
Di sebuah rumah mewah di Swiss
“Sayang kau kenapa? Wajahmu terlihat sangat gelisah?” Tanya Hansoo pada istrinya Hwaran yang sedang berdiri di dekat jendela.
“Oh, kau sudah pulang?” Hwaran mengambil tas kerja Hansoo dan jasnya, “Bagaimana kesepakatannya?”
“Berjalan lancar, seperti yang kita rencanakan. Kau baik-baik saja kan? Kau bahkan tidak masuk ke kantor hari ini. Atau kau hamil!?”
“Jangan bercanda! Sudah cukup bagiku hanya melahirkan Sena. Lagi pula kita sudah punya dua anak, satu Sena dan satu lagi putramu. Itu sudah cukup, usia ku juga sudah tidak muda lagi.” Sambil menujuk garis halus di dekat matanya.
Hansoo tersenyum, “Hanya bercanda. Kapan mereka akan bertemu ya? Padahal putraku sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Sena.”
“Keluarga kita selalu saja sibuk, mungkin hanya Sena saja yang bisa bersantai dengan tenang seorang diri. Berbeda dengan kita.”
Hansoo kembali tersenyum, “Balik lagi ke pertanyaan tadi, kau kenapa? Aku perhatikan kau terus terlihat gelisah dalam beberapa hari ini.”
“Aku terus kepikiran Sena. Aku merasa ada sesuatu pada Sena, hatiku tidak tenang.” Ucapnya dengan raut wajah cemas.
“Apakah Sena sakit? Kau tidak bertanya pada Ibu?” Hansoo mengajak Hwaran untuk duduk di kursi, ia meminta seorang pelayan untuk membuatkan teh herbal untuk Hwaran.
“Sudah, aku sudah bertanya pada Ibu tentang kondisi Sena. Ibu berkata kalau Sena sehat-sehat saja, dia bahagia bersama Jaeha. Tapi aku rasa tidak seperti itu, hatiku selalu saja gelisah. Bahkan aku sempat bermimpi kalau Sena menangis, dia ingin memelukku tapi aku tidak bisa memeluknya. Pertanda apa itu? Apa Sena benar-benar sedang terluka? Apa dia memang sedang dalam suatu masalah?”
“Mimpi itu hanya bunga tidur. Jangan terlalu dipikirkan. Bisa saja itu karena kau terlalu merindukan Sena, atau karena Sena juga merindukanmu. Kalian sudah berpisah cukup lama dan bertemu juga bisa di hitung jari. Wajar jika bermimpi seperti itu.” Hansoo memberikan segelas teh pada Hwaran agar di minum untuk menenangkan pikirannya.
“Benarkah? Anak itu bahkan tidak menghubungiku, aku sampai berpikir kalau pertemuan kita di Jepang waktu itu dia hanya sebuah kebohongan kalau dia benar-benar sudah memaafkanku. Dia juga selalu tidak mengangkat panggilan dariku.”
Hansoo tertawa kecil, “Itulah alasannya. Pikiranmu itu selalu saja kemana-mana. Sena tidak berbohong soal dia sudah memaafkanmu, aku bisa melihatnya bagaimana dia merasa senang dan lega ketika kau datang menemuinya dan menghabiskan waktu bersamanya juga. Oh iya, kenapa kau tidak meminta Sena dan Jaeha untuk berlibur ke sini?”
“Haruskah?”
“Sesekali tidak apa-apa kan? Mau atau tidak itu terserah mereka. Paling mereka juga mencari waktu kosong untuk bisa datang ke sini.”
“Baiklah, aku akan mencoba bicara pada Sena.”
Sujin dan Sena kini sedang berada di dapur untuk memasak makan malam, hanya beberapa menu sederhana kesukaan mereka. “Ibu hamil sebaiknya diam saja.” Sujin mengambil pisau dari tangan Sena, ia mendorong Sena ke meja makan menyuruh Sena untuk menunggu saja sampai masakannya matang.
“Kau tidak harus memperlakukanku seperti ini. aku masih kuat untuk melakukan hal masak memasak. Jika seperti ini aku merasa jadi ratu.”
“Di Korea Selatan itu ibu hamil memang adalah seorang ratu. Pemerintah saja memberikan banyak jaminan untuk para ibu hamil, jadi diam dan tunggu saja.” Sena akhirnya menuruti apa kata Sujin, diam. Jika dia bergerak kembali Sujin akan menceramahinya habis-habisan.
“Kau sudah menghubungi orang rumah kan?”
Sena mengangguk, “Aku mengatakan akan menginap di panti asuhan, untunglah mereka percaya. Meskipun mereka sangat khawatir padaku tapi aku tidak ingin pulang ke rumah.”
“Oh iya, kau sudah menghubungi Jonghyun? Tadi dia menghubungimu saat kau tidur.” Sena mengangguk lagi. “Jadi, apa rencanamu ke depannya? Kau benar-benar ingin bercerai dengan Jaeha?”
“Apa kau sanggup jadi orang kedua? Bahkan sampai sekarang dia belum memberitahu soal masalah Helena padaku. Aku juga tidak tau apakah Jaeha mencintaiku atau tidak.”
“Jika kau ingin bercerai denganya, maka jangan ditunda lagi. Semakin ditunda maka kau akan semakin berat untuk berpisah darinya. Aku tidak akan melarangmu untuk bercerai, aku juga tidak akan menyuruhmu untuk bercerai dari Jaeha. Kata-kataku tadi hanya sebuah saran.”
“Itu namanya sama saja menyuruhku untuk bercerai.”
“Tapi bagaimana kau akan memberitahuan keluargamu? Jika kau tiba-tiba saja bercerai tanpa alasan mereka pasti bingung.”
“Mereka akan segera tau dalam waktu dekat ini, alasan kenapa aku ingin berpisah dengan Jaeha.”
“Ya sudah, kesampingkan dulu masalah itu. Ini dia Jogaetang pedasnya~!” Sepanci rebusan kerang pedas terhidang di tengah-tengah meja makan, ditambah menu pelengkap lain seperti Oi-sobagi, Gulbi-gui, Gul-muchim dan Saeujeon tersaji di meja makan.
“Apa kali ini temanya Seafood?”
“Kecuali Oi-sobagi. Selamat makan! Keponakanku harus makan makanan yang bergizi, supaya dia tetap sehat.” Sujin menyimpan sepotong Saeujeon di mangkuk nasi Sena, Sena pun juga menyimpan sepotong Oi-sobagi di piring kecil milik Sujin.
“Kau sangat suka itu bukan.” Ucap Sena, “Selamat makan.”
“Nanti kita tidur barengankan?” Tanya Sujin sambil menyuapkan sesendok nasi pertamanya
“Aku ingin di kamar sebelah, bolehkan?”
“Tentu saja. Kita akan berbicara banyak sampai tengah malam dulu, lalu tidur. Eh tapi, ibu hamil dilarang tidur terlalu malam bukan?”
“Tidak apa-apa. Sudah lama juga kita tidak bicara sampai larut malam.” Mereka berdua tersenyum lalu saling menyuapi. Suasana ini membuat Sena lumayan cukup nyaman untuk sekarang, jauh dari rumah terutama dari Jaeha memang sangat berbeda.
Jaeha sampai di luar gedung apartemen Helena, ia menarik nafas panjang dulu sebelum menginjakan kakinya ke dalam lift. “Semuanya akan selesai dengan cepat, aku harus segera pulang agar Sena tidak lama menungguku.”
Jaeha pun sampai di depan pitu apartemen Helena, pria itu terdiam sesaat sambil menata pintu yang akan segera dia buka. Tapi belum juga tangannya sampai untuk memencet bel, pintu apartemen itu sudah terbuka lebih dulu. Helena tersenyum menyambut kedatangan Jaeha, “Benarkan kau sudah datang!” Dengan segera ia merangkul lengan Jaeha, “Ayo masuk!” dan pintu apartemen pun tertutup menyisakan lorong yang sepi tanpa siapapun.
“Nah, duduk di sini.” Jaeha pun duduk di kursi yang di sudah disiapkan oleh Helena, “Bagaimana, kau suka menu makan malamnya? Ini semua makanan kesukaanmu. Lihat jari-jariku! Ada bekas lukanya di mana-mana.” Jaeha tersenyum samar melihat bekas luka yang ditunjukkan oleh Helena, dia merasa tersentuh juga dengan usaha Helena. Tapi sekarang situasinya berbeda, meskipun merasa bersalah tapi Jaeha sudah mengambil keputusan. Dan menurutnya itulah yang terbaik.
“Ayo di makan dulu!” Tanpa banyak bicara Jaeha mulai mengambil sumpitnya, sekarang dia hanya ingin menghargai usaha yang Helena lakukan untuknya, untuk yang terakhir kali. Jaeha menerima setiap suapan yang di berikan Helena, semua dia terima dengan senyuman yang menurutnya sudah yang terbaik.
“Sudah kenyang?” Tanya Helena
“Hmm, sekarang ayo kita duduk di sana!” Helena menarik tangan Jaeha untuk ikut bersamanya. Ia menyuruh Jaeha untuk duduk dengan tenang.
“Kenapa lampunya dimatikan?” Tanya Jaeha
“Kita nonton film! Kau ingat? Dulu kita pernah melakukannya saat merayaka hari jadian kita yang ke tiga tahun. Aku ingin melakukannya lagi.” Jaeha ingin segera bicara mengenai maksud lain dari kedatangannya malam ini, “Sudah nanti saja! Pokoknya malam ini kau harus menuruti semua keinginanku. Diam! Fokus saja ke sana.”
Di dalam kamar tidur Sena terlihat sedang memandangi ponselnya, sesuatu yang dia sedang pikirkan saat ini membuat ia menghembuskan nafas berat, pemandangan indah kerlap-kerlip lampu-lampu di luar jendela kamar tak menghiburnya sama sekali.
“Sudah tidak perlu dipertanyakan lagi. Tidak ada yang harus dipertahankan lagi.”
“Sena!” Pintu kamarnya terbuka, Sujin masuk sambil membawa buah-buahan segar untuk cemilan malam mereka.
“Apa yang sedang kau pikirkan?”
“Hanya...”
“Kau tau kan kalau ibu hamil tidak boleh banyak pikiran apalagi sampai stress, itu tidak akan baik untuk bayimu. Apalagi kau sempat bilang kau hampir saja keguguran, meskipun sekarang keadaannya baik-baik saja, tapi kau harus tetap hati-hati.”
“Mungkin aku harus mengikuti keputusan yang Ibuku ambil.”
“Maksudmu?”
“Ibuku dulu lebih memilih merelakan ayahku dengan wanita pertamanya. Aku pun harus seperti itu juga bukan?”
“Tapi, kau bilang ayahmu pergi karena perempuan itu sudah punya anak. Tapi Helena belum tentu sedang hamil.”
“Tak ada yang perlu di pertahankan lagi, sekarang pun Jaeha sedang pergi menemui Helena. Apalagi yang harus dipertimbangakan? Semuanya yang dia lakukan mungkin ingin mempertahanku juga. Tapi aku tetap tidak mau jadi yang kedua. Lagi pula aku adalah orang ketiga diantara mereka, Jaeha terpaksa menikahiku karena dia pikir Helena sudah meninggal, tidak, meskipun ketika dia sudah menikahiku Jaeha tetap mencari keberadaan Helena. Itulah yang dia lakukan. Aku bukan prioritasnya, sampai detik ini pun...” Sena memperlihatkan ponselnya pada sujin, “Aku bukanlah prioritasnya.”
“Sudah-sudah.” Sujin mengusap punggung Sena, “Keputusanmu, aku tidak bisa mengubahnya lagi kan?” Sena diam tak menjawab, ia tetap menunduk, “Jika itu memang yang terbaik, aku akan mendukungmu.”
Jaeha kembali duduk setelah selesai mengangkat sebuah panggila masuk dari kolega bisnisnya, Helena pun memberikan segelas wine pada Jaeha, “Aku sedang tidak ingin minum.”
Helena tetap meminta Jaeha untuk meminumnya, “Segelas saja tidak akan membuatmu mabuk. Kau kan jago minum. Kau pikir aku lupa?” Gelas pun berdenting teradu, Jaeha pun meminumnya. “Lanjut lagi ya?” Ekor mata Helena melirik Jaeha yang kembali fokus menonton film, ia pun menghela nafas, senyuman itu pun ikut menghilang.
Di apartemen Sujin
“Kita sudahi saja pembicaraan malam ini. ah~ rasanya benar-benar bahagia bisa seperti ini lagi! Sejak sudah selesai kuliah kita tidak punya banyak waktu untuk seperti ini.”
“Kau tidak akan bertunangan dengan Hyunjae?”
“Eh, kenapa tiba-tiba kau bertanya seperti itu? Tidak akan. Aku akan langsung menikah tanpa bertunangan dulu. Itu sudah prinsipku, Hyunjae juga sudah tau itu dan dia juga setuju.”
“Lalu kapan kalian akan menikah? Aku tidak jamin kalau aku masih akan di sini.”
“Maksudmu setelah bercerai kau akan pergi? Melahirkan di negara orang?”
“Mungkin.”
“Mau di negara mana pun pokoknya kau harus datang. Aku akan menikah setelah anak mu lahir. Biar kita bisa foto bersama. Kau satu-satunya sahabat terbaikku, kau harus datang di acara yang paling spesial dalam hidupku. Janji ya?”
“Aku tidak janji.”
“Sena~~”
“Sudah tidur sana! Hyunjae akan marah kalau dia tau kau bergadang!”
Sujin mengerucutkan bibirnya, “Tapi kau harus janji untuk datang! Jalja!”
“Tanggal pernikahanmu saja belum pasti kapan, bisa saja aku sudah meninggal!”
“Sena! Kenapa kau berkata seperti itu?!”
“Bercanda! Sudah sana tidur!”
“Itu tidak lucu!”
“Aku tidak melucu!” Pintu kamar pun tertutup, menyisakan Sena seorang diri. Ia pun mengambil ponselnya berniat menghubungi orang rumah.
“Halo!”
“Bibi ini aku, apa Jaeha sudah pulang?”
“Belum, mungkin dia lembur di kantor. Apa Jaeha tidak memberi kabar padamu?”
“Tidak, mungkin dia sedang sibuk. Ya sudah, selamat malam Bi.”
“Selamat malam Sena.”
Sena tersenyum miris tak percaya, dia melakukan hal yang sia-sia. Jaeha memang tidak akan pulang. Jaeha tidak akan pulang. ‘Apalagi yang harus aku tunggu? Apalagi yang harus aku pertahankan? Tidak ada lagi. Semuanya sudah jelas Sena! Tolong janga berharap apa-apa lagi, jangan pernah berharap dia akan memilihmu Sena. Semuanya mustahil! Tidak akan pernah terjadi.’