
Jaeha membawa bubur untuk Sena ini sudah hari kelima semenjak kepergian Sora dan Sena masih menyesali dirinya sendiri karena tidak bisa ada di samping Sora,
‘bukan hanya kau yang menyesal Sena, aku juga menyesal. aku juga merasa bersalah.’ Batin Jaeha
Ia membuka pintu kamar Sena, mereka masih pisah kamar setelah apa yang terjadi di Jepang waktu itu kecuali saat ibunya datang Sena langsung dipindahkan ke kamarnya entahlah kalau ibunya datang tanpa kabar lebih dulu mereka pasti sudah di sidang seperti di pengadilan.
lagi-lagi ia melihat Sena tengah memandangi foto Sora dengan baju tidur pandanya membuat Sena kembali terisak untuk yang kesekian kalinya. Menyadari keberadaan Jaeha, Sena segera menyimpan ponselnya dan menghapus air matanya,
“makan malam dulu setelah itu minum obat.” Jaeha mengaduk-ngaduk bubur sambil meniupnya agar tidak terlalu panas
“antarkan aku ke makam Sora besok.”
“baiklah, tapi kau harus menghabiskan bubur ini baru besok kita pergi.”
“benarkah? kau tidak akan melarangku lagi?”
“aku ingin mengantarmu ke sana sebelum pergi ke Amerika besok. Aku pikir juga kesehatanmu mulai membaik.”
“kau akan ke Amerika besok?”
“kenapa? apa aku tidak boleh pergi karena kau akan merindukanku?” goda Jaeha
“pergi saja! siapa juga yang akan merindukanmu?! Aku tidak akan kesepian meskipun kau menghilang.” Sena menerima suapan dari Jaeha
“karena ada Minho?”
Perasaan Sena tiba-tiba berubah tidak enak ketika Jaeha menyebutkan nama Minho, “ada banyak orang di rumah ini jadi aku tidak akan merasa kesepian kalau bisa kau biarkan Kui di sini menemaniku, kenapa juga kau malah membawa-bawa Minho oppa!”
“aku akan menyuruh orang rumah untuk membawa Kui besok, aku harap kau tidak terlalu sering menemui Minho.”
“kenapa? kau cemburu padanya?” tanya Sena dengan spontan
“ya” yang jawab Jaeha dengan spontan juga membuat Sena terdiam memandangi Jaeha yang kini tengah menunduk menatap mangkok bubur yang ada di tangannya, ingin memastikan kalau pendengarannya salah tapi lidahnya kelu ia tak bisa menanyakannya.
Jaeha menatap Sena dengan tatapan bingung karena biasanya Sena akan selalu menjawab perkataannya tapi sekarang yang ia lihat Sena tengah menatapnya juga. Sadar dengan tatapan Jaeha, Sena menunjuk bubur sebagai pengalihan.
Jaeha sendiri tidak ingin menanyakan apa-apa lagi jawaban ‘iya’ itu meluncur begitu saja dari mulutnya tanpa bisa di rem ia merutuki dirinya sendiri karena bicara tanpa dipikirkan terlebih dulu.
Keesokan paginya Jaeha sudah bersiap dengan setelan pakaian hangatnya karena cuaca di luar mulai semakin dingin. Langkah kakinya berhenti di depan kamar Sena
Tok tok tok
“kau sudah siap?!”
Hening tidak ada jawaban
“Sena-ya kau sudah siap?”
Masih tidak ada jawaban dari si penghuni kamar, karena khawatir takut terjadi sesuatu akhirnya Jaeha memilih masuk dan tepat saat itu Sena keluar dari kamar mandi hanya dengan tubuh terlilit kain handuk dan rambut yang basah.
“kyaaaaaaaaa!” Sena langsung menutup bagian dadanya begitu ia melihat Jaeha yang tiba-tiba saja masuk ke dalam kamarnya.
“kenapa kau tiba-tiba masuk?!!”
“kau tidak menjawab jadi aku langsung masuk saja karena takut terjadi sesuatu padamu.”
“dia pasti sudah pergi.”
Tapi dugaannya salah, Jaeha masih ada di kamarnya pria itu kini duduk dengan santai di kasurnya sambil bermain ponsel.
“kenapa kau masih di sini?”
Jaeha melihat Sena kini sudah memakai bathrobe dan rambut basahnya kini sudah di bungkus dengan handuk.
Melihat gerakan kedua mata Jaeha yang menatapnya dari atas sampai bawah membuat Sena benar-benar malu, iya malu!
“apa yang kau lihat?!” sentak Sena,
“ck kenapa kau malu tadi? Aku kan sudah melihat semuanya kenapa kau malu?!”
Blush!!
Kedua pipi Sena memanas mendengar perkataan Jaeha, ia benar-benar ingin melakban mulut pria itu agar tidak bicara apa-apa lagi. Ia lebih suka Jaeha diam dari pada bicara hal yang tidak perlu dibicarakan!
“keluar dari kamarku sekarang!” Sena menarik Jaeha agar berdiri dari duduknya dan meninggalkan kamarnya.
Sena mendorong punggung Jaeha pria itu sengaja tidak bergerak membuat Sena harus menggunakan tenaga ekstra untuk mengusir Jaeha dari kamarnya, Jaeha benar-benar berniat mengerjai Sena agar suasana hati istrinya itu sedikit lebih baik.
Kali ini Sena menyeret lengan Jaeha setelah gagal mendorongnya dari belakang, Jaeha menahan senyumnya melihat raut wajah Sena yang kesusakan menarik tubuhnya,
‘lucu! kkkkk ini menyenangkan.’ batin Jaeha
‘dia pasti sengaja mengerjaiku! Ya ampun kenapa dia tega sekali padaku di saat sakit seperti ini! awas saja nanti! Aku tau kelemahanmu!’
“akh!” Sena menyentuh kepalanya membuat Jaeha khawatir
“kepalamu sakit lagi?”
“ini semua salahmu! Kenapa kau mengerjaiku di saat aku sedang sakit begini!” keadaan yang sangat membantu lebih tepatnya.
“b-baiklah, aku minta maaf. Aku akan keluar sekarang.”
Setelah Jaeha keluar Sena segera mengambil ponselnya menghubungi seseorang.
“hallo!”
**
Minho mempersilahkan seorang wanita masuk ke dalam apartemennya, ia menunjukkan kamar wanita itu untuk sementara ini.
“aku akan memesan apartemen untukmu, jadi untuk sekarang kau tinggal dulu di sini bersamaku.”
Wanita itu hanya mengangguk tanpa bicara apapun, ia sibuk melihat pemandangan kota di hadapannya dari jendela kamarnya.
“aku pergi dulu. Ada pembantu di sini kalau butuh sesuatu panggil saja dia.”
Wanita itu mengangguk lagi tapi setelah Minho pergi ia tersenyum, senyum yang penuh dengan harapan.
“aku datang.”