
Jaeha pergi menemui menemui ibunya karena Nyonya Park ingin Jaeha mencoba beberapa pakaian untuk pernikahannya.
Melihat ibunya benar-benar bahagia membuatnya tidak ingin menghilangkan kebahagiaan itu. dia ingat bagaimana saat Helena pergi begitu saja dan itu membuat tekanan darahnya naik membuatnya ibunya hampir terkena penyakit stroke. Bagaimana jika nanti pernikahannya batal karena Sena kabur? Ia tidak mau membayangkan hal seperti dulu akan terulang kembali pada ibunya.
“kau sudah datang?! Kemarilah!”
Nyonya Park menyerahkan beberapa setelan pakaian pada Jaeha, “pakai itu dan pilihlah mana yang kau suka.”
Jaeha melihat pantulan dirinya di kaca, “akhirnya aku memakainya. Helena, kau di mana sekarang?” Jaeha membuka laci kecil ia mengambil foto seorang wanita yang tengah berdiri memakai dress warna merah.
Jaeha tersenyum kecil sembari mengusap foto wanita itu seolah-olah ia tengah mengusap pipi gadis itu. “aku akan menikah dengan orang lain. Tidak, lebih tepatnya dengan teman masa kecilku. maafkan aku...”
“Jaeha-ya, kau sudah selesai mencobanya?”
Jaeha memasukan kembali foto Helena ke dalam laci, ia segera mengganti bajunya dan pergi menemui ibunya.
Ditempat lain, Sena sedang mencoba gaun pengantinnya. Sebenarnya gadis itu tidak mampu untuk tersenyum, yang ia pikirkan hanyalah sisa waktunya sampai besok pagi. Ia harus memilih, pergi dengan Minho atau menikah dengan Jaeha?
“kau sangat cantik. Kau suka gaunnya?” Sena memaksakan senyumnya,
“kau tidak mau mencoba yang lain?” tanya Nenek Nam, Sena menggeleng.
“nenek tidak memberitahu ibukan?” nenek Nam bernafas lega akhirnya Sena mau bicara juga.
“aku sudah memberitahunya, dia akan menyempatkan waktunya untuk datang.”
“percuma, dia tidak akan datang. Seharusnya nenek tidak usah memberitahunya.”
“dia orang tuamu. Dia ibumu, dia harus tau.”
“terserah nenek.”
Nenek Nam kembali bersedih melihat perubahan raut wajah cucunya.
Malamnya gadis itu tidak bisa tidur dan waktu sudah menunjukkan jam 2 pagi, ia tidak ingin kehilangan Minho tapi dia juga tau kalau seandainya mereka menikah hal itu tidak benar. Tapi Sena tidak pernah menganggap Minho sebagai kakaknya, dia tidak mau kehilangan Minho, dia tidak ingin jauh dari Minho.
menjelang pagi, Sena mengemasi beberapa baju dan barang pribadinya ke dalam tas jinjing berukuran besar, membawa koper pasti akan membuatnya kesulitan.
Gadis itu melihat ke arah kamar nenek dan kakeknya sebelum pergi, “maafkan aku nenek, kakek.”
Keadaan di luar rumahnya masih sepi, matahari pun masih belum menampakkan dirinya dan udara masih terasa dingin, Taxi yang dipesannya datang Sena segera naik dan pergi.
Jaeha melihat Sena menaiki taxinya, “dugaanku benar dia memilih kabur.”
Jaeha menghidupkan mobilnya menyusul Sena ke bandara, “aku juga punya alasan kenapa pernikahan ini harus terjadi. Dan kau harus menurutiku Sena.”
Minho tersenyum melihat Sena turun dari taxi, dengan segera gadis itu berlari menghampiri Minho, “terima kasih kau sudah memilih pergi bersamaku.”
Pria itu mengulurkan tangannya agar di genggam Sena, tapi tiba-tiba saja ada secuil perasaannya yang mencegahnya untuk pergi tiba-tiba saja ia teringat dengan Jaeha. Gadis itu menarik nafas dalam, ia memberikan tangannya pada Minho.
Pengumuman pemberangkatan penerbangan menggema di setiap sudut bandara, “ayo kita pergi.”
“dia tidak akan pergi!”
Jaeha berjalan mendekat, Sena dan Minho kaget bagaimana bisa Jaeha tau kalau mereka akan pergi?
“ottokhae arraseo?” Sena memandang Jaeha tidak percaya, dia benar-ingin menikah dengannya? Tapi kenapa?
“untuk apa kau datang?” tanya Minho
“aku akan mengambil calon istriku! Untuk apalagi?”
Jaeha melepaskan pegangan tangan Minho dan menarik Sena ke sisinya.
“kau harusnya sudah tau Sena tidak mau menikah dengamu.” Minho mencoba menarik Sena kembali tapi dengan segera Jaeha menghalanginya.
“dia memang melupakanku tapi akulah yang pertama kali bertemu dengannya sebelum aku pergi ke Prancis. Pernikahan ini penting untukku jadi aku akan menghentikan tindakan bodoh kalian.”
“apa yang kau lakukan?” Sena melepaskan genggaman tangan Jaeha
“sudah ku bilang aku tidak mau menikah dengamu, aku tidak tau siapa kau jadi berhenti dan biarkan aku pergi.”
“aku akan membuatmu mengingatku kalau memang perlu. Aku tidak akan melarang kalian untuk bertemu, kalian bebas bertemu semau kalian. Kalau kau mau kau bisa menghabiskan malam pertamamu dengannya.”
Sena terbelalak kaget, apa Jaeha berpikir dirinya serendah itu?
“apa alasannya?! Bukankah kau sudah melupakanku sejak kau tinggal di Prancis? Dan janji itu, itu hanylah janji dua orang anak kecil yang belum mengerti apapun. Kau tidak menganggapnya seriuskan?”
“aku menganggapnya serius jadi sekarang kita pergi! Aku sudah memberikan kebebasan pada kalian. Aku hanya butuh status pernikahan dan hidup bersama dengannya. Kalau kau ingin bercerai oke, aku akan turuti tapi tidak dalam waktu dekat.”
Mendengar kata bercerai membuat hatinya tiba-tiba sakit, apa ini? ada apa dengan perasaanya? Ia hanya ingin menikah sekali seumur hidup tapi kenapa takdir tidak berpihak baik padanya?
Jaeha membawa Sena pergi meninggalkan Minho yang terdiam tanpa melakukan apapun.
Gadis itu berontak minta di lepaskan, “Jaeha lepaskan! Beri aku penjelasan kenapa kau ingin menikah denganku! Bukankah kau bilang kau tidak mau menikah dengan gadis sepertiku?”
Jaeha menghentikan langkahnya membuat Sena juga ikut berhenti, “aku melakukannya demi ibu. Aku tidak mau ibu terluka untuk yang kedua kalinya.”
“itu urusanmu, nikahi saja wanita lain kenapa harus aku. aku tidak peduli dengan urusanmu!”
“ibu hanya menginginkanmu dan ibu hanya menyayangimu. Tolong kau mengerti!”
“aku tidak mengerti karena aku tidak punya ibu!”
“kalau kau tidak punya ibu lalu kau lahir dari rahim siapa?”
“pokoknya lepaskan aku sekarang aku tidak mau ikut denganmu!”
“kalau kau ada di posisiku apa kau akan mengabaikan permintaan ibumu? Kau mau melihatnya terluka? Bahkan hampir mati?!”
“aku tidak tau karena aku tidak punya ibu! Berapa kali harus kubilang hal itu padamu!”
“kalau begitu anggap saja ibuku sebagai ibumu!”
Tiba-tiba saja Sena merasakan kembali pelukan hangat malam itu dari nyonya Park, pelukan yang selalu ingin ia rasakan dari sosok seorang ibu, air matanya mengalir begitu saja.
Jaeha menghapus air mata Sena dengan ibu jarinya, “ibu sangat menyayangimu sejak dulu, kau sudah dianggap sebagai putrinya sendiri. Aku tidak melarangmu untuk menemui Minho. Tapi aku mohon turuti permintaanku, demi ibuku demi ibumu. Aku mohon!”
Gadis itu menangis ia tak bisa menahan air matanya, begitu banyak hal yang membuat air matanya tumpah, tidak ada cara yang bisa membuat beban dihatinya berkurang selain dengan cara menangis. Jaeha akhirnya memeluk Sena menenangkan gadis itu, ia menepuk punggung Sena dengan lembut tiba-tiba saja perasaan terluka itu pun muncul dalam hatinya seolah ada ikatan batin yang terjadi karena biasanya Jaeha tidak pernah peduli dengan masalah orang lain.
**
Jaeha melirik Sena yang tertidur di sampingnya, dari mata pandanya ia tau gadis itu tidak tidur semalaman. Dirinya sendiri tidak bisa tidur nyenyak semalam karena harus tidur dalam mobil hanya untuk menunggu Sena keluar dari rumahnya.
“aku tidak percaya dia melakukan hal itu.”
Nenek dan Kakek Choi lega melihat Sena pulang bersama Jaeha,
“dia tidur?” Jaeha mengangguk, dengan segera ia mengantarkan Sena ke kamarnya.
“terima kasih, aku tidak tau harus berkata apalagi. Terima kasih banyak.” Ucap Nenek Nam
“ini sudah jadi tugasku, aku harus menjaganya mulai sekarang.”
“terima kasih.” Kakek Choi memeluk memegang pundak Chanyeol, pria itu tersenyum.
“tapi boleh aku tau sesuatu?” Jaeha masih penasaran kemana orang tua Sena, dan kenapa dia selalu sensitif kalau berbicara soal orang tuanya. Jaeha sendiri lupa tidak bertanya pada ibunya.
“katakan saja, kau harus tau semuanya benarkan?”
“kemana orang tua Sena? Dia selalu sensitif ketika berbicara masalah orang tua.”
Kakek Choi memandang istrinya kemudian pergi meninggalkan mereka berdua untuk bicara.
“orang tuanya pergi ke Swiss, Sena waktu itu masih sangat kecil jadi dia tidak bisa pergi dengan orang tuanya. Ibu dan ayahnya sama sekali belum kembali mereka hanya sering menghubungi lewat telepon tapi Sena tidak pernah mau bicara. Mungkin dia terluka karena selalu di bohongi oleh ibunya.”
Jaeha sekarang paham kenapa tadi Sena begitu marah saat bicara tentang ibunya.
“dia selalu iri ketika melihat teman-temannya pergi bersama kedua orang tua mereka, bahkan saat kecelakaan itu pun ibunya hanya menghubungi lewat video call karena tidak bisa pulang karena pekerjaan.”
“kapan kecelakaan itu terjadi?”
“kalau tidak salah saat usianya 7 tahun, beberapa bulan setelah kau pergi ke Prancis. Kau tau, dia begitu sedih ditinggal olehmu. Dia selalu memeluk boneka rillakuma pemberianmu.”
Nenek Nam menunjuk boneka rillakuma di meja samping tempat tidur Sena. Jaeha ingat tentang boneka itu, dia sendiri yang membelinya untuk kado ulang tahun Sena karena saat itu Sena ingin sekali boneka rillakuma yang besar,
“Jae, aku ingin boneka rillakuma yang besar! kau harus memberikannya untuk calon istrimu ini!” senyum pria itu mengembang mengingat masa kecilnya ‘calon istri.’ Batin Jaeha.
“apa mereka sangat sibuk sehingga tidak punya waktu untuk Sena?” Jaeha mencoba bertanya lagi
“dia bilang akan berusaha datang di pernikahan kalian nanti, tapi Sena malah memarahiku karena aku memberitahu orang tuanya. Tapi fakta sebenarnya adalah mereka bukan tidak perduli pada Sena, setiap kelulusan dan ulang tahunnya Hwaran selalu datang melihatnya dari kejauhan dan memberikannya kado, tapi ia tidak ingin Sena tau yang sebenarnya jadi aku terus menutupinya. Oh ya, kau sudah sarapan?”
“sudah tadi.” Senyum yang menipu, padahal Jaeha sudah sangat lapar. Tapi dia bukan lagi anak kecil yang langsung mau ketika di tawari makanan, ya walaupun nantinya nenek Nam akan jadi neneknya juga.