
Kesokan harinya
Jaeha masuk ke dalam kamar Sena ini sudah jam 7 pagi tapi istrinya itu masih belum menunjukkan tanda-tanda akan terbangun dari alam mimpinya. Senyum miring pria itu akhirnya keluar, ia perlahan mendekat sambil mengamati wajah Sena yang begitu polos baginya, sepertinya ia mulai menyukai kebiasaan ini.
Chup!
Jaeha mencium bibir Sena dan sedikit menekannya, orang yang tengah diciumnya kini merasakan sesuatu yang benar-benar mengganggu tidurnya, bibirnya yang ingin bergerak pun merasa kesusahan karena terhalangi sesuatu, Sena pikir itu adalah selimut atau guling, tapi begitu ia ingin menyingkirkan selimut atau guling tersebut tangannya tertahan lagi dan itu membuatnya bingung,
‘aku yakin ini bukan mimpi, jika ini mimpi pun kenapa terasa nyata?’
Matanya terbuka perlahan yang dilihatnya pertama kali adalah kelopak mata seseorang membuat matanya benar-benar terbuka lebar sekarang. Jaeha yang sadar kalau Sena sudah terbangun mengakhiri tugasnya untuk membangunkan Sena pagi ini.
“apa yang kau lakukan?!” Sena langsung bangun dari posisi tidurnya
“membangunkanmu?”
“apa harus dengan cara itu? kau bisa menggunakan cara yang lain.”
“menyirammu dengan air?”
“ bukan begitu juga! Aish sudahlah! Kenapa kau membangunkanku pagi-pagi begini?”
“ini sudah jam 7 lebih. kenapa kau tidak ingat padahal semalam kita membicarakannya?! Benar-benar kau sudah pikun!”
Jaeha menyentil kening Sena membuatnya memekik kesakitan, “apa kau perlu melakukan itu?!!! akh!!”
Jaeha menyingkirkan tangan Sena lalu ia mencium bekas sentilannya tadi.
“sepulangnya dari Amerika kau sangat-sangat berbeda, apa yang terjadi padamu di sana?”
“entahlah,” telinga pria itu memerah, ia juga heran dengan tindakannya barusan yang secara spontan mencium kening Sena. “sekarang kau bangun, mandi, sarapan, lalu kita pergi!”
“kau sudah menemukan caranya?”
“aku harus melakukannya sebisaku, dengan caraku sendiri.”
“aku akan menantikannya.” Ucap Sena sambil tersenyum, melihat senyum manis itu Jaeha malah memangku Sena dari ranjang dan membawanya ke arah kamar mandi.
“hey apa yang kau lakukan?! Turunkan aku!”
“aku akan memandikanmu!”
“apa??!!! Tidak tidak tidak! Turunkan aku! dasar mesum, turunkan akuuuuuu!!!”
Setelah membeli ice cream dan kue akhirnya mereka sampai di panti asuhan, Jaeha melirik Sena yang ternyata masih berwajah masam padahal ia juga tidak jadi memandikannya.
“aku harap kau tidak menunjukkan wajah menyeramkan itu di depan anak-anak.”
Tak menjawab apapun, Sena memilih turun dengan cepat setelah melepaskan sabuk pengamannya. Bukannya merasa bersalh Jaeha malah tertawa geli melihat Sena yang ngambek karena baginya wanita itu kini terlihat menggemaskan.
“noona!!!” Minhyun berlari menghampiri Sena, begitu juga anak-anak yang lain.
“hay~! Bagaimana kabar kalian?”
“kami baik-baik saja dan kami sangat merindukan noona!” Minhyun menjawab mewakili yang lain
“dan aku sekarang ada di sini!! aku juga sangat merindukan kalian.”
“eonni, mana Minho oppa? Apa dia tidak ikut?”
“emh, Minho oppa tidak ikut hari ini. tapi aku membawa seseorang yang ingin berkenalan dan menjadi teman kalian.”
“siapa?” anak-anak yang lain pun ikut penasaran
Sena berbalik ke arah belakang, “Jaeha-ssi!” pria yang di maksud keluar dari balik pohon, dengan dua kantong kresek di tangannya ia berjalan menghampiri Sena dan anak-anak yang sedang menunggunya ia juga berusaha tersenyum senatural mungkin.
“Jaeha-ssi? Kau harusnya memanggilku ‘suamiku’” Sena membarikan tatapan tajam pada Jaeha,
“oh! Ahjussi ini kan suaminya Sena noona!”
“ahjussi? Aku benar-benar dipanggil ahjussi?” Sena manahan tawanya,
“tak apa, asal kau bisa tersenyum lagi.” Sena kembali memasang wajah masamnya.
“benar-benar! Gyuri eonni menunjukkan fotonya pada kita!”
“annyeonghaseyeo!” sapa anak-anak secara berbarengan
“annyeong! benar aku suaminya Sena, salam kenal! Aku... boleh bermain dengan kalian kan?”
“terima kasih, dan ini oleh-oleh untuk kalian.” Jaeha membagikan makanan tersebut pada anak-anak, mereka benar-benar senang dengan oleh-olehnya.
“Minhyun?” anak itu tersentak kaget saat Sena memanggilnya, Sena tau Minhyun pasti masih takut pada Jaeha karena kejadian saat di toko ice cream.
“Minhyun, kau masih takut padanya?” tanya Sena lembut, anak itu mengangguk.
“dia datang ke sini untuk meminta maaf padamu, kau tidak mau memaafkannya?” tepat saat itu Jaeha datang membawa bagian untuk Minhyun, ia berjongkok dihadapan Minhyun yang menundukkan kepalanya tak ingin melihat Jaeha.
“Minhyun, aku tau kau pasti tidak menyukaiku karena aku pernah memarahimu. Aku sadar kalau seharusnya aku tidak melakukan itu karena kau tidak sengaja melakukannya, aku benar-benar ingin minta maaf padamu, kau mau memaafkanku kan?”
Cukup lama Minhyun menundukkan wajahnya,
“Minhyun?” Sena mengusap punggung anak itu,
“Jaeha ahjussi benar-benar menyesal karena membentakmu, sebenarnya ahjussi orang yang baik, dia juga teman yang menyenangkan.”
Akhirnya Minhyun mengangkat wajahnya, anak itu menatap Jaeha kemudian sedikit tersenyum “aku memaafkan paman,” Jaeha akhirnya tersenyum lega, ia benar-benar takut kalau Minhyun tidak akan memaafkannya.
“itu juga salahku karena tidak hati-hati, aku juga tidak mendengarkan noona dengan baik. maafkan aku juga paman.”
Jaeha mengusap lembut kepala Minhyun, “ya, aku sudah memaafkanmu dari dulu. Ah aku juga punya hadiah lain untukmu.”
Jaeha berlari ke mobilnya untuk mengambil sesuatu lalu kembali dan menyerahkan hadiahnya pada Minyun, sepasang sepatu basket. mata Minhyun berbinar melihat sepatu bagus itu tak lama anak itu pun terisak,
“kenapa kau menangis? Kau tidak suka hadiahnya? Aku dengar kau senang bermain basket jadi aku membelikanmu sepatu ini.”
“terima kasih paman! Aku menyukainya, aku sangat menyukainya.” Minhyun langsung memeluk Jaeha dengan erat sambil menangis, pria itu menatap Sena dan Sena mengangguk kalau Jaeha telah berhasil.
“tapi Minhyun kau bisa memanggilku hyung tidak?”
Minhyun melepaskan pelukannya, “tentu saja, hyung!” dan merekapun melakukan high five
Setelah menemui Gyuri dan pengurus yang lain, Sena mengajak Jaeha untuk berkeliling panti asuhan, ia menanyakan bagaimana bisa Jaeha tau kalau Minhyun senang bermain basket,
“aku tidak akan memberitahukannya padamu.”
“aish, benar-benar!”
“tapi... kau sudah tidak marah padaku lagi kan?”
“hem? Emh, ya~ begitulah!” Jaeha tersenyum senang, karena bisa dibilang Sena tak marah lagi padanya.
Jaeha dan Sena masuk ke dalam ruangan balita, mereka melihat anak-anak kecil itu anteng dengan kegiatannya masing-masing. Jaeha mulai ikut bermain bersama mereka, ia membantu seorang anak laki-laki membangun sebuah istana, Sena yang tengah ikut bermain juga malah asik melihat interaksi antara Jaeha dan anak laki-laki itu, ia tidak menyangka Jaeha dapat dengan mudah dekat dengan mereka, Sena memalingkan wajahnya saat Jaeha memergoki Sena kedapatan tengah memperhatikannya membuat pria itu tersenyum senang dengan perhatian Sena padanya.
Selesai menemani anak-anak balita bermain, Sena mengajak Jaeha mengunjungi ruangan bayi. Jaeha menghampiri salah satu bayi laki-laki yang tengah tertidur, jarinya menyentuh tangan mungil si bayi dengan lembut agar ia tidak terusik.
“bayi-bayi ini kebanyakan di telantarkan oleh orang tuanya yang tidak bertanggung jawab.”
“dia sangat lucu, kenapa orang tuanya tega menelantarkannya seperti ini?”
“banyak faktor yang membuat mereka melakukan hal itu, faktor ekonomi, anak hasi di luar nikah, bahkan karena anak itu sudah sakit sejak lahir.”
Sena menghampiri bayi yang menangis, “aigoo, kau baru bangun ya?” Sena menggendong bayi itu dan bayi itu langsung tenang dalam gendongannya. Hal itu menarik perhatian Jaeha, ia menghampiri Sena dan memandangi bayi itu yang kini tengah menatapnya juga.
“namanya Jun, dia baru berusia 4 bulan. Bayi bisa merasakan apakah orang yang menggendonya orang baik atau orang yang tidak baik, kau mau mencoba menggendongnya?”
Jaeha ragu untuk menggendongnya karena ini pertama kali baginya menggendong bayi, “bolehkah? Aku takut salah menggendongnya.”
“aku juga belajar dulu, cobalah!” Sena memindahkan baby Jun ke pangkuan Jaeha,
“seperti ini, yang harus dijaga itu leher dan pinggangnya. Tetap santai dan jangan tegang, rileks”
Mata Jaeha dan baby Jun saling bertatapan, Jaeha tersenyum menyapa baby Jun, bayi itupun akhirnya tersenyum membuat Jaeha senang,
“sepertinya dia nyaman bersamamu, dia menyukaimu.”
“benarkah?”
“ya, dia tau kau adalah orang baik.” mata mereka saling bertemu, membuat Jaeha dan Sena saling bertatapan dalam senyuman.
“Sena, Jun kenapa?”
“sepertinya dia ingin minum susu,” Sena mengambil botol susunya lalu menyerahkannya pada Jaeha.
“kalian sudah cocok menjadi ibu dan ayah.” Ucapan seorang pengasuh yang baru saja masuk membuat atmosfir berubah menjadi canggung, Sena merasa kalau ia salah mengajak Jaeha datang ke ruangan bayi.