tertidur, bayi kecil itu kini menatap Mera, “Maaf karena Ibu tidak bisa mengerti apa yang kau inginkan dan apa yang kau rasakan. Ibu akan mencoba menjadi lebih baik lagi.”
“Terima kasih ya, Rico.”
“Sama-sama. Aku akan selalu ada untuk kalian.”
**
Tanpa terasa hari pun berlalu dengan cepat, baby Arthur sekarang sudah memainkan tangan dan kakinya dengan lincah. Celotehannya yang lucu membuat setiap orang begitu gemas terhadap Arthur, Mera benar-benar takjub dengan makhluk yang telah diciptakan oleh Tuhan untuk membuatnya merasa bahagia disetiap harinya, Mera benar-benar bersyukur untuk itu.
“Ey, kenapa kaos tangannya di copot terus? Pakai lagi ya sayang. Anak ibu aktif banget sih~” Mera mencium pipi chuby Arhtur, begitu lembut dan terasa sangat halus. Mera tak menyangka kalau bayi lucu dan menggemaskan ini adalah putranya. “Anak gantengnya siapa ini? Anak gantengnya Ibu, iya?”
“Aaoohh~”
“Emmm~ kenapa kamu begitu menggemaskan sih? Anak ganteng, anak pintarnya Ibu~” Baby Arthur tersenyum karena hidung mancungnya terus disentuh oleh Mera.
Saat Mera sedang asik bermain dengan Arthur, Rico datang setelah membeli perlengkapan bayi yang sudah habis. Ia tersenyum bahagia melihat Mera dan Arthur yang terlihat sangat bahagia. Ia juga senang karena putranya bisa tumbuh dengan baik dan juga selalu sehat, sekali lagi ia mengucapkan banyak terima kasih pada Leon atas pilihannya waktu itu.
“Sampai kapan kau akan terus menyembunyikannya?”
Kata-kata itu terus terngiang-ngiang setiap hari, Rico ingin mengatakan yang sejujurnya pada Mera tapi selalu waktunya yang dirasa kurang pas. Jika Rico berbicara disaat seperti ini apa yang akan terjadi? Apa ia harus mencobanya saja dan mengabaikan konsekuensinya?
“Kau sudah datang? Kau membeli apa yang aku mau kan?”
“Oh? Iya... aku membelinya.”
Arthur terlihat senang begitu Rico mendekatinya, kedua mata mungilnya mengikuti kemana gerak langkah Rico. “Aku pulang.” Sapa Rico pada Arthur, “Anak ganteng lagi asik main ya sama Ibu?” Arthur kembali bertingkah aktif ketika diajak bicara oleh Rico.
Mera menatap Rico yang sedang bermain bersama Arthur, ada kesenangan tersendiri baginya melihat Rico bisa begitu menyayangi Arthur. Sifat kebapakan Rico sangat terlihat oleh Mera disaat seperti ini, setiap ia bersama dengan Rico ia selalu merasa seperti sedang bersama dengan Jaeha. Hal-hal yang seharusnya tidak ia lakukan pada Rico kadang Mera ingin melakukannya, suatu hal yang kadang membuatnya pusing dan mengangap dirinya sendiri sudah tidak waras karena menginginkan hal yang harusnya ia tahan. Malahan sekarang Mera mulai merasakan kesenangan tersendiri saat menatap Rico, saat Rico sedang menggendong Arthur pun mera hanya memperhatikan Rico saja, ia benar-benar seperti sedang melihat Jaeha dihadapannya.
“Kenapa belum dimakan?” Pertanyaan Rico membuyarkan isi pikirannya, Mera jadi sedikit salah tingkah. “Biar Arthur bermain denganku, kau bisa santai dulu sekarang.”
“O-oke. Terima kasih ya...” Rico tersenyum, ia kembali fokus pada Arthur.
Sebenarnya sekarang Rico sedang mengumpulkan keberanian, ia tau situasi sekarang tidak tepat. Tapi jika ditunggu lebih lama lagi ia juga tidak tahan, mau Mera marah dan membencinya tidak apa-apa, apalagi kalau Mera sampai memaafkannya dan mengijinkannya untuk kembali Rico sangat bersyukur untuk itu. Ia juga merasa pusing karena Ibunya dan Hwaran terus mengiriminya pesan bertanya mengenai kejujurannya pada Mera, Ibunya pasti ingin segera bertemu dengan Arthur, melihat hanya dari foto saja pasti tidak akan cukup.
Rico menghela nafas panjang, ia menatap Arthur dengan lembut, ‘Sayang, beri Ayah kekuatan untuk berkata jujur pada Ibumu. Doakan agar kita bisa bersama lagi, Ayah harap kau juga mengharapkan hal yang sama seperti Ayah.’
“Mera...”
“Hm?” Perempuan itu masih sibuk dengan kue coklat kejunya.
“Ada yang ingin aku katakan padamu?”
“Katakn saja.”
Suasana jadi hening, Rico juga jadi terdiam ia kembali mengumpulkan sisa keberaniannya yang terakhir.
“Rico?”
“Sebenarnya aku adalah...”